Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Sarapan istimewa


__ADS_3

pagi ini Tisya sudah terlihat begitu rapi, tapi ia masih suka keluar masuk kamar mandi.


Melihat tingkah Tisya itu membuat Wilson penasaran. Ia yang juga sudah rapi pun menghampiri Tisya.


"Tikus ...., jadi barengan nggak?" tanya Wilson sambil berdiri di depan kamar Tisya.


Tisya yang masih di dalam kamar mandi pun berteriak.


"Jadi ...., jangan di tinggal!" teriak Tisya dari kamar mandi.


"Ngapain sih di kamar mandi? Buruan ...., aku nggak mau ya telat!" ucap Wilson.


"Iya ...., iya bawel ...!"


Tidak berapa lama Tisya pun keluar dan mengambil tasnya yang ada di atas tempat tidur, menghampiri Wilson yang masih berdiri di depan kamarnya.


"Ada apa sih bolak-balik ke kamar mandi?" tanya Wilson.


"Aku ngerasa bau jengkolnya masih nyantol aja!" gerutu Tisya sambil menghembuskan nafasnya beberapa kali ke telapak tangannya.


"Udah enggak!"


"Pokoknya lain kali aku nggak mau makan jengkol lagi ...!" gerutu Tisya lagi sambil berjalan mendahului Wilson.


"Terserah kamu ...!"


Wilson pun juga ikut berjalan, mereka keluar dari rumah bersamaan. Tapi tepat di depan rumah ada nyonya Tania sedang berdiri di depan pintu.


"Mama ....!"


Tisya pun segera memeluk mamanya, "Mama kenapa ke sini?" tanya Tisya yang sudah melepaskan pelukannya.


"Selamat pagi nyonya!" sapa Wilson.


Nyonya Tania pun tersenyum pada Wilson yang berdiri tepat di belakang Tisya.


"Selamat pagi nak Wilson!"


"Mama manis sekali sih sama dia!?" gerutu Tisya yang memang sejak pagi sudah di buat uring-uringan oleh bau mulutnya.


"Mau gimana lagi, nak Wilson ini baik!" ucap nyonya Tania.


"Mama ngapain ke sini ma?" tanya Tisya lagi yang sedari tadi pertanyaannya tidak di jawab malah sibuk sama Wilson.


"Mama ke sini bawa sarapan untuk kalian, kalian belum sarapan kan?"


"Mama tahu aja kalau aku belum sarapan!" ucap Tisya sambil meraih rantang yang ada di tangan nyonya Tania dan kembali masuk ke dalam.


Nyonya Tania dan Wilson pun mengikuti langkah Tisya yang lebih dulu.


"Pasti Tisya sangat merepotkan mu ya? Maaf ya!" ucap nyonya Tisya sambil memegang lengan Wilson.


"Tidak pa pa nyonya, itu sudah tugas saya!"

__ADS_1


Tisya sudah siap-siap untuk memakan makanannya, tapi nyonya Tania segera mencegahnya.


"Apa sih ma?"


"Mama bawa itu dua porsi Tisya, untuk kamu dan untuk nak Wilson! Jadi siapkan juga dong untuk nak Wilson piringnya!" ucap nyonya Tania.


"Dia kan punya tangan, biar dia ambil piring sendiri dong ma!"


"Tisya ...., ingat ya kamu di sini kerja! Jadi sudah sewajarnya kalau kamu melayani kebutuhan nak Wilson!"


"Tidak pa pa nyonya, biar saya ambil sendiri!" ucap Wilson yang memang sengaja dengan melirik pada Tisya.


"Nggak nak Wilson! Biar Tisya belajar caranya bekerja!" ucap nyonya Tisya dan Wilson pun tersenyum sama pada Tisya.


Ihhhhh ....., dasar dia pinter banget cari mukanya ...., bikin greget aja ya ...., batin Tisya kesal. Ia pun terpaksa kembali berdiri dan menuju ke rak piring. Mengambilkan piring dan sendok untuk Wilson.


"Ini ....!" ucap Tisya sambil menyodorkan piring nya dengan begitu kasar pada Wilson hingga menimbulkan suara dentingan antara piring dan sendok.


"Jangan jutek gitu dong Tisya!" keluh nyonya Tania melihat kelakuan putrinya yang belum juga berubah.


Tisya pun mendengus kesal, ia tidak begitu suka melihat mama nya lebih memperhatikan Wilson ketimbang dirinya sendiri.


Tisya pun menarik kembali piringnya dan tersenyum, senyum yang di buat semanis mungkin hingga deretan gigi putih dan ratanya muncul di permukaan.


"Wilson ....., ini piring sama sendoknya! Di ambilin sekalian ya?!" ucap Tisya dengan begitu manis, yang di buat semanis mungkin.


"Nahhh gitu dong sayang ...., nggak usah di tanya langsung di ambilin aja!" ucap nyonya Tania, Tisya kembali mendengus sambil mengisi piring Wilson dengan makanan.


"Sudah cukup!" ucap Wilson saat Tisya menambahkan lagi makanan untuknya.


"Seharusnya nyonya tidak perlu repot seperti ini!" ucap Wilson yang masih merasa sungkan.


"Tidak pa pa, saya suka membawakan makanan buat kalian! Lagi pula sekarang kan jarak rumah saya sama rumah kamu lebih dekat lagi!" ucap nyonya Tania.


Tisya begitu terkejut mendengarkan ucapan mama Tania, ia sampai harus menghentikan makannya.


"Mama pindah rumah?" tanya Tisya.


"Iya sayang ...., mama di belikan rumah sama kakak kamu, sebenarnya mama menolak, tapi nak Wilson memaksa katanya kakak kamu akan marah kalau mama nggak menerimanya!"


"Jadi maksudnya kakak Frans?"


"Iya sayang siapa lagi ....., rumah mama cuma berada di tiga gang dari sini saja, dekat sama kedai dan juga sama rumah kalian!" ucap nyonya Tania dengan tersenyum.


"Rumah kalian apa sih ma, ini rumah Wilson!" gerutu Tisya yang merasa tidak enak sama pria yang ada di sampingnya.


"Wilson juga tidak keberatan, iya kan nak Wilson ...., lagian kalian kan juga tinggal bersama, pokoknya mama setiap hari akan mengirim makanan untuk kalian kalau mama nggak sempat datang mama akan nyuruh tukang ojek untuk mengirimnya!"


"Tidak perlu repot begini nyonya, saya jadi merasa tidak enak!"


"Nggak merepotkan, gimana masakan mama enak kan?" tanya mama Tania pada Wilson.


"Iya nyonya ...!"

__ADS_1


"Syukurlah ...., mama kan jadi tambah semangat kalau kayak gini!"


Setelah menghabiskan sarapannya, Wilson dan Tisya mengantar nyonya Tania hingga ke kedai bersama an dengan Tisya dan wilson berangkat kerja.


"Terimakasih ya ...., kalian semangat kerjanya!" ucap nyonya Tania menyemangati sambil mengacungkan tangannya.


"Bye ma ...!"


Mobil mereka mulai melaju meninggalkan kedai bakso tempat nyonya Tania bekerja, wanita itu masih melambaikan tangannya hingga mobil itu benar-benar menghilang di ujung jalan.


Nyonya Tania mulai membuka gembok yang mengikat pintu yang terbuat dari triplek rangkap berwarna coklat tua itu.


"Selamat pagi nyonya!"


Seseorang tiba-tiba menyapa nyonya Tania dari belakang.


"Iya?"


Nyonya Tania segera menoleh ke belakang, seorang pria berjas hitam sedang berdiri di belakangnya.


"Kamu ...!" Nyonya Tania mengenal siapa pria yang sedang berdiri di belakangnya itu, dia adalah orang kepercayaan dari ayahnya.


"Iya nyonya!"


"Ada apa ke sini? Apa ayah sakit?" tanya nyonya Tania, mau bagaimana pun sikap ayahnya, dia tetaplah ayahnya.


"Tidak nyonya, tuan besar baik-baik saja!"


"Lalu?"


"Tuan besar meminta nyonya untuk datang ke rumah, ada yang ingin tuan besar bicarakan pada anda!" ucap pria berwajah tegas itu, usianya seperti seumuran dengan nyonya Tania. Terlihat rambutnya juga sudah mulai beruban.


"Ada apa?" tanya nyonya Tania lagi.


"Saya tidak tahu nyonya, itu bisa anda tanyakan langsung pada tuan besar!"


"Baiklah ...., katakan pada ayah, nanti sore saya ke sana!"


"Baik nyonya, saya akan sampaikan pada tuan besar, kalau begitu saya permisi!"


Pria berjas hitam itu meninggalkan nyonya Tania yang masih berdiri di tempatnya, ia menatap punggung pria berjas yang berjalan menyeberangi jalan raya itu dan masuk ke dalam mobil warna hitam yang terparkir di sana.


"Kenapa ayah masih mencari ku? Bukankah ayah tidak ingin bertemu denganku lagi?" gumam Nyonya Tania.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2