
Nyonya Tania segera membuatkan es teh untuk putrinya itu, setelah selesai ia segera kembali menghampiri putrinya sambil menyerahkan satu gelas besar es teh.
"Minumlah ...!"
"Terimakasih ma ....!" Tisya segera meneguk es teh itu, ia memang sangat haus di luar juga masih sangat panas walaupun sudah sore, mataharinya masih begitu menyilaukan mata walaupun sudah condong ke barat.
"Ya sudah kamu habiskan dulu minumnya, biar mama bersihkan meja sebelah ya habis ini kita makan mie ayam yang ada di seberang!" ucap nyonya Tania sambil mengusap pundak putrinya itu.
Nyonya Tania pun mengumpulkan mangkok-mangkok kotor itu dan membawanya ke belakang untuk di cuci.
Tisya yang melihat meja bekas itu kotor segera berdiri dan membantu ibunya mengelap meja.
"Sayang ...., duduk saja, nanti biar mama yang bersihin!" ucap nyonya Tania yang melihat dari balik sekat dinding yang hanya sebatas dada itu.
"Nggak pa pa ma, biar cepat selesai pekerjaannya mama dan kita bisa cepat ke sana, Tisya sudah lapar!"
"Baiklah ....!"
Tisya pun segera mengelap meja itu, membuang bungkus kerupuk dan beberapa tisu yang sudah di gunakan yang berserakan di atas meja, Tisya membuangnya ke dalam keranjang sampah.
Tisya kembali ke meja itu untuk memastikan jika semuanya sudah rapi, tapi Tisya segera menghentikan kegiatannya saat ada seseorang yang datang.
"Permisi!" ucap pria berjas hitam itu.
"Iya ...., silahkan duduk, mau baksonya yang apa?" tanya Tisya. Ia sudah terbiasa melihat mamanya yang melayani para pelanggan.
Awalnya Tisya begitu marah, ia tidak suka melihat mama nya melayani orang-orang. Ia marah pada orang-orang yang sudah membuat hidupnya dan sang mama hancur.
Tapi kemudian, ia malu pada dirinya sendiri, ia malu dengan mama nya, jika mama nya saja bisa menerima semuanya kenapa dia tidak bisa.
Jika ia hanya meratapi keadaannya tanpa melakukan apapun, dia hanya akan jadi bahan tertawaan orang banyak.
"Maaf nona, saya ke sini bukan untuk membeli bakso, saya ingin bicara dengan anda!"
"Saya?" tanya Tisya.
Nyonya Tania yang berada di belakang tetap di tempatnya, ia ingin tahu apa yang sedang terjadi.
"Iya nona, bisa kita bicara sebentar?" tanya pria itu.
"Duduklah ....!"
pria ber jas itu pun duduk di tempat yang tadi di duduki oleh Tisya.
Tisya pun meletakkan lap kainnya dan ikut duduk di depan pria itu.
"Saya di utus tuan Bactiar untuk menemui anda nona!" ucap pria itu setelah Tisya juga ikut duduk.
Tisya begitu terkejut, "Papa?"
__ADS_1
"Iya nona, anda di minta menemuinya untuk membicarakan sesuatu!"
"Baik lah ...., saya akan menemuinya besok, katakan pada papa saya akan menemuinya di kantor besok!" ucap Tisya.
"Baiklah nona, terimakasih atas waktu ya! Selamat sore!"
pria itu segera pergi meninggalkan Tisya yang masih duduk terdiam di tempatnya. Nyonya Tania itu segera menghampiri putrinya.
"Ada apa sayang? Dia tadi siapa?" tanya nyonya Tania sambil duduk menghampiri putrinya.
"Bukan apa-apa ma, itu tadi utusannya papa!"
"Papa kamu?"
"Iya ma, papa minta bertemu!"
"Jangan-jangan papa sudah memaafkan mama sayang dan minta kita kembali!"
"Nggak tahu ma ...., sudah kan ma ayo kita makan pumpung sepi!"
"Baiklah ...., mama ambil dompet dulu ya!"
Setelah mengambil dompetnya mereka segera menyeberang jalan menuju ke kedai mie ayam.
...****...
Kini dokter Frans lebih sering menghabiskan waktunya bersama Felic. Ia mengurangi beberapa jadwal operasi dan hanya melakukan jadwal kunjungan pasien pada pagi hari dan siangnya akan segera pulang.
"Hemmm?"
Dokter Frans sambil membaca beberapa buku tentang kedokteran di tangannya, beberapa hari lagi ia akan melakukan seminar kedokteran untuk para calon dokter, jadi ia harus memperdalam pengetahuannya dengan sering membaca. Kaca mata nya sudah membingkai matanya itu agar lebih jelas membacanya.
"Besok kan waktunya periksa, boleh nggak periksa nya di rumah sakit aja?" tanya Felic.
Selama ini dokter Frans sengaja mendatangkan alat-alat untuk periksa kandungan Felic di rumahnya, dokter yang akan datang bukan Felic yang ke rumah sakit.
"Kenapa?" tanya dokter Frans sambil menghentikan membacanya.
"Nggak kenapa-kenapa, tapi aku bosan di rumah terus, aku pengen ke rumah sakit!" ucap Felic sambil mengusap perutnya yang sudah besar itu.
"Baiklah ...., tapi nggak usah lama-lama ya, habis selesai di periksa langsung pulang!"
"Nggak mau, aku pengen nemenin kamu kerja, boleh ya ....!?"
"Baiklah ...., apapun untukmu, sekalian kita periksa apakah dedek bayi kita kuat buat perjalanan jauh!"
"Perjalanan jauh? Memang kita mau ke mana?" tanya Felic.
"Ada deh ...., sudah sekarang kita tidur, dedek bayi nggak boleh di ajak tidur malam-malam!" ucap dokter Frans yang sudah menutup bukunya, ia segera meletakkan buku tebalnya itu di atas nakas, melepas kaca matanya juga dan meletakkannya di atas buku.
__ADS_1
Felic sudah bangun dari tidurnya, ia segera beralih ke bantal dan dokter Frans segera menyelimuti istrinya kemudian mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur hanya cukup menggunakan remote kontrol di tangannya.
Dokter Frans segera mendekatkan tubuhnya pada Felic, melingkarkan tangannya di atas perut Felic yang besar itu.
"Frans ...., ada apa?" tanya Felic yang kembali membuka matanya.
"Bukankah kita harus melakukan sesuatu dulu?" tanya dokter Frans membuat Felic mengerutkan keningnya.
"Apa?"
"Dedek bayi pasti pengen ayahnya mengunjunginya sebelum tidur, bagaimana kalau dia tidak bisa tidur sebelum ayahnya mengunjungi?" ucap dokter Frans sambil terus mengusap perut Felic.
"Mana ada seperti itu, kamu kan sudah setiap hari mengunjunginya, dedek bayi nggak akan keberatan kalau malam ini tidak di kunjungi ayahnya!"
"Ya sudah deh kalau begitu, biar aku tanya sendiri sama dedek bayinya!"
"Gimana cara tanyanya?"
"Lihat ya, nanti kalau aku tanya trus dia menendang perut kamu berarti dia setuju!" ucap dokter Frans. Dokter Frans pun kembali bangun ia mendekatkan bibirnya pada perut besar Felic.
"Tapi kalau dari balik selimut gini nggak akan keliatan, biar aku buka dulu ya!" ucap dokter Frans, ia pun segera membuka selimut Felic.
"Ini juga masih terhalang, gini deh aku buka dulu dasternya!" ucap dokter Frans dan hendak menyingkap daster Felic tapi segera di tahan oleh tangan Felic.
"Tapi ..., eh tunggu, bukankah ini dasternya tipis, akan kelihatan kalau cuma buat liat dedek bayi nendang apa enggak!"
"Nggak akan jelas Fe, nanti kamu bisa memanipulasinya!" ucap dokter Frans, "Singkirkan tanganmu!" perintah dokter Frans lagi.
Felic pun akhirnya menyingkirkan tangannya, ia membiarkan suaminya menyingkap dasternya hingga sampai di atas perut.
Kini tubuh bawah Felic terlihat semuanya, dokter Frans mengusap perut Felic.
"Bagaimana sayang, apa ayahmu ini boleh mengunjungimu sekarang?" tanya dokter Frans sambil mengusap perut Felic yang terbuka itu membuat Felic tersenyum dengan tingkah suaminya yang menjadi sangat mesum itu.
Dan benar saja, tiba-tiba bayi dalam kandungan Felic menendang hingga membuat dokter Frans terlonjak karena terkejut.
"Waw ....., dia menendang, dia setuju ....!"
Dokter Frans kembali mendekati istrinya, "Bagaimana kita bisa mulai sekarang?" tanya dokter Frans sambil berbisik, ia mendekatkan bibirnya pada bibir Felic.
Felic pun tersenyum dan mengangguk membuat dokter Frans segera menempelkan bibirnya pada bibir Felic, mulai ******* dan menggigitnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰