
Maira terlihat begitu kecewa dengan pertanyaan Wilson, senyumnya tiba-tiba hilang berubah menjadi wajah kecewa.
"Kenapa ngomong gitu sih Wil?"
"Aku hanya ingin kamu bisa mengerti Mai, aku dan Tisya adalah sepasang suami istri! Akan sangat wajar jika kami saling jatuh cinta!"
Wilson memberi jeda pada ucapannya, ia mencoba memberi pengertian pada Maira jika dia dan Tisya tidak akan berpisah.
"Saya sangat menghargai perasaanmu, seandainya saja dulu kamu datang lebih cepat dari Tisya, mungkin saya akan memilihmu! Tapi hati ini sudah terlanjut untuk Tisya, jadi sekali lagi maafkan saya jika pengakuan ini menyakitimu, sungguh saya tidak pernah bermaksud seperti itu!"
Mata Maira sudah mulai mengeluarkan air mata, sesekali terlihat Maira mengusap air matanya walau tidak terdengar suara tangisnya.
"Hatimu sudah benar-benar tidak untukku?"
"Maafkan saya, semoga kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari saya!"
"Baiklah, saya mengerti! Selamat ya atas pernikahan kalian, semoga pernikahan kalian selalu bahagia!"
Maira menghela nafas lalu melanjutkan kembali ucapannya.
"Bagaimana pun sekarang, bagaimana perasaanku padamu, terimakasih atas waktu yang telah kita lalui beberapa hari belakangan ini, aku bahagia!"
Maira pun berdiri dari duduknya,
"Selamat tinggal Wilson!"
Wanita itu segera pergi meninggalkan Wilson sendiri.
Wilson menghela nafasnya lega, tinggal satu lagi yang belum ia lakukan, setelah ini ia harus mempersiapkan dengan benar hatinya.
Ia akan mengatakan semuanya pada dokter Frans, ia tidak ingin dihantui rasa bersalah karena telah mencintai adiknya dan mereka telah melakukan hal itu, tapi bukan sekarang.
Wilson pun segera meninggalkan mejanya, ia keluar dari kafe itu. Menuju ke mobilnya yang terparkir di depan.
Ia mengemudikan mobilnya langsung pulang ke rumah, ia sudah janji pada Tisya akan pulang cepat.
...***""***...
Di rumah
"Dia melarang ku ke mana-mana, memang aku hanya akan mendekam di sini saja apa, dasar!" gerutu Tisya yang tanpa sadar sudah satu jam di kamar Wilson tanpa melakukan apapun.
Tisya pun memilih kembali ke kamarnya dan mengganti bajunya, ia sudah lapar kembali. Ia teringat dengan makanan yang di bawakan oleh mamanya.
Tisya segera membuka lemari pendingin, mengambil makanan itu dan memanaskan sebentar di kompor.
"Ahhh lapar!"
Ia kembali duduk di meja makan dengan makanan di depannya.
"Mama emang jago banget masaknya!" pujinya sambil menyantap makanannya.
Saat ia sedang asyik makan, terdengar di luar suara mobil Wilson memasuki halaman rumah.
Deg
Tiba-tiba Tisya memegangi letak jantungnya.
"Waduhhhh ...., kenapa ini, jantungku! Jantungku kenapa?"
Tisya segera meneguk air putih di depannya, perutnya tiba-tiba terasa kenyang saja.
__ADS_1
"Bagaimana ini?"
Wanita itu terlihat begitu sibuk merapikan rambutnya, entah kenapa ia merasa penampilannya seperti ada yang kurang, ia menatap wajahnya dari kamera ponselnya memastikan jika tidak ada yang aneh.
Saat pria yang di tunggunya itu datang, Tisya segera pura-pura kembali makan tanpa menatap Wilson.
Wilson yang melihat Tisya di dapur, ia pun segera menghampirinya,
Kenapa dia cuek sekali??? batin Wilson.
Wilson pun berjalan mendekat dan duduk di depan Tisya hanya terpisah oleh sebuah meja makan.
Wilson pun segera mengambil gelas dan menuangkan air putih di dalamnya, tanpa menyapa Tisya ia pun segera meneguk air putih itu.
"Kamu kesambet ya?"
Tisya pun segera mendongakkan kepalanya, "Hahh?"
"Kamu kesambet?"
"Enggak!"
"Kenapa tiba-tiba jadi pendiam?"
"Nggak, biasa aja!"
Ada apa sih dengannya, batin Wilson.
Tisya segera berdiri dari duduknya, mengambil piring kotornya dan membawa ke tempat cuci piring.
Jantung ...., jantung ...., jangan gini-gini amet dong, gimana kalau Wilson denger detak jantungku .....
"Iya, aku udah makan dari tadi!"
Wilson pun memilih menghampiri Tisya,
Srekkkkk
Tangan Wilson sudah melingkar sempurna di perut Tisya membuat Tisya tertegun dibuatnya. Wilson memeluknya dari belakang.
Astaga ....., ini bagaimana, kayak kesetrum gini .....
Wilson tidak mengatakan apapun, ia menyadarkan dagunya di atas pundak Tisya hingga Tisya bisa merasakan hembusan nafas Wilson.
"Wil, aku nggak bisa gerak, gimana cuci piringnya?"
"Mau aku bantu?"
Tanpa menunggu jawaban dari Tisya, Wilson pun mendorong tubuh Tisya hingga tubuhnya terhimpit antara tubuh Wilson dan meja cuci piring.
Tangan Wilson mulai memegang tangan Tisya, ikut menggosok piring yang ada di tangan Tisya.
Wilson ...., apa-apaan sih .....
Perhatian Tisya bukan lagi pada piring di depannya, ia malah sibuk menatap wajah Wilson yang begitu dekat.
Kenapa dia jadi tampan sekali sih .....
Tanpa sadar, Wilson sudah mematikan kran airnya, bibir Wilson sudah menyusup ke lekuk leher Tisya membuat Tisya mengeram menahan agar bibirnya tidak mengeluarkan suara.
Tangan Tisya mencengkeram pinggiran tempat cuci piring saat tangan Wilson sudah mer*mas squsy milik Tisya.
__ADS_1
Kini Wilson sudah membalik badan Tisya hingga mereka saling berhadapan, Wilson menarik pinggang Tisya hingga tidak ada sekat di antara mereka,.
Tangan kirinya menatik tengkuk Tisya, bibirnya sudah menjamah bibir Tisya, menciumnya dengan begitu rakus.
"Wil...!" suara Tisya sudah bercampur *******, Wilson tahu jika Tisya sudah tidak mampu menahannya lagi.
Wilson segera mengangkat tubuh Tisya ala bridal, bibirnya terus melu*at bibir Tisya, membawanya ke kamar dan menjatuhkannya ke atas tempat tidur.
Wilson segera melepas jas dan kemejanya, kembali merangkak naik ke atas tubuh Tisya, melepas satu persatu pakaian yang di kenakan Tisya.
Mereka melakukannya untuk yang kedua kalinya, Wilson sudah benar-benar mantap untuk memiliki Tisya seutuhnya.
...****...
Satu bulan sudah pernikahan mereka, entah di sadari atau tidak tapi mungkin mereka memang sudah jatuh cinta.
Pagi ini Wilson berangkat lebih pagi, ia sudah yakin untuk bicara dengan dokter Frans tentang hubungannya dengan Tisya.
Ia juga tidak mau terus membohongi Tisya dengan mengatakan jika uang itu dari kakeknya.
"Kamu berangkat sendiri nggak pa pa ya!" ucap wilson sambil menyantap sarapannya.
Masih jam enam pagi, tidak mungkin Tisya ikutan berangkat.
"Iya deh nggak pa pa!"
Wilson menyelesaikan sarapannya dan segera berangkat.
Mobilnya mulai melaju meninggalkan rumah mereka.
Jalanan bahkan masih sepi, hanya ada beberapa mobil saja yang lalu lalang, yang ramai di beberapa bahu jalan, para berangkat kali lima yang menjajakan makanan untuk sarapan.
Biasanya ia butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di rumah dokter Frans tapi kini sudah bisa ia tempuh hanya dalam waktu lima belas menit.
Wilson memarkirkan mobilnya di halaman rumah yang luas itu, kedatangannya langsung di sambut oleh bi Molly.
"Tuan dokter apa dia sudah keluar dari kamarnya?"
"Sudah sejak pagi, tadi tuan menemani nyonya Felic jalan-jalan!"
"sekarang tuan di mana bi?"
"Kayaknya di ruang olah raga!"
"Saya temui tuan dulu ya bi!"
"Iya!"
Wilson pun segera berjalan cepat menuju ke ruang gym pribadi milik dokter Frans.
Bersambung
...Kita hidup di bawah langit yang sama, tapi kita berada di cakrawala yang berbeda. Sama tidak selamanya harus dengan warna yang sama juga, kadang biru, abu-abu, jingga dan gelap...
...Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya...
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1