
Pelayan itu pun segera meninggalkan mereka berdua, Rangga yang masih penasaran kembali menatap Zea,
"Jadi kamu juga sering ke sini?"
"Iya! Tapi sudah lama, sudah sejak tiga bulan laku aku tidak ke sini lagi!"
"Ada apa?"
"Biasanya aku ke sini sama suami aku!"
"Karena suami kamu sibuk ya makanya tidak bisa menemin kamu ke sini!" Rangga merasa aneh saat Zea mengatakan tentang suaminya, ada perasaan bersalah yang hinggap dalam lubuk hatinya tapi ia tidak tahu apa alasannya merasa bersalah, sedangkan ia baru beberapa kali bertemu dengan wanita hamil di depannya itu.
"Sudah, sekarang katakan padaku kenapa kamu suka tempat ini?" Zea segera mengalihkan pembicaraan setelah merasa pembicaraan mereka tidak lagi hangat.
"Entahlah, tapi aku hanya merasa tempat ini begitu istimewa, saat pertama kali melihatnya, aku langsung tertarik dengan tempat ini, bahkan hampir setiap hari aku ke sini!"
Aku seperti sedang menunggu seseorang di sini ...., batin Rangga. Ia seperti sedang mengumpulkan beberapa bayangan kabur yang sering kali hinggap saat berada di tempat ini. Dan hari ini semakin jelas.
Bayangan seorang wanita dengan pakaian khas minimarket tengah duduk dengannya, bercanda dengannya tapi sayangnya ia tidak bisa mengingat wajahnya dengan jelas.
Hingga akhirnya makanan pesanan mereka datang,
"Mari makan!" ucap Zea sambil mulai menyantap makannya tapi hal itu membuat Rangga tertegun di buatnya.
"Ada apa, kenapa menatapku seperti itu?"
"Tidak, bisa ulangi kata-kata mu barusan!"
"Kata yang mana?"
"Yang tadi!"
"Mari makan?" tanya Zea mengingat apa yang di katakan tadi.
"Hmmm, iya, bisa katakan sekali lagi?"
Zea pun tersenyum, walaupun tidak yakin ia sudah bisa merasakan kalau suaminya sudah mulai bisa mengingat hal-hal kecil tentangnya,
"Mari makan!" ucapnya sambil tersenyum.
"Rasanya kata-kata itu begitu familiar di telingaku!"
__ADS_1
"Mungkin karena memang kamu terbiasa dengan kata itu!"
"Mungkin!"
Zea memilih melanjutkan makannya begitu juga dengan Rangga. Zea tidak mau membuat Rangga berpikir terlalu keras, tetap saja beberapa hal kecil itu berhasil membuat Rangga memikirkannya.
Seragam minimarket itu ...., seolah mendapatkan sebuah petunjuk. Rangga beberapa kali mengingat tentang seragam minimarket yang di pakai oleh seorang wanita.
"Apa setelah ini kita bisa ngobrol lagi?" tanya Rangga kemudian. setelah makanan mereka habis.
Tentu ...., aku tentu akan sangat senang Ga ..., Zea tersenyum bahagia mendengar pertanyaan dari Rangga.
"Atau kamu tidak enak dengan suami kamu, aku bisa minta ijin padanya?"
"Tidak, tidak pa pa. Dia pasti maklum, tentu kapan saja kamu mau! Lagi pula dalam waktu dekat ini mungkin kita akan sering bertemu!"
"Benarkah?"
"Mungkin saja!" ucap Zea sambil tersenyum dan hal itu Rangga kira hanya sebuah candaan yang Zea lontarkan.
Akhirnya setalah selesai makan, Rangga pun bersiap untuk mengantar Zea pulang, mereka kini sudah berada di dalam mobil.
Sebuah lampu lalu lintas menyala merah membuat mobil yang mereka tumpangi terpaksa berhenti,
"Tidak perlu, mungkin nanti kita bisa bertemu lagi!" ucap Zea begitu yakin.
Rangga tersenyum, "Aku merasa kamu itu kadang begitu tahu apa yang akan kita alami selanjutnya!"
Ha ha ha
Zea kali ini benar-benar tertawa mendengan candaan Rangga, "Kayaknya memang aku berbakat menjadi peramal!"
Obrolan mereka terpaksa kembali terhenti saat lampu lalu lintas itu berubah warna menjadi hijau, Rangga memacu mobilnya bersamaan dengan mobil-mobil di sebelahnya
"Aku harus mengantarmu ke mana sekarang?"
"Nanti aku akan kasih tahu kalau sudah dekat!"
"Baiklah!"
Setelah menempuh perjalana selama lima belas menit akhirnya mobil pun sampai di depan sebuah rumah yang begitu besar dengan pagar yang tinggi, dari luar sudah terlihat beberapa penjaga yang berjaga di luar,
__ADS_1
"Ini rumah kamu?"
"Bukan, ini rumah bibiku!"
"Benarkah? Bibimu kaya juga!?" gumam Rangga.
"Aku turun ya!"
"Hemm, terimakasih ya atas hari ini!" ucap Rangga sebelum Zea benar-benar turun.
"Aku juga, terimakasih ya, senang bisa ngobrol banyak sama kamu, sudah temani aku periksa kandungan juga, anak aku pasti ikut senang!"
"Masuklah dulu, aku akan pergi setelah kamu masuk!"
Zea pun melambaikan tangannya setelah turun dari mobil dan Rangga benar-benar melakukan seperti ucapannya, ia sama sekali tidak pergi sebelum Zea masuk ke rumah itu.
Kedatangan Zea langsung di sambut oleh bibi, tampak bibi begitu gembira,
"Bagaimana kencan hari ini nyonya?"
Zea tidak kalah senangnya, ia sampai memeluk bibi, "Bibi, terimakasih banyak, Zea senang sekali hari ini. Bi, bibi dari mana dapat ide seperti itu?"
"Kebetulan tadi nona Ersya telpon ke rumah, menanyakan persiapan nyonya buat pesta nanti malam, trus bibi bilang aja kalau nyonya pergi ke klinik kandungan, dan ternyata nona Ersya punya rencana bagus untuk hal itu!"
"Rangga benar-benar manis bi, dia masih sama seperti dulu!"
"Benarkah nyonya?, bibi jadi kangen sama tuan Rangga!"
"Sabar ya bi, Zea jamin tidak sampai satu bulan rangga pasti sudah mengingat semuanya. Aku tidak mau sampai Rangga benar-benar menikah dengan wanita itu!"
"Iya, nyonya harus lebih semangat lagi!" ucap bibi sambil memberi semangat pada Zea.
"Pasti bi!"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...