
Zea yang tidak mengerti maksud mama Rangga pun segera mendongakkan kepalanya menatap suaminya. Tapi sepertinya suaminya tidak menyadari hal itu.
"Ma, itu tidak sengaja. Memang ada yang mau sengaja kecelakaan!"
"Tapi bukan berarti kan kamu bisa lepas tanggung jawab, kamu kan bisa antar dia ke klinik!"
"Samalah udah ma, emang dianya saja yang manja!"
"Mama nggak pernah ajarkan buat kamu lepas tanggung jawab ya, kamu cuma ngajak ke klinik biasa. Bagaimana kalau ternyata terjadi sesuatu dengan kakinya? kamu mau tanggung jawab!"
"Lagian cuma terkilir juga, kenapa harus di besar-besarkan?"
Rangga pun kembali mencengkeram tangan Zea dan menatap istrinya itu.
"Udah aaahhh ma, kedatangan Rangga ke sini bukan buat debat sama mama. Rangga ke sini cuma mau kasih tahu kalau Rangga dan Zea sudah menikah secara agama dan secepatnya akan mendaftarkan ke kantor catatan sipil. Entah mama mau restui atau tidak, rangga tidak peduli. Rangga pamit!"
"Ga_!" mama Rangga tampak tidak bisa berkata apa-apa lagi, sepertinya dia juga terlalu syok dengan apa yang di ucapkan putranya.
"Dan satu lagi ma, jangan pernah jodoh-jodohin Rangga sama Miska karena sudah jelas hal itu tidak akan pernah terjadi!"
"Tapi Ga, nggak bisa dong seperti ini!"
"Pa Rangga pamit, kalau papa rindu sama Rangga, papa tahu kan kemana harus pergi!"
Papa beni hanya menganggukkan kepalanya. Dalam hati kecilnya ia sangat setuju dengan yang di lakukan Rangga. Sesekali memang butuh ketegasan untuk menghadapi mamanya yang kadang tidak masuk akal dengan pemikirannya.
Zea hanya terdiam saat Rangga menarik tangannya keluar rumah yang baru pertama kali ia menginjakkan kakinya, ia menatap punggung suaminya. Tersimpan begitu banyak pertanyaan di benaknya terutama dengan Miska.
Jadi semalam ....
Membayangkan hal itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak, ingin rasanya ia segera bertanya pada suaminya tentang kejadian yang sebenarnya sebelum ia berpikir macam-macam. Tapi tetap saja sisi buruknya terus saja membisikkan hal-hal yang menyakitkan itu.
Nggak, nggak ..., aku percaya sama Rangga. Semua tidak seperti yang aku pikirkan ...
Zea terus berusaha untuk berfikir positif tentang apapun yang sedang ia duga.
Hingga mereka sampai di rumah lagi, Zea masih saja tetap diam. Ia bahkan berlalu tanpa menunggu Rangga. Ia segera masuk ke dalam kamar dan menutup kembali pintunya.
Memilih untuk duduk di tempat tidur tanpa mengganti bajunya, ia hanya melempar tasnya begitu saja.
Rangga yang sudah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, segera menyusul Zea.
"Sayang!?"
Saat ia tidak menemukan di manapun, ia pun segera menyusul ke tempat tidur. Rangga segera melepas sepatunya dan naik ke atas tempat tidur. Ia duduk tepat di depan Zea yang hanya diam saat ini.
"Sayang kamu boleh bertanya apapun padaku!" Tanyakan saja, tapi jangan diamkan aku lagi, aku tidak akan sanggup!"
Zea menatap suaminya, begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan tapi ia bingung harus memulainya dari mana.
__ADS_1
"Nona Miska?"
Hehhhhhh ....
Rangga segera menghela nafas panjang, tetap saja menyembunyikan sesuatu dari istrinya bukanlah pilihan terbaik. Seburuk apapun itu seharusnya ia bicara.
"Jadi semalam, aku sebenarnya bohong. Maaf! Karena Miska mengancamku akan menumuimu, jadi aku terpaksa menerima undangannya ....!"
Rangga menceritakan semua detail kejadian yang sudah ia sembunyikan semalam.
"Jadi plester luka itu milik_!"
"Iya, maafkan aku! Jika aku tahu kamu akan marah, aku pasti akan memilih pergi dan membiarkan kening ini tidak di obati, maafkan aku!"
srekkkk
Tiba-tiba Zea malah berhambur memeluk Rangga.
"Aku tidak marah karena dia mengobati lukamu, tapi aku hanya marah karena pasti dia menyentuhmu juga!"
Rangga tersenyum mendengar ucapan sang istri.
"Akhirnya aku tahu jika istriku ini begitu posesif!"
Zea tiba-tiba mendorong tubuh Rangga kali ini,
"Lalu?"
"Ya nggak gitu!" Zea begitu malu hingga ia harus menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tahu pasti saat ini wajahnya tengah memerah menahan malu.
"Manisnya istriku!" Rangga tidak mempedulikan bagaimana malunya Zea, ia malah memeluk erat tubuh Zea.
...***...
Zea beberapa kali menutupi wajahnya yang tengah tersipu setiap kali teringat dengan saat-saat manis bersama sang suami, ia juga beberapa kali menelungkup kan wajahnya di meja kasir.
"Wah mbaknya kayak seneng banget, baru dapet lotre ya?" seseorang yang tengah berdiri di depan meja kasir dengan satu keranjang belanjaan penuh rupanya sudah memperhatikan Zea sedari tadi.
Zea yang sadar ada yang melihatnya segera menormalkan kembali wajahnya.
"Nggak pa pa, biasa aja!" Zea segera menghitung barang belanjaan gadis di depannya itu.
"Mbaknya nggak ada testpack ya?"
Zea segera menatap gadis yang masih memakai segara putih abu-abu. Sepertinya gadis itu mengerti arti dari tatapan Zea, ia segera melambaikan tangannya menolak.
"Enggak, enggak, bukan aku mbak. Tapi Kakak aku, beberapa hari ini kerap mual trus dia juga sudah terlambat datang bulan. Maklum lah masih pengantin baru, jadi nggak begitu paham. Ini mama yang nyuruh aku cari testpack, serius!" gadis itu sampai mengacungkan kedua jarinya.
"Ohhh, aku padahal sudah menduga yang enggak-enggak tadi. Kalau mau beli testpack jangan di sini, tuh di seberang ada apotek, beli aja di sana!"
__ADS_1
"Saya kira bisa sekalian beli di sini mbak, ya udah deh aku beli di sana aja!"
Setelah menyelesaikan pembayarannya, gadis itu segera meninggalkan toko. Meninggalkan Zea yang juga tiba-tiba teringat akan sesuatu.
"Ini sudah tiga Minggu, dan aku belum dapet. Atau jangan-jangan aku_!" Zea menggelengkan kepalanya cepat sambil memegangi perut ratanya.
"Tapi nggak mungkin secepat ini kan? Kalau iya berarti setelah saat ini langsung_!"
"Ahhhh, nggak mungkin, nggak mungkin! Hubungan ku dengan Rangga masih belum benar-benar baik, bagaimana bisa_!"
Zea terus bermonolog sendiri, beruntung lagi sepi pengunjung.
Hingga siang hari, saat mbak Dian datang, Zea pun segera berkemas. Ia hanya membawa tas sampingnya.
"Aku pulang dulu ya mbak Dian!"
"Iya mbak Zea, nggak di jemput?"
Zea tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Suami pulangnya malam!"
"Suaminya sibuk banget ya, wajah mbak Zea pucet banget loh padahal!"
"Nggak pa pa, biasanya kalau kayak gini cuma anemia aja mbak, nanti minum tambah dari juga sembuh!"
"Selamat istirahat mbak Zea!"
"Terimakasih!"
Zea pun segera meninggalkan toko, karena pagi di antar Rangga, ia pun terpaksa pulang jalan kaki karena Tidka membawa sepeda.
Langkahnya melambat saat melewati sebuah apotik, ia teringat dengan perbincangannya dengan anak SMA tadi.
"Apa aku coba ya!?" gumamnya pelan tapi tampak langkahnya begitu ragu.
"Nggak pa pa kali ya, kalau aku cek. Lagi pula kan aku punya suami, kenapa juga harus takut!"
Zea pun akhirnya benar-benar memutuskan untuk membeli sebuah testpack.
Setalah mendapatkan apa yang ia cari dengan cepat ia memasukkannya ke dalam tas, entah kenapa ia merasa ini sangat tabu untuk di perlihatkan pada orang lain.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1