
Di desa, di rumah Felic
"Bi ...., kenapa Frans lama sekali ya?"
Felic sedari tadi terlihat mondar-mandir di depan rumah, suaminya sudah seharian tidak kembali padahal mereka sudah berencana untuk pulang kembali ke kota hari ini.
Felic sudah terlanjur mengatakan kepulangannya pada ayah fan ibunya.
"Sabar nyonya ...., kata orang-orang tadi pasiennya sangat parah! Banyak darah di mana-mana!"
Bi Molly sedari tadi terlihat mencemaskan Felic, ia terus saja mengikuti langkah Felic kemanapun dia bergerak.
"Sebaiknya nyonya duduk dulu ...., nanti capek!"
Bi Molly mengambilkan kursi plastik berwarna hijau itu, dan meletakkannya di dekat Felic.
"Tapi baby nya nggak mau di ajak duduk bi, kalau aku duduk dianya nendang!"
Felic terus mengusap perutnya yang suka tiba-tiba keras di bagian tertentu.
"Tapi kalau nyonya berdiri terus, kakinya nanti bisa bengkak!"
Hehhhhhh .....
Felic menghela nafasnya dalam, ia memang ingin duduk tapi setiap kali duduk perutnya menendang.
Felic pun memutuskan untuk segera duduk. Ponsel yang sedari tadi ia genggam tiba tiba mengeluarkan nada deringnya, lagu 'Denting' dari Melly Goeslaw menjadi nada dering panggilan ponsel Felic.
"Ayah ...!" gumam Felic saat melihat siapa yang sedang melakukan panggilan.
Felic pun dengan cepat menggeser gambar telpon warna hijau, ia menempelkan benda pipih itu di daun telinganya.
"Assalamualaikum yah!"
"Waalaikum salam nak, gimana kalian sudah sampai apa belum?" tanya ayah Dul dari seberang sana.
"Maaf ya ...., tapi kami belum jadi pulang!"
"Kenapa nggak ada masalah kan? Kamu baik-baik saja kan?"
"Iya yah ...., cuma tadi tiba-tiba ada pasien datang, Frans ikut menangani pasiennya!"
"Hehhhhh, ya sudah hati-hati ya , kalau sudah jadi pulang hubungi ayah, ayah akan datang berkunjung!"
"Iya yah, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Felic pun mematikan kembali sambungan telponnya. Langit sudah mulai gelap, tapi suaminya belum juga pulang.
Bi Molly yang sudah menyiapkan makan malam untuk Felic pun segera memanggil Felic kembali.
"Nyonya ...., makanlah dulu, makanannya sudah siap!"
Bi Molly menyiapkan piring untuk Felic, Felic datang menghampiri meja makan dan mulai menyantap makanannya.
"Makasih ya bi ...., nanti kalau aku sudah lahiran, ajari aku masak ya bi!"
Felic sangat mengagumi masakan bi Molly, rasanya begitu enak, tidak kalah dengan koki khusus yang ada di rumah mereka.
__ADS_1
"Tapi kalau nyonya juga ikut masak, lalu pekerjaan bibi apa, nyonya?" ucap bi Molly yang memang sangat menyayangi keluarga dokter Frans itu.
"Bibi gantian yang duduk dan melihat Felic masak, nanti bibi yang akan bermain sama anaknya Fe dan Frans!"
"Mana bisa begitu nyonya!" bi Molly terlihat tersipu.
"Ya bisa dong bi, itu kalau bibi menganggap aku sama Frans anak asuh bibi sih!"
"Tapi kan saya tidak pantas nyonya!"
"Siapa bilang, bibi sangat pantas untuk mendapatkannya, jadi keluarga kami! Mama Tania pasti juga tidak akan keberatan bi!"
"Terimakasih nyonya, bibi jadi begitu terharu!" ucap bi Molly sambil mengusap air matanya.
Felic pun mengusap-usap bahu bi Molly.
"Sabar bi ....!"
"Nyonya dan tuan sangat baik sama bibi!"
"Bibi juga sangat baik sama kami!"
Karena saling terharu mereka pun jadi saling berpelukan.
"Ihhh bibi, kenapa jadi acara tangis tangisan kayak gini sih ....!" ucap Felic yang masih dalam pelukan bi Molly.
Bi Molly yang sadar segera melepaskan pelukannya.
"Maafkan saya nyonya!"
"Apaan sih bi ....! Nggak pernah terpikir kalau bi Molly sama mama Tania dulu sahabatan!" gumam Felic, dia pun melanjutkan makannya.
...****...
"Kami permisi dulu nyonya!" ucap Wilson yang sudah berada di depan kedai.
"Kalian hati-hati ya!"
Nyonya Tania melambaikan tangannya pada kedua putri nya dan juga Wilson.
Wilson berada di antara dua wanita yang memiliki sifat yang berbeda itu.
"Kak Maira serius mau bareng sama kami? Rumah kakak jauhan loh!"
Tisya berusaha membujuk kakak perempuannya agar tidak ikut dengan mobil mereka.
"Tapi Wilson nggak pa pa, iya kan Wil?" tanya Maira, dan Wilson pun hanya bisa mengangguk.
"Tuh kan ...!"
"Tapi mobil kakak gimana?" tanya Tisya lagi.
"Tuh lihat ...., yang ngambil sudah ada!" ucap Maira sambil menunjuk pada pria berjas hitam yang ada di samping mobilnya
Maira pun berjalan cepat menghampiri pria itu, ia menyerahkan kunci mobilnya dan kembali pada Tisya dan Wilson.
"Aku ikut kalian ya!"
Maira pun segera membuka pintu mobil Wilson di depan saat Wilson membuka kunci mobilnya.
__ADS_1
"Aku di depan ya sama Wilson, kamu di belakang nggak pa pa ya!?" ucap Maira pada Tisya.
"Iya!"
Tisya pun memilih untuk duduk di belakang sendiri. Wilson duduk di balik kemudi.
Wilson memakai sabuk pengamannya dan mulai menghidupkan mesin mobilnya, mobilnya mulai berjalan meninggalkan kedai bakso.
Terlihat nyonya Tania masih setia menunggu hingga mereka menghilang.
Sepanjang jalan, mata Wilson terus mengarah ke cermin kecil yang tergantung di kaca depan. Ia mengamati gadis yang sedari tadi diam di belakang.
Kenapa si tikus itu tiba-tiba jadi pendiam, apa yang sedang ia pikirkan ....? Jangan bilang kalau dia berpikir jika aku dan Maira ada apa-apa!!! batin Wilson.
Sedangkan Maira terus saja sibuk bercerita, tapi Wilson malah fokus pada arah lain.
Tisya yang ternyata juga melihat ke arah cermin itu membuat mata mereka saling bertemu di pantulan cermin itu, mereka terdiam sejenak saling menatap tapi kemudian Tisya mengalihkan tatapannya ke jendela di sampingnya, ia memilih menatap ke luar.
Kenapa jadi begini ya ...., aneh sekali dengan perasaan ku ..., batin Tisya. Saat melihat Wilson begitu dekat dengan Maira ada perasaan tidak rela. Tapi saat mereka berdekatan selalu saja bertengkar, tapi sekarang rasanya begitu canggung.
"Wil ....., kamu mendengarkan aku kan?" tanya Maira kemudian membuat Wilson tersadar.
"Ahh iya ...! Iya ...!" ucap Wilson yang terlihat bingung, ia tidak memperhatikan apa saja yang di bicarakan oleh Maira.
"Kamu nggak dengerin cerita aku ya?" tanya Maira dengan tangan yang terus menggandeng Wilson membuat Wilson menyetir mobilnya hanya dengan satu tangan.
"Iya ...., aku denger kok!"
Mobil pun akhirnya sampai juga di depan rumah Maira, rumah yang sudah dua puluh empat tahun di tinggali oleh Tisya juga.
"Aku turun ya!" ucap Maira.
"Iya ...!"
Maira pun kemudian menoleh ke belakang, "Tisya ...., aku pulang dulu ya!"
"Iya kak, hati-hati!"
Maira pun segera turun dari mobil Wilson, ia melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam saat pintu gerbang di buka.
Wilson tidak juga menjalankan mobilnya, ia menolehkan kepalanya ke belakang.
"Ada apa?" tanya Tisya yang terkejut saat Wilson menoleh padanya.
"Kamu pikir aku sopir kamu, duduk di depan!" ucap Wilson.
"Issstttttt ...., gitu aja sewot!" gumam Tisya lalu turun dari mobil dan berpindah ke depan.
"Pakai seltbelt mu!" ucap Wilson kemudian.
"Iya ....! Bawel ...!" gerutu Tisya sambil mengenakan sabuk pengamannya.
Bersambung
...Aku dan kamu berjalan di jalan yang berbeda, tapi tiba-tiba kita di satukan dengan tujuan yang sama, apakah itu yang namanya jodoh?...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰