Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Persiapan pernikahan


__ADS_3

Setelah selesai dengan pembicaraannya bersama orang tua Felic, dokter Frans pun segera


menghubungi anak buahnya dan menyerahkan semua urusan surat-menyurat pada anak


buahnya.


“Urus semua ini, dan lusa harus sudah siap semua!” ucap dokter Frans p[ada anak


buahnya, berbeda dengan kedua sahabatnya, walaupun ia menyerahkan urusannya


pada anak buahnya, dokter Frans lebih suka ikut campur dalam urusan itu. Ia


menghubungi pihak pengadilan agama dan memberitahukan perihal urusannya itu.


“Hallo!”


“Iya …, ada yang bisa kami bantu dokter Frans?”


“Sebentar lagi anak buah saya akan datang ke tempat bapak, jadi saya berharap anda akan


mempermudah urusannya!”


“tentu dokter, kami akan membantu sebaik mungkin, kalau boleh tahu ada urusan apa anak


buah dokter ke pengadilan agama?”


“Ada urusan surat menyurat dan mendaftarkan diri untuk sebuah pernikahan!”


“Pernikahan? Kalau boleh tahu, pernikahan siapa dok?”


“Pernikahan saya ….!”


“Dokter mau menikah, wah ini berita yang luar biasa, saya ikut senang. Selamat atas


rencana pernikahannya, semoga acaranya lancer. Jadi kapan acaranya?”


“Lusa …, jadi saya minta dengan sangat agar urusannya di percepat untuk besok!”


“Tentu dokter, tentu ….!”


“terimakasih!”


Dokter Frans mengakhiri panggilan telponnya, sikap dokter Frans yang supel itu


memudahkannya untuk bergaul dengan siapa saja. Sebenarnya dokter Frans baru


mengenal pria yang bekerja di pengadilan agama itu, mereka saling mengenal saat


istri dari pegawai pengadilan itu menjadi pasiennya, hubungan antara dokter dan


pasien itu berubah menjadi hubungan pertemanan. Kemampuan dokter Frans dalam


menangani pasiennya, membuatnya sering kali di jadikan dokter favorit.


“Sekarang apa lagi yang harus gue lakuin? Astaga …., kenapa gue jadi lupa menghubungi


Agra dan Rendi, gue tidak punya siapa-siapa selain mereka. Mereka harus menjadi


waliku kan!”


Dokter Frans benar-benar di buat heboh dengan pernikahan dadakannya. Ia tidak memiliki


banyak persiapan, bahkan ia tidak tahu apa yang harus di siapkan. Ia memilih


untuk menuju ke rumah besar, rumah nyonya Ratih.


Sudah malam, pasti Agra sudah pulang dari kantor, karena semenjak punya istri Agra


tidak pernah lembur, kalaupun lembur itupun sangat langka. Ia lebih suka

__ADS_1


membawa pekerjaannya ke rumah kalau memang sangat diperlukan.


Dokter Frans melewati gerbang tinggi itu, ia tidak perlu menunjukkan kartu identitas


karena penjaga sudah sangat hafal siapa dokter Frans, dokter Frans sudah


seperti tuan di rumah itu, nyonya Ratih menganggap dokter Frans sebagai


putranya juga, seperti Rendi.


Ia segera turun dari mobilnya, pelayan sudah menyambutnya di depan pintu, mereka


sepertinya sudah sangat hafal dengan tugasnya masing-masing. Pelayan itu


menunduk hormat pada dokter Frans setelah membukakan pintu.


“Selamat malam tuan!” sapa pelayan itu dengan masih menundukkan kepalanya. Itu adalah


aturan di rumah besar, pelayan dilarang menatap majikannya. Walaupun tidak


tertulis, tapi itu seperti peraturan yang tidak tersurat dan wajib di patuhi.


“Selamat malam, apa Agra nya di rumah?” Tanya dokter Frans sambil mengedarkan


pandangannya, tapi manik matanya menemukan sosok yang sedang menuruni tangga, sosok anggun dan penuh wibawa itu, dia nyonya Ratih. Walaupun banyak kerutan di


wajahnya, tapi wanita itu masih tetap terlihat anggun dan cantik dengan segala


etitutnya sebagai seorang ningrat.


“Ibu!” ucap dokter Frans, ia pun segera menghampiri wanita yang menghentikan


langkahnya di ujung tangga ketika melihat kedatangan dokter Frans.


“Bagaimana kabar ibu?”


“Lama tidak mengunjungi ibumu, apa kau melupakan ibumu?”


“bagaimana pekerjaanmu?”


“Semua baik ibu!”


“Ibu dengar, akhir-akhir ini kau sering mengunjungi rumah seorang gadis?”


Bagaimana ibu bisa mengetahuinya


…., padahal akan gue nggak memberitahu siapapun! batin dokter Frans, ia cukup terkejut dengan pertanyaan ibu angkatnya. Tapi setelah


di pikir-pikir apa yang tidak bisa di ketahui oleh ibu angkatnya itu jika anak


buahnya bertebaran di mana-mana.


“Jangan kira jika ibumu ini tidak mengetahui apapun, sekarang katakan pada ibu!”


perintah nyonya Ratih pada dokter Frans. Walaupun bukan putra kandungnya, tapi


rasa sayangnya pada dokter Frans dan rendi sama besar dengan sayangnya dengan Agra.


Beliau tidak pernah melepaskan pengawasan dari keempat putranya, Divta juga


termasuk.


“Namanya Felicia Daryl, bu! Kami berencana menikah lusa, tapi dia tidak mengeetahui


siapa Frans sebenarnya!”


“Kenapa?” Tanya nyonya Ratih lagi.


“Karena dia berasal dari keluarga sederhana!”

__ADS_1


“Lalu?”


“Frans cuma tidak mau, karena status Frans membuat dia berubah pikiran, biarkan semua


berjalan seperti saharusnya ibu. Frans harap ibu tidak merasa kecewa dengan


tindakan Frans!”


“baiklah jika itu maumu, ibu hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu. Tapi iingat jangan


sampai melakukan sesuatu hal yang bisa merugikan dirimu sendiri!”


“tentu ibu …, terimakasih atas pengertiannya, kalau begitu Frans menemui Agra dulu


ibu!”


“Agra di ruang kerjanya!”


Akhirnya dokter Frans pun menuju ke ruangan Agra, sahabatnya setelah berpamitan pada ibu


angkatnya. Tapi belum sampai di ruang kerja Agra, langkahnya kembali etrhenti


karena kehadiran malaikat kecil di rumah itu.


“uncle dokter!”


“Hey hallo …, Sagara …, sudah besar aja kamu! Di kasih makan apa sama bapak kamu,


hingga cepet gede gini!” ucap dokter Frans sambil menunduk dan menggunakan


tangannya sebagai penyangga yang terhubung dengan lututnya.


“Uncle yang kurang makan, makanya uncle nggak bertambah tinggi. Oh iya uncle …,


rambutnya nggak rapi!” protes Sagara membuat dokter Frans berdecak.


“Dasar titisannya Agra, reseknya sama kayak bapaknya!” gumam dokter Frans dengan suara


rendah sambil memalingkan wajahnya adri Sagara supaya sagara tidak bisa


mendengarnya.


“Gara dengar uncle ….!”


“Iya iya …, uncle nyerah deh …., nanti uncle rapiin deh rambut uncle biar kayak pak


tentara!” ucap dokter Frans sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Ya sudah uncle, Gara banyak urusan. Jadi jangan ganggu gara!” ucap Sagara sambil


berlalu begitu saja dari hadapan dokter Frans membuat dokter Frans menatap


punggung Sagara tak percaya.


“Perasaan tadi dia yang nyapa duluan, tapi kenapa gue yang di salahin sih …., memang ya


kalau sudah titisannya nggak bisa belok dikit. Semoga sabar deh tuh Abimanyu!”


gerutu dokter Frans. Ia pun segera kembali melanjutkan langkahnya menuju ke


ruang kerja Agra. Ia sudah sangat hafal dengan tata letak rumah itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 😘❤️❤️❤️


__ADS_2