
Setelah menjenguk Felic, Rangga mengantar Ersya pulang ke rumahnya. Ia tidak langsung
pulang, Rangga memilih mengunjungi tempat-tempat yang dulu sering di jadikan
tempat favorit untuk mereka. Salah satunya adalah lapangan basket yang berada
di sebelah sekolahnya.
Rangga menghentikan mobilnya di samping lapangan itu, ia menatap jauh ke dalam
lapangan yang penuh kenangan itu. Rangga segera turun dari mobil, mengambil
bola yang selalu ia bawa ke mana-mana. Bola basket itu adalah bola yang dulu
mereka beli dengan mengumpulkan uang bersama-sama dengan tulisan
“With love we can” teringat sekali ia bahasa inggris yang kosa katanya paling bisa mereka
ingat.
Tulisan di bola itu boleh memulai memudar tapi cintanya pada gadis yang menulis di bola
itu seakan tidak mau memudar. Rangga mulai memainkan bola itu dengan beberapa
kali pantulan dan melemparnya ke udara tepat masuk ke dalam keranjang yang
menggantung itu.
“Takdir…, mungkin saat ini sedang ingin bermain-main dengan cintaku, butuh banyak
pantulan untuk bisa sampai ke sana, mungkin benar aku harus berjuang lebih
keras lagi!”
Rangga kembali memantul-mantulkan bolanya hingga entah sudah berapa kali ia
memasukkan bola itu ke dalam keranjangnya.
🌺🌺🌺🌺
Pagi ini Rangga memilih untuk berangkat kerja pagi, ia menjadi salah satu karyawan
di sebuah perusahaan sebagai seorang manager. Ia memang memiliki dedikasi yang
tinggi dengan pekerjaannya hingga mencapai posisi itu.
“Abi …, semalam kata papa kamu, kamu pulangnya tengah malam, keana saja?’ tanya
tante Moi, ibunya Rangga. Rangga sudah duduk di meja makan dan menyantap
sarapannya.
“Abi ke rumah sakit dulu ma!”
“Siapa yang sakit?”
“Fe …!”
“Felicia sakit, Sakit apa?”
“Sakit perut!”
"Apa dia sudah mulai hamil?" pertanyaan ibunya membuat hati Rangga semakin sakit saja, ia tidak bisa membayangkan bagaimana Felic akan menghabiskan malam besama pria itu.
"Tidak, ma!" Felic hanya mengalami asam lambung saja!"
"Oh ....., aku kira ...., tapi kamu tidak pa pa kan?"
"Ma ...., yang sakit itu Felic bukan Abi!"
“Oh iya ....., kasihan sekali, pasti dia sangat tertekan …, mama pengen ikutan jenguk deh kalau ada waktu!”
🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Siang ini setelah menyelesaikan pekerjaannya, Rangga berencana kembali menjenguk Felic,
kebetulan tidak terlalu sibuk di kantor. Waktu makan siang pun tiba, Rangga
segera menuju ke rumah sakit.
Ia tidak lagi perlu bertanya pada resepsionis karena sudah tahu di mana Felic di
rawat. Langkahnya begitu pasti hingga ia lupa jika ia melewati lift khusus.
Langkahnya terhenti saat sampai di depan lift saat melihat sosok yang begitu ia kenal
akhir-akhir ini, dia rifal-nya.
Rangga segera masuk ke dalam lift. Berdiri berjejer dengan pria itu.
“Selamat siang tuan Rangga!”
“Selamat siang, Frans!”
“Apa anda ingin menjenguk istri saya? Kebetulan sekali saya juga mau makan siang
dengannya. Kalau begitu kita bisa makan siang bersama, bukan begitu?” dokter
Frans tersenyum dengan senyum yang sulit di artikan.
“Jika itu tidak menggangu, dengan senang hati!”
Berani sekali dia mau ngapelin
istri gue …, dia anggap apa gue ….
Tanpa menunggu Rangga, dokter Frans berjalan mendahuluinya, ia sudah tidak sabar
menghampiri Felic ingin tahu bagaimana ekspresi Felic saat melihatnya datang
dengan mantan pacarnya.
🌺🌺🌺🌺
berangsur menghilang hanya tinggal nyeri sedikit yang masih bisa di tahan olehnya tanpa menggunakan penghilang rasa sakit.
Tangannya yang bengkak akibat kejadian kemarin juga sudah tidak terlalu.
Felic baru menyadari jika ruang perawatannya itu begitu lebar karena baru hari ini ia
bisa mengelilingi ruangan itu.
“Sya …, ruangan ini sungguh luar biasa!” ucap Felic, ternyata ia sedang berbicara
dengan Ersya melalui ponselnya. Semenjak sahabatnya itu masuk rumah sakit,
Ersya selalu menelponnya sehari tiga kali persis seperti minum obat.
“Kan gue sudah bilang, emang ruangan itu persis seperti hotel bintang lima, sudah
lihat kamar mandinya belum?”
“Sudah, tapi belum terlalu detail!”
“Sekarang perhatikan lagi!” Felic pun menuruti perintah dari sahabatnya itu, walaupun
sedikit kesusahan dengan slang infus di tangan kirinya, ia berjalan menuju ke
kamar mandi, ia baru menyadari betapa luasnya kamar mandi itu lengkap dengan
bathupnya, ada air panasnya dengan aroma terapi.
“Ini luar biasa Sya …, gue seakan tinggal di hotel bintang lima, tapi sayang sya gue
nggak bisa nikmatinya!”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Gue kan sedang sakit, mana bisa gue berendam di bathup sambil menikmati aroma
terapinya!”
Felic kembali keluar dengan wajah kecewanya, tapi ternyata percakapan mereka sudah di
dengar oleh seseorang dan seseorang itu adalah dokter Frans, ia sudah berdiri
di belakangnya.
“Frans …, lo …, kapan lo datang?” tanya Felic wajah kecewa itu berubah menjadi terkejut sampai ia lupa menjauhkan ponselnya dari daun telinganya.
“fe …, fe …, lo masih di sana kan?” terdengar dari seberang sana menanyakan
keberadaan Felic, Felic yang menyadari sambungan telponnya masih terhubung
segera mendekatkan kembali ponselnya dari daun telinganya.
“Sya …, sudah ya, nanti gue telpon lagi!” Felic dengan cepat mematikan sambungan
telponnya, ia kembali menatap pria yang ada di depannya itu.
“Kapan lo datang?”
“baru saja!”
Dokter Frans mendekap tubuhnya dan meninggalkan ciuman manis di keningnya cukup lama. Felic segera mendorong tubuh dokter Frans, ia hendak protes tapi Felic kembali di kejutkan saat melihat pria yang juga sedang berdiri tidak jauh dari
dokter Frans.
“Rangga!”
Felic kembali terpekik saat tiba-tiba dokter Frans menarik tubuhnya lagi ke dalam
pelukannya hingga wajahnya membentur dada bidang milik dokter Frans. Hingga
felic mampu mencium aroma maskulin dari dokter Frans, ia juga bisa mendengarkan
detak jantung pria itu, sesaat mereka terdiam. Rangga yang melihatnya lagi-lagi
harus mengaku kalah karena tidak punya hak untuk mencegahnya.
“Frans ada apa?” tanya felic setelah berhasil menghilangkan rasa keterkejutannya.
“Maaf ya, gue belum bisa bahagiain lo, ntar kalau lo sembuh kita jalan-jalan ya!”
Felic segera mendorong tubuh dokter frans dan menatapnya kesal.
“stttt …, jangan suka berjanji, biasanya orang suka berjanji akan mati!”
“Hehhh …, lo nyumpahin gue mati nih!” ucap dokter Frans sambil mengacak-acak rambut
Felic membuat felic tertawa.
Rangga begitu iri melihat mereka saling tertawa seperti itu, hatinya terasa sakit. Ia ingin hanya dirinyalah penyebab dari tawa milik
wanita itu, tapi ternyata kini pria yang sudah menjelma menjadi suaminya itu
sudah berhasil membuat gadisnya tertawa lepas seperti itu.
Disadari atau tidak cinta felic semakin terkikis untuk Rangga dengan segala perhatian
dan kekonyolan yang di berikan oleh dokter Frans, tapi untuk mengartikan sebuah
cinta butuh proses yang panjang.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘😘❤️