
Melihat sebegitu yakinnya Zea, Rangga pun akhirnya bisa menepis keraguan itu.
"Baiklah, bagaimana bisa kita mulai sekarang? Saya sudah mengecek semua berkasnya!" ucap Zea memulai semuanya. Zea pun menunjukkan beberapa hal yang di rasa kurang tepat di berkas itu, dengan begitu antusias Rangga mendengarkannya. Berdasarkan informasi yang ia dapat bahkan Zea tidak mengenyam pendidikan perkuliahan tapi ia bisa menjelaskan dengan begitu detail.
Kenapa segala hal yang menyangkut dirinya selalu membuatku kagum? Rangga bukan lagi memperhatikan apa yang di jelaskan oleh Zea, tapi saat ini ia lebih tertarik untuk menatap wajah wanita yang tengah hamil itu.
"Bagaimana? Apa kamu setuju?" pertanyaan Zea seketika menyadarkan Rangga.
"Ahhh iya, saya setuju!"
"Bagiamana, bisa kita pergi sekarang?"
"Pergi?"
"Iya, kita melihat tempatnya langsung agar besok kita sudah bisa memulai semuanya!"
"Baiklah, ayo!"
Rangga pun segera berdiri dari duduknya, mempersilahkan Zea untuk berjalan di depannya,
"Tidak, kita berjalan bersamaan saja!"
"Baiklah!"
Mereka pun meninggalkan ruangan itu, berlahan bersama-sama menuju ke lobi,
Seseorang yang baru datang, melihat mereka berjalan bersama segera menghampiri,
"Rangga!?"
Miska berjalan cepat menghampiri mereka, wajahnya tampak di penuhi kemarahan dan tidak suka, ingin rasanya segera mengusir Zea dari sisi Rangga saat ini juga.
Melihat tatapan Miska yang begitu kesal pada Zea, Rangga segera menarik tangan Miska agar tidak mendekat pada Zea, entah dapat insting dari mana yang pasti ia ingin sekali melindungi Zea dari siapapun termasuk jika itu Miska.
"Miska, kamu di sini?" tanya Rangga dengan tatapan mengintimidasi.
Miska berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan cengkeraman tangan Rangga di lengan atasnya, cengkeraman itu begitu kuat hingga ia kesulitan untuk melepasnya, "Iya, kalian kenapa berdua-duaan seperti ini?"
"Kami harus melakukan satu pekerjaan yang sama! Jadi bisa kan jangan ganggu kami!?"
"Enggak, enggak boleh."
"Dasar egois!"
"Kamu yang egois, lepasin ga!?" Miska kembali meronta, melihat lengan Miska yang memerah Rangga pun akhirnya memilih melepasnya.
"Sakit tahu!" Zea mengusap lengannya yang memerah tapi sejurus kemudian tatapannya beralih tajam pada Zea, "Zea bukan kamu yang harusnya bekerja sama Rangga tapi aku!"
Dengan cepat mendorong tubuh Zea tapi beruntung tuan Seno datang tepat waktu dan menahan tubuh Zea agar tidak jatuh.
"Miska apa yang kamu lakukan?" ucap Rangga dan tuan Seno bersamaan dengan wajah marah.
"Aku nggak suka dia mengambil semua yang aku miliki!"
"Apa kamu tidak salah!?" kali ini tuan Seno berbicara dengan penuh ancaman.
__ADS_1
"Pa, seharusnya proyek ini Miska yang lakuin bukan Zea!" kali ini suara Miska melemah, ia tahu pria paruh baya itu sekarang tengah menahan amarah yang begitu besar.
"Menurutmu apa kamu masih pantas?"
"Tapi aku lebih pantas dari pada dia!" Miska menunjukkan pada Zea dengan tatapan kesal.
"Pantas? Kamu tidak ngaca dulu sebelum ke sini?. Lihat ini jam berapa? kamu semalam merengek minta di masukkan ke dalam perusahaan tapi kamu datang jam segini, perusahaan mulai beroperasi jam delapan pagi dan kamu jam dua belas baru datang, mau jadi apa perusahaan ini jika yang megang semuanya seperti kamu!"
"Tapi pa, Miska punya alasan kenapa Miska terlambat!"
"Sudah jangan banyak alasan, kamu sudah terlalu banyak alasan. kalau kamu benar-benar berniat untuk bekerja, ikut saya sekarang!"
"Tapi pa_!"
Ucapan Miska berhasil membuat tuan Seno berhenti sebentar dan kembali memberi tatapan dingin pada putri tirinya itu,
"Ikut atau tidak sama sekali!"
"Baiklah!" kali ini miska benar-benar tidak bisa berkutik,
Akhirnya ia tidak punya pilihan lain selain membiarkan Zea dan rangga pergi, ia harus ikut dengan papanya kalau ingin bekerja di sana.
Tuan Seno pun mengajak Miska ke ruangannya, terlihat tuan Seno menghubungi seseorang.
Selang beberapa menit akhirnya pintu kembali di ketuk dan ajudan pribadi tuan Seno datang dengan membawa sebuah seragam.
"Ini seragam yang tuan minta!"
"Berikan padanya!"
Meski hanya melihat sekilas tapi ia sudah langsung tahu seragam apa yang tengah di bawa ajudan papanya,
"Sudah cukup selama ini saya memanjakanmu dan menjadikanmu anak yang tidak bertanggung jawab, sekarang sudah waktunya saya mendidik kamu sebagaimana yang seharusnya saya lakukan sejak dulu!"
"Mendidik apa pa, maksudnya menyaksikan putri papa cleaning servis? Itu yang papa maksud sebagai mendidik? Ini tidak adil, Zea mendapatkan posisi yang bagus di sini, sedangkan aku_! Papa benar-benar keterlaluan!"
"Kamu harus bekerja mulai dari bawah jika ingin mendapat kepercayaan papa lagi! Posisi itu sudah pernah kamu dapat dan ternyata kamu gagal!"
"Jadi nanti jika putri kesayangan papa itu gagal, dia juga akan mendapat posisi yang sama dengan Miska?"
"Bisa jadi!"
Melihat papanya yang sudah tidak bisa di tawar lagi membuat Miska benar-benar kehabisan kata-kata, sepertinya pria paruh baya itu benar-benar serius dengan ucapannya.
"Tapi pa, cleaning servis? Ini keterlaluan pa? aku bisa jadi apa aja tapi jangan cleaning servis pa, mau di taruh di mana muka Miska?"
"Kalau kamu masih punya muka, kamu seharusnya tidak melakukan kesalahan yang sama berulang kali!"
"Pa, ayolah!"
"Keputusan papa sudah bulat!"
Miska begitu kesal dan menyambar seragam barunya itu dan berlalu begitu saja dengan penuh kemarahan. Ia tidak sabar untuk menemui mamanya, ia ingin mengadukan semuanya pada mamanya. Ia ingin mamanya membela dan membuat keputusan sang papa berubah.
"Ke butik xxx, pak!"
__ADS_1
"Baik!"
Taksi yang di tumpanginya segera meninggalkan perusahaan. Hanya butuh waktu sepuluh menit dan taksi yang membawanya sampai di depan butik milik mamanya,
Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam butik dan di tangannya masih menenteng seragam cleaning servis.
"Mama di mana?" tanyanya dengan arogan pada karyawan butik.
"Ibu di dalam! Tapi_!" Miska tidak menunggu hingga karyawan itu selesai bicara, ia langsung menylonong ke ruangan mamanya, tapi matanya seolah tercekat saat melihat apa yang di lakukan mamanya.
"Mama!?"
Teriakan Miska membuat dua orang di dalam ruangan itu terkejut. Nyonya Widya tengah bermesraan dengan seorang pria muda yang seumuran dengan putrinya itu.
"Miska, kamu bisa mengetuk pintu dulu kan!"
Miska tidak mengindahkan ucapan mamanya, ia segera menarik pria yang seumuran dengannya itu menjauh dari mamanya,
"Pergi kamu dari sini, pergi!"
Nyonya Widya pun memberi kode pada pria itu untuk pergi,
Kini di ruangan itu tinggal Miska dan mamanya, Miska begitu marah hingga melempar seragam barunya di atas meja kerja mamanya,
"Mama keterlaluan, bisa-bisanya mama berbuat seperti itu. Mama tahu papa kasih Miska seragam itu buat kerja dan di sini mama malah enak-enakan dengan berondong, benar-benar menjijikkan!"
"Ayolah Miska, mama cuma butuh hiburan. Papa kamu cuek banget sama mama, apa yang bisa mama lakuin?"
"Tapi bukan sama berondong seumuran dengan Miska juga ma, kalau bisa cari pengusaha kaya, jangan yang kayak gitu!"
"Lupakan tentang dia, sekarang ceritakan sama mama apa yang terjadi!"
Setalah berhasil mengendalikan emosinya, Miska pun mulai bercerita.
"Papa kamu keterlaluan sekali!"
"Maka dari itu ma, Miska juga nggak mau jadi cleaning servis!"
"Tapi sayang, kamu harus mengambil hati papa kamu kembali!"
"Walaupun dengan menjadi cleaning servis?"
"Iya!"
"Mama sama gilanya ya sama papa, Miska nggak mau lah ma!"
"Coba kamu pikirkan, kalau kamu nggak mau berarti kesempatan kamu buat masuk perusahaan itu dan ketemu Rangga akan hilang!"
"Entah lah, Miska pusing. Miska pergi dulu!" Miska memilih pergi dari pada di pusingkan dengan segala rencana yang mamanya buat. Ia benar-benar harus mencari hiburan saat ini.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...