Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Kita harus merayakannya


__ADS_3

Wilson melepas aerophone yang melekat di telinganya saat melihat wanita yang ia kenal berjalan menghampirinya.


"Aku tahu kamu pasti di sini!"


Wilson hanya diam dan menatap gadis yang berada di depannya, gadis dengan perawakan tinggi dan cantik.


"Aku hanya mau mengembalikan ini!" ucap wanita itu sambil menyerahkan benda kecil yang berada di tangannya, benda yang sama seperti yang ia masukkan ke dalam tas Tisya.


Wilson pun segera memasang lagi aerophonenya dan memastikan jika benda itu bukan benda yang di bawa oleh Tisya di tasnya.


Tapi Wanita itu segera menahan tangannya.


"Ini bukan yang di bawa Tisya!"


Wilson mengerutkan keningnya.


"Tisya menjatuhkan benda kecil ini waktu itu di ruangan papa, benda ini pasti sangat kamu butuhkan!"


Wilson pun mengambilnya dan benar saja alat penyadap itu juga miliknya tapi yang hilang beberapa minggu lalu.


"Kamu pasti mendengar semua percakapanku dengan Tisya tadi!"


Wilson hampir saja melupakan percakapan dua wanita itu tadi. Tapi wanita yang berdiri di depannya mengingatkannya kembali.


"Soal itu, kita harus bicara berdua! Tapi maaf, bukan sekarang!"


"Aku tahu, pasti karena Tisya kan? Aku mengerti!"


Maira pun segera berbalik meninggalkan Wilson yang masih berdiri di tempatnya dengan benda kecil di tangannya.


"Maira!" panggilnya membuat Maira kembali menoleh padanya.


"Aku akan menghubungimu nanti!"


Maira pun mengangguk lalu berlalu meninggalkan Wilson sendiri.


Kenapa semua jadi rumit seperti ini? Maira wanita yang baik ...., walaupun kadang dia terlalu memaksakan kehendak ...


Matanya masih sibuk mengantar kepergian Maira hingga wanita itu semakin menghilang termakan jarak.


Dari arah lain ia bisa melihat wanita lain keluar dari tempat itu dengan ekspresi wajah yang tidak jauh beda dengan wanita yang baru saja pergi.


Wilson pun segera menyimpan benda kecil itu di saku jasnya agar Tisya tidak melihatnya.


Tanpa menyapa Wilson, wanita itu melewatinya begitu saja dan masuk ke dalam mobil.


Wilson pun dengan cepat berlari mengitari mobil dan duduk di balik kemudi.


Ia juga tidak berani bertanya apapun dulu dengan wanita yang berada di sampingnya itu.


Ia memilih jalan lain yang berlawanan arah dengan rumah mereka, tapi sepertinya Tisya tidak terlalu menyadari kemana mereka akan pergi.


Setelah keluar dari perkotaan, mobil itu melalui jalan yang berkelok-kelok.


Tisya yang baru menyadari pun segera melongokkan kepalanya keluar dan memastikan jika dia mengenali jalan itu, tapi ia sama sekali tidak mengenalinya.


"Wil, kita mau ke mana?"


"Tadi sudah ku bilang, kita harus merayakan atas 1 milyar yang kita dapat!"


"Maksudnya?"


"Kita bisa jalan-jalan!"


Belum sampai ia bertanya lagi, telinganya mulai menangkap suara deburan ombak.


Bibir Tisya mulai melengkung sempurna, "Kita ke pantai?"


Wilson hanya mengangguk, ia senang bisa melihat senyum Tisya kembali.

__ADS_1


"Ye ...., ye ...., pantai ...., I am coming ....!" Tisya meregangkan tangannya, melambai-lambai di udara.


Gampang sekali mengubah suasana hatinya ....


Wilson pun akhirnya memarkir mobilnya di bibir pantai agar mereka tidak perlu berjalan terlalu jauh.


"Apa aku boleh melepas blazer ku?" tanya Tisya sebelum keluar dari mobil. Ia tahu jika pria di sampingnya itu sangat tidak suka melihat ia memakai baju tanpa lengannya.


"Baiklah, untuk hari ini boleh!"


"Yesss!"


Tisya segera melepas blazer nya, meninggalkan dress tanpa lengan dan hanya sebatas lutut itu.


"Kau juga harus melepas jas mu!"


"Kenapa?"


"Memang ada orang ke pantai pakek jas, di kira tempat kerja apa!"


Wilson pun segera melepas jasnya, tapi sepertinya Tisya masih belum puas. Tisya menatap Wilson dengan jari yang menyanggah dagunya tampak berpikir.


"Apa lagi?" tanya Wilson.


"Keluarkan kemejanya, lepaskan ikat pinggang!" perintah Tisya.


"Harus ya?"


"Iya!"


Wilson pun melakukan persis seperti yang di perintahkan oleh Tisya. Tapi tetap saja seperti masih ada yang kurang.


Tisya pun mendekat tangannya segera terulur pada kerah baju Wilson membuat Wilson terdiam menatap wajah Tisya. Tangan Tisya sibuk melepaskan dua kancing kemeja Wilson lalu beralih ke lengan Wilson melepaskan kancingnya dan menyingsingkan hingga ke siku, dari tangan kiri beralih ke kiri, kali ini tubuh mereka begitu dekat membuat nafas Wilson tertahan.


Anak rambut Tisya menyapu wajahnya.


"Wil, kenapa kamu tegang banget sih?" tanya Tisya tiba-tiba saat ia berbalik dan menatap ke arah Wilson.


"Bentar lagi!"


Tisya pun kembali ke posisinya, cukup susah karena ada tubuh Wilson yang menghalangi di dalam mobil.


Srekkkkk


Wilson menarik tubuh Tisya dan mengungkungnya dengan kedua tangannya hingga tubuh Tisya kini dalam posisi setelah telentang dengan Wilson di atasnya.


"Wil, apaan sih?"


"Begini lebih mudahkan!" ucap Wilson sambil menunjuk lengan kanannya dengan matanya.


"Ah iya!"


Tisya pun masih dalam posisinya dan melanjutkan menyingsingkan lengan Wilson. hingga ke siku.


Dia istriku, bukankah sah jika aku meminta lebih darinya? Dia juga terus menggoda ku ....


"Selesai!"


Tapi Wilson masih tidak mau berpindah dari posisinya.


"Wil, selesai!"


Wilson masih tidak menjawabnya, ia malah sibuk menatap bibir Tisya. Menatap bibir tipis merah jambu itu.


Kenapa bibirnya seksi sekali ....


"Wil, aku sudah selesai!"


Untuk yang ketiga kalinya barulah Wilson sadar,

__ADS_1


Astagfirullah ...., aku mikir apa lagi tadi ....


Srekkkk


Wilson segera beralih dari tubuh Tisya. Ia memang istrinya, tapi pernikahan mereka bukan berdasarkan itu.


"Kamu kenapa sih? Aku padahal sudah bicara dari tadi, tapi kamu malah diam saja!" keluh Tisya sambil mengikat rambutnya yang tadi tergerai hingga menampakkan leher jenjangnya.


"Jangan di ikat!" ucap Wilson sambil menahan tangan Tisya.


"Jangan, ya jangan aja!"


Wilson memilih mengambil tali rambutnya.


"Kamu aneh!"


"Kamu mau jika lehermu itu terekspos? Kalau aku bilang jangan ya jangan!"


"Tapi udah mau gelap! Kenapa kamu gerah ya liat tubuh seksi ku?"


"Issstttttt!"


Dia sengaja menggodaku ....


"Ayo turun, jangan sampai aku melakukan hal yang tidak-tidak di sini!"


"Hal tidak-tidak itu seperti apa?" tanya Tisya sambil mendekatkan wajahnya dan wilson pun segera mendorong wajah Tisya ke belakang dengan telapak tangannya.


"Jangan macam-macam!"


Tisya hanya tersenyum dan segera meninggalkan Wilson turun tanpa sepatunya.


Wilson pun ikut turun dan duduk di kap depan mobil bersama Tisya menikmati langit senja.


"Wil, kamu nih apa apaan sih?" protes Tisya membuat Wilson mengerutkan keningnya.


"Sekarang apa lagi?"


"Dari atas sih udah oke, tapi lahat bawahnya, kamu mau ikut acara baris berbaris di pantai?"


"Maksudnya apa sih?"


"Lihat kakiku!" Tisya menunjuk kakinya yang telanjang tanpa alas kaki.


"Di mana sepatumu?"


"Aku sengaja melepasnya, kenapa kamu tidak?"


"Harus di lepas ya?"


"Ya iya dong, sayang tahu ntar sepatunya kalau kena air laut!"


Wilson pun melakukan seperti apa yang di minta Tisya, ia segera melepas sepatu dan kaos kalinya. Memasukkan kembali sepatunya ke dalam mobil dan kembali menghampiri Tisya.


"Kita ke sana yuk!"


Tanpa menunggu jawaban Wilson, Tisya sudah lebih dulu menarik tangan Wilson menuju ke tengah pasir pantai.


Mereka duduk di sana menikmati matahari senja, banyak juga pengunjung yang melakukan hal itu, hanya sekedar duduk-duduk di tepi pantai dan mengabadikan moment indah itu.


Bersambung


...Kita duduk di sini, menikmati langit jingga yang sama. Langit jingga dengan keindahan warnanya yang sederhana. Aku ingin seperti jingga, tidak perlu megah seperti pelangi, cukup menjadi warna jingga di ujung senja dan kau akan menungguku lagi esok hari...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2