Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
kucing vs tikus


__ADS_3

Di tempat lain, setelah makan siang Tisya dan Wilson tampak sibuk dengan tata letak ruangan yang akan di rumah.


"Bagaimana kalau kita menambahkan meja kecil di sini dan atasnya wallpaper berwarna senada?" tanya Tisya sambil menunjukkan gambarannya.


"Kenapa harus meja kecil, bukankah akan lebih bagus jika di sini di tambahkan semacam heksagonal atau lampu warna biar lebih menarik!?" Wilson merasa pendapat Tisya tidak terlalu bagus.


"Itu akan kelihatan terlalu rame karena sebelahnya kita sudah meletakkan aquarium besar dan pasti juga sudah ada lampunya!" Tisya tidak mau kalah.


Pak Mandor yang akan memasangnya malah di buat bingung karena Tisya dan Wilson selalu ikut campur dalam pemasangan.


"Begini saja lah pak Wilson dan mbak Tisya, kalian duduk saja dan melihat pekerjaan kami, kami akan memasang sesuai gambar awal dan nanti kalau sudah hampir selesai, mbak Tisya bisa mengarahkan tempatnya dan pak Wilson bisa memilih warnanya, bagaimana?"


"Baiklah terserah bapak saja!" ucap Wilson menyerah.


"Nah untuk itu berarti besok mbak Tisya dan pak Wilson harus belanja bersama mengenai interiornya!" ucap pak Mandor lagi.


"Kenapa harus sama dia sih pak?" protes Tisya, "Aku kan bisa sendiri!"


"Tapi mbak Tisya, jika kalian yang belanja di sana kalian bisa menentukan sendiri di sana, kalau ada yang nggak cocok kita nggak perlu mengembalikan lagi ke toko seperti hari ini!"


Alasan pak Mandor memang masuk akal, karena beberapa barang terpaksa di kembalikan karena tidak sesuai dengan keinginan Tisya ataupun Wilson.


"Baiklah saya setuju!" ucap Wilson.


Ihhhh kucing hitam ini main setuju-setuju aja jadi orang ...., batin Tisya kesal.


"Baiklah kalau begitu saya dan para pekerja akan pulang dulu karena sudah sore, kalian bisa lanjutkan perdebatan kalian untuk menentukan apa yang harus di pasang besok!" ucap pak mandor dan meninggalkan Tisya dan Wilson.


Setelah pak mandor dan para pekerja meninggalkan rumah Wilson, kini di rumah itu tinggal Tisya dan Wilson.


Wilson pun memilih kembali duduk di meja kerjanya yang sebenarnya masih sangat berantakan karena ruang kerjanya belum di siapkan sama sekali.


Tuan dokter ada-ada aja ...., masak saya di suruh nungguin tikus kecil ini kerja, kalau kerjanya lelet begini kan saya jadi gemes pengen ikut campur ...., batin Wilson sambil mulai memeriksa berkasnya membiarkan Tisya yang masih menatap nya kesal.


"Hust ...., hust ...., hust ....!" Tisya memanggil Wilson tapi rasanya begitu canggung jika memanggil namanya, ia memilih kata itu untuk memanggilnya.


Wilson pun segera meletakkan bolpoinnya dan menatap tajam pada Tisya, Dia benar-benar tikus pengganggu ....


"Saya punya nama, jadi panggil nama saya!" ucap Wilson geram.


"Ku_cing ....!" ucap Tisya.


"Saya bukan kucing!"


"Tapi saya juga bukan Tikus, tapi kau selalu memanggilku dengan tikus kecil!" ucap Tisya yang tidak bisa terima Wilson memanggilnya tikus kecil.


"Kau juga memanggilku kucing hitam ...!" ucap Wilson,

__ADS_1


"Orang ganteng gini di samakan dengan kucing hitam, enak saja dia!" gumamnya lagi.


"Baiklah lupakan, ada yang mau saya bicarakan!" ucap Tisya.


"Ya katakan saja, bukankah sedari tadi sudah bicara, bahkan telingaku ini rasanya begitu penuh dengan suara mu yang berisik!"


"Issstttttt ...., ternyata kau banyak bicara juga ya ternyata!" ucap Tisya.


"Nggak kebayang gimana kesalnya Frans kalau dekat sama dia!" gumam ya kemudian.


"Jangan terus mengatai ku, cepat katakan apa mau mu!" ucap Wilson kesal karena Tisya terus saja mengatainya, benar-benar mirip seperti dokter Frans, sama-sama keras kepala.


"Besok kan jadwal kita belanja, sebenarnya bagaimana kalau kamu ke toko dulu dan aku akan menyusulnya!" ucap Tisya dengan nada sedikit merayu.


"TIDAK ...!" tolak Wilson


"Kenapa?"


"Kamu pasti akan beralasan kan untuk datang terlambat, jadi nggak ada!" ucap Wilson.


"Tapi aku janji setelah selesai urusanku, aku pasti akan segera menyusul mu!"


"Nggak bisa ...., aku nggak setuju! Mau gaji kamu di potong setengah gara-gara kamu selalu datang terlambat?" ancam Wilson.


"Jangan dong ....! Please ...., ini penting!"


"Jahat banget jadi orang, padahal aku cuma pengen ijin sebentar buat datang ke makam ayahku, benar-benar nggak berperasaan!" ucap Tisya sambil mengambil tasnya dan hendak meninggalkan Wilson.


Tapi Wilson segera menahan tangannya, "Tunggu!" ucap Wilson.


"Ada apa lagi? Mau motong gaji aku? terserah aku sudah nggak peduli ...! Lepaskan!" ucap Tisya dengan begitu marah sambil berusaha melepaskan tangan Wilson.


"Aku akan menunggumu jam sepuluh besok, dua jam cukup kan untuk ziarah maka?" tanya Wilson.


Tisya pun segera menoleh pada Wilson, ia tersenyum,


"Jadi maksudnya boleh?" tanya Tisya.


Wilson melepaskan tangan Tisya, "Iya ...!"


"Makasih, baiklah aku pulang dulu, jam sepuluh aku akan ke toko!" ucap Tisya begitu senang lalu meninggalkan Wilson.


Wilson yang melihat tingkah Tisya hanya menggelengkan kepalanya.


"Dasar tikus kecil ....!" gumamnya sambil terus menatap punggung Tisya yang semakin menghilang di balik pagar rumahnya.


Tisya sepertinya sudah terlanjur suka naik angkutan umum karena tidak terlalu menguras kantongnya yang memang sudah sangat tipis, masih setengah bulan lagi agar dompetnya kembali terisi, ia masih butuh asupan dari ibunya untuk mengisi dompetnya itu.

__ADS_1


Kali ini Tisya tidak langsung pulang, ia mampir ke kedai bakso tempat nyonya Tania bekerja. Jika jam-jam sepertinya pasti kedai itu akan sedikit lebih ramai, nyonya Tania sering kuwalahan melayani pelanggan.


Jika Tisya datang, setidaknya ia akan membantu mengantarkan mangkok-mangkok bakso yang sudah terisi ke meja para pelanggan dan nyonya Tania hanya perlu meraciknya.


"Tisya ...., kamu sudah pulang?" tanya nyonya Tania.


"Iya ma ..., biar Tisya bantu ma....!" walaupun masih begitu kaku, tapi sepertinya Tisya berusaha keras untuk membantu mamanya agar mamanya tidak terlalu kesusahan.


Setelah habis magrib, kedai akan sepi dan kembali ramai saat jam-jam delapan sampai jam sepuluh malam. Saat sepi seperti ini, nyonya Tania akan menggunakan waktunya untuk istirahat sebentar.


"Capek ya ma?" tanya Tisya saat melihat mama nya meregangkan otot-otot nya.


"Cuma sedikit sayang!"


"Oh iya ma, besok jadi kan ke makan ayah?" tanya Tisya. "Soalnya tadi Tisya sudah terlanjur ijin sama bos Tisya!"


"Baiklah, kalau gitu mama juga harus bilang sama Koh Yan kalau mama datangnya telat!"


Nyonya Tania pun mengambil ponselnya yang berada di dalam laci uang itu,


"Yah mati lagi ponselnya!" gumam nyonya Tania.


"Ada apa ma?" tanya Tisya yang sedang membersihkan meja yang beberapa waktu lalu di tinggalkan oleh pelanggannya.


"Hp mama mati, kamu bawa charger nggak?" tanya nyonya Tania.


"Ada ma, di tas! Mama ambil aja di tas Tisya!"


Nyonya Tania pun segera mengambil tas Tisya yang ia letakkan begitu saja di salah satu kursi plastik berwarna hijau toska itu. Ia mencari di setiap saku tas itu dan akhirnya ketemu juga bersama beberapa berkas.


Saat ia hendak menutup kembali tas itu, nyonya Tania tertarik pada satu berkas dengan ciri khas map yang sangat familiar.


"Bactiar group!" gumam nyonya Tania.


Nyonya Tania pun segera meletakkan ponsel dan charger nya di atas meja, ia segera mengambil berkas itu. Tisya yang melihatnya segera menghampiri mamanya.


"Ma ...., itu ...!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2