
"Aaaaaa ....!"
"Aaaaaa ....!"
Teriak Wilson dan Tisya, mereka sama-sama terkejut, Tisya segera menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, begitu juga dengan Wilson yang segera menutupi tubuhnya dengan tangannya.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Tisya.
"Seharusnya saya yang tanya, kenapa kamu di kamar saya?" tanya Wilson yang tidak mau kalah.
Tisya menemukan sebuah sapu yang bersender di dinding dekat lemari kayu itu, dengan cepat ia mengambilnya dan mengayunkannya pada Wilson.
"Ehhh ehhhh ....., mau ngapain?" tanya Wilson sambil mengangkat tangannya hingga menutupi wajahnya.
"Saya tahu ya orang seperti apa kamu, kamu pasti orang yang suka cari kesempatan di saat lengah ...!" ucap Tisya sambil terus mengarahkan gagang sapu itu pada Wilson.
"Jangan menuduh sembarangan ya ...!" ucap Wilson kesal, ia berusaha untuk merebut sapu itu tapi ternyata Tisya sangat lincah.
"Mau ngapain ....?" tanya Tisya sambil menyembunyikan sapunya di balik punggung agar Wilson tidak bisa mengambilnya.
"Siniin sapunya, jangan sembarang menyakiti orang ya, bisa kena pasal kamu nanti!" ucap Wilson tidak mau kalah. Ia tetap berusaha untuk mengambil sapu dari tangan Tisya.
"Jangan sembarangan, saya duluan yang bakal ngelaporin kamu dengan pasal pelecehan karena telah berbuat mesum pada seorang gadis!"
"Isssttttt ....., pelecehan dari mananya!?" keluh Wilson yang sudah mulai menyerah mengejar Tisya.
Dasar tikus kecil ....., bisa-bisanya dia menuduhku mesum ...., batin Wilson kesal.
"Sekarang keluar dari sini!" teriak Tisya dengan kembali mengangkat sapunya bersiap memukulkan Wilson.
"Okey ...., okey ...., saya keluar ....!" ucap Wilson menyerah. Wilson pun segera keluar dari kamarnya. Tisya memegangi dadanya lega.
Wilson menutup kembali pintunya tapi kemudian dia teringat sesuatu.
"Ini kan kamarku, terus kenapa aku yang keluar?!"
"Hehhhhh ....., wanita benar-benar makluk paling aneh, bisa-bisanya aku kalah sama tikus itu ....!" gumam Wilson.
Kemudian ia teringat jika sekarang dia masih belum memakai bajunya. "Astaga ...., saya belum pakek baju!"
Ceklek
Wilson kembali lagi masuk ke dalam kamar membuat Tisya terkejut, ia kembali mengangkat sapunya.
__ADS_1
"Mau ngapain lagi?" tanya Tisya.
"Saya mau ngambil baju ....!" ucap Wilson dan berjalan melewati Tisya begitu saja, mengambil baju gantinya yang masih tergeletak di atas tempat tidur.
Tisya masih terdiam di tempatnya, Wilson kembali melewatinya dan keluar kembali dari kamarnya.
"Jangan-jangan ini beneran kamarnya!" gumam Tisya setelah pintu kembali tertutup.
Tisya segera menjatuhkan sapunya dan segera duduk di atas tempat tidur itu.
"Gimana dong kalau ini beneran rumah dia ....? Atau jangan-jangan ini rumahnya kak Frans? Apa dia sengaja ngelakuin ini ....?"
"Nggak ...., ini pasti cuma kebetulan ....! Aku harus profesional, jangan campurkan urusan pribadi dengan pekerjaan!"
Tisya pun segera merapikan kembali bajunya dan segera keluar dari kamar, ia menghampiri pak mandor dan ternyata Wilson juga ada bersamanya.
"Pak ....!" sapa Tisya.
Pak Mandor dan juga Wilson menoleh pada Tisya bersamaan.
"Ehhhh mbak Tisya, ini bu kenalkan beliau pak Wilson pemilik rumah ini!" ucap pak mandor.
Jadi beneran ini rumahnya ...., bodoh ...., bodoh ...., bisa-bisanya aku mukul dia ...., batin Tisya.
"Kami sudah ketemu tadi pak!" ucap Tisya.
"Baiklah bisa kita mulai kan meetingnya!?" ucap Wilson karena ia tidak mau berlama-lama bersama Tisya, membuat moodnya jadi berantakan.
...***...
Dokter Frans sudah berada di kelas senam ibu hamil bersama Felic. Tidak seperti awal-awal kehamilan Felic, sekarang keadaannya jauh berbeda. Ibu-ibu yang berada di kelas yang sama dengan Felic mempunya kebiasaan baru setiap sebelum dan setelah senam. Mereka akan menggerubuti dokter Frans hanya untuk bertanya sesuatu hal yang tidak penting atau sekedar meminta foto selvi.
Akhirnya dokter Frans jadi idola para ibu-ibu hamil di kelas senam Felic.
"Terus saja tebar pesona!?" gerutu Felic membuat dokter Frans hanya tersenyum.
"Nggak pa pa Fe, sekali-kali nyenengin ibu hamil siapa tahu nanti yang lahir semua bayinya wajahnya sama semua kayak aku!" ucap dokter Frans.
"Iya ...., biar di gantung sama suami-suaminya, tuh kamu nggak liat apa para suami sudah memasang kuda-kuda permusuhan sama kamu!"
"Ahhhh ....., aku jadi semakin bangga dengan diriku sendiri, ketampanan ku ini memang sering buat orang keder sih ...!" ucap dokter Frans membanggakan dirinya sendiri.
"Baik ayah bunda, kita mulai senamnya ya, silahkan ambil posisi masing-masing. Seperti biasa ayah di belakang bunda ya, mulai ikuti instruksi saya ....!" ucap instruktur senam itu dengan memberikan contoh gerakannya.
__ADS_1
...****...
Setelah selesai dengan urusannya, Tisya segera meninggalkan rumah Wilson. Ia akhirnya bisa bernafas lega setelah hampir dua jam ia berdebat dengan pemilik rumah.
"Mbak mbak ....., kalau mbak Tisya terus berdebat sama pak Wilson kayak tadi bisa-bisa kepala saya pecah mbak ....!" ucap pak mandor.
"Habis gimana lagi pak, tuh orang resek banget, emang siapa yang lebih tahu, sudah tahu rumahnya kayak gitu mintanya aneh-aneh bikin kesel aja!"
"Tapi mbak, pelanggan itu raja loh mbak! Kalau saran saya akan lebih baik kalau mbak Tisya nurut aja sama maunya pak Wilson!"
Kalau di pikir-pikir benar juga apa kata pak mandor!!!! Ehh ehhh ehhh ...., tunggu ..., tunggu ...., kalau saya nurut aja sama dia bisa gede kepala tuh orang ...., nggak bisa di biarin dong kayak gitu ....., batin Tisya.
"Ya sudah mbak saya duluan ya, besok ketemu lagi di sini, besok pagi bahan-bahan dan pekerjanya akan datang!"
"Iya pak mandor!"
Setelah pak mandor itu pergi dengan motornya, Tisya pun memilih berjalan kaki, sayang uangnya jika untuk naik ojek atau angkot, uang sepuluh ribu bisa buat beli bakso satu mangkuk.
Tisya juga tidak langsung pulang, dia sudah punya janji dengan mamanya untuk makan mie ayam yang ada di seberang kedai bakso tempat nyonya Tania bekerja.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit akhirnya ia sampai juga di depan kedai bakso tempat nyonya Tania bekerja.
Melihat putrinya datang dengan jalan kaki, nyonya Tania segera menghampiri putrinya itu.
"Tisya sayang ...., kenapa berjalan kaki?" tanya nyonya Tania.
"Nggak pa pa ma, Tisya kerjanya nggak jauh dari sini, ma!"
"Duduklah, kamu pasti haus biar mama buatkan es teh buat kamu!" ucap nyonya Tania sambil menarik Tisya untuk duduk di salah satu kursi. Kedai tampak sepi dan ada satu meja yang kelihatannya baru saja di tinggalkan oleh pelanggannya terlihat dari beberapa mangkok kotor yang belum di pindahkan dari atas meja.
Nyonya Tania segera membuatkan es teh untuk putrinya itu, setelah selesai ia segera kembali menghampiri putrinya sambil menyerahkan satu gelas besar es teh.
"Minumlah ...!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1