Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Aku mencintaimu Frans


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan jauh dari pantai, dokter Frans memilih untuk mengantar Felic


pulang ke rumah, tapi kali ini Felic memilih pulang ke rumah orang tuanya.


Bukan karena Felic marah tapi memang karena ia sedang merindukan orang tuanya.


Dokter Frans segera meminggirkan mobilnya tanpa mematikan mesinnya setelah sampai di depan rumah orang tua Felic.


"Kenapa nggak di matikan?" tanya Felic sambil mencoba melepas sabuk pengamannya.


“Aku ke rumah sakit dulu ya, nanti aku jemput!” ucap dokter Frans sambil menatap Felic, sebelum menurunkan Felic.


“Kamu yakin nggak turun dulu? Ayah dan ibu pasti seneng liat kamu!” ucap Felic memastikan.


“Nanti aja ya ....., aku sedikit terburu-buru. Sampaikan maaf aku aja ya karena tidak bisa


mampir!”


“Ya udah …, hati-hati ya …!” ucap Felic setelah berhasil membuka sabuk pengamannya.


“Iya …!”


Felic segera membuka pintu mobil hendak turun, tapi saat kakinya sudah turun sebelah


ia segera kembali masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.


Dokter Frans mengerutkan keningnya, “Ada apa lagi?” tanya dokter Frans.


“Ada yang ketinggalan!”


“Apa?”


Felic pun meminta dokter Frans untuk mendekat, dokter Frans pun menuruti keinginan Felic. Ia pun mendekatkan wajahnya pada Felic.


Cup


Felic mengecup bibir suaminya itu cukup lama, membuat dokter Frans tercengang. Untuk


pertama kalinya istrinya itu memiliki inisiatif untuk menciumnya lebih dulu.


“Bye…! Aku pasti menunggumu!” ucap Felic setelah menjauhkan bibirnya, Felic pun segera membuka pintunya, tapi dokter Frans pun pun menarik tubuhnya kembali.


Cup


Dokter Frans mendaratkan bibirnya ke bibir Felic membuat Felic tercengang. Dokter Frans


******* bibir itu, menggigitnya dan mengabsen setiap jengkal mulut Felic,


cukup lama mereka berciuman.


“Nanti aku jemput lagi, sampai jumpa!” ucap dokter Frans setelah melepaskan ciumannya. Dokter Frans tersenyum sambil melambaikan tangannya.


Felic pun tersenyum dan segera turun dari mobil sebelum suaminya itu berubah


pikiran dan membawanya pulang.


Felic melambaikan tangannya mengantar kepergian suaminya. Menatap mobil suaminya itu hingga menghilang di balik gang. Setelah mobil itu tidak terlihat lagi barulah


Felic masuk ek dalam rumah.


“Assalamualaikum!”


sapa Felic membuat wanita yang sedang sibuk membuat adonan kue itu sedikit berlari ke depan. Ia begitu heboh menyambut kedatangan putrinya itu.


“Waalaikum salam …, Fe ….!” Sambut Wanita paruh baya itu sabil mengelap tangannya yang basah ke clemek nya dan segera memeluk putrinya, walaupun jika di rumah mereka selalu saja berdebat tapi jika berjauhan mereka saling


merindukan saat-saat perdebatan itu.


“Felic merindukanmu bu ….!”


“Ibu juga ….!”


“Ayah kerja ya bu?”

__ADS_1


“Iya …, dia sedang sift siang!”


“Yah …, sayang sekali ….!”


"Bagaimana kehidupanmu di sana, ayo cerita sama ibu? Apa rumahnya sangat besar? Apa banyak pengawal di sana? Pelayannya bagaimana apa mereka ramah?" ibu Felic memberondongnya dnegan berbagai pertanyaan.


Hehhhhh .....


Felic menghela nafas, ia jadi membayangkan kembali ke tempat itu lagi, semua peraturan dan pengawalan kadang membuatnya begitu pusing.


"Jangan membuat ibumu ini khawatir, ayo cepat ceritakan!"


"Biarkan aku duduk dulu ibu!"


Felic pun memilih untuk segera duduk di depan TV, ibunya pun mengikutinya dengan melepas clemeknya.


"Ayo cerita!" desak ibunya. Felic pun menceritakan semuanya di rumah besar itu dengan segala peraturan dan pengawalan dan lagi yang terpenting adalah suaminya tidak membuatkannya tetap bekerja sebagai office girl lagi.


"Maafkan aku ibu, aku mungkin akan terlambat mentrasfer uang untuk kalian sampai aku mendapatkan pekerjaan lagi!"


"Kamu jangan pikirkan itu lagi!" ucap ibunya dengan senyum bahagianya.


"Kenapa?"


"Suamimu itu sudah memberi uang bulanan yang cukup untuk kami, bahkan lebih dari cukup! Sebenarnya ibu sama ayah tidak enak, tapi suamimu memaksa!"


"Hahhh ...., Frans!?"


"Iya ....!"


"Kenapa dia suka sekali membuatku syok ....!" gumam Felic kesal.


***


Dokter Frans pun segera memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit dan seorang satpam sudah menyambutnya dan meminta kunci mobilnya.


‘Terimakasih ya!”


“Iya pak!”


melakukan kunjungan pasien.


Memang tidak setiap hari dia lakukan tapi setidaknya satu minggu sekali ia melakukan memastikan jika pasien nyaman dengan pelayanan rumah sakitnya.


Tanpa terasa sudah jam empat sore, sudah banyak dokter dan suster yang berganti sift.


Dokter frans pun memutuskan untuk segera pulang saja ke rumah mertuanya untuk


menjemput istrinya.


Kring kring kring


Tiba-tiba ponselnya berdering tepat sebelum ia masuk ke dalam lift. Ia pun menghentikan


langkahnya dan mengambil ponselnya yang berada di saku jaketnya.


“Rendi?”


ada nama Rendi di daftar panggilan itu, ia pun segera menelpon balik. Dalam hitungan detik saja, panggilannya sudah terhubung.


“hallo Rend, ada apa?”


“Maaf aku nggak bisa pulang hari ini, jadi aku minta tolong ya!”


“Apa?”


“Aku sudah memesan beberapa bunga di taman bermain, tolong kamu cek ya!”


“Hehhh …., kau ini selalu merepotkan ku saja!”


“Jadi keberatan nih?”


“Iya …, iya …, gitu aja ngambek, udah kayak emak-emak aja lo rend!”

__ADS_1


Sebelum ia sempat melanjutkan ucapannya, sambungan telpon itu sudah lebih dulu


terputus.


‘Kebiasaan nih orang …., perasaan gue yang telpon dianya main matikan aja, nggak sopan


banget!”


Walaupun terus menggerutu, tapi dokter Frans tetap saja melakukan apa yang di minta oleh


sahabatnya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk cepat pulang, dokter Frans pun


lebih dulu mampir ke taman bermain.


Ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan dan benar saja, di taman bermain itu ada


orang-orang yang sedang sibuk menurunkan beberapa pot bunga.


Dokter Frans pun akhirnya melepaskan jaketnya dan menyingsing kemejanya. Memberi


instruksi pada para penata taman untuk menaruh bunga-bunga itu di tempatnya,


ternyata begitu banyak hingga hampir satu jam ia melakukannya, ia ikut mengangkat dan memindahkan dari tempatnya.


Setelah semuanya beres, dokter Frans pun memilih beristirahat di salah satu bangku


kosong, walaupun belum benar-benar di buka untuk umum, tapi taman itu sudah


terlihat ramai.


“Mau minum!” ucap seseorang sambil menyodorkan sebotol minuman dari belakang. Dokter Frans tahu betul siapa pemilik suara itu.


“Zea…! Kamu di sini?”


Zea tersenyum, lalu dia berputar dan duduk di samping dokter Frans, “Seneng deh


kamu masih mengenali suaraku!”


Dokter Frans membuka segel minuman itu dan meneguknya. Dokter Frans menoleh pada Zea


dan tersenyum.


“Sedang apa di sini?” tanya dokter Frans kemudian.


“Sedang berharap saja bisa bertemu dengan seseorang, dan ternyata tuhan


mengabulkannya!” ucap Zea dengan senyum manisnya.


“Maksudnya?”


“Bertemu denganmu!’ ucap Zea sambil tersenyum lalu menatap ke depan.


Dokter Frans mengerutkan keningnya, ia masih bingung kenapa wanita di sampingnya ini


masih berharap bisa bertemu dengannya setelah melihatnya bersama Felic,


“kenapa ingin menemui ku?”


“Karena aku mencintaimu Frans, dan perasaan itu masih sama sampai sekarang!”


Setelah Felic dan sekarang Zea, dua wanita ini mengungkapkan perasaannya padanya di


hari yang sama, kenapa? Dokter Frans hanya terdiam tanpa berani menjawabnya.


Sebenarnya hati siapa yang paling ia inginkan saat ini, masa lalunya atau istrinya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰😘❤️


__ADS_2