
"Pa, maafin mama ya!" wanita itu tengah menatap suaminya yang sedari sore terus mendiamkannya.
Pria yang duduk di sofa sambil membaca koran hari ini yang bahkan belum sempat ia baca.
Karena tetap tidak mendapatkan respon, wanita itu pun segera mendekati sang suami, ia duduk di samping sang suami dan menggengam lengannya, "Pa, mama benar-benar menyesal. Mama janji tidak akan melakukan kesalahan ini lagi, sungguh. Mama juga sudah menjual semua perhiasan mama, papa bisa gunakan uangnya!"
Pria itu pun segera melipat surat kabar di tangannya dan meletakkan begitu saja di atas meja, ia menatap istrinya dengan tatapan dingin, "Kalau mama mau minta maaf, kemasi barang-barang kita!"
"Maksud papa?"
"Papa sudah menjual toko dan juga rumah ini!"
"Pa!?"
"Seharusnya hal ini sudah papa lakukan dari dulu jika tahu apa yang ada dalam pikiran mama. Mama pikir dengan memaksakan kehendak mama sama Rangga, semua akan baik-baik saja. Tidak ma, biarkan Rangga memilih jalannya sendiri, jangan sampai kita malah kehilangan putra kita satu-satunya dan lagi jangan sampai kehilangan cucu kita yang bahkan belum lahir karena ulah mama!"
"Maafkan mama, pa!" wanita itu menangis tersedu, sepertinya ia mulai menyadari kesalahannya selama ini.
"Besok kita sudah harus pindah!"
"Kita pindah ke mana pa?"
"Ke rumah orang tua papa di pinggiran kota, di sana juga ada kebun. Papa akan mencoba untuk berkebun dengan uang yang kita miliki!"
"Semua ini gara-gara mama, hidup kita jadi susah gara-gara mama!"
"Sudah bukan waktunya menyalahkan diri sendiri, sekarang waktunya untuk memikirkan bagaimana kita hidup kedepannya. Jangan sampai melakukan kesalahan yang sama. Rangga dan Zea berhak untuk bahagia!"
"Iya pa!"
"Minta maaflah pada Zea jika mama ingin mendapatkan hati Rangga juga!"
"Tapi rangga belum mengingat Zea!"
"Belum berarti akan segera ingat, dan saat itu tiba aku harap hubungan mama dan Zea sudah lebih baik! Papa mengantuk, papa mau tidur. Besok akan jadi hari yang sibuk, jika mama tidak ingin berkemas hari ini segeralah tidur."
Pak Beni pun segara beranjak dan menuju ke ranjang. Ia harus segera istirahat untuk menyiapkan semuanya besok.
...***...
Pagi ini Rangga tampak sudah sangat rapi, ia sudah bersiap-siap untuk menemui nyonya Widya dulu sebelum ke kantor.
"Ga! Ini masih sangat pagi."
__ADS_1
"Iya pa, Rangga harus segera menemui nyonya Widya!"
"Ohhh, hari ini kita pindahan. Kalau bisa nanti pulangnya langsung ke rumah kakek ya, kamu masih ingat kan alamatnya?"
"Iya pa, Rangga ingat. Tapi maaf ya pa, Rangga tidak bisa ikut berkemas. Tapi jangan khawatir, barang-barang Rangga sudah Rangga masukkan ke dalam kardus dan lainnya sudah di koper. Barang Rangga tidak banyak karena lainnya masih di apartemen."
"Iya nanti papa sekalian suruh orang untuk masukkan ke pick up. Ya udah kamu cepat berangkat!"
"Mama tidak pa pa kan?" walaupun semua kekacauan ini terjadi karena mamanya tetap saja Rangga Tidak bisa menggambarkan keadaan mamanya. Apalagi mamanya mempunyai riwayat tekanan darah tinggi.
"Tidak, mama kamu juga sedang berkemas."
"Syukurlah, rangga berangkat dulu ya pa!"
Rangga pun segera meninggalkan rumah itu dengan motor secondnya. Ia menuju ke rumah besar yang menjadi tempat tinggal nyonya Widya. Seharusnya juga menjadi tempat tinggal bagi tuan Seno. Tapi tuan Seno sudah beberapa bulan ini hampir tidak pernah pulang dan itu sudah biasa terjadi selama pernikahan mereka yang memang tanpa cinta.
Kedatangan Rangga langsung di sambut penjaga rumah, beberapa pekerja di rumah itu sudah cukup kenal dengan Rangga karena memang Rangga kerap datang untuk mengantar atau menjemput Miska dulu.
"Ehhh Rangga, tumben pagi-pagi sudah ke sini? Ada apa?"
"Saya mau bicara sebentar dengan nyonya, nyonya ada waktu kan?"
"Duduklah!"
Rangga pun segera duduk dan di susul oleh nyonya Widya, "Ada apa? Apa ini ada hubungannya dengan Miska? Pasti Miska bikin masalah lagi ya? Kamu yang maklum ya, dia memang kadang masih kekanak-kanakan."
"Maksudnya?"
"Saya ke sini mau menyerahkan ini!" Rangga menyerahkan dua buah cek dengan nilai 1 milyar dan setengah milyar, "Ini adalah hutang mama!"
"Maksudnya?"
"Saya tahu selama ini mama saya berhutang pada anda. Yang setengah milyar adalah hutang mama dan satu milyar nya adalah bunganya selama sepuluh tahun, semoga ini tidak kurang."
"Maksud kamu apa?"
"Saya tidak mau sampai keluarga saya berhutang Budi pada keluarga anda atau pun orang lain. Semoga ini tidak membuat anda tersinggung."
"Baiklah, begini kalau saya terima uang ini. Lalu_?"
"Lalu saya mau mengatakan kalau saya membatalkan rencana pernikahan saya dengan Miska!"
"Tidak bisa seperti ini, kalian sudah tinggal bersama selama ini. Dia putri saya, bagaimana jika seorang putri akan mendapatkan calon suami lagi kalau tahu sudah pernah tinggal serumah selama berbulan-bulan dengan seorang pria!"
__ADS_1
"Saya bersumpah, saya tidak pernah menyentuh putri anda selama saya tinggal satu rumah dengan putri anda. Dan Anda jangan khawatir mengenai calon suaminya kelak karena jika pria itu meragukan saya siap untuk jadi saksi."
"Tapi Rangga, kalian akan menikah sepuluh hari lagi, bagaimana kalian bisa membatalkannya secara sepihak seperti ini."
"Jangan khawatir nyonya, jika ada yang mempertanyakan hal ini, anda bisa mengatakan apapun yang jelek tentang saya. Saya terima. Kalau begitu say permisi nyonya, saya harap setelah ini tidak ada pembicaraan lagi tentang pernikahan!"
"Lalu bagaimana dengan Miska?"
"Saya yang akan membantu menjelaskannya pada Miska! Saya permisi!"
Rangga tidak mau berlama-lama di rumah itu, ia segera meninggalkan tempat itu, meninggalkan wanita yang tengah menahan amarahnya.
"Beraninya dia bersikap seperti itu, memang dia pikir dia siapa? Dia benar-benar sudah menghinaku."
Nyonya Widya pun segera menghubungi putrinya dan memberitahukan tentang hal ini pada putrinya,
"Mama serius?" di sebarang sana terdengar begitu terkejut.
"Memang kapan mama bercanda. Sudah lah jangan pikirkan Rangga lagi, dia kayaknya tidak bisa di genggam lagi."
"Nggak bisa ma, Miska harus membalas penghinaan ini. Miska tidak akan semudah itu melepaskannya!"
"Terserah kamu, Miska! Pokonya yang terpenting, jangan sampai rencana kita gagal gara-gara kamu terlalu fokus pada pria tidak berguna itu."
"Miska mengerti ma!"
...***...
Rangga akhirnya sampai juga di kantor tuan Seno. Sudah semenjak ia bekerja sama dengan Zea, ia ke kantor Div hanya untuk mengambil berkas atau meminta tanda tangan dari Div selain itu semua pekerjaan yang ada di kantor ia serahkan pada sekretaris Revan.
Kedatangannya langsung di sambut oleh Miska, ia segara menarik tangan Rangga mengajaknya ke tempat yang lebih sepi.
"Ga, kamu apa-apaan sih? Apa yang di katakan mama memang benar?"
"Syukurlah jika kamu sudah mendengarnya dari mama kamu, jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi."
"Jadi benar?"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...