
Felic pun akhirnya memutuskan untuk ikut bersama suaminya, memang benar tidak ada
yang salah jika ia di antar oleh suaminya itu. Lagi pula naik mobil mewah, nggak akan rugi juga nggak perlu mikirin ongkos juga, batin Felic.
Akhirnya mobil pun berhenti tepat di depan kantor tempat kerja Felic yang masih terlihat
sepi. Dokter Frans ikut turun dengan Felic.
“Frans …, kenapa ikut turun?” tanya Felic heran karena suaminya ikut turun bersamanya.
Dokter frans sudah berada di depannya saja.
“Kenapa? Memang nggak boleh aku ikutin istri aku? Ayo …!” lagi-lagi dokter Frans menarik
tangan Felic begitu saja. Untuk pertama kalinya dokter frans memasuki tempat kerja felic.
“Dimana kamu bekerjanya?” tanya dokter frans saat sudah berada di dalam.
“Frans…., kamu ntar terlambat loh …, sudah sana berangkat!” ucap Felic sambil mendorong tubuh suaminya agar tidak mengikutinya sampai ke dalam.
“Itu rumah sakit aku, nggak masalah kalau aku terlambat. Nggak akan di pecat juga!”
“Hehhh …, kalau bosnya suka nggak tepat waktu, ntar anak buahnya bakal ngikut!”
Lagi-lagi dokter Frans hanya tersenyum menanggapi ucapan Felic. Emang susah sih
meluluhkan hati yang sedang ngambek.
Felic pun memilih melanjutkan langkahnya ke ruang ganti dan tempat peralatan
kerjanya. Ia tidak menyangkan jika suaminya masih terus mengikutinya.
“Frans …, kenapa sih masih ngikut?” tanya Felic kesal.
Bukannya menjawab pertanyaan Felic, dokter Frans malah sibuk mengamati ruangan kecil
itu, “Jadi ini tempat kerja kamu, sempit banget!”
“Nggak tuh! Luas banget malah …, seluruh ruangan di kantor ini ruang kerja aku!”
“Iya …, iya …, percaya aku!” memang benar apa yang di katakan Felic, jika tempat
kerjanya menyeluruh ke semua ruangan. Melihat Felic tetap cuek padanya, dokter
Frans segera menarik tangan Felic hingga membuat Felic jatuh ke dalam
pelukannya.
“Frans …, apa-apaan sih …!” Felic mencoba melepaskan pelukannya, tapi dokter Frans
malah semakin mengeratkan pelukannya.
“Sudah jangan gerak terus, kamu bisa bangunin ular yang lagi tidur!”
“Ah ular ….!” Felic benar-benar takut saat suaminya mengatakan ular, ia mengeratkan
pelukannya pada suaminya, “Ularnya mana? Aku takut!”
“Ularnya ini …, ada di dalam celana, ha ha ha …!”
“Ihhhhh ….., Frans …!” felic memukuli dada dokter frans, tapi seperti biasa dokter Frans
malah semakin mengeratkan pelukannya.
“Fe ….!” Teriak seseorang tiba-tiba membuat mereka menghentikan aktifitasnya.
“Ups …., maaf!” dia adalah Ersya,
“Hoe …, kalau bermesraan jangan di sini! Bikin iri aja!” ucap Ersya lagi sambil menutup wajahnya dengan tangan tapi tetap saja
bisa lihat karena ia merenggangkan jari-jarinya.
Dokter Frans pun meninggalkan ciuman di pipi Felic, hingga membuat Felic tercengang
lalu melepaskan pelukannya.
“Sudah sana Frans, aku mau kerja dulu!” ucap Felic sambil mendorong tubuh Frans keluar
__ADS_1
ruangan. Tapi langkah mereka terhenti saat tepat di depan dokter Frans ada pak
Bima.
“Pak Bima!” Felic segera menarik tangannya dari tubuh dokter Frans.
“Pak Frans …!" Pak Bima malah terlihat panik dengan keberadaan dokter Frans.
"kenapa pagi-pagi sudah ada di sini? Apa ada masalah?” pak Bima malah terlihat pucat melihat keberadaan dokter Frans di tempatnya.
Felic menjadi sangat bingung karena melihat betapa hormatnya atasannya pada suaminya
itu, Felic menatap mereka bergantian.
“Tidak ada masalah apa apa, saya ke sini cuma ngantar istri saya saja!” ucap dokter
Frans sambil menarik Felic ke dalam pelukannya.
“Istri …, maksudnya Felic! Eh maksudnya bu Felic ini istri anda?”
“Iya …, jadi saya harap mulai sekarang jangan terlalu banyak membebaninya dengan
pekerjaan berat ya!”
“Hahhh …!” Felic malah tercengang mendengarkan suaminya malah memberi perintah pada atasannya itu.
“Iya pak …, iya pasti!”
“Ya.sudah sayang …, aku berangkat kerja dulu ya …!” ucap dokter Frans dengan begitu
manis sambil meninggalkan kecupan di kening Felic.
Sayang .....
Felic masih tercengang sambil menatap punggung suaminya yang semakin menjauh. Hingga pria itu menghilang di balik dinding kantor.
Felic segera menutup wajahnya agar atasannya tidak sampai melihat wajahnya dan
perlahan meninggalkan atasannya.
Apa-apaan nih …..
“Iya pak Bima, saya permisi dulu mau ganti baju ya!” ucap Felic.
“Maaf kan saya bu Felic, tapi saya mohon bu Felic jangan melakukan apapun. Bu Felic
duduklah saja sambil mengawasi kami bekerja!”
‘Hahhh….!”
Kegilaan apa lagi ini ….!
Akhirnya sepanjang hari Felic tidak di ijinkan untuk melakukan apapun, ia hanya di minta
untuk duduk bahkan makanan dan minuman datang sendiri di hadapannya. Semua
karyawan memperlakukan Felic begitu istimewa.
Felic malah terlihat begitu frustasi, ia terlalu syok dengan sikap semua rekannya.
Kecuali pasti ersya.
“Sya ….! Bagiamana ini?” tanya Felic begitu frustasi, ia meletakkan dagunya di meja
Ersya dengan bertumpu pada kedua lengannya yang ia lipat di atas meja itu.
“Sudah gue bilang, nikmati aja semuanya! Jangan pernah bangun dari mimpi ini!”
“hahhh …, lo sama aja!”
“Mau bagaimana lagi, rumah sakit suami lo jadi pemilik saham terbesar di sini, semua
pembayaran atas karyawan rumah sakit dan segala asuransinya di percayakan sama
bank ini, Fe!”
“Hehhhhh …., ya sudah lah, gue pergi dulu!”
__ADS_1
“kemana?”
“Ke tempat orang yang sudah membuat kekacauan ini!”
“hehhh?”
“Mana mungkin gue tidur aja dan dapat gaji, makan gaji buta dong gue!”
Felic menyambar tas ranselnya dan meninggalkan Ersya yang hanya tersenyum melihat sahabatnya uring-uringan.
Felic menghentikan angkot yang kebetulan melintas di depan kantornya, Felic memilih bangku yang berhadapan dengan pintu.
Ada beberapa penumpang selain Felic, mereka
sepertinya anak-anak SMA yang baru saja pulang dari sekolah.
Beberapa dari mereka ada yang sudah lebih dulu turun dan aja juga yang masih tinggal
hingga Felic turun di depan rumah sakit besar itu. Ini untuk ketiga kalinya ia
mengunjungi rumah sakit itu.
Felic berdiri tegak menatap rumah sakit besar dengan gedung pencakar langit,
memperhatikan lalu lalang orang-orang yang beraktifitas di depan gedung. Matahari menyengat tubuhnya, bahkan ia
harus mengeryitkan matanya karena terlalu silau oleh sinar matahari.
Felic mulai melangkahkan kakinya menginjakan kakinya di pelataran gedung itu. Tapi kembali langkahnya terhenti saat matanya menangkap seseorang yang berjalan
keluar dengan terburu-buru.
“Frans ….!” Panggil Felic dengan berteriak membuat semua yang ada di sana menoleh
padanya.
“Fe …!” dokter Frans yang melihat keberadaan Felic segera menghampiri Felic.
“Ada apa Fe kesini?” tanya dokter Frans saat ia sudah berada di hadapan Felic.
“Kamu harus tanggung jawab Frans!” ucap Felic kesal.
“Tanggung jawab? Maksudnya kamu hamil jadi aku harus tanggung jawab? Ya pastilah aku
tanggung jawab kamu istri aku!”
"Iiiiiihhhhh ….!” Felic begitu kesal, ia menjejakkan kakinya begitu cepat, “Bukan itu! Kamu tahu di tempat kerjaku semua bersikap aneh, aku tidak di bolehin ngapa-ngapain!”
‘Ohhhh itu!” jawab dokter Frans begitu santainya.
“Cuma gitu doing nih tanggepannya?”
“Emang sengaja sih!”
“Maksudnya?”
“kalau kamu nggak bisa berhenti kerja dari sana, ya berarti kamu tetap boleh ke sana
sebagai istri seorang Frans Aditya!”
“Ihhhh …, jahat banget!” lagi-lagi felic memukul lengan dokter Frans karena begitu
kesal, ia tidak menyangka jika suaminya itu lebih cerdik dari dirinya.
spesial visual Felic
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰😘😘
__ADS_1