
Setelah memastikan Zea baik-baik saja, tuan Seno pun sengaja datang ke kantor polisi. Ia ingin melihat Miska dan mamanya.
"Apa saya bisa bertemu dengan putri dan mantan istri saya?" tanyanya pada seorang polisi penjaga.
"Maaf, kami tidak bisa mempertemukannya sekaligus, karena mereka berada di ruang tahanan yang berbeda."
"Baiklah, saya ingin menemui putri saya!"
Akhirnya polisi itu pun mempersilahkan tuan Seno untuk duduk, selang beberapa menit seorang polisi wanita tengah membawa Miska yang sudah memakai baju tahanan.
"Papa!?" terlihat senyumnya langsung sumringah begitu melihat papanya datang.
"Pa, Miska tahu, papa pasti datang!" Miska dengan antusias memeluk tuan Seno, berbeda dengan tuan Seno yang tetap menanggapinya dengan begitu dingin.
"Miska begitu menderita di sini pa, tidak ada kasur, banyak nyamuk, tempanya juga bau. Makanannya juga tidak enak! Papa pasti akan bebasin Miska kan?"
"Duduklah!"
"Tapi papa janji kan, papa akan bebasin Miska dari sini?"
"Sudah papa bilang, duduklah dulu!"
"Baiklah!"
Akhirnya Miska pun menurut, ia duduk begitu juga dengan tuan Seno. Mereka duduk dengan saling berhadapan, dipisahkan oleh sebuah meja.
"Pa!?"
"Biarkan papa bicara dulu." ucapan tuan Seno akhirnya berhasil membuat Miska diam dan memberi kesempatan pada tuan Seno untu bicara.
"Papa benar-benar tidak habis pikir dengan semua yang kamu lakukan. Papa pikir dengan memberimu sedikit kesempatan akan membuatmu berubah, tapi nyatanya papa salah. Mungkin dulu juga salah papa, salah cara mendidik papa sama kamu. Mungkin papa terlalu memanjakan kamu, tapi seharusnya kamu tahu kenapa papa melakukan itu. Papa tidak mau, karena kamu tahu bukan anak papa kamu merasa terabaikan. Tapi semua malah membuatmu salah mengartikan. Papa kecewa!"
"Pa!?"
"Papa belum selesai bicara!" ucap tuan Seno dengan begitu tegas, "Seandainya kamu tahu, papa tidak pernah membedakan antara kamu dan Zea. Tapi semua yang sudah kamu lakukan ini membuatku malu mengakui kamu sebagai putri ku, semoga di lain kesempatan kita dipertemukan sebagai dua orang yang tidak saling mengenal, setelah ini jangan pernah membuat kesalahan lagi, terima semua konsekwensinya karena memang kamu sudah melakukan kesalahan makan kamu harus bertanggung jawab atas kesalahan itu."
Tuan Seno segera berdiri tapi kembali di tahan tangannya oleh Miska, "Pa, apa yang papa maksud? Papa tidak sedang membuang aku kan? Enggak kan pa?"
"Maaf, tapi mulai hari ini kamu bahkan tidak akan tercatat dalam keluarga papa."
"Pa!?" Miska sampai berteriak karenanya. Ia benar-benar tidak terima papanya membuangnya begitu saja seperti sampah.
Tapi ternyata tuan Seno sama sekali tidak mengindahkan teriakan Miska, ia terus saja berlalu tanpa berniat untuk menoleh kembali ke belakang.
Maafkan papa Miska, semoga semua ini akan bisa menjadi pelajaran yang berharga buat kamu kelak ....
Sebenarnya ia begitu menyayangkan dengan apa yang sudah di lakukan oleh anak tirinya itu. Ia sama menyayanginya seperti dia menyayangi Zea, tapi karena didikan mamanya Miska tumbuh menjadi gadis yang egois dan suka menindas.
"Pa ...., tolong bebaskan Miska!" ratapan miska jelas tidak lagi di dengar oleh papanya, tapi ia tidak peduli, ia terus menangis dan meratap. Tidak ada harapan lain selain papanya yang menolongnya kini, tapi ternyata papanya malah membuangnya begitu saja.
__ADS_1
"Mari, silahkan masuk kembali!" polisi wanita yang tadi mengantarnya kini sudah kembali dan mengajaknya untuk masuk ke dalam sel nya.
Di rumah sakit
Akhirnya setelah hampir seharian Rangga pun tersadar, Zea yang juga baru di perbolehkan keluar dari ruangannya langsung menghampiri kamar Rangga begitu mendapat berita jika suaminya itu sudah sadar,
Ia segera duduk di samping Rangga, menggengam tangan Rangga,
"Ga, kamu sudah sadar? Apanya yang sakit? Kamu ingat aku kan?"
Beberapa pertanyaan langsung di lontarkan sekaligus oleh Zea, karena benar-benar senang melihat Rangga sadar kembali, bayangan Rangga akan kembali koma membuatnya begitu takut.
Pria dengan kepala yang dibalut perban itu malah tersenyum membuat Zea mengerutkan keningnya,
"Ga, kenapa?"
"Sebenarnya aku sedang tidak baik-baik saja!"
"Hahhh?"
"Istriku!"
Mendengar ucapan terakhir Rangga, Zea benar-benar terdiam. Ia takut kalau ini hanya mimpi atau mungkin ia sedang tidak sadar dan mengigau,
Zea pun segera menepuk pipinya beberapa kali untuk memastikan pipinya terasa sakit,
"Sakit!?"
"Coba kamu katakan sekali lagi!" perintah Zea.
chhkkk
Rangga berdecak, "Memang aku terlihat tidak nyata?"
"Jangan banyak bicara, katakan sekali lagi. Kalau tidak aku akan pergi!"
"Baiklah, baiklah!" akhirnya Rangga menyerah, "ISTRIKU!"
"Aaaaa!" Zea sampai berteriak karena bahagia, tapi ia segera sadar sedang berada di rumah sakit, ia pun segera menutup mulutnya, "Tolong ucapkan sekali lagi!" lagi-lagi Zea masih belum puas dengan apa yang ia dengar.
"ISTRIKU, ISTRIKU, ISTRIKU! Puas sekarang?"
"Hmmm!" Zea menganggukkan kepalanya cepat sambil tersenyum.
"Apa kau tidak ingin memelukku sekarang?"
Srekkkk
Tanpa aba-aba, Zea pun langsung memeluk Rangga dengan begitu erat.
__ADS_1
"Jangan kuat-kuat, kasihan anak kita!"
"Emmmm, tapi aku begitu merindukanmu!" Zea benar-benar tidak ingin melepaskan pelukannya, ini benar-benar seperti mimpi. Rangga pun mengusap kepala Zea yang tepat berada di atas dadanya.
"Boleh sekarang aku bangun dulu?" mendengar pertanyaan Rangga, Zea pun segera melepaskan pelukannya.
"Baiklah, biar aku bantu!" Zea pun segera meletakkan bantal di punggung Rangga.
Tapi saat akan membantunya bangun, Rangga menolak, "Biar aku bangun sendiri, aku bisa!"
"Baiklah!"
Setelah Rangga duduk dengan posisi yang nyaman, Rangga pun segera menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Apa?" tapi sepertinya Zea tidak faham dengan maksud sang suami.
"Naiklah ke sini, duduk di sini!"
"Memang tidak pa pa?" mendengar pertanyaan Zea, Rangga pun hanya menatap Zea dengan tatapan yang langsung membuat Zea tidak bisa membantah lagi, ia pun segera naik dan duduk di samping Rangga.
Rangga pun segera memeluk pinggang Zea, menempelkan dagunya di bahu Zea, "Aku merindukanmu!" bisiknya dengan suara yang sensual hingga membuat tubuh Zea meremang.
Ternyata tangan Rangga, tidak diam, ia sengaja menyusupkan tangannya di balik baju Zea mengusap perut Zea dan atas perutnya. Bibirnya juga sudah tidak bisa di kondisikan, bibirnya terus saja menyusuri leher jenjang Zea, membuat Zea sesekali menggeliat.
"Ga, ini rumah sakit!" otaknya segera berpikir waras, tangannya segera menahan tangan Rangga yang sudah mulai menyusup ke area sensitifnya.
"Tapi aku sangat merindukanmu!"
"Tahan sampai kita pulang ya!"
Akhirnya dengan ucapan Zea itu, Rangga pun menarik tangannya kembali dengan perasaan kecewa, "Baiklah, kalau begitu aku akan tidur saja!"
Rangga pun kembali merebahkan tubuhnya tapi tanpa melepas pelukannya,
"Tapi ga, aku harus bangun kan?"
"Siapa bilang kamu boleh bangun. Jika tidak ingin melakukan apapun, tidurlah denganku di sini!"
"Kalau perawat atau dokter datang bagaimana?"
"Ya bagus lah, lagi pula semua orang juga harus tahu kalau kamu istriku. Diam dan biarkan aku memelukmu seperti ini!"
Akhirnya Zea pun menyerah. Ia tidak ingin membuat Rangga marah padanya. Ia juga sedang merindukan pelukan suaminya yang hangat itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...