
Dokter Frans berdiri dan berhenti sejenak di depan Rangga, mereka saling berhadapan
dengan mata yang saling menantang. Dokter Frans tidak suka rumah tangganya di
usik oleh siapapun apalagi oleh pria asing itu. Setelah sekian detik memberi
tatapan tajam pada Rangga ia pun segera menyusul Felic.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar yang kini menjadi kamar mereka berdua.
Membuka pintu itu perlahan, dari celah pintu yang terbuka itu dokter Frans
bisa melihat wanita itu sedang duduk di sudut kamar dengan lutut yang menutupi
wajahnya. Sudah bisa di pastikan jika wanita itu sekarang sedang menangis.
Kenapa dia menangis seperti itu, seperti sedang patah hati saja …
Dokter Frans begitu ragu untuk masuk, ia memilih mondar-mandir di ruang kosong yang ada di depan kamar itu, di depan kamar itulah biasanya Felic mengerjakan novel online-nya.
"Gue masuk nggak ya ....?" gumam dokter Frans sambil terus berputar-putar di tempat yang sama.
Setelah berpikir cukup matang akhirnya Dokter Frans pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Dengan langkah pelannya ia
mulai mendekati Felic. Mendaratkan lututnya di lantai tepat di depan Felic, mengusap pundak wanita itu.
Felic yang merasakan sentuhan itu segera mendongakkan kepalanya. Air matanya masih
melekat di pipinya.
Untuk pertama kalinya ia melihat air mata dari gadis di depannya itu, seorang wanita
yang dokter Frans anggap begitu tangguh ternyata bisa menangis, melihat air mata itu entah kenapa hatinya tergetar. Ada keinginan untuk melindunginya.
“Lo juga bisa nangis?” tanya dokter Frans. Bukannya menjawab pertanyaan dokter Frans Felic lebih memilih mengajukan pertanyaan lain, tapi sebenarnya bukan pertanyaan lebih tepatnya adalah permintaan ijin.
“Boleh pinjem dada lo?”
Tanpa menjawab dokter Frans membuka lebar dadanya dengan merentangkan kedua tangannya, merasa mendapat ijin dengan cepat Felic mendekap dada bidang dokter Frans, ia kembali menangis.
Awalnya dokter Frans begitu ragu untuk membalas pelukan itu, tapi hatinya terus tergerak untuk membalasnya.
Dokter Frans pun akhirnya memeluk tubuh Felic, duduk di bawah dengan saling berpelukan hingga beberapa lama. setelah merasa lebih baik, Felic pun melepaskan tubuh
dokter Frans.
“Makasih ya dadanya!” ucap Felic setelah merasa lebih baik.
“Nggak masalah setiap hari gitu juga boleh!"
"Mau lo ....!" Felic segera mendorong tubuh dokter Frans.
" tapi lo hutang cerita sama gue!”
Felic tidak langsung menjawabnya, ia berdiri dan berlalu begitu saja. Dokter Frans
mengikutinya di belakang. Felic menuju ke teras kamarnya, langit sudah gelap,
entah sudah berapa lama ia menangis.
“Frans, cowok tadi …!”
“Gue tahu …, dia kan yang bakalan dijodohin sama lo?”
“Bukan itu masalahnya!”
“Lalu apa dong yang bisa bikin lo nangis Bombay kayak gini?”
Felic menengadahkan wajahnya ke langit, menghembuskan nafasnya yang terasa sesak,
begitu sesak hingga membuatnya sulit bernafas, hingga setiap kali mengingatnya
rasanya ingin kembali menangis.
“Dia Rangga, Rangga Abiyasa! Orang yang katanya Abi itu ternyata Rangga, pria yang
selama ini gue cintai. Tapi karena kebodohan gue, cinta yang selama ini gue tunggu menjauh tanpa sengaja!”
“Jadi maksud lo …?”
__ADS_1
“Iya …, seandainya saja waktu bisa di putar kembali, gue bakal milih bersabar dan
menemui pria itu, tapi semuanya sudah terlambat. Gue sudah jadi istri lo!”
Mendengar pengakuan dari Felic, sebenarnya hatinya begitu kecewa. Walaupun ia tahu,
pernikahan mereka tanpa cinta. Tapi pernikahan tetaplah pernikahan, dokter
Frans memilih berbesar hati, mungkin jika dia berada di posisi yang sama
seperti felic dia juga kan melakukan hal ini.
"Jadi lo nyesel nih ceritanya nikah sama gue?" ucap dokter Frans dengan ekspresi yang Felic tidak bisa artikan.
"Bukan kayak gitu, mungkin memang gue sama dia nggak di takdirkan berjodoh aja!"
"Nah itu lo tahu, gue nikah sama lo bukan cuma soal kebetulan, tapi Dia menakdirkan gue masuk dan menjadi bagian dari hidup lo!"
"Gue tau!"
“Gue nggak akan pernah batesin kehidupan lo, tapi yang perlu lo ingat lo sekarang
sudah menjadi istri dari seseorang, akan lebih baik jika lo bisa bersikap bijak!”
“Maafin gue …, gue akan berusaha ngedepanin keluarga dari pada ego gue!”
“Ya …, gue percaya!”
Dokter Frans mengusap punggung Felic, lalu meninggalkannya. Ia ingin Felic merenungi
ucapannya. Apapun yang terjadi kini mereka telah terikat dalam benang
pernikahan, jadi apapun yang di lakukan oleh felic akan berpengaruh pada
kehidupannya juga.
Dokter Frans memilih turun dan bergabung dengan ayah felic di ruang tv, tamunya sudah
pulang semenjak tadi.
“Bagaimana Felic? Apa dia baik-baik saja?” tanya ayah Felic pada dokter Frans.
“Syok kenapa?”
Jadi ayah mertua tidak tahu
…?sekarang gue harus beralasan apa?
“Tidak ayah mertua …, hanya syok saja ternyata sosok abi adalah orang yang pernah felic kenal
sebelumnya!”
“Kamu jangan khawatir, Felic mencintaimu jadi dia tidak akan mengecewakanmu!”
Mencintai apanya …?
“Iya ayah mertua …, kami memang saling mencintai, jadi siapapun tidak akan ada yang bisa merusak hubungan kita.”
“Bagus …, ayah percaya sama kalian!”
Mereka pun akhirnya mengobrol hingga larut malam sambil menonton acara siaran sepak
bola. Sepertinya dua pria beda generasi itu sangat kompak.
“Sudah malam …, sana tidurlah, kasihan istrimu menunggu!”
“Iya yah, selamat malam!”
“Selamat malam!”
Dokter Frans segera meninggalkan ayah mertuanya. Ia memang sudah sangat mengantuk tapi tidak enak jika meninggalkan ayah mertuanya. Saat ayah mertuanya memberi lampu hijau, ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Di dalam kamar, Felic sudah tertidur pulas dengan tubuh meringkuk. Dokter Frans
menghampirinya, ia menyelimuti tubuh mungil itu.
“Gue tidak tahu kenapa Tuhan mempertemukan kita, gue yakin pasti Tuhan punya rencana
yang indah suatu saat nanti setelah semua kerumitan ini!”
__ADS_1
Dokter frans mengusap kepala Felic, membetulkan kembali selimutnya. Ia segera memutari tempat tidur dan tidur di sisi lain tempat tidur, mematikan lampu dan
menggantinya dnegan lampu tidur.
🌺🌺🌺🌺
Hari-hari mereka berlalu begitu saja, dokter Frans dengan kehidupannya dan Felic dengan kehidupannya sendiri. Mereka hanya bertemu di sore hari, bahkan malam hari saat salah satu dari mereka sudah tertidur.
Felic juga tidak tertarik untuk mencari tahu kehidupan suaminya, sedangkan Frans sedang berusaha menghindari untuk bertemu dengan Felic karena ia yakin istrinya masih begitu terluka dengan kedatangan Rangga dalam hidup nya kembali.
Dokter Frans tidak mau jika kehadirannya menimbulkan luka yang mendalam karena cinta yang terhalang pernikahan mereka.
Akan butuh banyak waktu untuk bisa menata hati masing-masing agar tidak banyak lagi hati yang akan tersakiti.
Pernikahan mereka sudah berlangsung satu bulan tapi tidak ada yang terjadi di antara
mereka. Tidak ada kemajuan dalam hubungan mereka. Dokter Frans juga belum
menceritakan tentang jati dirinya pada felic. Ia menunggu waktu yang tepat,
saat semuanya sudah kembali baik.
Rangga sempat syok dan memilih menutup diri, ia melupakan sejenak keinginannya untuk memiliki Felic, tapi ternyata itu begitu sulit. Ia pun memutuskan untuk mengejar cintanya, keluarganya juga tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka juga tahu bagaimana perasaan putranya pada putri sahabatnya itu.
Rangga kembali bangkit, ia memilih berjuang. Walaupun kerap mendapat penolakan dari Felic tapi ternyata ia tidak menyerah, ia kerap datang ke tempat kerja Felic hanya untuk
mengajak felic makan siang atau beralasan hubungan sebagai salah satu nasabah
bank.
Ternyata hal itu tidak luput dari pengawasan dokter Frans, ia tahu jika Rangga kerap
menemui istrinya. Hal itu membuat dokter Frans kesal, ia tidak bisa menghindar terus jika mau pernikahannya berjalan, ia biasa menasehati temannya dan kali ini yang paling sulit adalah menasehati dirinya sendiri.
"Gue harus berjalan, tidak bisa berhenti terus seperti ini, jika begini gue akan tertinggal!" gumam dokter Frans setelah memantapkan hatinya. Melepaskan semua keraguan yang ia ciptakan sendiri.
Makan siang ini dokter Frans pun memutuskan untuk menemui istrinya. Ia ingin memperbaiki semuanya dan mulai dari awal.
“Sifa …, saya pulang dulu. Tolong jadwal untuk saya, di cancel untuk besok!”
“Baik dok!”
Dokter Frans segera menyambar tas kecilnya yang selalu melekat di tubuhnya,
meninggalkan jas kebesarannya begitu saja. Dengan pakaian kasualnya tidak
menggambarkan kalau dia seorang dokter.
Kali ini ia tidak menggunakan angkutan umum, ia memilih memakai mobilnya yang telah lama
terparkir begitu saja di rumah sakit. Setelah memastikan semuanya baik, dokter
frans pun segera melajukan mobilnya memecah keramaian jalan raya di siang hari
yang panas itu.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya dokter Frans sampai juga di depan tempat kerja
Felic, tapi sepertinya dia sudah keduluan oleh pria itu karena mobilnya sudah
terparkir di sana.
“Gue keduluan lagi …!” ucap dokter Frans sambil mengepalkan tangannya.
Akhirnya dokter Frans pun segera keluar dari dalam mobil, dan benar saja dari kejauhan
ia bisa melihat pria itu sudah berbicara dengan felic. Dengan langkah lebarnya
dokter Frans segera mendekati mereka.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰😘
__ADS_1