
Mendengar suara pria itu, membuat Felic terpancing untuk melihat wajah orang yang telah ia tabrak.
Pria dingin itu …
“Sekali lagi, maafkan saya!” Felic pun tidak mau berlama-lama. ia memilih berlalu
begitu saja meninggalkan pria dingin itu.
Felic kembali masuk ke dalam ruangannya, ia memilih menutup seluruh tubuhnya dengan
selimut dan menangis di sana. Entah kenapa ia merasa sangat ingin menangis saat
ini. Hatinya begitu sakit tapi ia tidak tahu apa yang telah membuatnya sakit, ia begitu hancur tapi tidak tahu apa yang telah membuatnya hancur.
Menangis adalah pilihan terakhir yang ingin dia lakukan saat ini, rasanya ini lebih sakit dari pada saat itu, lebih sakit dari saat ia tahu jika Rangga adalah pria yang akan di jodohkan dengannya. Lebih sakit dari pada saat Rangga memilih meninggalkannya dulu …
Dokter Frans tercengang saat melihat Felic berlalu begitu saja. Ia sampai melupakan
wanita yang berada di sampingnya saat ini. Ingin sekali mengejarnya tapi tidak
bisa, kakinya terlalu kaku untuk melakukan hal itu.
"Ada apa dengannya?" tanyanya bingung sendiri.
“Fe …, Fe siapa?” tanya Nadin lagi, ia begitu penasaran. Pertanyaan Nadin membuat
dokter frans sadar, ia pun kembali beralih pada Nadin.
“Nanti aku kenalkan padanya!”
“Apa dia istri dokter? Benarkan?” mata Nadin berbinar senang dengan apa yang baru
saja ia lihat. Ia tidak menyangka akan secepat ini bisa melihat istri dokter Frans yang sengaja dokter Frans tutupi dari keluarganya.
Belum sampai dokter frans menjawab, Rendi sudah lebih dulu masuk dengan membawa botol minum, tadi Rendi terpaksa harus kembali ke mobil karena Nadin meninggalkan
botol minumnya di mobil dan dia meminta Rendi sendiri yang mengambilnya.
“Frans, kenapa dengan istrimu?”
“Mas Rendi bertemu dengan istri dokter Frans?” tanya Nadin yang begitu penasaran
dengan suaminya.
“Iya …, tapi sepertinya sedang menangis!”
“Menangis?” tanya dokter Frans dan Nadin bersamaan.
“Mungkin!”
Hehhhh …..
Membuat Nadin dan dokter Frans menghela nafas bersamaan, pria dingin itu begitu sulit
di korek informasinya. Ia segera menggantikan dokter Frans memapah istrinya.ia begiku keberatan saat dokter Frans menggandeng tangan Nadin.
“Silahkan bu Nadin!”
“Terimakasih dok!”
Dokter Sifa segera melakukan pemeriksaan pada Nadin, memastikan jika janin dan ibunya
baik-baik saja.
“Aku ingin bertemu dengan istri dokter Frans!” ucap Nadin setelah melakukan pemeriksaan.
“Tapi sayang, aku masih ingin bicara dengan Frans secara pribadi!”
__ADS_1
“Kalau begitu biar aku ke sana dulu ya?” Nadin terus bernego dengan suaminya.
“Baiklah, tapi dokter Sifa yang akan mengantarmu!”
“Aku setuju!”
Walaupun dengan berat, Rendi merelakan istrinya pergi tanpa dirinya karena ada hal yang
lebih penting yang harus ia bicarakan pada dokter Frans. Setelah Nadin dan
dokter sifa meninggalkan mereka, Rendi segera mendekat kepada dokter Frans.
“Ada apa sih dekat-dekat?” tanya dokter Frans dengan memundurkan tubuhnya.
Hehhh ….
Rendi kembali duduk di tempatnya, ia menyilangkan kakinya di atas kaki satunya,
menatap dokter Frans dengan serius, tapi sepertinya bingung harus memulai dari
mana.
“Ada apa? Gue nggak ada waktu!”
“Apa melakukan itu, saat istri hamil itu berbahaya?”
“melakukan apa?”
“Itu?” ucap Rendi sambil menyatukan ujung jarinya. Ia tidak mungkin mengucapkan secara
gambling hal begituan.
“jadi maksud lo, hubungan badan?” mendapat pertanyaan itu membuat Rendi kesal, ia
segera melempar dokter Frans dengan stetoskop yang ada di depannya.
“Gila lo ya, ini namanya kekerasan!”
“Siapa suruh mulutnya nggak di atur!”
Hahaha …
Dokter Frans begitu gemas dnegan sahabat balok esnya itu, kaku sekali seperti kanebo
kering.
“baiklah …, karena gue sahabat lo yang paling baik dan bijak, bakal gue jelasin!”
Rendi pun menyiapkan telinganya untuk mendengarkan penjelasan dari sahabatnya itu
agar tidak ada yang terlewat satu pun dari pendengarannya.
“Pada dasarnya, hubungan intim
tidak akan membahayakan janin. Banyak proteksi natural dari tubuh sang ibu
dapat membantu melindungi bayi, seperti cairan ketuban, otot-otot dalam rahim,
serta lendir tebal yang menutupi leher rahim. Namun, berhubungan intim saat
hamil tetap memiliki aturan tertentu.” Penjelasan dokter frans sudah berhasil
membuat Rendi tersenyum, wajah dinginnya seketika menguap.
“Tapi ….!”
“Ada tapinya?”
__ADS_1
“Iya dong …., ada aturan berhubungan intim saat hamil yang harus diperhatikan, yang pertama sudah pasti kandungan harus sehat. Maksudnya kandungan sehat adalah kehamilan yang berlangsung normal, tanpa adanya gangguan, atau penyakit.
Yang ke dua Lakukan setelah Trimester
Pertama, Karena itu, wanita hamil yang usia kandungannya masih sangat muda tidak disarankan berhubungan intim terlebih dahulu demi menghindari kontraksi dan keguguran. Selain itu, kondisi istri akan sering mengalami mual dan muntah. Bila kondisinya seperti ini, biasanya dorongan gairah pun akan ikut
menurun. Lalu, berhubungan intim saat hamil trimester pertama juga masa rawan
bagi kandungan karena janin dan ari-arinya belum terbentuk dengan sempurna.
Yang ke tiga pastikan tidak memiliki riwayat
pendarahan selama hamil serta tidak mengalami plasenta previa. Kondisi ini adalah posisi pelekatan plasenta atau ari-ari yang berada di bagian bawah rahim, baik
sebagian maupun keseluruhan, sehingga berpotensi menutupi jalan lahir. Selain
itu, berisiko menimbulkan pendarahan saat hamil, terutama ketika mendekati
waktu persalinan.
Yang ke empat dan paling penting!”
“Apa?”
“Perhatikan Posisi Hubungan Intim. Seperti
kondisi Nadin saat ini kan mulai memasuki trimester kedua, perut otomatis mulai membesar. Untuk itu, cermati posisi saat berhubungan agar tetap
merasa nyaman!”
“Lalu posisi bagaimana yang paling aman?”
Astaga …., kenapa aku harus menjelaskan hal ini, praktek aja belum ….., jelas
batin dokter Frans meronta.
"Hindari posisi telentang karena posisi ini dapat menekan perut dan menyebabkan
penekanan pada pembuluh darah di daerah perut.”
Rendi benar-benar memperhatikan
penjelasan dokter frans, sebenarnya ini adalah sebuah siksaan untuk dokter Frans harus menjelaskan masalah seperti itu. Dokter bedah yang juga harus menangani kehamilan.
“Dan ini yang terakhir, Seperti
di trimester pertama, berhubungan intim saat hamil harus dihindari dalam empat
minggu terakhir sebelum kelahiran. Berhubungan intim saat usia kehamilan
tersebut berpotensi menyebabkan persalinan prematur. Tahu kan premature?”
“Tahu!”
“Ya sudah …, beres berarti …., ayo ah …, gue mau
nyusul Nadin!” Dokter Frans benar-benar tidak sabar ingin segera melihat Felic, ia ingin tahu kenapa istrinya itu menangis, atau benar-benar menangis.
Dokter Frans beranjak di ikuti kelegaan dari Rendi, sekarang ia bisa bernafas lega karena tidak harus puasa lagi.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya Kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰😘