Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Perjuangan Rangga


__ADS_3

Setelah menjenguk Felic, Rangga mengantar Ersya pulang ke rumahnya. Ia tidak langsung


pulang, Rangga memilih mengunjungi tempat-tempat yang dulu sering di jadikan


tempat favorit untuk mereka. Salah satunya adalah lapangan basket yang berada


di sebelah sekolahnya.


Rangga menghentikan mobilnya di samping lapangan itu, ia menatap jauh ke dalam


lapangan yang penuh kenangan itu. Rangga segera turun dari mobil, mengambil


bola yang selalu ia bawa ke mana-mana. Bola basket itu adalah bola yang dulu


mereka beli dengan mengumpulkan uang bersama-sama dengan tulisan


“With love we can” teringat sekali ia bahasa inggris yang kosa katanya paling bisa mereka


ingat.


Tulisan di bola itu boleh memulai memudar tapi cintanya pada gadis yang menulis di bola


itu seakan tidak mau memudar. Rangga mulai memainkan bola itu dengan beberapa


kali pantulan dan melemparnya ke udara tepat masuk ke dalam keranjang yang


menggantung itu.


“Takdir…, mungkin saat ini sedang ingin bermain-main dengan cintaku, butuh banyak


pantulan untuk bisa sampai ke sana, mungkin benar aku harus berjuang lebih


keras lagi!”


Rangga kembali memantul-mantulkan bolanya hingga entah sudah berapa kali ia


memasukkan bola itu ke dalam keranjangnya.


🌺🌺🌺🌺


Pagi ini Rangga memilih untuk berangkat kerja pagi, ia menjadi salah satu karyawan


di sebuah perusahaan sebagai seorang manager. Ia memang memiliki dedikasi yang


tinggi dengan pekerjaannya hingga mencapai posisi itu.


“Abi …, semalam kata papa kamu, kamu pulangnya tengah malam, keana saja?’ tanya


tante Moi, ibunya Rangga. Rangga sudah duduk di meja makan dan menyantap


sarapannya.


“Abi ke rumah sakit dulu ma!”


“Siapa yang sakit?”


“Fe …!”


“Felicia sakit, Sakit apa?”


“Sakit perut!”


"Apa dia sudah mulai hamil?" pertanyaan ibunya membuat hati Rangga semakin sakit saja, ia tidak bisa membayangkan bagaimana Felic akan menghabiskan malam besama pria itu.


"Tidak, ma!" Felic hanya mengalami asam lambung saja!"


"Oh ....., aku kira ...., tapi kamu tidak pa pa kan?"


"Ma ...., yang sakit itu Felic bukan Abi!"


“Oh iya ....., kasihan sekali, pasti dia sangat tertekan …, mama pengen ikutan jenguk deh kalau ada waktu!”


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Siang ini setelah menyelesaikan pekerjaannya, Rangga berencana kembali menjenguk Felic,


kebetulan tidak terlalu sibuk di kantor. Waktu makan siang pun tiba, Rangga


segera menuju ke rumah sakit.


Ia tidak lagi perlu bertanya pada resepsionis karena sudah tahu di mana Felic di


rawat. Langkahnya begitu pasti hingga ia lupa jika ia melewati lift khusus.


Langkahnya terhenti saat sampai di depan lift saat melihat sosok yang begitu ia kenal


akhir-akhir ini, dia rifal-nya.


Rangga segera masuk ke dalam lift. Berdiri berjejer dengan pria itu.


“Selamat siang tuan Rangga!”


“Selamat siang, Frans!”


“Apa anda ingin menjenguk istri saya? Kebetulan sekali saya juga mau makan siang


dengannya. Kalau begitu kita bisa makan siang bersama, bukan begitu?” dokter


Frans tersenyum dengan senyum yang sulit di artikan.


“Jika itu tidak menggangu, dengan senang hati!”


Berani sekali dia mau ngapelin


istri gue …, dia anggap apa gue ….


Tanpa menunggu Rangga, dokter Frans berjalan mendahuluinya, ia sudah tidak sabar


menghampiri Felic ingin tahu bagaimana ekspresi Felic saat melihatnya datang


dengan mantan pacarnya.


🌺🌺🌺🌺


berangsur menghilang hanya tinggal nyeri sedikit yang masih bisa di tahan olehnya tanpa menggunakan penghilang rasa sakit.


Tangannya yang bengkak akibat kejadian kemarin juga sudah tidak terlalu.


Felic baru menyadari jika ruang perawatannya itu begitu lebar karena baru hari ini ia


bisa mengelilingi ruangan itu.


“Sya …, ruangan ini sungguh luar biasa!” ucap Felic, ternyata ia sedang berbicara


dengan Ersya melalui ponselnya. Semenjak sahabatnya itu masuk rumah sakit,


Ersya selalu menelponnya sehari tiga kali persis seperti minum obat.


“Kan gue sudah bilang, emang ruangan itu persis seperti hotel bintang lima, sudah


lihat kamar mandinya belum?”


“Sudah, tapi belum terlalu detail!”


“Sekarang perhatikan lagi!” Felic pun menuruti perintah dari sahabatnya itu, walaupun


sedikit kesusahan dengan slang infus di tangan kirinya, ia berjalan menuju ke


kamar mandi, ia baru menyadari betapa luasnya kamar mandi itu lengkap dengan


bathupnya, ada air panasnya dengan aroma terapi.


“Ini luar biasa Sya …, gue seakan tinggal di hotel bintang lima, tapi sayang sya gue


nggak bisa nikmatinya!”


“Kenapa?”

__ADS_1


“Gue kan sedang sakit, mana bisa gue berendam di bathup sambil menikmati aroma


terapinya!”


Felic kembali keluar dengan wajah kecewanya, tapi ternyata percakapan mereka sudah di


dengar oleh seseorang dan seseorang itu adalah dokter Frans, ia sudah berdiri


di belakangnya.


“Frans …, lo …, kapan lo datang?” tanya Felic wajah kecewa itu berubah menjadi terkejut sampai ia lupa menjauhkan ponselnya dari daun telinganya.


“fe …, fe …, lo masih di sana kan?” terdengar dari seberang sana menanyakan


keberadaan Felic, Felic yang menyadari sambungan telponnya masih terhubung


segera mendekatkan kembali ponselnya dari daun telinganya.


“Sya …, sudah ya, nanti gue telpon lagi!” Felic dengan cepat mematikan sambungan


telponnya, ia kembali menatap pria yang ada di depannya itu.


“Kapan lo datang?”


“baru saja!”


Dokter Frans mendekap tubuhnya dan meninggalkan ciuman manis di keningnya cukup lama. Felic segera mendorong tubuh dokter Frans, ia hendak protes tapi Felic kembali di kejutkan saat melihat pria yang juga sedang berdiri tidak jauh dari


dokter Frans.


“Rangga!”


Felic kembali terpekik saat tiba-tiba dokter Frans menarik tubuhnya lagi ke dalam


pelukannya hingga wajahnya membentur dada bidang milik dokter Frans. Hingga


felic mampu mencium aroma maskulin dari dokter Frans, ia juga bisa mendengarkan


detak jantung pria itu, sesaat mereka terdiam. Rangga yang melihatnya lagi-lagi


harus mengaku kalah karena tidak punya hak untuk mencegahnya.


“Frans ada apa?” tanya felic setelah berhasil menghilangkan rasa keterkejutannya.


“Maaf ya, gue belum bisa bahagiain lo, ntar kalau lo sembuh kita jalan-jalan ya!”


Felic segera mendorong tubuh dokter frans dan menatapnya kesal.


“stttt …, jangan suka berjanji, biasanya orang suka berjanji akan mati!”


“Hehhh …, lo nyumpahin gue mati nih!” ucap dokter Frans sambil mengacak-acak rambut


Felic membuat felic tertawa.


Rangga begitu iri melihat mereka saling tertawa seperti itu, hatinya terasa sakit. Ia ingin hanya dirinyalah penyebab dari tawa milik


wanita itu, tapi ternyata kini pria yang sudah menjelma menjadi suaminya itu


sudah berhasil membuat gadisnya tertawa lepas seperti itu.


Disadari atau tidak cinta felic semakin terkikis untuk Rangga dengan segala perhatian


dan kekonyolan yang di berikan oleh dokter Frans, tapi untuk mengartikan sebuah


cinta butuh proses yang panjang.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰😘😘❤️


__ADS_2