Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (62. Kepulangan Zea)


__ADS_3

Satu Minggu sudah Zea berada di rumah sakit, dokter akhirnya mengijinkannya pulang. Papa Rangga sudah menungguinya tentu tanpa sepengetahuan mama Rangga


Bibi juga sudah datang untuk menjemput Zea, Zea masih belum di perbolehkan berjalan sendiri. Ia harus mengenakan kursi roda untuk berjalan,


"Titip Zea ya bi, kabari saya kalau terjadi sesuatu!"


"Iya tuan, pasti!"


Bibi pun mengambil tas milik Zea dan mulai mendorong kursi roda yang di pakai oleh Zea,


"Tunggu bi!" Ia menahan kursi rodanya lalu menatap papa mertuanya.


"Pa ijinkan Zea lihat Rangga sekali saja!"


"Tapi_!"


"Hanya sekali pa, setelah ini Zea tidak akan meminta apapun lagi pada papa!"


"Baiklah, kamu tunggu sebentar ya. Papa akan buat mama kamu pergi dari ruangan Rangga!"


Walaupun belum sadarkan diri, tapi Rangga kini sudah keluar dari ruang sterilisasi.


Papa Rangga segera kembali ke ruangan rangga, terlihat Miska sudah tidak ada di sana, hal itu tentu akan sedikit mempermudah dirinya untuk mengajak istrinya pergi sebentar.


"Ma, bagaimana?"


"Rangga masih belum sadarkan diri pa!"


"Mama nggak lapar?"


"Mana bisa mama lapar pa, kalau keadaan Rangga saja seperti ini!"


"Tapi kamu juga harus tetap jaga kesehatan, jangan sampai kita ikut sakit! Kalau kita sakit nanti siapa yang akan jagain Rangga?"


"Tumben papa peduli sekali sama mama!?" mama Rangga menatap suaminya dengan tatapan curiga.


"Ma, papa ini dari dulu memang selalu perhatian sama mama, hanya mamanya saja yang nggak peka. Perut papa rasanya perih belum makan dari pagi, kita ke kantin rumah sakit yuk ma!"


"Kalau kita tinggal, Rangga sama siapa?"


"Di sini banyak dokter, banyak perawat ma. Lagian papa juga sudah punya nomor perawatnya Rangga!"


"Beneran nggak pa pa , pa! Rangga nya di tinggal?"


"Nggak pa pa, lagian juga cuma sebentar!"


"Baiklah!"


"Kalau begitu papa hubungi perawatnya Rangga dulu ya biar berjaga di sini!"


"Iya!"


Papa Rangga pun segera menghubungi seseorang yang ia katakan perawat Rangga padahal sesungguhnya ia tengah menghubungi Zea,

__ADS_1


"Hallo pa!"


"Iya suster, saya sama istri saya mau cari makan sebentar. Suster bisa kan temani anak saya sebentar!"


"Iya pa, terimakasih ya pak. Zea akan ke sana!"


"Ya sudah, kami pergi!"


Papa Rangga pun segera mematikan sambungan telponnya,


"Beres! Ayo ma!"


Setalah mereka pergi, bibi pun membawa Zea ke kamar Rangga.


"Bibi tunggu di luar ya buk sambil jaga-jaga kalau ada yang datang!"


"Iya bi!"


Bibi meninggalkan Zea sendiri di dalam ruangan bersama Rangga.


Zea mendekatkan kembali kursi rodanya dan menggenggam tangan Rangga,


"Rangga! Kapan kamu akan bangun?"


"Ga hari ini aku sudah boleh pulang, kamu jangan khawatir anak kita baik-baik aja, dia anak yang kuat. Papanya juga kuat, jadi kamu harus bangun!"


"Ga, maaf jika aku nggak bisa lihat kamu setiap hari, tapi kamu tahu kan aku dan anak kita sangat mencintai kamu!"


"Nanti kalau kamu bangun, jangan lupakan aku ya!"


"Aku takut Ga, aku takut jika kamu pergi, aku sama siapa, aku dan anak kita butuh kamu, kamu harus bangun!"


"Katamu kita akan ke kantor catatan sipil kan Ga, kita akan meresmikan hubungan kita agar di akui oleh negara, kenapa kamu bohong?"


Zea terus mengajak Rangga bicara, ia meletakkan kepalanya di telapak tangan Rangga.


Hingga tiba-tiba ponselnya berdering, Zea segera mengusap air matanya dan melihat siapa yang melakukan panggilan.


"Papa!"


Dengan cepat ia menerima telpon itu,


"Iya pa?"


"Kami akan segera kembali, jadi suster sudah boleh pergi sekarang."


"Baik pa, Zea akan pergi. Titip Rangga ya pa?"


"Iya, terimakasih sus!"


Zea segara mematikan sambungan telponnya, ia kembali menatap Rangga, menatap pria yang tengah memejamkan matanya tanpa bergerak sedikitpun hanya suara dari mesin yang mengukur denyut jantungnya yang mengisi ruangan itu,


"Ga, aku pulang dulu ya. Kamu baik-baik di sini, aku tunggu kabar baiknya! Aku dan bayi kita menanti kepulangan kamu!"

__ADS_1


Zea berdiri dengan bertumpu pada kakinya yang sakit dan meninggalkan kecupan di bibir Rangga, air matanya hampir saja menetas tapi dengan cepat ia hapus. Ia tersenyum sejenak lalu kembali duduk di kursinya.


Melihat pintu terbuka, bibi segera menghampiri pintu,


"Kita pulang, bi!"


"Iya buk!"


Walaupun berat akhirnya ia meninggalkan rumah sakit. Bibi sudah memesan taksi untuk mereka, bibi dengan sabar membantu Zea masuk ke dalam taksi,


"Hati-hati buk!"


"Terimakasih bi!"


Taksi pun langsung membawa mereka ke apartemen, untuk pertama kalinya Zea kembali ke apartemen tanpa Rangga. Rasanya begitu kosong, ia menatap ke seluruh penjuru ruangan, semua kenangan bersama Rangga seakan kembali muncul.


"Buk, mau langsung istirahat atau ibuk mau melakukan sesuatu dulu?"


"Kau ingin istirahat aja bi, bibi kalau sudah nggak ada pekerjaan pulang aja nggak pa pa!"


"Nggak buk, bibi akan temenin ibuk Sampek bapak pulang!"


"Tapi bi_!"


"Bibi nggak pa pa, buk! Jangan khawatirkan bibi, yang terpenting sekarang ibuk sehat. Nanti pas waktu bapak pulang, ibuk sudah sehat!"


"Bi, Zea nggak tahu lagi harus ngomong apa. Zea beruntung sekali punya orang-orang baik seperti bibi dan papa!"


"Bapak sudah begitu baik sama bibi, kini sudah waktunya buat bibi balas kebaikan bapak!"


"Terimakasih ya Bi!"


"Iya buk, biar bibi antar ke kamar ya buk!"


Bibi pun langsung mendorong kursi roda Zea dan membawanya masuk ke dalam kamar,


"Bibi akan buatkan makanan untuk ibuk, kalau butuh apa-apa ibuk panggil aja bibi!"


"Iya bi!"


Setelah bibi keluar dari kamarnya, Zea segera menjalankan kursi rodanya menuju ke jendela yang menghadap ke balkon. Balkon adalah tempat favorit mereka menghabiskan waktu senjanya sambil menunggu bintang bermunculan,


"Aku pasti akan kesepian tanpa kamu Ga, segeralah pulang!"


Zea membuka tirai yang menutupi jendela kaca berukuran besar itu, ia menatap langit yang sama seperti waktu itu, tapi kali ini beda. Biasanya ia menatap langit itu bersama Rangga, Rangga yang selalu memeluknya dark belakang dan menyandarkan kepalanya di bahunya.


Kehangatan itu sekarang ia rindukan, ia tidak tahu jika akan berada dalam keadaan yang seperti saat ini. Seandainya waktu bisa di putar, ia memilih tidak mengajak Rangga pergi hari itu dan menikmati kebersamaan mereka di rumah saja seperti yang Rangga inginkan.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2