
Miska segera bergegas ke kantor polisi untuk menemui mamanya. Ia ingin segera tahu apa yang terjadi dengan mamanya.
"Apa yang terjadi ma?" kini Miska sudah duduk berhadapan dengan mamanya, mamanya sudah mengenakan pakaian tahanan.
"Papa kamu dan anak itu yang sudah memasukkan mama ke sini!"
"Kok bisa?"
"Mereka menemukan bukti-bukti tentang yang mama lakukan pada Chintya!"
"Siapa Chintya, ma?"
"Wanita yang sudah membuat mama tersingkirkan selama ini."
"Maksudnya mamanya, Zea?"
"Hmmm. Pokoknya mama mau, kamu melakukan apapun agar mama bisa keluar dari sini, kalau perlu sewa pengacara terbaik buat bebasin mama."
"Mama jangan khawatir, Miska pasti akan melakukannya. Miska juga akan membuat perhitungan sama papa dan wanita tidak tahu diri itu."
Miska begitu kesal, ia hanya punya mamanya saat ini. Jika sampai mamanya benar-benar di penjara ia tidak tahu harus melakukan apa lagi setelah ini.
Miska pun bergegas pergi, ia tidak sabar ingin menemui papanya. Ia segara pergi ke kantor papanya tapi tidak menemukan papanya di sana.
"Papa kemana?"
"Tuan Seno hari ini tidak datang ke kantor, nona!"
"Kalian benar-benar tidak berguna!" Miska meluapkan kemarahannya.
Itulah yang membedakan Miska dan Zea, Miska selalu bicara semaunya pada semua karyawan papanya, ia tidak peduli jika itu menyakiti perasaan orang lain.
Hal itu yang membuat para karyawan semakin mendukung Zea, mereka merasa Zea jauh lebih baik dari Miska.
Ia pun akhirnya mendatangi rumah Zea dan papanya. Ia ingin membuat perhitungan pada Zea.
"Nona, anda di larang masuk!" bibi menahan Miska agar tidak masuk.
"Minggir! Kamu tidak tahu ya siapa saya!?"
"Maaf nona, tapi tuan dan dan nona Zea tidak mengijinkan anda masuk!"
Tapi Miska tetap tidak peduli dengan larangan bibi, ia terus menerobos masuk.
"Pa, keluar pa. Aku tahu papa di dalam. Jadi cepat keluar! Pa!" Miska terus berteriak membuat pria paruh baya itu keluar dari ruang kerjanya.
"Miska, bisa sopan tidak? ini bukan hutan, jadi jangan seperti itu!"
Miska tidak sabar menunggu papanya sampai di ujung tangga, ia menyusul tuan seno.
"Papa jahat ya sama Miska!" tuduhnya tapi tuan Seno masih dengan tenangnya menuruni tangga membuat Miska kembali mengejarnya.
"Duduk!" pintanya saat tuan Seno sudah duduk di sofa.
"Nggak mau!"
__ADS_1
"Terserah kamu!"
"Pa, kenapa papa tega lakuin ini? Papa tahu, Miska cuma punya mama yang peduli sama Miska. Bisa-bisanya papa menjebloskan mama ke penjara. Kalau papa memang tidak cinta sama mama, setidaknya pikirkan Miska. Miska bisa apa tanpa mama?"
"Lalu?"
"Bebaskan mama!"
"Kalau papa nggak mau?"
"Pa, jangan bilang kalau papa sudah nggak sayang lagi sama Miska?"
Rangga menurunkan Zea di depan rumah.
"Kayaknya ada tamu!" ucap Rangga saat melihat sebuah mobil terparkir di halaman, tapi bukankah itu mobil Miska?
Baru saja Rangga memikirkannya, tiba-tiba bibi menghampiri mereka.
"Nona Zea, sebaiknya nona Zea jangan masuk dulu!" bibi terlihat panik membuat Rangga mengurungkan niatnya untuk segera pergi.
"Ada apa bi?"
"Di dalam ada nona Miska. Dia sedang ribut sama tuan!"
"Kok bisa, ribut kenapa?" tanya Rangga yang ikut penasaran.
"Nggak tahu bibi, lebih baik tuan Rangga bawa nona Zea pergi dulu."
"Nggak bi, aku nggak mungkin biarin papa sendiri." Zea pun berjalan cepat masuk ke dalam rumah dan akhirnya Rangga pun mengikutinya.
"Miska, apa yang kamu lakukan?" teriak Rangga, tapi saat akan meraih tangan Miska. Miska lebih dulu menarik ribut Zea hingga membuat Zea kesakitan.
"Berhenti di situ!"
Tuan Seno yang tidak memperhitungkan Zea akan kembali cepat pun ikut terkejut,
"Miska, lepaskan tanganmu!"
"Ini kan pa yang papa mau, dia_!" ucap Miska sambil menunjuk wajah Zea, "Pasti karena dia, papa melakukan semua ini. Dia sudah benar-benar merebut papa dari aku, aku tidak suka!"
"Miska, sakit! Lepaskan!" tangan Zea ikut menahan rambutnya agar tidak terlalu sakit.
"Semua ini gara-gara kamu, pasti karena kamu mama aku di bawa ke kantor polisi!"
"Miska, itu kesalahan mama kamu sendiri! Jadi lepaskan Zea!"
"Enggak, pokoknya ini gara-gara dia!" Miska menarik kuat rambut Zea dan menghempaskannya dengan begitu keras hingga membuat tubuh Zea terhuyung, hampir saja menabrak meja di sudut ruangan, untung saja Rangga berhasil menangkapnya hingga Zea terjatuh ke dalam pelukannya.
"Kamu keterlaluan, Miska!" teriak Rangga. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan jika Zea sampai celaka.
Rangga begitu marah, ia melepaskan pelukannya pada Zea dan berjalan menghampiri Miska.
Plakkk
Sebuah tamparan mendarat di pipi Miska.
__ADS_1
"Ga!" ucap Miska sambil memegangi pipinya yang memerah.
"Aku bisa melakukan lebih dari ini, jika kamu berani menyakiti Zea lagi!"
Miska kembali berbalik menatap papanya, ia meminta perlindungan papanya dengan menunjukan wajah menderitanya, dan juga dengan air matanya, "Pa!"
"Pergi dari sini. Atau papa akan melupakan jika kamu adalah putri saya, pergi!"
Merasa sudah tidak punya tempat lagi di rumah itu, akhirnya Miska menyerah. Ia pergi meninggalkan rumah itu dengan perasaan kecewa.
Zea masih begitu terkejut dan bibi pun membawanya untuk duduk ke sofa, mengambilkannya segelas air putih.
"Minum nona!"
Rangga dan tuan Seno pun ikut duduk di dekat Zea,
"Nak, kamu tidak pa pa?" tanya tuan Seno.
"Zea hanya terkejut saja, pa!" Zea cukup bersyukur karena setidaknya tadi ada Rangga yang melindunginya.
"Rangga, terimakasih ya tadi!" ucap tuan Seno pada Rangga.
"Itu sudah menjadi kewajiban saya, tuan!"
Setelah memastikan jika Zea tenang, akhirnya Rangga pun berpamitan untuk pulang. Tuan Seno mengantarnya hingga ke depan.
"Rangga!?"
"Iya tuan?"
"Kalau kamu tidak keberatan, saya akan menebus toko dan rumah orang tua kamu lagi!"
Rangga mengerutkan keningnya, ia benar-benar terkejut karena ternyata tuan Seno mengetahuinya,
"Tuan Seno tahu?"
"Saya tidak akan memberitahukan hal ini pada Zea, jadi jangan khawatir. Lalu bagaimana dengan tawaran saya?"
"Maaf tuan, tapi saya tidak mau merepotkan Anda lagi. Biar saya berusaha dulu, jika nanti saya sudah benar-benar tidak sanggup, saya pasti akan mengatakannya pada tuan!"
" Baiklah, semoga kamu berhasil!"
"Saya permisi, tuan!"
Rangga pun akhirnya meninggalkan tepat itu. Ia merasa tidak enak jika harus merepotkan keluarga istrinya.
Ia harus berusaha sendiri karena dia adalah seorang pria yang punya tanggung jawab besar untuk menghidupi keluarga dan istrinya tentunya bukan malah meminta belas kasih dari keluarga istrinya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...