
Akhir pekan seharusnya menjadi hari yang paling tepat untuk berbagi bersama keluarga, menghabiskan waktu yang banyak di bersama keluarga.
Felic sudah bangun sejak pagi berharap bisa menghabiskan waktu yang panjang dengan suaminya.
Ia tersenyum saat melihat dokter Frans sedang membaca surat kabar di teras rumahnya.
Felic segera menghampiri suaminya itu. Ia duduk di samping suaminya di bangku kecil yang terbuat dari rotan berbentuk setengah lingkaran.
“Frans …!” ucap Felic sambil menatap suaminya, tapi sepertinya suaminya itu tidak tertarik dengan dengan kedatangannya.
“hemm!” ucapnya tanpa menoleh pada Felic.
"Apa hari ini ada acara?" tanya Felic. Ia sangat berharap jika suaminya itu tidak akan pergi, karena semalam baru saja ayahnya telpon jika mereka akan berkunjung ke rumah, karena selama mereka pindah ke rumah besar itu, orang tuanya belum sempat datang berkunjung.
"Nggak!" ucap dokter Frans tanpa beralih dari surat kabarnya.
“hari ini jangan keman-mana ya!” ucap Felic lagi. Tapi dokter Frans sama sekali tidak memperhatikannya.
Dia tetap diam ...., baiklah ....., aku tidak akan menyerah ....., Felic bersiap melanjutkan ucapannya.
“Ayah sama ibu akan ke sini! Tapi kalau banyak pekerjaan nggak pa pa, nanti aku akan bilang sama ayah dan ibu!”
“Aku di rumah!” ucap dokter Frans dengan begitu dingin.
“terimakasih, Frans!” ucap Felic begitu senang.
Felic sudah akan memeluknya tapi dokter Frans tiba-tiba berdiri dan meninggalkannya begitu saja.
Tangan Felic sudah menggantung di udara, dan sia-sia saja.
Felic hanya bisa menatap punggung suaminya itu dengan begitu kecewa.
"Hehhhhh ....., sabar Fe ...., sabar .....! Semua pasti akan segera berlalu ....!"
Felic pun memilih menuju ke dapur untuk menemui bi Molly.
"Bi ....!" ucap Felic saat melihat bi Molly melintas di depan dapur.
"Iya nyonya!"
"Bi, nanti ayah sama ibu akan ke sini, bisa kan bibi buatkan makan siang untuk mereka?"
"Siap nyonya!"
"Terimakasih ya bi ...!"
"Ada lagi nyonya?"
"Tidak ...., tapi biarkan aku membantumu ya, ajari aku masak!"
"Tentu nyonya!"
Setelah menyiapkan segala sesuatu termasuk camilan, Felic pun segera menuju ke dapur untuk membantu bi Molly. Lebih tepatnya sambil kursus memasak.
Felic sebenarnya sedang membuat kerusuhan di dapur, bukannya membantu, Felic malah membuat pekerjaan bi Molly dan asisten yang lain harus bekerja dua kali karena setiap yang di sentuh Felic pasti bermasalah.
Mendengar keributan di dapurnya, dokter Frans yang sedang menyiapkan berkas yang sengaja ia buat untuk menyerang balik perusahaan Bactiar group, segera ia tinggalkan begitu saja dan tertarik untuk memeriksa apa yang terjadi di dapurnya.
"Nyonya bukan seperti itu, kalau seperti itu semua pasti akan gosong!" ucap bi Molly yang mulai mengeluh.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Felic yang tampak berantakan dengan tepung dan beberapa adonan bertebaran di wajah Felic.
"Diamkan saja sebentar nyonya, lalu masak yang lainnya. Setelah sedikit mengembangkan sempurna baru di angkat!" ucap bi Molly, sepertinya mereka sedang membuat kue kukus.
"Baiklah ...., aku akan memasak sayurnya saja!"
"Jangan nyonya!"
"Kenapa? Bukankah gampang tinggal masukin bumbu lalu masukin sayurnya kan?"
he he he ...., bi Molly dan yang lainnya hanya bisa tersenyum hambar. Bagaimana tidak ini sudah sayur yang ke tiga yang di masak Felic dan ternyata gagal.
Dokter Frans yang melihat dari kejauhan tanpa sadar ikut melengkungkan bibirnya.
Ting tong ting tong
Bel pintu berbunyi membuat keributan di dapur itu terhenti. Dokter Frans segera memberi isyarat jika dia yang akan membukakan pintu.
Felic yang masih berantakan itu segera melepas afronnya dan berlari menuju ke kamarnya. Ia harus mandi dan ganti baju, semua yang di dapur merasa begitu lega.
Dokter Frans pun berjalan menuju pintu dan membukanya.
Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga. Dokter Frans menyambut dengan begitu hangat.
"Ayah ibu mertua …, akhirnya kalian datang juga! Mari masuk ....!" ucap dokter Frans dan segera memberi jalan untuk tamu-tamu nya.
“Iya …, rumah kamu besar sekali Frans ternyata …, banyak penjaga juga di luar!” ucap ayah Dul mengagumi betapa besarnya rumah menantunya itu. Apa lagi saat mereka di antar dari pintu gerbang hingga ke pintu utama oleh beberapa penjaga.
“kakak ipar …!” ucap seseorang yang juga muncul dari belakang kedua mertuanya.
“Lisa ….! Bagaimana kabarmu?” tanya dokter Frans yang mengetahui jika itu adik iparnya.
"Baik kakak ipar, ayo Julian sapa paman kamu .....!"
__ADS_1
“Halo paman …!” sapa anak kecil yang di gandeng oleh adik iparnya itu. Namanya Julian, buah hati adik perempuan Felic.
“Julian jagoan kecil paman …, kamu tambah tembem aja …!” ucap dokter Frans sambil mencubit pipi tembem Julian.
"kakak ipar, kak Felic di mana? Nggak kelihatan!" tanya Lisa sambil mengedarkan pandangannya.
“Ada di dalam …, ayo masuk lah dulu …!”
Mereka pun sudah duduk di ruang keluarga, bi Molly juga sudah menyiapkan beberapa minuman untuk tamu tuannya itu.
Tak berapa lama Felic pun menuruni tangga dengan penampilan yang lebih segar.
“Ayah…, ibu …, kalian sudah datang!”
Felic segera menghampiri kedua orang tuanya dan mencium tangannya.
"Lisa kamu juga ikut, senengnya kakak! Mana Julian?" tanya Felic yang tidak melihat keponakannya itu.
"Ya iya dong kak, aku pasti ikut, tadi pas banget kebetulan aku lagi ke rumah ayah sama ibu! Kalau kakak tanya Julian, itu anaknya udah sibuk sama mainannya!”
“Julian ...., nggak kangen nih sama bibi?” teriak Felic, membuat bocah kecil itu segera berlari mendekat.
“Hai bibi! Rumah paman sama bibi besar …, boleh kan aku bermain lari-larian di sini?" tanya Julian.
Felic menoleh pada suaminya itu, Julian juga ikut tertarik padanya.
“Ya boleh jagoan kecil ....!” ucap doker Frans.
“Terimakasih paman!”
Julian pun segera berlari-lari an di dalam rumah yang begitu besar itu, beberapa asisten rumah tangga terus mengikuti bocah kecil itu.
Para orang tua sedang asik mengobrol, berbagi banyak hal.
Bi Molly kembali muncul dengan membawa berbagai macam camilan.
"Silahkan tuan, nyonya!"
"Terimakasih ya bi!" ucap Felic.
"Sama-sama nyonya, saya permisi!"
Bi Molly pun meninggalkan meraka kembali. Ibu Felic sedari tadi terus memperhatikan rumah itu, ia benar-benar mengagumi rumah menantunya itu, besar dan barang-barang mewah bertebaran di mana-mana.
“Rumah kamu benar-benar besar, ibu bisa kesasar kalau di sini!”
“Di sana ada kolam renangnya juga ..!” ucap Lisa saat melihat ada kolam renang pribadi di taman belakang yang begitu luas terlihat dari pintu kaca yang lebar
dan langsung terhubung dengan kolam renang itu.
"Iya ..., bu!" ucap Felic sambil menatap suaminya itu bingung. Ia tidak menyangka jika akan di peluk suaminya itu. Apa lagi sedari tadi suaminya itu terus menempel padanya.
Setelah cukup lama, akhirnya Julian mengajak Lisa untuk berenang. Felic dan ibunya pun ikut ke kolam renang.
Sedangkan dokter Frans sibuk mengobrol dengan ayah mertuanya.
“Wahhh …, rumah kakak benar-benar luar biasa, ngipi apa dulu kakak bisa nikah sama sultan kayak gini!” ucap Lisa yang sedari tadi tidak henti-hentinya mengagumi rumah yang setiap ruangannya selalu membuatnya terhipnotis. Setiap ruang punya ciri khas tersendiri tapi saling berhubungan.
Bahkan ada beberapa ruangan pribadi yang cukup mengagumkan, seperti ruang gym pribadi dengan peralatan gym yang sangat lengkap, studio film pribadi, kolam renang, ruang baca yang lengkapnya sama dengan perpustakaan kota.
“Ini pasti gara-gara perbuatan baikku di masa lalu!” ucap Felic membanggakan diri, walaupun sebenarnya dalam hati sedang menyimpan luka yang menganga, cukup dirinya dan suaminya yang tahu. Orang tuanya tidak perlu tahu.
“Sombong banget!” ucap Lisa sambil menyipratkan air ke Felic.
"Biarin ...., dulu kamu juga sombong mentang-mentang kakak nggak dapat-dapat jodoh ....!"
Di ruang keluarga itu, menantu dan mertua itu sedang menikmati bermain catur.
“Skak …!” teriak ayah Dul karena berhasil mengalahkan menantunya untuk ke lima kalinya.
“Ayah hebat banget mainnya!” puji dokter Frans. Selama ini ia tidak pernah kalah dalam main catur. Apa lagi jika mainnya sama Agra dan Rendi, dia yang paling jago.
“Anak muda nggak boleh lelet!” ucap ayah mertuanya sambil merapikan kembali caturnya.
“Padahal aku selalu menang kalau main sama Agra dan Rendi!” keluh dokter Frans yang ikut merapikan catur nya.
“bagaimana rumah tangga kalian tidak ada masalah kan?”
Dokter Frans terdiam. Mau dia tutupi bagaimanapun, seorang ayah pasti akan tahu apa yang terjadi.
“Biasa jika di tahun-tahun awal pernikahan itu ada banyak masalah karena saling mengenal satu sama lain, tapi lama-lama masalah itu akan terselesaikan dengan baik kalau
kita saling terbuka!” ucap ayah mertuanya berusaha menasehati.
“Iya ayah!”
“dan ingat, kalau marah jangan terlalu lama! marah itu wajar tapi kita harus belajar memaafkan demi rumah tangga kita, ajak bicara dan selesaikan bersama! Dia tidak
akan menyelesaikan masalah!”
Felic dan ibunya kembali dari kolam renang, Lisa membantu Julian untuk mandi dan mengganti baju.
“Kita makan siang, ayah! Bi Molly sudah menyiapkan semuanya!”
__ADS_1
“Iya baiklah ..., ayo Frans …!”
"Biar aku simpan dulu ini yah!" ucap dokter Frans sambil menunjuk papan caturnya.
Mereka pun menikmati makan siang, Felic dan Frans bersikap seolah-olah tidak ada masalah antara mereka. Dokter Frans juga sesekali menyuapkan makanan ke mulut
Felic dan bercanda dengan Julian.
"Fe ...., kamu juga harus belajar memasak, buatkan makanan untuk suamimu!" ucap ayah Dul sambil menyantap makanan nya. Hal itu membuat dokter Frans tersedak.
Felic segera mengambilkan air minum untuk suaminya itu.
"Minumlah Frans!"
Dokter Frans pun segera meminumnya, ia tersedak karena mengingat bagaimana baru saja istrinya itu membuat keributan di dapur. Jika itu terjadi setiap hari, bi Molly pasti akan mengeluh padanya.
Setelah menyelesaikan makan siangnya. Mereka pun berpamitan untuk pulang.
“kami pulang dulu ya!” ucap ayah Dul.
“Lain kali kesini lagi ya! Kami senang sekali kalau ayah dan ibu sering-sering datang ke sini, Lisa juga, Julian juga!” ucap dokter Frans sambil mengusap pipi gembul Julian.
“Iya …, kalian juga baik-baik ya!”
Dokter Frans dan Felic mengantar tamunya hingga sampai di depan rumah. Mereka melambaikan tangannya saat mobil tua milik ayah Dul keluar dari pintu gerbang tinggi itu.
***
Di tempat lain, karena tidak mendapat data dari rumah sakit, akhirnya nyonya Tania mencari tahu dengan cara lain.
Ia memanggil dua orang mata-mata untuk melakukannya.
Nyonya Tania sedang duduk di bangku taman rumahnya, dua orang dengan badan kekar datang menemuinya.
"Selamat siang nyonya!" sapa mereka.
"Siang!" jawab nyonya Tania sambil meletakkan majalah yang ada di tangannya di bangku kosong di sebelahnya. Ia beralih mengambil ponselnya yang sedari tadi ia letakkan di sampingnya.
“Ada apa nyonya memanggil kami?” tanya salah satu dari mereka. Dua orang itu berdiri sambil menatap nyonya besar di depannya.
“saya butuh bantuan kalian!” ucap nyonya Tania.
“katakan saja nyonya, kami akan melakukannya!”
“Bagus! Cari data tentang Felicia, ini fotonya!” ucap nyonya Tania sambil menunjukkan layar ponselnya. Dua pria itu segera mengamati wajah wanita yang di maksud nyonyanya itu.
“Serahkan pada kami nyonya!”
"Ya sudah pergilah, dan ini lima puluh persen bayaran kalian, sisanya setelah berhasil!" ucap nyonya Tania sambil menyerahkan sebuah amplop warna coklat yang sudah ia siapkan.
"Kami permisi nyonya!"
Dua pria itu segera meninggalkan nyonya Tania, saat di ujung taman. Mereka berpapasan dengan Tisya.
"Permisi nona!" sapa dua pria itu lalu meninggalkan Tisya. Tisya segera menghampiri ibunya.
“Ma …, mereka siapa?” tanya Tisya yang baru saja datang dan mencium mamanya.
“Bukan siapa-siapa sayang, mana Rizal?” tanya nyonya Tania yang melihat putri nya hanya datang sendiri sedangkan tadi berangkatnya bersama tunangannya.
“langsung pulang ma!"
“kenapa?"
"Katanya ada urusan penting, makanya kami cepat pulang!"
“Mereka tadi beneran bukan siapa-siapa ma? Mama nggak sedang merencanakan sesuatu kan ma?" tanya Tisya menyelidik.
"Bukan siapa-siapa sayang , jangan khawatir…!"
"Beneran?"
"Benar sayang, nggak percaya banget sama mama!"
"Abis mama misterius banget sih ....!"
"Sudah sana ...., segera bersiap-siaplah papa kamu mengajak kita makan malam di luar!”
"Dalam rangka apa ma?"
"Bukan apa-apa sayang ...., mungkin papa kamu memang sedang ingin makan bertiga!"
“Siap ma …! Tisya mandi dulu ya ma ....!"
"Iya ....!"
...Tidak perlu tahu, kapan aku harus sedih atau bahagia, yang harus kamu tahu aku tetap mencintaimu meskipun tanpa kata. Mungkin memang aku egois, tapi jangan marah ya, inilah aku yang tidak sempurna ...!~ dr. Frans...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰