
“Pilih yang menurutmu cocok!” ucap dokter Frans sambil melipat tangannya di sepan
dada.
“Mana bisa aku pilih sendiri, aku kan nggak tau fashion!”
“Ya udah berarti langsung pakai aja biar tahu mana yang cocok!”
“Aku mandi dulu Frans!” bisik Felic lagi, dokter Frans pun segera menatap Felic. Memang
benar saat ini penampilan felic begitu kacau akibat ulahnya.
“Baiklah …, tunggu kami. Biar kami mandi dulu!” ucap dokter Frans pada karyawan butik.
“Nggak usah di sebtkan kali Frans mandinya, bikin malu aja!” gumam Felic kesal sambil
mencengkeram lengan dokter Frans begitu kuat.
“Baik pak!”
Tanpa aba-aba dokter Frans segera mengangkat tubuh kecil felic ke dalam gendongannya
dan membawanya ke kamar, Felic yang terkejut segera mengalungkan tangannya ke
leher dokter Frans. Ia juga menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang dokter
Frans agar siapapun tidak bisa melihat wajahnya saat ini, dokter Frans hanya
tersenyum santai.
Pelayan yang melihatnya hanya saling berbisik, mereka tidak menyangka tuannya yang kocak itu ternyata bisa seromantis itu. Sesampai di kamar Felic segera berlari ke kamar mandi, sedangkan dokter frans memanggil
bi Molly untuk menyiapkan semuanya.
Dokter Frans memainkan tab nya sambil menunggu Felic keluar dari kamar mandi, sesekali
matanya menatap pintu kamar mandi tapi penghuni kamar mandi tak juga keluar
dari sana.
“Apa yang di lakukan di kamar mandi, kenapa lama sekali!”
Dokter Frans pun segera meletakan tab-nya. Entah kenapa game yang dulu begitu ia suka
untuk melepas lelah sekarang menjadi sangat tidak menarik, lebih menarik jika
menatap wajah wanita yang sekarang menjadi istrinya itu. Rasanya begitu aneh
saat ia jauh darinya.
Hehhhh ….
Setelah menghela nafas panjang, dokter frans pun segera mendekati pintu kamar mandi. Tepat
saat tangannya akan mendarat di pintu, pintu itu terbuka dari dalam.
Ceklek
Dokter Frans menjadi salah tingkah sendiri saat mendapat tatapan penuh tanya dari Felic.
__ADS_1
“Frans …, mau ngapain?” tanya felic yang tak kalah kagetnya, ia segera memegangi
handuknya agar tidak terlepas, dokter frans di buat terpesona dengan penampilan
Felic kali ini, Felic terlihat begitu seksi dengan handuk putih yang melilit
tubuhnya itu dan rambut yang terurai basah.
Dokter Frans segera mengunci tubuh Felic antara tubuhnya dengan dinding yang berada di
samping pintu.
“Aaaa …!” pekik Felic begitu terkejut, ‘Frans …, mau ngapain lagi?”
Tanpa menjawab pertanyaan Felic, dokter Frans malah mendekatkan bibirnya ke bibir
Felic, setelah mengecupnya, dokter Frans mendekatkan bibirnya ke telinga Felic.
“Kau bagai candu untukku …!” bisik dokter Frans dengan begitu sensual membuat Felic
memejamkan matanya, ia seprti terhipnotis dengan suara dans enuthan dokter
Frans, tanpa ia sadari tubuhnya sudah di giring oleh dokter Frans hingga ke
tempat tidur, tubuh dokter Frans sudah menindihnya saat ini, handuk yang
melilit tubuhnya pun sudah entah kemana, doter Frans melanjutkan kegiatan
panasnya hingga membuat Felic kehilangan tenaganya kali ini.
Dokter Frans segera menutup tubuh Felic dengan selimut, ia meninggalkan beberapa
ciuman di seluruh wajah Felic sebelum pergi ke kamar mandi.
Masih ada waktu tiga jam untuk menghadiri jamuan makan malam, ia membiarkan Felic
“Tuan …!” sapa bi Molly. Ia bertanya-tanya saat melihat tuannya hanya turun sendiri
tanpa nyonyanya padahal saat ini mereka harus mencoba baju yang akan mereka
kenakan.
“Bangunkan Felic nanti setelah satu jam!”
Astaga …, tuan ini …, jadi tadi lama di kamar, tuan benar-benar luar biasa hingga membuat nyonya kecapekan
begitu …
Bi Molly hanya tersenyum mendengarkan itruksi dari tuannya, dokter Frans memilih
ke dapur, ia tidak pernah meminta siapapun jika itu menyangkut dirinya sendiri,
ia membuat kopi sendiri di sana.
Sambil menikmati kopinya, ia menyiapkan gaun untuk felic dan jas untuknya, agar nanti
cocok jika di satukan. Karena sedikit banyak karyawan butik sdah melihat Felic,
jadi sedikit mudah bagi mereka untuk mencocokkan dengan ukuran dan style Felic.
***
Dokter Frans sudah siap dengan kemeja dan jasnya, sedangkan felic, bi Molly baru saja membangunkannya, ia begitu kesal karena harus mandi dua kali.
__ADS_1
“Frans benar-benar keterlaluan, nggak tahu apa tubuhku lemas banget!”
“Nyonya …, silahkan pakai gaunnya!” ucap bi Molly sambil menunjukkan gaun yang akan di kenakan oleh Felic lengkap dengan sepatiu dan tasnya.
“memang Frans kemana bi?”
“Tuan sudah menunggu anda di bawah!”
Enak sekali dia, setelah membuatku tepar kayak gini dia enak-enakan minum kopi di bawah ….,
menyebalkan sekali …., dasar pria memang maunya menang sendiri ….
Felic kembali masuk ke ruang ganti, ia segera mengganti bajunya dengan gaun yang sudah di siapkan. Memang benar sangap pas di tubuhnya, ia jadi terlihat begitu anggun.
“Ini beneran gue? Cantik banget …..!” gumam Felic sambil beberapa kali memutar tubuhnya melihat pantulkan tubuhnya dari cermin.
Setelah puas mengagumi tubuhnya sendiri, Felic pun segera keluar dari ruang ganti, seseorang yang terlihat baru sudah siap di kamarnya bersam bi Molly.
Felic pun menarik lengan bi Molly dan berbisik padanya, “Bi …., dia siapa?”
“Dia yang akan memake over nyonya!”
“Jadi maksudnya aku akan di dandani?”
“Iya nyonya!”
“Jangan khawatir nyonya, tidak akan terlalu tebal make up nya karena wajah nyonya sudah sangat cantik, hanya make up alami saja!” ucap orang yang terlihat asing itu seprti mengerti kekhawartiran Felic. Bi Molly
pun segera menarik tangan felic dan memintanya duduk di depan meja rias. Hanya butuh waktu sepuluh menit saja rambut dan wajahnya sudah selesai di make over.
“Wahhhh …., nyonya sangat cantik!” puji bi Molly saat Felic sudah berdiri dari duduknya dan menunjukkan betapa gaunnya sangat indah.
“Makasih bi ….!”
“Tuan pasti akan sangat terpesona, aku jadi tidak sabar!”
“Aku yang di dandani, bi Mo yang tidak sabar!” ucap Felic dengan senyum yang mengembang.
Sepertinya karyawan butik juga paham bagaimana Felic, ia memberikan sepatu flat untuk Felic. Seprtinya dokter Frans memberikan gambaran begitu detail untuk ilustrasi felic.
Bi Molly segera mengajak Felic untuk turun karena dokter Frans sudah menunggu di bawah, dokter Frans sengaja tidak menemui Felic di kamar. Ia takut jika menemui Felic kembali di kamar, ia takut tidak bisa
menendalikan lagi hasratnya.
Dokter Frans mengetuk-ketukkan jari jemarinya di atas pahanya, ia sudah tidak sabar menunggu Felic keluar dari kamar. Matanya tak pernah beralih dari tangga dan berharap Felic turun dari sana dengan senyum
yang selalu membuatnya mabuk.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih like dan komentarnya ya kasihg Vote juga yang banyak, hadiahnya juga boleh
follow ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
happy Reading