
Setelah kepulangan dokter Frans, Felic dengan langkah lunglai memasuki rumah. Ia tidak
tahu apa yang ia putuskan itu benar atau salah, tapi melihat wajah ceria ibunya
dapat menguatkan hatinya. setidaknya keputusannya kali ini akan membuat hati orang tuanya begitu bahagia.
“Fe ….,mana Frans? Sudah pulang?” tanya ibu yang sedang sibuk dengan baju yang akan di pakai di acar pernikahan Felic besok, dokter Frans tidak hanya membawakan gaun pengantin Felic tapi juga seluruh keluarga.
“Sudah bu!”
“Padahal ibu tadi mau bilang terimakasih loh sama dia, ibu kan jadi nggak perlu
repot-repot panggil tukang sewa gaun pengantin!”
"Ibu ini , suka banget ngelesnya ...., bilang aja emang nungguin gaun dari Frans. kata Frans tadi sudah hubungi ibu duluan!" mendengarkan penuturan Felic, ibu hanya tersenyum tampa bersalah.
"Tapi kalau mau bilang makasihnya beneran lo Fe ....!"
“Besok aja lah bu, terimakasihnya, besok juga ketemu!”
Felic melenggang begitu saja meninggalkan ibunya. Ia sudah sangat lelah dengan hari
ini. Omongan pedas dari beberapa tetangga sedikit banyak telah melukai hatinya.
Nggak nikah salah, nikah salah, nggak punya anak salah, punya anak salah.
Memang jika kita terus mendengarkan omongan mereka tidak akan pernah ada
habisnya.
Pagi ini dokter Frans terlihat begitu sibuk dengan persiapan pernikahannya. Walaupun
pernikahan itu tidak dilandasi dengan cinta, tapi ia akan tetap mengedepankan
komitmen yang telah ia buat. Komitmen yang di buat dengan sungguh-sungguh pasti
hasilnya akan baik.
Dokter Frans mendatangkan perancang busana untuk baju pengantinnya. Setelah siap
dengan semua persiapannya, ia juga menghubungi anak buahnya yang mengurus
masalah surat-menyurat dan memastikan kalau suratnya sudah beres. Selain itu ia
juga menyewa sebuah kendaran yang akan di tumpangi oleh kedua sahabatnya,
karena jika tidak seperti itu ia khawatir jika sahabat-sahabat sultannya itu
akan membawa mobil dengan harga selangit itu.
“Bi Molly …, aku berangkat dulu ya. Doain semuanya lancar!”
“Amiiin tuan …, dan segera bawa pulang ke sini ya . biar rumah ini menjadi lengkap jika
ada nyonya dan anak-anak kecil!”
“Astaga bi Molly ini ngomong apa sih …, anak ….!?” Ucap dokter Frans tak percaya dengan
apa yang di katakan oleh bi Molly.
Bagaimana ia bisa memikirkan soal anak jika pernikahan mereka saja tidak dilandasi dengan cinta, apa mungkin hubungan pernikahan mereka akan sama seperti rumah tangga- rumah tangga pada umumnya, hubungan
intim yang menjurus pada seorang anak. Dokter Frans menertawakan dirinya sendiri.
Sedangkan di rumah Felic sudah terlihat ramai dengan tetangga yang berdatangan, ibu Felic sedang sibuk menyuapkan semuanya. Lisa membatu Felic merias diri bersama putranya. Walaupun sudah ada perias khusus, Lisa tetap saja memastikan kalau kakaknya
akan terlihat cantik.
Felic juga tidak lupa memberi tahu Ersya, sahabatnya. Walaupun dadakan tapi Felic
tetap menyempatkan diri. Ersya yang baru datang tidak sabar ingin menemui
sahabatnya itu. Setelah bertemu dnegan ibu Felic di bawah, Ersya segera naik ke
kamar Felic, ia sudah sangat hafal dengan seluk-beluk rumah itu.
“Fe …, lo keterlaluan ya, nikah nggak bilang-bilang sama gue!” protes Ersya. Felic
yang terkejut dengan kedatangan Ersya segera menoleh ke arah sahabatnya itu.
“Kan sudah gue kasih tahu …!”
“Tapi nggak gini dong, sekarang nikah lo baru ngasih tahunya kemarin!” keluh Ersya
tetap tidak terima.
“Emang nikahnya dadakan! Jadi nggak usah protes Sya!”
“Emang pangeran kodok mana yang bakalan nikah sama lo, atau jangan-jangan lo nikah
sama Rangga!” ucap Ersya menduga-duga sambil menutup mulutnya yang terkejut
sendiri dengan ucapannya.
__ADS_1
“Ya nggak lah Sya. Rangga udah punya pacar. Lo lihat sendiri kan pas reoni dia
gandeng cewek!”
“Tapi siapa tahu itu bukan ceweknya!” Ersya masih dengan pendapatnya. Felic menghembuskan nafas beratnya.
Seandainya ....., andai-andai itu benar , pasti gue nggak usah nunggu selama ini buat mastiin jika cinta gue hanya bertepuk sebelah tangan ....
“Lengket gitu kayak prangko, apanya kalau bukan ceweknya!” mood Felic jadi jelek
mengingat betapa mesranya Rangga saat itu dengan teman ceweknya. Walau
bagaimanapun, hatinya masih untuk pria itu. Walaupun cinta monyet tapi cintanya
begitu besar untuk pria itu.
“Sudahlah kak Ersya, jangan goda kak Felic terus. Lagian kak kalau kakak lihat nanti
calon suaminya kak Felic …., cuakep bageeeet, nggak ketulungan deh cakepnya,
apalagi pas dia senyum …, senyumnya bener-bener memabukan!” ucap Lisa sambil
membayangkan betapa tampannya dokter Frans.
“Beneran …, lo nggak bohong Lis?” Tanya Ersya penasarang.
“Buat apa kak, Lisa bohong! Nggak ada untungnya!”
Lisa dan Ersya jadi menggosipkan dokter Frans, Ersya begitu penasarang setelah
mendapat gambaran ketampanan calon suami Felic. Ia jadi tidak sabar untuk
segera melihatnya.
“Fe …., kata ayah kamu. Mempelai prianya sudah menunggu di masjid. Ayo cepetan
turun!” teriak ibu Felic dari bawah. Semua yang ada di ruangan itu jadi
terdiam.
“Baik bu!” felic pun segera berdiri, ia melihat pantulan dirinya di dalam cemin,
begitu cantik. Gaun pengantin itu begitu pas di tubuhnya di tambah riasan di
wajahnya, benar-benar merubah Felic menjadi seorang putri nan cantik jelita.
Ersya dan Lisa mengiringi langkah Felic di sisi kanan dan kirinya, mereka memegangi
gaun Felic yang menjulang di lantai. Sedangkan keponakannya entah sudah siapa
Mereka pun mengiringi langkah Felic menuju ke masjid, mereka menuju ke masjid dengan
berjalan kaki karena rumah dengan masjid jaraknya tidak begitu jauh hanya
sekitar 20 meter saja.
Dokter Frans yang sudah sampai di tempat akad nikah, ia terus mondar mandir menunggu
seseorang. Ia sungguh berharap mereka tidak akan datang terlambat.
“Mudah-mudahan mereka melakukan seperti apa yang gue suruh …., aduh …, gue sungguh tidak tenang!” keluh dokter Frans. Seseorang tiba-tiba memegang pundaknya, dengan
reflek dokter Frans pun menoleh ke orang itu.
“Paman….!” Ternyata ayah Felic sudah berdiri di belakangnya.
“Jangan cemas begitu, pengantinmu sebentar lagi juga datang, tapi ayah sudah minta
orang untuk memberitahu kalau kamu sudah datang!”
Dokter Frans pun tersenyum, sumpah demi apapun kali ini memang ia begitu gugup. Ini
pengalaman pertamanya menikah, tangannya berkeringat dan sesekali ia harus
mengusapkannya pada jas hitamnya.
“Iya paman …!”
“Sebentar lagi kamu akan jadi putraku, jadi sudah sepatutnya kamu memanggilku ayah!”
“I-iya…, ayah!”
Kali ini dokter Frans lebih terlihat seperti orang bodoh, gugup tak beralasan,
apalagi saat ekor matanya menangkap sosok yang sedang berjalan begitu anggun
menuju ke arahnya. Wanita itu begitu cantik dan anggun. Gaun putingya membuatnya
tampak seperti putri raja.
“Itu yang kita bicarakan sudah datang! Sambutlah dia, pengantinmu!” ucap ayah Felic,
awalnya dokter Frans tampak terkejut. Tapi kemudian senyum kembali merekah di
__ADS_1
bibirnya, ia pun berjalan menghampiri Felic dan berdiri tepat di depannya.
Ersya dan Lisa sedikit menjauh dari Felic.
Dokter Frans mengulurkan tangannya, meminta Felic untuk menyambutnya. Felic pun dengan ragu meraih tangan dokter Frans tapi senyumnya terus mengembang bersama langkah mereka, mereka berjalan beriringan memasuki masjid dengan tangan yang saling
bertaut.
“Ya ampun …, aku di buat meleleh dengan senyumnya …..!” ucap Ersya mengagumi
ketampanan dokter Frans.
“Kan tadi sudah aku bilang kak, nggak percaya sih …!”
“Ya ampuuun …, Felic simpan di mana sih cowok setampan itu ….!”
Dokter Frans mengajak Felic duduk di depan penghulu, mereka duduk berdampingan.
‘bagaimana? Sudah bisa di mulai?” Tanya penghulu.
“Belum pak penghulu, tolong tunggu sebentar …., sahabat-sahabat saya belum datang!”
ucap dokter Frans menahan agar tidak di laksanakan pernikahan dului sebelum
Agra dan Rendi datang. Karena dari pihaknya hanya mereka berdua yang ia undang.
“Baiklah …, kita tunggu sampai lima belas menit, kalau lima belas menit mereka tidak
datang, terpaksa di tinggal ya!”
“baik pak! Ya sudah biar saya tunggu di depan, siapa tahu mereka kesasar di jalan!”
“Iya….!”
Dokter Frans pun permisi meninggalkan semua orang dan berdiri di depan masjid, ia
mondar-mandir menunggu kedua sahabatnya. Senyumnya kembali mengembang saat
matanya melihat sebuah angkot yang berhenti di seberang jalan, ia ingat sekali
dengan angkot itu.
“Akhirnya mereka datang juga …., memang ya kalau orang elit, cari yang blusukan kayak
cari jarum di tumpukan jerami!” gumam dokter Frans.
Rendi dan Agra pun segera memarkirkan angkotnya. Mereka turun bersamaan, di depan
masjid itu. Dokter Frans sudah menyambut
kedatangan mereka. Ia tersenyum pada kedua sahabatnya itu.
“Lo beneran nikah atau mau drama sih?” Tanya Agra pada dr. Frans.
“Ya nikah lah …, tapi ini ceritanya panjang, tapi ingat jangan ngomongin harta di
sini ok …!" ucap dokter Frans sambil menatap Agra, tapi kemudian ia teringat pada sahabat satunya, ia menoleh kepada sahabat balok es nya ,
"Heh balok es …, ngerti kan yang gue maksud?”
“Iya!” jawab Rendi singkat. Dengan nada dinginya seperti biasa.
“Ayo masuk, kalian sudah di tunggu. Bersikap sewajarnya …!” dr. Frans lagi-lagi
memperingatkan sahabat-sahabat sultrannya itu.
“Iya ngerti …!”
Mereka pun masuk ke dalam masjid, di sana sudah ada pak penghulu dan orang tua calon
istri dr. Frans dan calon istrinya juga. Beberapa saksi juga,mereka menyambut
kedatangan Rendi dan Agra dengan sangat ramah.
“astaga …, sekarang bukan Cuma satu, tapi tiga cowok tampan. Sejak kapan
malaikat-malaikat itu di bolehkan turun dari langit!” bisik Ersya pada Lisa, ia
begitu mengagumu ketampanan tida sahabat itu.
“Iya kak …., sungguh aku terpesona …., suamiku…, mana suamiku? Aku jadi
merindukanmu!”
Agra dan Rendi duduk tepat di belakang dokter Frans, ia berlaku sebagai saksi untuk
dokter Frans.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘❤️❤️