
Kini Zea sudah berada di ruang gawat darurat. Terdengar sama-sama oleh Zea bagaimana para perawat dan dokter berbincang-bincang.
"Tulang kakinya retak!"
Zea teringat kakinya yang memberi pembatas trotoar. Saat ingin bergerak sikunya juga terasa nyeri.
Ia teringat sikunya juga terbentur, mungkin sedikit terluka.
Lalu bayiku ....
Zea ingin mengusap perutnya tapi ternyata tenaganya tidak terlalu kuat untuk melakukannya. Samar-samar ia kembali mendengar percapanan orang-orang yang tengah mengelilingi tubuhnya.
"Lakukan pemeriksaan secara lanjut untuk kandungannya."
"Baik dok!"
Samar ia mendengar detak jantung dari alat yang bernama Fetal Doppler yang kini tengah di pegang oleh seorang dokter.
"Jantungnya normal, janin sepertinya dapat di selamatkan!"
Seketika sudut mata Zea basah, ia memang belum bisa menggerakkan tangannya, kakinya, tubuhnya bahkan bibirnya. Tapi dengan mengetahui keadaan sang bayi membuatnya bersyukur.
Rangga ....
Hingga ingatannya kembali melayang pada sosok pria yang tengah berjuang antara hidup dan mati itu.
Rangga bertahanlah, demi aku dan anak kita, aku yakin kamu kuat ....
Di ruangan lainnya beberapa dokter sedang berjuang untuk menyelamatkan pria yang tengah terbujur tak sadarkan diri dengan begitu banyak luka di tubuhnya.
"Dokter!?" suara Zea begitu lemah setelah perjuangan untuk mengeluarkan suara.
"Iya nyonya Zea, ada yang bisa saya bantu?"
"Bagaimana suami saya?" tanyanya lirih sambil mengumpulkan kekuatannya.
"Dokter sedang berusaha yang terbaik untuk suami anda, berdoalah yang terbaik untuknya!"
"Aku ingin ke sana!"
"Tubuh anda masih sangat lemah, istirahatlah dulu. Nanti saat dokter selesai menangani suami anda, pasti anda di perbolehkan bertemu. Untuk sekarang giliran keselamatan bayi dalam kandungan anda!"
Apa yang dokter katakan cukup masuk akal karena memang untuk mengerakkan tubuhnya saja ia hampir tidak bisa.
Di depan ruangan Rangga papa dan mama Rangga tengah saling berpelukan. Dan ada orang lain juga di sana, Miska juga berada di sana. Ia berdiri tidak jauh dari kedua orang tua Rangga.
"Bagaimana kalau Rangga tidak selamat pa? dia putra kita satu-satunya!?"
"Jangan bicara yang tidak-tidak ma, Rangga pasti kuat. Berdoalah untuk keselamatannya."
"Ini semua pasti gara-gara perempuan itu, aku sungguh tidak akan memaafkannya kalau sampai terjadi sesuatu sama Rangga!"
"Mama jangan menyalahkan orang lain, ini hanya kecelakaan yang bisa menimpa siapa saja. Memang siapa yang ingin celaka!"
Hingga akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan Rangga. Mama dan papa Rangga segera menghampiri dokter itu.
"Bagaimana dok? Putra kami selamat kan?"
__ADS_1
"Untuk beberapa waktu ke depan, pasien masih dalam masa kritis, berdoa saja untuk kebaikan pasien. Kami pihak medis juga akan berusaha yang terbaik untuk pasien!"
Papa dan mama Rangga hanya bisa pasrah. Meraka duduk termenung di kursi tunggu.
"Sabar ya Tante, Rangga pasti kuat!" Miska mengusap punggung mama Rangga.
"Terimakasih ya Miska, kamu sudah mau menemin Tante di sini!"
"Bukan masalah Tante, kalian pasti lapar. Miska cari makan dan minum buat om sama Tante ya!"
"Sekali lagi terimakasih!"
"Jangan sungkan!"
...***...
Kini Zea sudah lebih baik, ia bisa duduk di tempat tidurnya dengan selang menempel di tangannya.
"Ibuk!"
Suara seseorang menyapanya, Zea tersenyum melihat bibi yang datang menjenguknya.
"Bibi!?"
Bibi segera mendekat dan duduk di samping Zea.
"Bagaimana keadaan ibuk?"
"Aku sudah lebih baik, Bu! Tapi rangga_!" Zea tidak mampu melanjutkan ucapannya. Bibi langsung memeluk wanita yang tengah hamil itu.
"Tidak pa pa buk, menangis lah! Bapak pasti juga akan baik-baik saja, dia yang paling bersemangat mengetahui ibuk hamil, jadi selama ibuk dan bayinya baik-baik saja bapak pasti juga akan baik saja!"
...***...
"Bagaimana keadaan anak saya, dok?" tanya mama begitu dokter selesai melakukan pemeriksaan.
"Pak Rangga harus melakukan operasi di bagian kepalanya karena ada pendarahan berdasarkan hasil pemeriksaan pasien mengalami pendarahan di kepalanya!"
"Apa akan beresiko?"
"Kepala adalah organ vital manusia, jika di biarkan juga akan berakibat fatal untuk pasien."
"Lalu jika tidak berhasil?"
"Kita berdoa yang terbaik saja, ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi."
"Lakukan yang terbaik saja untuk anak saya dokter, saya pasrah!" papa Beni tidak mau menunda lagi. Ia ingin putranya segera sehat.
"Baiklah, kamu akan segera melakukan proses operasi setelah pihak keluarga menandatangani surat persetujuan!"
Tepat saat dokter pergi, Div dan Ersya datang.
"Nak Div!" sapa mama Rangga.
"Bagaimana kabar Rangga?"
"Dokter akan segera melakukan tindakan operasi, semua ini gara-gara wanita itu!"
__ADS_1
Zea yang di antar kursi roda oleh bibi segera menghampiri mereka. Melihat kedatangan Zea, kemarahan mama Rangga memuncak.
Dengan cepat ia menghampiri Zea yang duduk di kursi roda.
"Kamu, kenapa masih berani-beraninya menampakkan diri di sini?"
"Ma, aku ingin melihat Rangga!"
"Jangan panggil aku ma, kamu tidak pantas melakukan hal itu! Pergi dari sini jangan membuatku marah!"
"Tapi sungguh aku ingin melihat Rangga!"
Zea menahan tangan mama Rangga tapi dengan begitu keras mama Rangga menariknya hingga membuat Zea terjatuh dari kursinya. Semua yang melihat segera mendekat.
"Ma cukup ma, ini di rumah sakit!"
"Aku bersumpah aku tidak akan memaafkannya, sampai kapanpun!"
"Cukup ma, kasihan Rangga!"
"Pergi atau aku akan membunuhmu di sini juga!"
Papa Rangga pun memberi isyarat pada bibi untuk membawa Zea pergi.
"Kita pergi dulu ya buk!"
Bibi pun membantu Zea untuk kembali duduk di kursi roda dan membawanya pergi ke kamarnya kembali.
Sebenarnya Ersya sudah sangat gemas ingin membantu Zea tapi Div menahannya agar tidak ikut campur urusan mereka.
Sesampai Zea di kamarnya, Ersya menyusul.
"Zee, yang sabar ya!"
"Aku tidak tahu kesalahan besar apa hingga aku harus berpisah dengan suamiku. Ini sungguh menyakitkan buat aku!?" Zea terus menangis meratapi nasibnya.
"Yang sabar. Mama Rangga pasti hanya masih begitu syok! Nanti dia pasti juga akan baik!"
"Terimakasih ya nona Ersya sudah mau peduli sama saya setelah apa yang saya lakukan dulu!"
"Tidak masalah. Hanya saja untuk saat ini aku tidak bisa ikut campur terlalu banyak, maaf ya!"
"Dukungan nona Ersya dan pak Div sudah sangat membantu saya. Terimakasih!"
Akhirnya proses operasi Rangga pun berjalan, kini kedua orang tua Rangga sedang mondar-mandir di depan ruang operasi menunggu hingga lampu yang ada di atas pintu itu berhenti menyala. Hampir dua jam dengan beberapa kali suster yang keluar masuk dengan membawa pasokan darah untuk rangga.
Miska juga sudah berada di sana menemani mama Rangga. Begitupun dengan Rizal, entah sejak kapan pria itu peduli dengan nasib sepupunya itu.
Bersambung
...Jangan lupa besok tanggal 1 juli ya, ada yang baru...
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...