Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Memanas


__ADS_3

Rizal dan Tisya mempercepat langkahnya saat melihat orang tau Rangga juga mendekati mereka. Ia ingin tahu apa yang sedang di bicarakan, apa benar yang di katakan teman-teman nya jika Ersya dan Rangga memang sudah punya hubungan sejak lama.


"Mas ...., tunggu!" keluh Tisya saat langkah Rizal begitu cepat.


"Maaf sayang ...., tapi aku harus menghampiri mereka!"


"Iya tunggu ...., sepatuku tinggi banget mas ....!"


Akhirnya terpaksa Rizal menunggu tunangannya itu, ia menggandeng tangannya agar bisa berjalan lebih cepat.


“Rangga!” ucap Rizal. Rangga pun menoleh ke sumber suara begitupun dengan kedua orang tuanya.


“Om .... , tante …! Ada apa?” tanya Rizal berbasa-basi sambil menatap Ersya.


Om tante …., Jadi mereka beneran sepupuan? Bodohnya aku kenapa sampek nggak tahu berita sebesar ini ...., batin Ersya bingung kenapa Rizal memanggilnya om dan tante. Mereka saling mengenal.


"Ini loh Zal ...., Abi ini kok tiba-tiba datang sama cewek, om dan tante kan jadi penasaran ...., padahal kan kemarin-kemarin masih nangisin Felic!" ucap mamanya Rangga.


Rizal pun kemudian menatap Rangga dan Ersya bersamaan.


“Kalian kenapa bisa datang berdua? Apa yang aku duga selama ini benar? Apa kalian memiliki hubungan istimewa?” tanya Rizal.


"Apa masalahnya denganmu, ada hubungan atau tidak bukan urusan kamu lagi kan!" ucap Ersya kesal.


"Kamu ..., heh ..., kamu!" Rizal kesal dengan cara Ersya memanggilnya, biasanya Ersya selalu memanggilnya dengan panggilan mas, dan sekarang terdengar begitu asing dengan panggilan 'kamu'.


"Kenapa? Masih sakit sakit ya? Gimana tiba-tiba jadi orang asing dalam sekejab?" tanya Ersya kesal, ia sebenarnya sangat berusaha menahan agar suaranya tidak sampai bergetar.


"Jaga mulut kamu ya ...., bukan karena mas Rizal masih suka sama kamu ya, ini mas Rizal tanya karena kamu datang sama sepupunya jadi jangan kepedean deh ....!" ucap Tisya yang tidak mau kalah, ia juga tidak mau sampai Rizal terbawa perasaan.


"Tanya pertanyaan ku tadi!" ucap Rizal sambil menarik tangan Ersya dengan begitu keras tapi Rangga segera menepisnya.


"Lepas bang ...., jangan kasar!" ucap Rangga.


"Apa kalian punya hubungan?" tanya Rizal lagi.


“Itu bukan menjadi urusan bang Rizal lagi kan, Ersya sudah tidak punya hubungan apa pun lagi dengan bang Rizal! Dia bebas mau berhubungan dengan siapapun!”


"Kamu jangan kurang ajar ya!" ucap Rizal kesal, terlihat sekali jika ia belum rela jika Ersya mendapatkan pengganti dirinya.


"Kalian kenapa kok jadi debay kayak gini sih, kayak sedang memperebutkan perempuan saja!" ucap papa Rangga yang dari tadi hanya diam menyaksikan perdebatan putra dan keponakannya itu.


"Aku nggak kurang ajar bang, aku ngomong yang sebenarnya, seharusnya mas Rizal ini sadar! Ersya bukan istri mas Rizal lagi!" ucap Rangga yang tidak kalah kesalnya.


"Apa sih sebenarnya permasalahan kalian? Nanti kita bisa bicarakan di rumah setelah acara ini selesai kan!" ucap papa Rangga lagi mencoba melerai perdebatan mereka.


"Gini om ...., biar Tisya yang jelasin ya om, Ersya ini sebenarnya mantan istrinya mas Rizal!"


"Mantan istri?"


“Astaga mas …., kelihatannya mantan istri kamu ini begitu kebingungan ya cuma buat nunjukin kalau dia udah bisa move on dari kamu hingga ngajak sepupumu! Kayak nggak ada pria lain aja...!”


“Jaga mulut kamu ya, sebelum aku sobek-sobek mulut busuk mu itu!” ucap Ersya kesal.


“Auuuggggghhhh ...., takut ....! Kamu nggak sadar ya sekarang di mana? ini acara aku, harusnya kamu yang hati-hati dan tetap jaga sikap kalau mau tetap di sini!”


“Ah …, iya ayah! Sekarang aku ingat! Ersya ini mantan istri Rizal kan …? Saat itu Abi masih ada di luar negri untuk belajar!” ucap mamanya Rangga setelah sadar, ia sedari tadi diam ternyata sedang mengingat-ingat wajah Ersya.


“Sudahlah ma ...!” Ayah Rangga pun akhirnya juga ikut memperhatikan Ersya,"Jangan memperkeruh suasana!"


"Tapi pa ini nggak benar!" ucap mamanya Rangga, “Ah iya …, kenapa aku bisa lupa? Mungkin karena kita hanya bertemu sekali di pesta pernikahan kalian itu!”


Ersya hanya bisa terdiam, ia tidak menyangka jika keputusannya untuk mengajak Rangga adalah salah, ia malah terjebak dalam masalah baru. Padahal Rangga sudah beberapa kali mengingatkannya, tapi dia tetap tidak peduli.


***


Satu jam yang lalu di kantor finity group.


Pria yang sedang sibuk dnegan tumpukan map di depannya tersadar setelah melihat jam yang melekat di tangannya.


"Sudah waktunya!"


Ia segera menutup semua map itu dan menumpuknya di sudut meja, ia mencari ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Hallo pak!"


"Masuk ke ruangan ku!"


"Baik pak!"


Tidak berapa lama, pintu ruangan di ketuk.


"Masuk!"


Seorang wanita dengan pakaian resmi masuk dari balik pintu.

__ADS_1


"Ada apa pak?" tanya wanita itu.


“Siapkan baju semi resmi untukku, satu tunggu setangah jam lagi!”


“Baik pak!”


Wanita itu segera keluar dari ruangan pria itu. Ia segera melaksanakan perintah atasannya dengan menghubungi pemilik butik yang biasa bosnya memesan baju.


"Pak Divta butuh baju semi formal, segera antar ke ruangan pak Divta!" ucap wanita itu di sambungan telponnya.


"Baik mbak!"


"Terimakasih!"


Divta segera melepas kemejanya, di dalam ruangan besar itu tersedia kamar tidur dan juga kamar mandi pribadi jadi ia tidak perlu berpindah tempat hanya untuk istirahat atau mandi.


Ia segera menuju ke kamar mandi, melepas semua pakaiannya di sama. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin. setelah menyelesaikan mandinya, Divta segera melilitkan handuk warna putih itu ke tubuhnya dan dengan rambut yang di biarkan basah.


Dengan masih memakai handuk saja, Divta duduk di sofa sambil memainkan ponselnya sembari menunggu bajunya datang.


Tok tok tok


Tak berapa lama pintu kembali di ketuk,


"Masuklah ...!"


Sekertarisnya itu kembali dengan membawa sepasang baju lengkap dengan jasnya.


"Ini pak baju nya!" ucap sekertarisnya itu tanpa tanpa berani mendongakkan kepalanya. Ia takut aja khilaf melihat tubuh seksi bosnya itu. Benar-benar hot daddy.


"Letakkan saja di sini!" ucap divta sambil menunjuk sofa kosong yang ada di sampingnya!"


"Ba-baik pak!"


Sekertarisnya itu segera meletakkan baju itu di tempat yang di tunjuk oleh Divta.


"Ada yang bisa saya bantu lagi, pak?"


"Sudah keluarlah ....!"


"Baik pak!"


Sekertaris itu segera keluar dari ruangan itu, ia memegangi letak jantungnya saat sudah berada di balik pintu.


"Aahhhhh, aku bisa sesak nafas kalau lama-lama berada di dekat pak Divta! Uuuhhhhj ...., pesonanya itu loh ...., bikin nagih ....!"


Divta meletakkan ponselnya di atas meja, ia melihat baju itu. Memang sekertaris nya itu paling bisa di andalkan, ia tidak perlu memerintah dua kali langsung tahu apa maksud bosnya.


Divta segera memakai baju itu dan bersiap-siap.


Iya keluar dari ruangannya dengan penampilan barunya, menghampiri sekertaris nya kembali.


"Minta Toni menyiapkan mobil untuk ku!" ucap Divta.


"Baik pak!"


Divta pun segera masuk ke dalam lift saat pintu lift terbuka. Ia menuju ke lantai bawah.


Sebuah mobil sudah siap di depan pintu masuk dengan Tino yang berdiri di samping mobil.


"Silahkan pak!" ucap Tino.


"Saya akan pergi sendiri, pulanglah ...!" ucap Divta lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.


"Baik pak!"


Divta menghidupkan mesin mobilnya tapi sebelum mobil itu berjalan Divta kembali mendongakkan kepalanya keluar pintu mobil melalui lubang kaca.


“Oh iya, katakan pada Divia jika saya akan pulang terlambat karena ada acara, suruh dia jangan menungguku!”


“Baik tuan!”


“Suruh dia makan yang banyak dan minum obatnya!"


‘Baik tuan!”


Divta pun segera menutup kembali kaca mobilnya dan melajukan mobil itu meninggalkan halaman gedung pencakar langit itu.


Ia harus menghadiri undangan pertunangan itu, bukan karena acaranya tapi ia sedang penasaran dengan pada yang akan terjadi pada seseorang.


Mobilnya berhenti tepat di depan pintu masuk, di depan red karpet itu. Kedatangannya tentu langsung menjadi pusat perhatian, hal yang sangat langka jika seorang Pradivta atau Diagra mendatangi pesta tanpa perwakilan. Pasti itu adalah orang yang istimewa hingga seorang Pradivta datang sendiri.


Undangannya adalah undangan VVIP karena perusahaan Finity Group adalah salah satu pemilih saham di Bactiar group, mereka memiliki saham sebesar 30%, sebenarnya itu saham milik nyonya Ratih. Karena nyonya Ratih ingin pensiun dini dan hanya fokus pada yayasan sekolah. Nyonya Ratih menyerahkannya pada Agra dan Divta untuk di kelola.


Divta bak primadona di pesta itu, semua kamera langsung membidik padanya. Apalagi baru saja terendus kabat jika pria satu anak itu keluar dari gedung kantornya dengan membopong seorang wanita semalam.

__ADS_1


Banyak pencari berita yang berusaha untuk mencari kebenaran berita itu. Setiap gerak-gerik keluarga finityGroup seakan menjadi sorotan itulah yang menjadi alasan kenapa sampai sekarang Agra masih terus menyembunyikan identitas asli istrinya. Ia tidak pernah melakukan resepsi secara terbuka.


Kedatangannya juga langsung di sambut dengan begitu bahagian oleh orang tua Tisya dan tentunya beberapa kamera. Karena stelah ini nama Bactiar group pasti semakin melejit.


“Selamat datang pak Divta, senang sekali pak divta mau menyempatkan diri untuk datang sendiri kesini!” ucap ayah Tisya sambil menyalami Divta dan mengajaknya masuk.


“Bukan hal yang besar, jadi jangan di besar-besar kan!” ucap Divta datar, pria itu sedang mengamati ke dalam ruang pesta itu


“Mari mari pak Divta, kita masuk, biar ngobrolnya lebih nyaman!”


Tuan bactiar itu segera mengajak Divta untuk masuk, ia sibuk untuk menceritakan bagaimana perusahaan yang sedang mereka geluti saat ini. Tapi Divta terfokus pada seorang wanita yang menjadi alasannya untuk datang ke acara ini.


"Saya sangat senang karena beberapa bulan terakhir, pemasaran di perusahan kami melesat tinggi berkat kerja sama kita pak Divta!"


"Hemmm!"


"Kami berencana ingin mengembangkan perusahaan kami di bidang fashion karena wanita itu cenderung suka dengan berbelanja fashion, jadi nanti selain kosmetik kita akan meluncurkan beberapa fashion lokal!"


"Bagus!"


Divta bukan fokus dengan apa yang di bicarakan Tuan Bactiar tapi mata Divta malah terus tertuju pada seorang gadis dengan wajah cemasnya sedang bersama


dengan orang-orang yang sedang mengelilinginya.


Divta dan tuan Bactiar berdiri di depan pintu masuk tidak jauh dari gadis itu. Hingga ia bisa mendengarkan apa saja yang di


bicarakan oleh mereka.


“Kami juga berencana mengajari putri kami, Tisya untuk memegang perusahaan, jadi saya harap nanti pak Divta tidak keberatan untuk membantunya!”


“baik!”


Perhatian divta kembali tertuju pada mereka, terutama pada gadis itu.


Bukankah itu Rangga ...., kenapa gadis itu bisa bersama Rangga? Apa hubungan mereka? batin Divta saat melihat Rangga bersama dengan Ersya. Kemudian ia teringat siang itu di lobby itu.


Ahhh ...., gadis itu gadis yang tertidur di lobby kantor ....


Divta kembali memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi.


“apa kalian beneran pacaran?” tanya Rizal yang masih getol dengan pertanyaannya,


“kok aku curiga ya …, ini hanya


akal-akalan dia buat permaluin kamu mas! Tapi kalau mereka pacaran ya bagus lah mas nggak ada yang bakal ganggu kumu lagi!” ucap Tisya berusaha menyudutkan Ersya walaupun dengan kata yang halus.


“Abi ..…, nggak benar kan? Kalian nggak sedang ada hubungan kan?" tanya mamanya Rangga.


"Ma ....!" Rangga berusaha untuk protes.


Ohhhh ...., jadi gitu ceritanya ....! Mereka pura-pura pacaran di depan mantan suaminya ...., benar-benar nggak pinter akting ....


Divta tersenyum sendiri melihat perdebatan mereka.


"Mama nggak mau ya kamu punya hubungan spesial sama dia, apalagi sampek menikah dengan janda yang nggak bisa punya anak seperti dia, mama bisa nggak punya cucu Abi ...!” ucap mamanya Rangga, walaupun tidak begitu padas tapi cukup untuk membuat mules perut Ersya.


Pengen banget rasanya melabrak tuh emak-emak tapi ia ingat tempat, jangan sampek gara-gara nggak bisa kontrol emosi, ia di seret keluar oleh para pria-pria kekar yang berjaga di luar.


Sabar Ersya ..., sabar ....!!! Tapi pengen nangis aja rasanya ...., Arsya hanya bisa tersu menahan agar tidak keluar kata-kata kasarnya.


“Ma …, jangan keterlaluan! Biarkan saja jika Abi suka ma …!” ucap papa nya Rangga yang terlihat lebih tenang di banding sang mama.


“Tapi pa …! Mama ini nggak bisa diam kalau menyangkut Abi, pa! Ini masalah masa depan Abi ...!”


“Ersya …, kamu jangan bikin keributan ya di acara bahagiaku sama mas Rizal ya ....!” ucap Tisya.


Ternyata hati Ersya nggak sekuat yang ia duga. Ia kira akan kuat dan mudah menjawab semuanya tapi setelah mengetahui fakta yang belum ia ketahui ternyata ia salah.


Sepetinya dia sudah terpojok, permainan yang menarik ....


"Maaf ...., saya harus ke sana dulu, ada calon istri saya di sana!" ucap Divta pada tuan Bactiar.


"Calon istri ...?" tanya tuan Bactiar sambil mengikuti arah tatapan Divta.


"Saya permisi ....!"


Divta pun berjalan meninggalkan tuan bactiar dan menuju ke beberapa orang yang sedang berdebat itu. Tuan Bactiar masih terus mengikuti kemana pria itu akan berhenti, ia juga begitu penasaran. Pasalnya pria satu anak itu selama ini tidak pernah menunjukkan kedekatannya pada seorang wanita pun, padahal begitu banyak wanita yang ingin dekat dengannya termasuk putrinya, Tisya.


...Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Karena bisa jadi air mata adalah isyarat jika dia sudah lama berusaha untuk menjadi tegar~ DTIS...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2