
Wilson pun mengajak dokter Frans ke rumah kontrakan nyonya Tania. Dokter Frans pun tertarik untuk melihat mereka dari kejauhan.
"Anda tidak ingin turun?" tanya Wilson.
"Tidak, ayo kita pergi dari sini!" ucap dokter Frans sambil memakai kembali kaca mata hitamnya.
"Baik tuan!"
Wilson pun segera menjalankan mobilnya kembali meninggalkan kontrakan itu.
"Kita ke mana tuan?" tanya Wilson lagi.
"Kita langsung pulang saja!"
Setelah mengetahui keadaan nyonya Tania dan Tisya, dokter Frans pun meminta Wilson untuk mengawasi mereka dan memastikan tidak terjadi sesuatu pada mereka.
...***...
Nyonya Tania mulai bingung karena tabungannya sudah habis, ia tidak punya uang yang cukup untuk biaya hidup mereka lagi satu bulan ke depan.
"Aku harus cari pekerjaan setelah ini, tapi semua surat lamaran ku bahkan tidak ada panggilan!" gumam nyonya Tania.
"Ma ...., sedang apa?" tanya Tisya. Ia baru saja keluar dari kamar untuk sarapan.
"Mama mau cari kerja, kamu nggak pa pa kan di rumah sendiri?"
"Harus ya ma?" tanya Tisya.
"Iya sayang, tabungan mama sudah habis, sedangkan kita butuh makan setiap hari!"
"Kenapa kita nggak minta bantuan sama kakek saja ma, kakek nggak mungkin tega kan nelantarin mama sama Tisya!"
"Kamu belum tahu kakek kamu, sayang! Sekarang sarapan lah, mama aku pergi! Kunci pintunya dan jangan biarkan orang asing masuk!"
"Iya ma ..., mama hati-hati ya!"
"Iya ...., bye!"
Nyonya Tania segera mencium kening putrinya dan pergi meninggalkannya.
Nyonya Tania tidak mungkin memilih-milih pekerjaan. Ia harus dengan cepat untuk mendapatkan pekerjaan.
Setelah berkeliling seharian akhirnya langkahnya terhenti pada kedai kecil penjual bakso.
Kedai itu memang kecil tapi terlihat cukup ramai, ada lowongan pekerjaan untuk wanita yang bisa memasak. Nyonya Tania cukup pandai memasak.
Nyonya Tania pun memutuskan untuk melamar pekerjaan di kedai itu.
"Tapi maaf kami tidak bisa menggaji besar nyonya!" ucap pemilik kedai itu.
"Tidak pa pa, saya juga bisa kerja apa saja!"
"Tapi penampilan nyonya!"
"Saya besok akan merubahnya, saya akan memakai pakaian biasa!"
__ADS_1
"Baiklah ..., jika nyonya setuju, besok nyonya bisa mulai bekerja di sini!"
"Terimakasih ko! Kalau begitu saya permisi!"
Keesokan harinya, nyonya Tania kembali dengan penampilan sewajarnya, baju rumahan. Koko pemilik kedai bakso pun segera memberitahukan pekerjaan nyonya Tania. Mulai dari meracik bakso dan melayani pelanggan, bersih-bersih dan sebagainya. Karena hanya kedai kecil jadi pekerjaannya serabutan.
Nyonya Tania ternyata cukup cepat belajarnya, dia dulu juga terbiasa tinggal di tempat seperti itu saat masih menjadi istri ayah dokter Frans.
...***...
Setelah mamanya bekerja, Tisya tidak mau hanya mengandalkan mamanya saja. Ia pun memutuskan untuk mencari pekerjaan di perusahaan-perusahaan kecil yang tidak di pengaruhi oleh perusahaan papanya.
Akhirnya sebuah perusahan kecil di bidang perhubungan menjadi tempatnya bekerja, ia hanya sebagai karyawan biasa karena tidak punya pengalaman kerja sebelumnya.
Gajinya juga tidak ada apa-apa nya di bandingkan dengan uang jajannya perbulan dulu.
Walaupun begitu, ia harus menerimanya dari pada tidak ada sama sekali, apalagi setelah apa yang di lakukan Rizal, membuatnya bangkit dan ingin berdiri di atas kakinya sendiri.
"Aku harus semangat ....!" ucap Tisya saat hendak bekerja,
Ia sekarang tidak lagi menggunakan taksi, ia harus menggunakan bus atau angkot untuk kendaraannya.
Tisya duduk di bangku halte untuk menunggu bus, ia melihat ada seseorang yang mencurigakan karena beberapa hari sepertinya sengaja mengikutinya.
Dia mau macam-macam sama saya ...., batin Tisya, ia segera duduk mendekati pria yang bertopi itu, tapi sepertinya pria itu menyembunyikan wajahnya.
Srekkkkk
Dengan cepat Tisya menarik topinya,
"Kamu ....!?" Tisya begitu terkejut saat melihat wajah pria itu, ia cukup mengenali pria itu.
"Kenapa kamu mengikuti ku? Kamu di suruh ya sama dokter sombong itu? Ayo ngaku!" tanya Tisya bertubi-tubi.
"Bukan urusan anda! Kembalikan topi saya!" ucap Wilson.
"Saya tidak akan mengembalikan topi ini sebelum kamu menjawab pertanyaan saya!" ucap Tisya.
"Terserah ....!" ucap Wilson, ia pun berjalan meninggalkan Tisya sendiri.
"Hey tunggu ....., aku belum selesai bicara ....!" teriak Tisya tapi Wilson tidak mempedulikannya, ia tetap berjalan meninggalkan Tisya yang kesal.
"Dasar pria aneh ....., pasti dia di suruh sama dokter sombong itu ...., bikin kesel aja pagi-pagi!"
Untung saja bus sampai, membuat Tisya teralihkan dari rasa kesalnya itu.
"Hehhhhh ....., untung dia tidak mengejar ku! Lagian tuan dokter ada-ada aja kasih kerjaan! Kalau peduli seharusnya tuan dokter tinggal ngomong aja, kenapa sembunyi-sembunyi sih ....!" gumam Wilson sambil melihat Tisya yang sudah naik ke dalam bus itu.
...***...
Kandungan Felic sudah menginjak lima bulan, sudah terlihat besar dan juga sudah aktif bergerak, dokter Frans juga sudah tidak begitu parah ngidamnya.
Sekarang Felic semakin banyak makannya. Bahkan ia bisa membangunkan suaminya di tengah malam gara-gara kelaparan.
Untung dokter Frans termasuk suami siaga, ia bahkan rela tidak tidur semalaman hanya untuk membuatkan kue istrinya.
__ADS_1
Atau ia akan rela hujan-hujanan gara-gara Felic ingin nasi goreng.
Malam ini tiba-tiba Felic terbangun, memeng belum terlalu malam masih jam setengah Sembilan, ia tiba-tiba ingin makan bakso iga.
"Frans ...., Frans ...., Frans ...., Frans ....!" Felic menggoyang-goyangkan tubuh suaminya, Dokter Frans yang sudah mulai memejamkan mata kembali bangun.
"Ada apa?" tanya dokter Frans sambil mengucek-ucek matanya agar terbuka kembali.
"Aku lapar ....!"
Ahhhh ....., jangan lagi ...., aku benar-benar mengantuk hari ini, di luar juga hujan ...., batin dokter Frans, ia berharap istrinya itu tidak meminta aneh-aneh lagi. Hampir setiap malam ia sampai tidak tidur gara-gara istrinya yang selalu lapar setiap malam.
"Aku pengen makan bakso iga yang ada kuah panasnya!" ucap Felic.
"Bakso iga?" tanya dokter Frans dan Felic pun mengangguk. Ia melihat jam dinding ternyata masih jam sembilan malam.
"Baiklah ...., di luar hujan kamu di rumah saja ya!"
"Nggak mau, aku mau ikut, aku maunya di makan di tempat!"
"Baiklah ...., sebentar!"
Dokter Frans pun segera turun dari tempat tidurnya, ia mencari sesuatu di ruang ganti, ternyata ia mencarikan jaket tebal dan kaos kaki untuk Felic.
"Pakai ini ....!" dengan telaten dokter Frans memakaikan jaket dan kaos kaki itu pada istrinya.
"Kamu?" tanya Felic yang melihat suaminya tidak memakai jaket.
"Aku juga akan memakainya!" Dokter Frans mengambil jaket yang biasa ia pakai.
Mereka berkeliling dnegan mobil mencari kedai bakso iga yang masih buka. Sudah banyak yang tutup karena sudah malam apalagi hujan jarang orang keluar rumah.
Hingga mereka sampai di depan sebuah kedai kecil yang hampir tutup.
"Itu masih buka, coba aku tanya masih ada nggak ya, kamu di sini!" ucap dokter Frans dan segera meninggalkan Felic di mobil, dengan sedikit berlari dokter Frans menuju ke kedai itu.
Setelah sampai di depan kedai, dengan nafas ngos-ngosan nya ia menepuk-nepuk jaketnya agar air yang menempel berjatuhan. Ia juga mengusap rambutnya yang sedikit basah.
“Bu …, apa bakso iganya masih? Istri saya sedang hamil dan ngidam pingin bakso iga!” ucap dokter Frans pada wanita yang berdiri membelakanginya, wanita itu sedang sibuk mengelap mangkoknya yang terlihat basah setelah di cuci.
“Masih mas, tapi tinggal satu por_!” ucap wanita itu sambil berbalik, tapi ucapannya menggantung saat melihat siapa pelanggan terakhirnya malam ini.
Dokter Frans juga tidak kalah terkejut, walaupun ia tahu dari Wilson jika nyonya Tania sekarang bekerja di kedai bakso, tapi ia tidak menyangka akan secepat ini mereka bertemu.
“Frans!”
“Maaf saya tidak jadi!" ucap dokter Frans yang hendak meninggalkan nyonya Tania.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰