
Zea perlahan melepaskan lengan Rangga yang melingkar di pinggangnya.
Ia membalik badannya, menatap tajam pada Rangga.
"Aku akan jelaskan sekarang, bukan karena aku ingin kau memaafkan aku, tapi aku tidak suka kamu menganggapku serendah itu!"
"Siang itu gaun datang bersamaan, aku tidak berpikir untuk bertanya terlebih dulu aku pikir aku memilih baju yang tepat, dan tentang pria yang memelukku dia adalah sahabatku sedari sekolah, dia sudah punya istri, dia menolongku dalam kekacauan malam itu. Dan lagi apa bedanya aku dengan mu?"
"Apa kamu bebas menyentuh siapapun dan aku tidak! Wanita itu sudah membuktikan semuanya!"
Zea kembali berbalik tapi lagi Rangga menahan tangannya.
"Aku sungguh tidak ada hubungan apapun dengan Miska!"
"Ohhh jadi namanya Miska dan kamu ingin aku memakai gaun yang sama dengan wanita itu, aku tidak mau! Itu menyakitkan Ga!"
"Aku sungguh tidak tahu kalau dia kan memakai gaun yang sama dengan yang aku beli untukmu!"
"Sekarang bukan urusanku lagi, lagi pula hubungan kita tidak tercatat kan di negara. Jadi kamu bebas sama siapa saja!"
"Aku tetap ingin sama kamu! please ...., jangan tolak aku!" Rangga sampai berlutut di depan Zea.
"Jangan lakukan itu, aku tidak suka!"
"Aku sungguh minta maaf, aku ingin kita bisa memperbaiki semuanya!"
"Maaf, kaca yang sudah terlanjur pecah tidak mungkin bisa utuh seperti semula!"
"Tapi kamu bukan kaca!"
"Hatiku yang seperti kaca! Pulanglah!"
"Aku akan tetap di sini! Cukup diam dan aku yang akan memperbaiki semuanya!"
"Terserah aku mau tidur, jadi jangan ganggu aku!"
Zea kembali berjalan dan meninggalkan Rangga. Ia memilih pergi ke kamar dan menutup kembali pintunya, menguncinya dari dalam.
Di dalam kamar, Zea hanya bisa menangis. Ia bisa mengatakan tidak tapi hatinya meminta untuk tinggal. Ia duduk di balik pintu yang sama di mana Rangga duduk saat ini, saling meratapi kesedihan yang mereka buat sendiri.
"Aku harus apa?"
"Aku terlalu takut untuk mengalami hal yang sama berulang kali!"
Ternyata Rangga melakukan hal yang sama, ia masuk memilih duduk di tempat yang sama, mereka hanya terpisahkan oleh sebuah daun pintu.
"Zea, aku sungguh menyesal, aku benar mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpa kamu! Kamu tahu itu!" walaupun tidak di katakan, terlihat dari betapa kacaunya pria itu siapapun sudah bisa menebak kalau dia sedang patah hati.
Setelah tidak ada jawaban dari dalam, Rangga pun memutuskan untuk tidur di sofa yang ada di depan tv. Ia akan membuktikan perkataannya, memperbaiki hubungan yang baru tercipta itu agar tidak berakhir dengan cepat.
...***...
Rumah Rangga
Terlihat mama Rangga sedang uring-uringan sekarang karena putranya sudah tidak pulang dua hari. Ia juga sudah memastikan di apartemen putranya, ternyata juga tidak ada. Apartemen itu sudah lama kosong dan hanya di bersihkan saja.
__ADS_1
"Rangga sudah nggak pulang dari kemarin, ponselnya juga tidak bisa di hubungi! Mama jadi cemas, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama Rangga pa?"
Ia hanya bisa berkeluh kesah pada suaminya, tapi sepertinya ia salah karena suaminya terlalu santai menanggapi semuanya.
"Makanya ma, jangan suka memaksakan kehendak sama anak. Jadinya kan begitu, anak kita satu-satunya bisa melawan sama kita!"
"Mama itu cuma mau yang terbaik pa buat Rangga!"
"Apa yang baik buat kita belum tentu baik juga menurut Rangga! Rangga itu sudah cukup dewasa untuk menentukan hidupnya sendiri! Dia anak kita bukan boneka kita yang bisa kita atur sesuka hati kita!"
"Kok jadi mama sih pa yang di nasihati bukannya cari solusi agar Rangga mau menikah sama Miska!"
"Hehhhh, mama ini terlalu keras kepala!"
"Biarin, mama lakukan ini juga demi kebaikan Rangga!"
Mereka pun saling diam, tapi kemudian dia teringat dengan apa yang ia lakukan kemarin.
"Oh iya pa, kata beberapa tetangga mereka kerap lihat Rangga di minimarket itu, godain penjaganya!"
"Trus?"
"Ya mama coba ke sana lah!"
"Buat apa ma? Jangan cari gara-gara deh!"
"Ya mama mau lihat aja wanita seperti apa yang jaga minimarket itu, dan ternyata enggak banget pa, jauh dari Miska!"
"Mama ini kebiasaan memandang apa-apa dari fisik, harta! Semua itu nggak penting ma, yang penting anak kita bahagia dengan hidupnya!"
...***...
Sedangkan wanita yang biasa bangun pagi itu seperti sedang menikmati hangatnya di balik selimut.
Rangga segera mengetuk pintu saat semuanya sudah siap.
"Ze ...., bangunlah! Ini sudah siang, apa kamu hari ini tidak kerja? Biar aku katakan sama koh Chang!"
Zea yang mendengar suara orang lain di rumahnya pun dengan cepat membuka matanya.
"Suara siapa itu?" gumamnya pelan, ia hanya takut ada penyusup yang masuk ke rumahnya.
Tidak terdengar suara lagi,
"Hehhhh ...., mungkin itu tadi hanya mimpi!"
Hampir saja Zea merebahkan kembali tubuhnya tapi urung ia lakukan karena ketukan kedua kalinya.
Tok
Tok
Tok
"Zea, apa kamu kurang enak badan?"
__ADS_1
Kali ini Zea tahu suar siapa yang ada di luar.
"Dia benar-benar tidak pulang!?"
Zea pun perlahan turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya dengan penampilan bangun tidurnya, rambut yang berantakan dan baju tidurnya.
"Kamu belum pulang?"
"Mau pulang ke mana lagi, ini rumahku! Ayo ....!" Rangga segera menarik tangan Zea dan mengajaknya duduk di ruang makan, lebih tepatnya dapur yang di sulap menjadi ruang makan.
Zea terbelalak saat melihat ada sarapan yang sudah tersaji di atas meja,
"Siapa yang masak?"
"Aku dong! Ayo makanlah!" Rangga segera mengambilkan makanan untuk Zea.
Memang dia bisa masak? Nggak percaya ....
Zea pun segera mencoba nasi gorengnya yang terlihat begitu enak dengan berbagai macam toping.
Enak ....
"Bagaimana rasanya?"
"Lumayan!"
"Baguslah, habiskan!" Rangga mengusap puncak kepala Zea dan menyisihkan anak rambut yang begitu berantakan di balik daun telinganya.
"Nggak usah merayu, lagi pula rayuanmu tidak akan mempan!"
Zea kembali melanjutkan makannya sambil mengamati rumahnya, tampak lebih rapi dan bersih.
Dia bangun sepagi apa untuk merapikan semuanya ....
"Hari ini aku akan mengantarmu!"
"Memang mobilmu sudah kamu ambil?"
"Sudah, ada yang mengantar tadi!"
"Tapi sayangnya aku lebih suka jalan kaki!"
Zea segera berdiri saat piringnya sudah kosong, tapi Rangga segera mencegahnya.
"Biar aku yang mencucinya, kamu mandilah!"
Matanya langsung mengamati pria itu, sekarang sudah tampak segar dan rapi, berbeda sekali dengan kemarin malam.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...