
Sore ini nyonya Tania menutup kedai baksonya lebih cepat. Sebelumnya ia sudah memberitahukan hal itu pada pemilik kedai bahwa ia akan ijin.
Sebenarnya walaupun ia tidak ijin, pemilik kedai tidak akan marah karena memang jam kerja nyonya Tania terbilang fleksibel, asal tidak terlalu sering bolos.
Dan hari ini ia sudah berangkat lebih pagi dari biasanya, baksonya juga sudah habis, sisa dua atau tiga porsi saja.
Nyonya Tania sudah bersiap dengan memesan taksi, ia tidak mau terlihat begitu menderita di depan ayahnya, walaupun mungkin tidak akan terlalu berpengaruh.
"Ke alamat ini ya pak!" ucap nyonya Tania saat sudah berada di dalam taksi, ia juga sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih rapi.
"Baik bu!"
Taksi pun mulai melaju meninggalkan kedai bakso, taksi menyusuri jalanan yang terlihat begitu padat karena jam-jam orang kantor pulang kerja.
Nyonya Tania sudah mengirimkan sisa bakso ke rumah Wilson dengan menggunakan jasa ojek online.
Akhirnya taksi yang di tumpangi oleh nyonya Tania sampai juga di depan rumah besar itu, rumah yang memang tidak kalah besar dengan rumah tuan Bactiar.
"Terimakasih ya mas!" ucap nyonya Tania setelah memberikan sejumlah uang sesuai tarif yang tertera.
"Sama-sama bu!"
Taksi pun segera berlalu saat nyonya Tania sudah turun. Seorang penjaga segera membukakan pintu gerbang itu saat melihat kedatangan nyonya Tania.
"Silahkan nyonya!"
"Terimakasih!"
Nyonya Tania kembali berjalan menyusuri halaman yang begitu luas dengan rumput yang menghias dan menutup tanah yang tidak berpaving.
Kakinya sesekali terlihat berhenti, matanya menerawang mengamati sekitar, mencoba mengumpulkan kembali puing -puing kenangan yang lama menghilang dan berganti dengan ketegangan demi ketegangan.
Andai saja tidak ada yang egois, andai saja tidak ada yang memaksakan kehendak dan saling mengerti, pasti hubungan itu masih sehangat dulu.
Semua tidak akan tahu seperti apa yang akan datang ...., cukup tahu dan mengikuti alurnya ....
Nyonya Tania pun melanjutkan langkahnya setelah mengenang masa lalunya di rumah itu, rumah itu masih sama hanya ada beberapa yang memang sudah di renovasi tapi tidak mengubah bentuk lamanya, ayah nyonya Tania memang orang yang menyukai gaya estetika.
Pintu utama sudah terbuka, nyonya Tania mengedarkan pandangannya saat tidak menemukan orang yang sedang ia cari.
"Di mana ayah?" tanya nyonya Tania sekarang.
"Tuan besar di kamarnya nyonya!"
"Apa ayah baik-baik saja?" tanya nyonya Tania sambil berjalan menuju ke kamar utama.
"Kesehatan tuan besar akhir-akhir ini menurun tuan!" ucap pelayan yang sedang mengikuti langkahnya.
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" tanya nyonya Tania.
"Tuan besar melarangnya nyonya!"
Nyonya Tania berhenti tepat di depan kamar utama itu, di depan pintu yang masih tertutup.
__ADS_1
"Baiklah biarkan aku menemuinya!" ucap nyonya Tania.
"Baik nyonya!" ucap pelayan itu lalu mundur satu langkah dan meninggalkan nyonya Tania sendiri.
Tok tok tok
Nyonya Tania mengetuk pintu itu pelan, "Ayah ini aku Tania!"
Tanpa menunggu jawaban dari dalam, nyonya Tania pun membuka pintu yang tidak di kunci itu.
Langkah nyonya Tania mulai menapaki lantai kamar itu, pria tua dengan wajah angkuh itu duduk bersandar di tempat tidurnya dengan syal yang mengalung di lehernya, rambut dan kumisnya sudah memutih dengan guratan keriput di wajahnya yang semakin banyak saja.
Nyonya Tania pun berdiri tepat di samping pria tua itu.
"Bagaimana kabar ayah?" tanya nyonya Tania.
"Duduklah ....!" perintah pria tua itu.
Nyonya Tania pun duduk di samping tempat tidur, menatap iba pada pria tua itu.
"Kenapa ayah tidak bilang pada Tania kalau ayah sedang sakit?"
"Aku kira sudah tidak ada yang peduli pada pria tua ini!" ucapnya dengan penuh penekanan dan semacam sindiran.
"Kenapa ayah bicara seperti itu, mana mungkin Tania melupakan ayah!"
"Baguslah ....! Ayah ini sudah tua, jadi sudah waktunya kamu memikirkan perusahaan!"
"Bukankah ayah sudah ada Tino?"
"Maksud ayah apa?" tanya nyonya Tania bingung.
"Aku ingin melihat putra dan menantu mu, bawa ke sini dan aku akan mempertimbangkan apa kah aku akan melepaskan perusahaan kepadamu atau tidak!"
"Kesehatan ayah sedang menurun, sebaiknya ayah tidak memikirkan hal lain dulu!"
Nyonya Tania pun akhirnya menemani ayah nya hingga makan malam, setelah itu barulah dia pulang.
Keinginan ayahnya untuk bertemu dengan putranya cukup membuatnya bimbang. Ia tidak begitu percaya pada ayahnya setelah apa yang terjadi pada mereka tapi rasanya juga tidak adil jika tidak memberi tahu Frans kalau ia masih punya seorang kakek.
...***...
Sore ini Tisya sampai di rumah lebih dulu, tepat saat di depan rumah ada tukang ojek yang mengintip dari balik pagar itu.
"Mencari siapa ya mas?" tanya Tisya yang muncul dari belakang. Pria tukang ojek yang terkejut itu pun menoleh ke belakang dan mengenali siapa wanita yang ada di belakangnya.
"Ehhh neng Tisya! Ini neng ada titipan dari bu Tania buat neng Tisya!"
Tisya pun segera mengambilnya ternyata dua porsi bakso.
"Neng Tisya hebat ya, tinggal di sini sama siapa?" tanya Tukang ojek lagi, belum sempat Tisya menjawabnya tiba-tiba ...
Tin tin tin
__ADS_1
Sebuah mobil berhenti tepat di rumah itu. Tisya pun dengan cepat membukakan pagar dan mobil masuk ke halaman rumah.
Tukang ojek masih terlihat begitu penasaran dengan orang yang ada di mobil itu.
Dan ternyata Wilson, Wilson keluar dari mobil dan kembali menghampiri Tisya dan tukang ojek.
"Ada apa?" tanya Wilson.
"Ini mama ngirim bakso buat kita!" ucap Tisya dan Wilson pun tersenyum lalu menyambar kantong kresek itu, mencium aroma kuah bakso yang masih panas.
"Pas banget, aku lapar banget!" ucap wilson.
Tukang ojek yang masih terpaku melihat kemesraan dua orang di depannya itu jadi berspekulasi jika mereka sudah menjadi sepasang suami istri.
"Neng Tisya sama mas nya baru nikah ya? kalian cocok sekali!"
Ucapan tukang ojek itu berhasil membuat mereka saling menatap dan tersenyum jahil.
Srekkkkk
Dengan cepat Wilson menarik pinggang Tisya hingga mereka begitu dekat dan terlihat mesra.
"Iya mas ...., ini masih anget-angetnya ...., iya kan sayang!" ucap Wilson sambil tersenyum puas.
"Iya mas ...., kami baru nikah!"
"Wah neng Tisya sama bu Tania ini nggak bilang-bilang kalau baru nikahan, selamat ya!"
"Terimakasih, ya sudah kamu masuk dulu ya mas, lagi pengen bermesraan kalau kayak gini!" ucap Wilson.
"Iya iya silahkan!"
Wilson pun mengajak Tisya untuk segera masuk ke dalam rumah setelah membuka kunci pintu rumah.
Di dalam Rumah Wilson segera mendorong tubuh Tisya.
srekkkkk
"Aughhhhh ....., jahat banget sih!" keluh Tisya sambil memegangi pundaknya yang di dorong oleh Wilson.
"Abis kamu keenakan di peluk sama aku!" ucap Wilson sambil nyelonong begitu saja menuju ke dapur untuk membuka bungkus baksonya.
"Kamu yang keenakan di kasih makan gratisan sama mama setiap hari!" ucap Tisya yang membalas dengan menarik mangkok Wilson dan memakannya membuat Wilson kembali mengambil mangkok dan membuka bakso yang masih di dalam kantong plastik.
Bersambung
...Lakukan usaha terbaikmu dan biarkan semuanya berjalan semestinya, jika nanti kamu gagal, bukan karena kamu tidak bisa, mungkin karena ada takdir yang lebih baik dari kegagalan hari ini dan akan menjadi keberhasilan yang luar biasa di masa depan...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5259
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰