
Malam, 18. 30 WIB di desa xxx
Felic dan dokter Frans sedang asik menikmati camilan yang di buat oleh bi Molly, tiba-tiba ia mendengar suara pintu di ketuk.
Keduanya pun saling menatap ke arah pintu depan, seharusnya kalau jam-jam seperti ini di desa jarang orang bertamu.
"Biar bibi saja yang membuka pintunya tuan!" ucap bi Molly yang barus saja dari dapur dan langsung menuju ke pintu depan. Terdengar bi Molly sedang berbincang dengan tamunya, saat dokter Frans hendak memutuskan untuk menghampiri bi Molly ternyata tidak berapa lama bi Molly kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.
Sebuah undangan pernikahan yang sepertinya kuota dadakan karena dokter Frans sedang berkunjung ke desa.
"Siapa bi?" tanya dokter Frans.
"Ini tuan, tuan dokter sama nyonya mendapatkan undangan acara pengantinan di rumah pak Dirman, dia sesepuh kampung sini!" ucap bi Molly sambil menyerahkan undangan itu pada dokter Frans.
"Acaranya kapan?" tanya dokter Frans yang memang belum sempat membukanya.
"Besok pagi tuan, jam sepuluh ijab qabulnya!" walaupun bi Molly belum sempat membukanya tapi ia sudah di beritahu oleh pengantar undangan itu.
"Baiklah kami akan datang, iya kan Fe?" tanya dokter Frans pada istrinya yang menyenderkan tubuhnya pada dada bidang suaminya itu.
"Iya Frans, aku pengen lihat seperti apa acara mantenan di sini!" ucap Felic bersemangat.
"Pastinya lebih seru dari di kota Fe, iya kan bi?!" ucap dokter Frans sambil mengusap kepala Felic.
"Iya nyonya, bibi besok pagi-pagi sekali juga mau ke sana untuk bantu-bantu sebelum acara, sama ibu-ibu yang lain!"
Mendengar hal itu Felic segera bangun dan menatap bi Molly yang sudah hampir meninggalkan mereka.
"Aku ikut ya bi!" ucapnya dengan penuh semangat dan dokter Frans kembali meraih tubuhnya agar kembali bersender di dadanya.
"Nggak!" ucapnya kemudian, ia tidak mau istrinya sampai kecapekan karena terlalu bersemangat untuk membantu acara itu.
"Frans ...., aku pengen tahu!" keluh Felic sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya itu.
"Tapi kalau bantu-bantu pasti capek!" dokter Frans masih tidak setuju, ia sampai harus menatap istrinya agar tidak membantah lagi.
"Kan ada bibi, aku kan cuma mau lihat-lihat aja, nggak pegang apa-apa, janji!" ucap Felic dengan nada suara yang melemah dengan wajah penuh harap.
Hehhhhh...., dokter Frans menghela nafas dalamnya, dia benar-benar keras kepala, bisa bahaya kalau sampai dia besok ngambek seharian ....
Dokter Frans pun kemudian menatap pada bi Molly, "Jagain Fe ya bi, besok saya akan datang pas acara!" ucap dokter Frans terlihat begitu terpaksa.
"Baik tuan!"
Mendengar hal itu tiba-tiba wajah Felic berubah berseri-seri, ia menatap suaminya itu dengan senyum yang tidak mampu ia tahan lagi.
"Berarti ini artinya boleh kan?" tanya Felic meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya ....! Tapi janji, nurut sama bi Molly!"
"Siap!"
...*****...
Pagi di desa xxxx
06.00 wib
...Acara mantenan di rumah salah satu warga desa...
Felic terlihat begitu bersemangat, ia sudah memakai kebaya yang longgar dan nyaman untuk ibu hamil. Tidak lupa dengan flatshoes nya agar aman untuknya.
Dokter Frans yang masih sibuk dengan berkas yang ada di depannya, entah apa yang sedang di kerjakan nya, walaupun jauh dari rumah sakit pria gondrong itu tetap sibuk dengan pekerjaannya. Ia pun mendongakkan kepalanya menatap istrinya yang sudah sangat cantik dengan perut besarnya.
"Ini masih terlalu pagi Fe!" ucapnya kemudian lalu berdiri dan berjalan menghampiri istrinya itu, melingkarkan tangannya di pinggang Felic walaupun sudah tidak terlalu cukup tangannya.
__ADS_1
"Tapi bi Molly juga sudah siap, aku nggak mau di tinggal sama bi Molly!" ucap Felic yang tidak mau kalah, ia pun juga mengalungkan tangannya di leher suaminya dan menatap suaminya dengan wajah yang berbinar.
"Padahal aku mau ngajak kamu jalan-jalan, sambil aku ada urusan sebentar!" ucap dokter Frans yang bibirnya sudah tidak bisa di kondisikan lagi, Felic benar-benar seperti magnet baginya, jaka dekat rasanya ingin selalu memakannya saja.
"Jalan-jalan nya besok saja ya, perpanjang lagi aja liburannya di sini, sampai satu minggu!" ucap Felic sambil menghidarkan bibirnya agar tidak keterusan karena ia sudah terlanjut dadan.
"Kasihan dokter sifa dan Wilson kalau di tinggal lama-lama!" bibir dokter Frans kini sudah mengabsen leher jenjang istrinya itu.
Felic terlihat berusaha keras untuk menahannya dengan menggigit bibir bawahnya agar suaranya tidak mendesah dan suaminya akan semakin tidak terkontrol lagi.
"Gitu katanya mau tinggal di sini, seminggu aja nggak sanggup, trus gimana dong!" ucap Felic dengan suara yang sudah mulai sedikit ada desahannya.
"Iya iya ..., nanti di bicarakan lagi, tapi seharusnya kita melakukannya dulu kan!" ucap dokter Frans dan segera mengangkat tubuh Felic dan membawanya kembali ke atas tempat tidur.
Setengah jam berlalu, bi Molly dengan sabar menunggu Felic di luar.
"Keterlaluan kamu Frans, aku kan udah mandi jadi mandi lagi!" gerutu Felic sambil berlari menuju ke kamar mandi dengan selimut yang menutupi tubuhnya sedangkan dokter Frans hanya tersenyum melihat istrinya cemberut.
Felic jadi harus mandi dua kali dan kembali berdandang.
*P*agi, 07.00 wib
Bi Molly pun segera menghampiri Felic saat ia sudah keluar dari kamarnya, melihat wajah cemberut Felic, bi Molly sudah cukup faham dengan apa yang baru terjadi di kamar itu.
Ia mengajak Felic untuk berangkat ke rumah tempat di adakan nya hajatan di antara oleh Richard.
"Silahkan nyonya!" ucap Richard sambil membukakan pintu mobilnya. Bi Molly dan Felic pun segera masuk dan Richard segera membawa mereka ke tempat hajatan.
"Kalau begitu saya permisi dulu nyonya, saya akan kembali bersama tuan dokter!" ucap Richard saat sudah menurunkan Felic dan bi Molly di tempat hajatan.
"Iya!"
Di tempat hajatan masih terlihat sepi, beberapa orang pria sedang sibuk merapikan tempat duduk dan beberapa hiasan.
"Kok masih sepi sih bi?"
"Oh gitu ....?"
"Tapi di belakang sudar ramai nyonya, di belakang ibu-ibu sedang menyiapkan acara mule-mule, semacam kenduri untuk mulai acara!"
"Baiklah kita langsung ke belakang saja ya bi!" ucap Felic.
"Baik nyonya!"
Bi Molly pun segera berjalan lebih dulu untuk menunjukkan jalan menuju ke arah belakang, tapi tangan Felic segera menahannya.
"Eh tunggu!" ucap Felic membuat bi Molly menghentikan langkahnya.
"Ada apa nyonya?"
"Kalau di sini jangan panggil nyonya ya bi, panggil aja Fe!"
"Maaf nyonya!" bi Molly jelas sangat keberatan, menurutnya memanggil nama saja adalah sebuah pelanggaran.
"Felic!"
Bi Molly menggelengkan kepalanya, "Maaf nyonya!"
"Hehhhhhh .....!" Felic menghela nafas, "Bagaimana kalau neng Fe?"
Bi Molly terlihat berpikir. "Ayolah bi?!"
Bi Molly begitu bingung, tapi 'neng' di rasa cukup sopan, "Baiklah nyonya!"
"Neng Fe!" ucap Felic memberi arahan pada bi Molly agar tidak memanggilnya nyonya lagi.
__ADS_1
"Neng Fe!" ulang bi Molly.
"Nah gitu dong, kan jadi enak di dengernya! Ya sudah kita masuk sekarang!" ucap Felic sambil menarik tangan bi Molly sok tahu jalan masuk.
Kedatangan mereka langsung di sambut oleh ibu-ibu di dapur dadakan yang sengaja di buat untuk acara hajatan itu.
Semua ibu-ibu datang bergiliran menyalami Felic dan bi Molly dan menanyakan tentang keadaan keluar Felic dan dokter Frans, kehamilan Felic dan berbagai macam yang lainnya.
"Tunggu sebentar ya neng, saya akan segera kembali!" ucap bi Molly yang hendak meninggalkan Felic sebentar.
"Iya ...., jangan khawatir bi, aku nggak akan ngambil apa yang tidak baik dan melakukan hal-hal yang tidak baik!"
Bi Molly setelah yakin pun segera meninggalkan. Felic tak berapa lama, kira-kira lima belas menit, tiba-tiba seseorang menghampiri
"Ayo ibu dokter, duduklah!" ucap salah satu ibu-ibu yang terlihat tidak sesibuk di bandingkan yang lainnya, dia sepertinya orang yang memiliki hajatan.
Ini lah bedanya di kota dengan di desa, jika di kota seluruh persiapan pernikahan di tangani oleh WO sedangkan di desa seluruh persiapan di tangani secara bergotong royong oleh para tetangga.
Felic pun ikut duduk bersama ibu itu, setelah memastikan Felic tidak akan melakukan apapun, bi Molly pun segera bergabung dengan yang lainnya, seperti nya tadi bi Molly sengaja meminta ibu itu untuk menemani Felic.
"Kenalkan saya bu Rosida, bu dokter bisa memanggil saya, bu Ros saja!"
"Iya bu ...., tapi jangan memanggil saya bu dokter ya bu, saya bukan dokter soalnya! Panggil saja Felic, bu!"
"Nggak enak lah neng, masak panggilnya nama, neng Fe ini kan istrinya pak dokter!"
"Nggak pa pa bu, saya juga di panggil begitu sama Frans, dan saya juga memanggilnya Frans, itu sudah biasa!"
"Jangan neng ...., kalau sama suami itu nggak baik panggil nama!"
"Ada aturan seperti itu ya bu?"
"Iya neng, rata-rata ibu-ibu di sini untuk menghargai suaminya yang telah berjuang untuk keluarganya, mereka tidak mengambil nama neng!"
"Begitu ya?"
"Tapi ini cuma sarang saja neng bu dokter!"
"Nggak pa pa aku seneng bu, bagusnya kalau manggil suami bagaimana bu?"
"Terserah sama neng bu dokter saja enaknya bagaimana!"
"Aku nggak punya panggilan sayang bu buat Frans!"
"Ada banyak pilihan untuk memanggil suaminya neng bu dokter!"
"Misalnya?"
"Misalnya mas, atau akang, atau abang, atau kakang, masih banyak lagi neng bu dokter!"
"Kalau paling sering di gunakan?"
"Mas atau akang, tapi mungkin bu dokter bisa panggil sayang, ayah, papa, pipi, daddy kan neng dokter sudah mengandung sekalian melatih anaknya supaya tidak panggil nama pada bapaknya, neng!"
"Gitu ya!"
Bersambung
Jangan lupa tanggal satu hari ini bang Divta udah launching, di favorit in dulu nggak pa pa, sama kasih jejak like , nanti kalau udah banyak di baca marathon ya
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰