
...Tuhan sudah menciptakan penyelesaian atas masalah yang kita lalui, jangan menyerah dan tetap berprasangka baik terhadap-Nya. Jika nanti kamu merasa begitu sulit makan berhentilah sejenak, bukan untuk menyerah tapi untuk mempersiapkan langkah yang terbaik yang bisa kamu lakukan selanjutnya....
...🌺🌺🌺...
Langkah Ersya terhenti saat melihat pria yang sudah hampir memasuki mobil itu. Ia merasa cukup kenal dengan pria itu karena tanpa sengaja mereka di pertemukan beberapa kali dalam acara perusahaan.
"Nyonya Div!?" sapa pak Seno.
"Tuan Seno, apa kabar?" Ersya tidak merasa curiga dengan pria itu tapi ia siapa pria itu. Dengan datang ke rumah Zea, sudah menimbulkan pemikiran negatif dari Ersya.
"Baik, baiklah saya permisi nyonya Div!"
"Silahkan!"
Pak Seno sepertinya memilih untuk tidak ambil pusing dengan kedatangan Ersya ke rumah Zea, ia memilih meninggalkan tempat itu dan melakukan pekerjaan lainnya.
Setalah mobil pak Seno meninggalkan tempat itu, Ersya pun kembali melangkahkan kakinya.
Zea sudah tersenyum senang melihat kedatangan Ersya, ia tidak tahu bagaimana wanita itu bisa tahu tempatnya saat ini.
"Nona Ersya!?" Zea berjalan menghampiri Ersya, Ersya pun melakukan hal yang sama. Ia juga segera memeluk Zea.
"Apa kabar?" tanyanya setelah melepaskan pelukannya. Ia sudah tahu semua cerita tentang Zea dari papa Rangga. Walaupun kadang pria itu galak tapi Ersya tahu papa rangga jauh lebih baik dari mamanya.
"Baik!" Zea meregangkan tanganya seperti tengah memperlihatkan dirinya yang baik-baik saja dengan tubuh yang lebih berisi, "seperti yang nona lihat!"
Ersya tersenyum dan mengusap punggung telapak tangan Zea, "Aku sudah mendengar semuanya!" ia berharap Zea tidak berpura-pura lagi di depannya.
"Aku tidak pa pa, sungguh!" Zea tidak mau membuat semua orang yang ada di dekatnya jadi mencemaskan dirinya. Ia tidak mau jadi beban semua orang.
Ersya pun tidak mau memaksa Zea agar nyaman berada di dekatnya, "Syukurlah! Oh iya, dia_?" Ersya Kembali penasaran dengan kedatangan pak Seno ke rumah Zea.
"Ceritanya panjang. Mari masuk biar aku ceritakan semuanya!"
"Baiklah!"
__ADS_1
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah, rumah sederhana itu terlihat begitu bersih dan tentunya dengan peralatan sederhananya. Terlihat sekali jika Ersya begitu menyukainya, ia jadi teringat dengan rumah neneknya yang ia jual untuk biaya pernikahannya dulu dengan Rizal.
Seandainya dia tahu semuanya tidak akan berjalan indah, ia tidak akan dengan mudah mengorbankan semuanya.
Belum sampai mereka berbincang kembali karena Ersya masih asyik menikmati segala pernak-pernik rumah itu, bibi yang merasa ada orang di depan segara menghampiri ke depan,
"Nona Ersya!?" tapi begitu melihat Ersya yang datang, senyum sumringah langsung terlihat dari bibirnya yang tanpa polesan lipstik sedikitpun.
Ersya pun segera menoleh ke sumber suara, ia tersenyum begitu melihat Bibi. Ini bukan pertama kalinya mereka bertemu, bahkan jauh sebelum Zea dan rangga menikah. Saat SMA, dia kerap di bantu Bibi hanya untuk bisa menemui Rangga karena mama Rangga begitu galak,
"Bibi, apa kabar?"
"Baik non, kabar non bagaimana?"
"Saya juga baik bi!"
"Ini hamil yang keberapa non?" bibi tidak lupa mengusap perut Ersya yang tampak besar dengan dress motif bunga. kecil yang membungkusnya.
"Ke dua, tapi anak ke tiga!"
"Sudah bi, yang lalu sudah selayaknya di lupakan. Yang penting sekarang saya sudah bahagia dengan kehidupan saya saat ini!"
Zea hanya mendengarkan semua yang di bicarakan oleh dua orang yang tengah berdiri di depannya itu. Ia juga semakin tahu kenapa dulu Rangga sampai segitunya meminta Zea agar tidak dekat dengan pria yang bernama Rizal itu. Begitu banyak fakta keburukan tentang Rangga yang terungkap satu per satu dengan sendirinya.
"Iya, oh iya kalau gitu saya buatkan minum dulu non dan ibuk!"
"Nggak usah repot-repot bi!"
"Nggak repot kok non!"
"Ya udah kalau bibi memaksa!"
Setelah puas berbagi kabar, akhirnya Bibi pun kembali meninggalkan mereka,
"Silahkan duduk, nona Ersya!" Zea pun segera mempersilahkan Ersya untuk duduk.
__ADS_1
"Terimakasih, tapi kayaknya sangat kaku kalau kamu panggilnya aku nona, panggil aja Ersya. Lagian kan usia kita juga tidak beda jauh!"
"Tidak pa pa, tapi aku lebih nyaman panggil gitu. Nanti kalau aku mau pasti aku ubah sendiri, jangan khawatir!"
"Baiklah terserah kamu!"
Mereka kembali diam untuk beberapa saat kemudian Ersya kembali teringat dengan pak Seno,
"Kenapa tuan Seno ke sini?"
Zea pun mulai menceritakan semuanya, dari awal mereka bertemu hingga pagi ini. Bahkan tidak ada yang terlewat satu kali pun. Ia tidak tahu harus bercerita dengan siapa, untuk saat ini hanya bibi, papanya Rangga dan Ersya yang bisa ia percaya.
Sungguh Ersya berbeda yang di tunjukkan oleh Ersya, wanita itu sampai berdiri dan melompat tanpa sadar,
"Nona, apa yang nona Ersya lakukan? Duduklah!"
Zea begitu khawatir dengan spontanitas yang di miliki oleh Ersya itu.
"Aku seneng banget dengernya, kamu tahu rasanya kayak baru saja selesai menguraikan benang kusut yang nggak ada jalannya!?" Ersya bahkan bicara begitu menggebu-nggebu.
Zea malah di buat bingung dengan spontanitas Ersya,
"Apa maksudnya?"
"Apa kamu tahu siapa pak Seno?" Ersya masih bicara dengan ekspresi yang sama, ia bahkan sampai menggengam kedua tangan Zea saking senengnya, Zea pun hanya menggelengkan kepalanya bingung.
"Kamu tahu, Pak Seno adalah papanya Miska! Si ulet bulu itu!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5259
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...