
Rangga menatap Miska dengan tatapan yang sulit di artikan tapi itu bukan sebuah penyesalan, "Iya, aku memang membatalkan rencana pernikahan kita."
"Tapi kenapa?"
"Aku merasa aku tidak pernah mencintaimu, jangan sampai pernikahan ini benar-benar terjadi karena terpaksa. Aku harap kamu bisa mengerti, aku tidak pernah mencintaimu. Jika memang sebelum aku kecelakaan aku pernah mencintaimu, aku harap kamu bisa memaafkan aku. Tapi benar, aku tidak pernah merasakan perasaan cinta padamu!"
"Atau jangan-jangan semua ini gara-gara Zea, iya kan?"
"Kenapa jadi bawa-bawa Zea ke dalam masalah kita?"
"Karena memang Zea biang masalahnya, semenjak kamu dekat dengan Zea, kamu jadi berubah!"
"Aku tidak suka kamu mengkambing hitamkan orang lain dalam masalah kita. Masalah kita terjadi karena memang kita yang bermasalah bukan orang lain. Jadi dengarkan baik-baik, mulai sekarang kamu bukan lagi calon istri aku, jadi kamu boleh meninggalkan apartemen aku!"
"Tega sekali sih ga, kamu ngusir aku juga!"
"Ya kalau kamu masih betah di sana, silahkan tinggal sesukamu tapi yang jelas aku tidak akan kembali ke sana sebelum kamu pergi."
"Ga_!?"
"Aku harus bekerja, kedepannya kita akan bicara hanya untuk membicarakan masalah pekerjaan. Semoga setelah ini harimu lebih menyenangkan!"
Rangga pun segera meninggalkan Miska yang masih berdiri di tempatnya.
"Rangga, teganya kamu!" teriak Miska tapi tetap saja Rangga tidak peduli. Yang terpenting dari semuanya akhirnya ia bisa terbebas dari Miska. Itu jauh lebih melegakaan, seakan ia baru saja terlepas dari ikatan yang menyesalkan.
Saat ia sampai di ruang kerjanya, ternyata Zea sudah berada di dalam ruangan itu, Rangga segera menghampirinya, memang wajah Zea sudah terlihat segar tapi tetap saja ia masih begitu khawatir jika Zea kembali bekerja.
"Zee, kamu sudah masuk?"
Zea tersenyum dan mengangukkan kepalanya, "Iya, aku sudah baik!"
"Tapi Zee akan lebih baik kamu istirahat dulu."
"Mana bisa aku istirahat terlalu lama, kita ini satu tim, harus kerjanya bersama-sama!"
"Jangan pikirkan hal itu, tidak pa pa jangan khawatir aku bisa mengerjakannya sendiri!"
"Ya mana bisa seperti itu, kita ini tim jadi harus bekerja bersama-sama. Lagi pula besok kan hari libur kita akan tidak bertemu selama dua hari!"
Rangga tersenyum lalu mendekati Zea, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Zea dan berbisik, "Kenapa? Takut kangen ya?"
Deg
Zea seperti berhadapan dengan suaminya yang tidak hilang ingatan, "Ga!"
Rangga pun kembali menjauhkan tubuhnya dan duduk di kursinya kembali, ia tersenyum sambil memulai pekerjaannya.
"Ga, kamu tadi sepertinya mengatakan sesuatu?" melihat sikap Rangga yang biasa saja, Zea menjadi kembali tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
__ADS_1
"Ada apa?" Rangga menurunkan berkasnya sebatas hidung hingga ia bisa melihat wajah Zea yang bersemu merah.
"Kamu benar mengatakannya kan tadi?"
Rangga lagi-lagi tersenyum, "Iya!"
"Apa kamu_!" tiba-tiba tangan Rangga terulur dan menusuk kening Zea dengan telunjuknya,
"Jangan memikirkan macam-macam, lagi pula memang orang-orang kerap merindukanku karena tidak bertemu denganku. Bahkan sekarang sekretaris Revan pun juga mengatakan hal itu padaku!"
Iyhhhhh, padahal aku tadi sudah berharap banyak, ternyata zonk ...., Zea sudah berharap Rangga akan mengingatnya kembali.
Nona Ersya salah nih kayaknya prediksinya, katanya hanya dalam waktu satu Minggu saja Rangga pasti sudah ingat semuanya, ternyata Rangga tidak secerdah yang di katakan nona Ersya ....
"Kamu sedang memikirkan apa?" Rangga yang melihat Zea bengong jadi penasaran.
"Enggak, sudah ayo mulai bekerja!" Zea pun mulai mengambil berkasnya tapi kembali di ambil oleh Rangga, "kenapa di ambil sih?"
"Biarkan berkasnya di sini!"
"Iya, aku juga tidak akan membawa kemana-mana, aku juga akan tetap di sini, memang aku mau ke mana dengan berkas ini!"
"Ikuti saja instruksi dari aku!"
"Instruksi apa?"
"Baiklah, sudah siap?"
"Kalau begitu sekarang duduklah di sana!" Rangga menunjuk sofa panjang yang ada di depannya.
"Ada apa?" Zea justru bingung dengan apa yang di maksud Rangga.
"Mau mulai kerja apa enggak? Kalau iya, cepetan duduk di sana!"
Akhirnya Zea hanya bisa mengikuti apa yang di perintahkan oleh Rangga, "Lalu?"
"Duduk manis di situ, tugas kamu cukup melihatku dari situ, jangan pegang apapun di atas meja, termasuk bolpoin!"
"Ponsel!"
"Baiklah, ponsel boleh!"
Ini peraturan macam apa?
Bahkan selama bekerja m, Rangga tidak membiarkan Zea memegang selembar kertas pun.
Tuan Seno yang kebetulan lewat tertarik mengintip apa yang tengah di lakukan putri dan menantunya. Ia tersenyum melihat bagaimana Rangga memperlakukan Zea,
"Benar ternyata, seorang wanita akan menjadi ratu jika berada di tangan laki-laki yang benar-benar mencintainya!" gumam tuan seno. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia memilih kembali berbalik dengan bibir yang tidak berhenti tersenyum.
__ADS_1
"Aku sampai kapan tidak melakukan pekerjaan apapun seperti ini?"
"Sudah jangan bawel, siapa bilang kamu tidak bekerja. Dengan adanya kamu di sini, sudah menjadi penyemangat buat seseorang!"
"Seseorang?"
"Iya!"
"Maksudnya?"
"Siapa lagi kalau bukan suami kamu, sudah diam dan biarkan aku bekerja!"
Dia masih belum sadar juga kalau dia itu suami aku ....
Zea pun akhirnya menyerah, ia hanya duduk sambil memandangi wajah Rangga yang terlihat begitu serius dengan pekerjaannya. Bahkan di depannya kini sudah berserakan berkas-berkas yang harus di susun dan di revisi.
Lama kelamaan rasa kantuk akhirnya menyerang juga, Zea mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa, sambil menatap wajah Rangga berharap jika ia tertidur bisa memimpikan pria yang tengah serius di depannya.
Akhirnya Zea benar-benar tertidur pulas, Rangga yang melihat posisi Zea pun menggelengkan kepalanya.
Ia beranjak dari tempatnya dan membantu Zea memperbaiki posisinya, ia mengambil bantal sofa yang ada di belakangnya dan mengangkat kepala Zea agar ia memakai bantalnya tapi tiba-tiba tangan Zea mengalung di lehernya.
"Rangga, aku mencintaimu!" sebuah gumaman keluar dari mulut Zea tapi terlihat matanya masih terpejam.
"Zee!?" panggil Rangga tapi Zea tidak membalasnya lagi.
Ternyata Zea hanya mengigau, tapi tanganya masih melingkar di leher Rangga membuat jarak mereka begitu dekat, bahkan Rangga bisa merasakan hembusan nafas Zea.
Rangga bisa menatap wajah cantik Zea dengan begitu jelas,
Dia begitu cantik, bibirnya, hidungnya, bulu matanya, bahkan aku bisa mengingat lekuk wajahnya walau pun dengan mata terpejam ....
Rangga tidak berniat untuk melepaskan tangan Zea, ia juga suka dengan posisi seperti ini hingga akhirnya tangan itu terlepas dengan sendirinya.
Rangga kembali menatap wajah itu, kemudian tatapannya beralih pada perut Zea,
"Dia anakku!" gumamnya lirih, "Papa janji, papa akan bekerja lebih keras lagi buat kita, papa, mama dan kamu!"
Rangga kembali meninggalkan Zea dan duduk kembali di tempatnya. Ia seolah mendapatkan kembali amunisinya, ia seperti menemukan kembali alasan untuk giat bekerja, ia membayangkan keluarga kecilnya kelak apalagi saat ini ia sudah terbebas dari hubungan semunya dengan Miska.
"Aku harus bisa mengembalikan semua yang sudah papa korbankan untukku!"
Proyek yang tengah mereka kerjaan ini, jika berhasil dan selesai tepat waktu ia akan mendapatkan bonus yang cukup besar karena memang proyek ini bukan proyek main-main.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...