Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Tangis Ersya


__ADS_3

Saat tangannya ia susupkan di antara ranjang dan bantal, tiba-tiba saja tangannya


menemukan sesuatu. Ersya pun mengambilnya.


“Undangan?”


Air matanya seperti luluh begitu saja saat membaca nama yang tertera di dalam


undangan itu. Nama yang selama ini selalu menempati tempat yang begitu istimewa


di hatinya, kini tertera di undangan itu bersanding dengan nama orang lain. Ia


kembali mengingat kenangan-kenangan indah yang telah mereka lalui dulu, ia


bahkan memutuskan menikah muda dengan pria itu tapi semua itu seakan tidak


berarti lagi bagi pria yang sekarang sudah berubah statusnya menjadi mantan.


Bukan Cuma mantan pacar, tapi mantan istri, rasanya lebih menyakitkan dari


sebuah pisau yang menghunus langsung ke jantungnya.


Ia akan hidup menjadi seorang janda tanpa anak, orang-orang akan mengatakan kalau


mungkin saja ia tidak bisa menjadi seorang ibu, itu adalah gelar yang akan


membuatnya semakin terpuruk, ia tidak mungkin bisa membungkam mulut mereka satu persatu, karena mereka punya hak untuk bicara.


Hiks hiks hiks


“Mas Rizal bener-bener tega sama aku ….!” Rancau Ersya di sela tangisnya, ia bahkan


sampai meremas undangan itu, rasanya seperti di terpa ribuan peluru yang langsung menghujam ke jantungnya dan itu tidak hanya sekali, sampai ribuan kali.


“Apa salahku sebenarnya hingga kau memutuskan untuk meninggalkan ku mas?” rancau Ersya lagi dengan suara seraknya karena terlalu banyak menangis. Sebelum ini ia


sudah menangis hingga berkali-kali, dan menangis lagi. Sampai ia tidak berani


pulang ke rumahnya karena terlalu takut dengan kenangan itu, kenangan manis


mereka.


Felic di antar dokter Frans pulang, sepanjang perjalanan felic terus mengatakan jika


mereka tidak bisa tinggal satu rumah selama masih dalam masa percobaan. Mereka


harus hidup selayaknya dua insan yang sedang berpacaran.


“Nggak ada nih yang lebih ribet aturannya?” tanya dokter Frans sambil mendorong kursi


roda felic masuk ke dalam rumah.


“Mau aku jambak rambutmu?!” Ucap Felicia sambil menoleh pada dokter Frans dan


memelototkan matanya.


“Iya iya …, ampun deh …!” dokter Frans tidak mau berdebat lagi, dengan alasan


kencan, ia masih bisa menemui istrinya itu setiap hari, setidaknya itu lebih


baik dari pada kemarin-kemarin.


Ibu Felic yang baru saja keluar dari dapur terlihat kebingungan saat melihat dokter


Frans pulang dengan Felic, ia baru mengerti dengan Maksud ucapan Ersya tadi,


“Felic …! Kok kalian bisa barengan? Jadi ini maksud Ersya tadi!”

__ADS_1


“Siang ibu mertua!” sapa dokter Frans dan segera mencium punggung tangan ibu mertuanya itu.


“Jadi Ersya sudah kembali, bu?” tanya felic.


“Iya …, dia di kamarmu!”


“Wah gawat nih ….! Aku keatas dulu bu!” ucap felic ia hendak berdiri dari kursi


rodanya,


“Iiittttssss ….!” Dokter Frans segera menahan tubuh Felic.


“Apaan sih Frans?”


“Siapa suruh kamu jalan, aku nggak akan biarin kamu naik sendiri, atau kalau perlu aku


pindahin kamar kamu di bawah!” ucap dokter Frans dengan cepat ia mengangkat


tubuh felic dengan sekali hentakan menggunakan kedua tangannya.


“Frans …?!”


“Nggak usah protes!” ucap dokter Frans sambil membawa Felic menaiki tangga, Felic pun


mengalungkan tangannya di leher dokter Frans agar tidak jatuh, dokter Frans


tersenyum penuh kemenangan.


“Jangan tersenyum seperti itu, kau benar-benar menakutkan!” ucap Felic melihat senyum


suaminya itu. Tapi dokter Frans memilih untuk tetap diam dan melanjutkan


langkahnya.


“Buka pintunya!” ucap dokter Frans setelah berada di depan pintu kamar karena kedua


perintahkan dokter Frans, ia memutar knop pintu hingga pintu itu terbuka.


“Sya …, kamu kenapa?” tanya felic saat melihat Ersya sedang menangis di atas tempat


tidurnya, dokter Frans pun mempercepat langkahnya.


Dokter Frans menurunkan Felic di samping ersya, “Sya …?” tanya Felic lagi sambil memegang


bahu ersya yang masih bergetar.


Ersya segera memeluk felic, “Gue kalah Fe!” ucap Ersya sambil kembali menangis


tersedu di pelukan Felic, Felic hanya bisa memeluk sahabatnya itu dan mengusap


punggungnya berharap sahabatnya itu bisa lebih tenang. Ia melihat apa yang di


pegang Ersya, sekarang ia baru tahu apa yang membuat sahabatnya itu menangis.


“Nggak ada gunanya, Sya nangisin cowok kayak gitu! Cowok kayak gitu mesti kita


hempaskan!” ucap Felic sambil melirik pria yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka,


seperti mengatakan jika itu juga berlaku untukmu.


Dokter Frans hanya berdehem dan mencoba mengalihkan perhatian. Ia memilih duduk di kursi kecil dan pura-pura sibuk dengan ponselnya walaupun telinganya terus mencuri dengar.


“Mana bisa Fe, gue nggak se-tegar lo Fe, ini sudah yang  entah berapa ribu kalinya gue menangis!”


“Jangan gitu Sya, lo itu cantik, lo menarik, lo pinter, berpendidikan, lo nggak kalah


sama cewek itu, dia Cuma menang harta doing, harta bisa di cari. Jadi jadikan

__ADS_1


itu sebagai senjata!” ucap Felic lagi membuat Ersya melepaskan pelukannya dan


menghapus air matanya.


“Bagaimana caranya Fe?” tanya Ersya, ia memang pintar tapi tidak secerdik Felic.


“Lakukan hal yang sama di depan pria brengsek itu!”


“Maksudnya?’


“Lo harus cari cowok yang lebih dari dia, minimal sederajat lah sama dia! Menurut


gue lo nggak bakalan susah untuk lakuin hal itu!” ucap felic dengan penuh


kepastian.


“Mana bisa secepat ini gue dapet cowok, apa lagi gue kan janda!”


“Ada!”


ucap felic dengan pasti.


“Siapa?” tanya Ersya lagi, bukannya menjawab Felic menatap seorang pria yang sedang


duduk sambil sibuk dengan ponselnya itu, Ersya pun akhirnya juga menatap ke


titik yang sama.


Merasa suasana menjadi hening membuat dokter Frans tertarik untuk melihat mereka, ia mengerutkan keningnya bingung saat dua wanita itu menatap padanya.


“Apa?”


tanya dokter Frans.


‘Lo yakin Fe?”


“Yakin seyakin-yakinnya!” ucap Felic.


“Maksudnya jadi pacar bohongan nya Erya?” tanya dokter Frans lagi dan dua wanita itu


mengangguk.


“Nggak!”


ucap dokter Frans dengan begitu tesa, “Gue nggak mau ikutan kegilaan kalian ya,


nggak ada! Aku Cuma milik felic, nggak ada di bagi-bagi!” ucap dokter Frans.


“Sekarang aja gitu, coba kemarin-kemarin!” gerutu Felic lirih.


“Aku dengar ya!” ucap Felic sambil melotot pada suaminya itu.


“Sudah cukup, kalian jangan bertengkar lagi, kita harus memikirkan cara lain! Lagi


pula itu juga nggak mungkin, suamimu selengekan gitu, emang sih ganteng tapi


nggak yakin bisa pegang rahasia!” ucap Ersya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2