
Hari ini adalah acara sidak ke
pabrik kosmetik yang di produksi oleh Bactiar group dan dokter Frans
terpilih menjadi ketua penyelidikan.
Dokter Frans membawa beberapa sampel produk ke lab untuk di periksa. Tuan Bactiar hanya bisa pasrah sekarang, putrinya sudah gagal menghalangi proses penyelidikan.
Dan memang benar jika ada beberapa produk yang sengaja dalam produksinya tidak melewati uji BPOM. Beberapa di antaranya memang sesuai dengan data awal uji lab yang di lakukan dr. Frans secara pribadi.
Akhirnya beberapa produk itu di hentikan berproduksi sementara waktu sampai proses penyidikan selesai, dan beberapa produk yang terlanjur beredar di lakukan penarikan ulang.
Tuan Bactiar hanya bisa melakukan klarifikasi jika itu di luar kewenangannya dan mengkambing hitamkan beberapa orang yang sengaja di jadikan tameng olehnya agat tidak sampai masuk penjara atau penutupan perusahaan.
“Sial …!” umpat tuan bactiar di dalam
ruangannya. Ia harus merugi ratusan juta gara-gara beberapa produknya harus di tarik dari peredaran.
Terlebih lagi ia harus membayar ganti rugi pada beberapa oknum untuk tutup mulut.
“Bagaimana langkah selanjutnya tuan?” tanya sekertaris nya.
“Kamu selidiki kelemahan dokter itu, beraninya dia main-main dengan saya!” ucap tuan Bactiar dengan begitu kesal.
“baik tuan!”
“Pergilah …!”
Sekertarisnya pun meninggalkan ruangan. Ia harus melakukan apa yang di perintahkan oleh atasannya.
“Mungkin akan sulit menghancurkannya dari luar, tapi kalau dari dalam siapa yang tahu
…!” ucapnya dengan senyum penuh kelicikan.
...***...
Siang ini, seusai melakukan sidak dokter Frans yang sudah berada di rumah sakitnya kembali. Ia sampai lupa jika ada janji dengan sahabatnya.
"Frans ....!" sabahat nya itu tiba-tiba saja masuk.
"Gra ...., sejak kapan di sini?" tanya dokter Frans sambil berdiri menyambut sahabatnya itu. Di belakang Agra ternyata ada Ara juga.
"Kakak ipar ...., kakak ipar juga ke sini! Duduklah ....!"
Dokter Frans pun meminta sahabat dan istrinya itu untuk duduk di sofa panjang itu.
"Dari mana?" tanya Agra lagi setelah duduk, Agra dan Ara duduk begitu dekat, bahkan tangan Agra tidak melepaskan tangan istrinya itu.
"Ada sidak dadakan tadi! Di mana Sagara dan Sanaya?"
"Kalau jam segini mereka sekolah ....!" ucap Ara.
"Apa ada masalah?" tanya Agra yang melihat sahabatnya itu terlihat tidak seperti biasanya.
"Tidak ...., hanya masalah kecil dan sudah selesai!"
"Bagaimana kabar Felicia?" tanya Ara, semenjak Felic keguguran mereka belum bertemu lagi.
"Baik ...., biasanya kalau siang seperti ini dia akan datang, tapi karena hari ini aku ada urusan di luar jadi aku melarangnya ke sini!"
"Senengnya setiap hari di datengin istri!" ucap Agra sambil melihat istrinya itu.
"bby ...., jangan mulai deh ....!"
Ha ha ha ....
Dokter Frans hanya bisa tertawa melihat kebucinan sahabatnya itu.
"Ya sudah kalau kau mau pergi, kami pulang dulu!" ucap Agra dan segera berdiri.
"Bukan hal penting, kita bisa ngobrol dulu, masih ada banyak hal yang ingin aku bicarakan sama kakak ipar!"
"Bicara apa?" tanya Agra menyelidik.
"Sudah ku bilang hanya sama kakak ipar, suaminya kakak ipar nggak ada urusan!" ucap dokter Frans.
"Luangkan banyak waktu nanti, tapi harus denganku juga!" ucap Agra sambil meninggalkan ruangan dokter Frans. Dokter Frans hanya tersenyum melihat betapa posesifnya sahabatnya itu.
Saat Agra dan Ara pergi, dokter Frans kembali galau. Ia kembali duduk.
"Apa pergi gue temui dia?" gumamnya.
Ia sedikit ragu untuk menemui wanita yang sudah melahirkannya itu.
__ADS_1
Ia hanya terus duduk tanpa bersiap untuk pergi, ia masih belum siap untuk bertemu dengan orang yang telah membuangnya dulu.
"Aku tidak mau dia memasuki kehidupanku lagi, sudah cukup, jika dia memutuskan untuk pergi, maka jangan harap bisa kembali ....!"
Tapi kemudian ia teringat bagaimana wanita yang telah melahirkannya itu
berani-beraninya mencoba mencampuri rumah tangga nya dengan mengancam istrinya.
Rasanya ingin sekali marah padanya dan mengeluarkan semua keluhannya selama ini.
"Jangan di biarkan dia berbuat semuanya sendiri!" gumamnya lagi.
Dokter Frans segera melepas jas putihnya dan menggantinya dengan jaket hitam yang sedari tadi menggantung di sandaran kursinya.
Dokter Frans segera keluar dari ruangannya, ia berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit itu menuju ke tempat parkir.
Ia segera menuju ke motor gedenya, memakai helmnya dan mengancingkan jaketnya, menggunakan sarung tangan dan segera berangkat menuju ke kafe
A&A.
Motornya begitu lincah menjelajahi jalanan, meliuk-liuk dan menyelip di antara beberapa mobil hingga akhirnya sampai juga di kafe itu.
Dokter Frans segera melepas kembali helm dan sarung tangannya, ia sudah terlambat satu jam, ia ingin haru seberapa keras wanita itu ingin bertemu dengannya.
dan ternyata wanita itu masih setia di sana. Dokter Frans mempercepat langkahnya menghampiri wanita yang sedang duduk sendiri membelakangi pintu masuk dengan kemeja warna coklat susu itu. Ia menggunakan kaca mata dan juga topi besar, itu sengaja ia lakukan seperti agar pertemuan mereka tidak di ketahui oleh orang lain.
“Selamat sore, nyonya!” sapa dokter Frans, wanita itu dengan cepat menoleh ke sumber suara dan berdiri menyambut kedatangan dokter Frans.
"Frans …, akhirnya kamu datang!" ucap nyonya Tania dengan tersenyum begitu bahagia.
"Duduklah!” pinta nyonya Tania.
Dokter Frans pun duduk di bangku kosong yang berjarak satu bangku dengan nyonya Tania, ia memilih kursi yang berhadapan dengan ibunya itu.
"Frans ...., mama begitu merindukanmu, bagaimana kabar kamu? Kamu baik kan?" tanya nyonya Tania. Dokter Frans hanya tersenyum smirtt.
“Ada apa lagi hingga nyonya ingin bertemu dengan saya?” tanya dokter Frans begitu dingin. Perasaan hangatnya sudah menguap bersama waktu yang terlampau lama.
“Frans …, jangan seperti itu, mama tahu kamu masih mengingat mama, mama merindukanmu nak!”
"Masih sangat ingat, bahkan tidak akan pernah lupa bagaimana seorang ibu tega menelantarkan putranya yang masih lima tahun tanpa ayah di panti asuhan, masih sangat ingat!” terdengar kepedihan yang begitu dalam di setiap kata yang terucap dari bibir dokter Frans.
“Mama punya alasan untuk itu, Frans! Dan kamu nggak harus tahu apa alasannya!”
Nyonya Tania mungkin tidak akan pernah menyangka jika putranya itu menjadi begitu dingin dan keras. Ia kira hanya cukup meminta maaf dan semuanya selesai.
“Frans …!"
"Jika tidak ada yang ingin di bicarakan, maka saya akan pergi!" ucap dokter Frans tanpa memberi kesempatan pada wanita yang telah melahirkannya itu untuk menarik simpatinya.
"Kamu kan tahu nak, saat itu bagaimana ayah kamu, dia cuma seorang sopir dan mama masih terlalu muda untuk menjadi ibu rumah tangga, kami tidak punya apapun saat itu.
Mama mendapatkan masa depan
yang lebih baik, kakek kamu ingin mama menikah dengan orang lain, bukan papa kamu. Mama memang cinta sama papa kamu tapi buat hidup nggak cukup hanya dengan cinta. Mama menitipkan kamu ke panti agar kamu ada yang urus dan mama nggak mungkin bawa kamu ke keluarga baru mama
mama akan menjemputmu lagi saat kehidupan mama sudah membaik, tapi kamu menghilang!”
“Saya terima alasan anda, dan terimakasih karena ada niat anda untuk menjemput saya, tapi maaf saya tidak bisa membenarkan!”
Dokter Frans pun hendak berdiri, tapi nyonya Tania segera menahannya.
“Frans …, aku belum selesai!”
"Katakan, saya tidak punya banyak waktu!"
“Maafkan mama…, mama mohon, kita buka lembaran baru, mama, kamu dan adik kamu Tisya dan juga keluarga mama yang baru!”
“Adik, keluarga … ha ha ha …!” dokter Frans tertawa datar, “Sejak kapan dia jadi adik saya, anda jangan bermimpi!”
“Mama mohon, maafkan mama …! Apa pun yang kamu minta mama akan turuti!” ucap nyonya Tania dengan air mata yang sudah tidak tertahan lagi.
“Ada ...!”
"Apa katakanlah dan mama akan memenuhinya!"
"Jangan ganggu hidup saya lagi, keluarga saya, jangan pernah lagi temui istri saya!" ucap dokter Frans.
Nyonya Tania terdiam, itu sama dengan dokter Frans tidak mengakuinya sebagai ibunya.
"Frans ...!"
"Saya harus pergi!" ucap dokter Frans dan segera pergi meninggalkan nyonya Tania.
__ADS_1
Nyonya Tania hanya bisa menangis menatap punggung putranya, penyesalan tidak pernah datang di awal, dan saat ini nyonya Tania harus benar-benar melupakan kalau dia punya seorang putra karena putranya terlanjur membencinya.
...***...
"Frans ....!" panggil Felic saat suaminya itu tiba-tiba datang dan memeluknya.
"Ada apa?" tanya Felic lagi, "Malu Frans di lihat orang!"
Saat ini mereka sedang berada di taman belakang, banyak pelayan di sana. Tapi sepertinya tanpa aba-aba para pelayan itu mengerti kalau mereka harus pergi.
"Jangan tinggalkan aku ya!" bisik dokter Frans.
"Tidak ...., kenapa aku harus ninggalin kamu, ayo lepaskan kita duduk dulu!" ucap Felic dan dokter Frans pun segera melepaskan pelukan istrinya.
"Frans ..., aku tadi sama bi Molly bikin sesuatu!"
"Apa?"
"Duduklah ....!" Felic menarik tangan suaminya itu untuk ikut duduk di bangku yang ada di teras depan taman.
"Aku buat jus durian!" ucap Felic saat suaminya itu sudah duduk dan membuka tutup gelasnya hingga membuat ara durian menusuk hidup suaminya itu.
"Fe ...., tutuplah kembali ...!" perintah dokter Frans sambil menutup lubang hidungnya.
"Kenapa?" tanya Felic, "Ayo cobalah, kata bibi kamu sangat menyukai buah durian!" ucap Felic sambil menyodorkan gelas itu pada suaminya.
Dengan cepat dokter Frans berlari masuk ke dalam rumah, Felic pun akhirnya mengikuti suaminya itu.
Ternyata dokter Frans menuju ke kamar mandi.
Hoeks hoeks hoeks
Dokter Frans memuntahkan seluruh isi perutnya di sana.
"Frans ...., kamu kenapa? Kamu masuk angin ya?" tanya Felic sambil memijit tengkuk suaminya itu.
"Kayaknya iya deh Fe ....!" ucap dokter Frans setelah berkumur dan mengusap bibirnya dengan tisu.
"Ayo duduklah ...!" Felic meminta suaminya itu duduk di tempat tidur.
"Aku buatin teh hangat dulu, nanti aku kerokin ya punggungnya!"
"Baiklah ...., biarkan aku tidur dulu!"
Dokter Frans memilih naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya selagi Felic ke dapur untuk membuatkannya tey hangat.
"Tuan kenapa nyonya?" tanya bi Molly saat Felic sampai di dapur.
"Sepetinya Frans masuk angin bi, ada jahe nggak bi, biar aku buatkan teh jahe hangat!"
"Ada nyonya, biar saya kupas dulu!"
Felic pun segera membuatkan teh jahe hangat untuk suaminya itu di bantu bi Molly.
"Terimakasih ya bi, aku ke atas dulu!"
Felic pun segera menghampiri suaminya, ternyata dokter Frans sedang tidur meringkuk.
"Frans minumlah dulu!" ucap Felic dan dokter Frans kembali bangun, ia meminum teh jahe itu.
"Bagaimana sekarang?" tanya Felic lagi.
"Sudah lebih baik!"
"Lepas bajumu!" perintah Felic kemudian.
"Buat apa?"
"Biar aku kerokin punggungmu!"
"Nggak perlu, temani aku saja di sini!" ucap dokter Frans sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.
Felic pun akhirnya memilih naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping dokter Frans hingga dokter Frans kembali tertidur.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1