Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Jengkol


__ADS_3

"Ini makanan apa?" tanya Tisya saat melihat makanan yang terlihat begitu asing.


"Ini namanya semur jengkol!"


"Semur jengkol? Baunya aneh gini sih ....?"


"Di coba dulu ...., jangan banyak ngeluh ....!" ucap Wilson sambil menyodorkan sendoknya ke depan mulut Tisya membuat Tisya sedikit memundurkan kepalanya.


"Aneh baunya!" keluh Tisya lagi.


"Mau makan atau nggak?" tanya Wilson dan Tisya tetap menutup rapat bibirnya.


"Ya udah kalau nggak mau aku makan sendiri!" ucap wilson sambil menarik kembali sendoknya dan melahapnya sendiri.


Wilson pun dengan lahap memakan makanannya hingga hampir habis. Tisya begitu tergoda dengan cara makan Wilson yang terlihat begitu lahap.


Tisya pun mulai tertarik untuk mencobanya, ia memotong satu jengkol dan mencampurnya dengan sesendok nasi, lalu dengan perlahan memasukkannya ke dalam mulutnya.


Mulutnya terlihat perlahan-lahan mengunyah, ada sensasi yang berbeda saat memakannya. Rasanya seperti meminta untuk terus memakannya.


Tisya pun mengulangnya hingga beberapa kali, menyisakan sedikit di piringnya.


"Gimana enak kan?" tanya Wilson sambil memiringkan senyumnya menatap Tisya dan Tisya pun mengangguk sambil tersenyum dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


"Enak banget ....!" ucap Tisya dengan masih sibuk mengunyah makanannya .


Belum tahu aja gimana baunya ....., batin Wilson sambil tersenyum menatap Tisya.


Mereka pun menyelesaikan makannya. Setelah memastikan makanannya habis Wilson pun berdiri dari duduknya.


"Mau ke mana?" tanya Tisya.


"Mau ke kamar mandi, tapi ingat jangan mencuci piring sendiri, tunggu aku kembali!"


"Nggak mau banget jauh-jauh sama aku!?" goda Tisya.


"Itttssss ....!"


Wilson tidak mempedulikan godaan dari Tisya, ia tetap berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Dan tidak berapa lama ia kembali menghampiri Tisya, Tisya sudah mulai menumpuk piring kotor dan gelas di atas meja hendak membawanya ke tempat cucian piring.


Wilson pun membantu membawakan sampah bungkus makanan dan membuang nya di tempat sampah. Mereka kembali merapikan peralatan makannya, dan lagi Wilson merasa ragu untuk membiarkan Tisya mengerjakan semuanya sendiri bisa-bisa Tisya menghabiskan semua perabotan nya gara-gara pecah.


"Aku kok ngerasa ada bau apa gitu yah ....!" ucap Tisya sambil meletakkan piringnya di rak piring. Wilson hanya terus tersenyum membuat Tisya semakin curiga.


"Kamu ngerjain aku ya?" tanya Tisya curiga.


"Siapa juga yang ngerjain kamu, kurang kerjaan banget ..., itu bau dari mulut kamu sendiri!"

__ADS_1


"Mulutku ....???" tanya Tisya penasaran, ia sangat menjaga kesehatan mulutnya mana mungkin mulutnya bau.


"Bohong ya? Mulut kamu ya?" tanya Tisya lagi.


"Enak aja, aku sudah gosok gigi, jadi nggak bau!"


"Gosok gigi? Maksudnya apa nih?" tanya Tisya semakin curiga.


"Jengkol itu enak tapi bikin bau mulut ....!" ucap Wilson lagi.


Tisya pun segera mundur dan mencium aroma mulutnya sendiri dengan menahannya menggunakan telapak tangannya.


Ahhh iya bau .....


Tisya pun beralih menatap Wilson yang terus tersenyum.


"Wilsoooooon .....! Kamu mengerjai ku ....!" teriak Tisya dan berlari menuju ke kamarnya. Wilson malah semakin mengerahkan tawanya melihat wajah panik Tisya saat mengetahui jika mulutnya bau.


...****...


Di Desa , malam jam 20.00 wib


Berbeda dari di kota, di tempat ini jelas saja Felic tidak bisa meminta apa saja.


"Di sini nggak ada ya yang jual ayam bakar?" tanya Felic saat melihat iklan ayam bakar di dalam tv.


Felic sedang duduk dengan punggung dan kepala yang bersandar pada dada suaminya, kakinya berselonjor di sofa kecil itu sambil menonton acara kesukaannya. Sinetron yang lagi viral akhir-akhir ini.


"Kenapa?" tanya dokter Frans.


"Nggak ...., cuma aku ngrasa enak kayaknya makan itu!" ucap Felic.


"Maksudnya kamu ngidam?" tanya dokter Frans lagi.


"Besok aja sih sayang belinya pas kita sudah pulang, besok kan sudah akan pulang!" ucap Felic yang tidak mau merepotkan orang lain, walaupun dalam hatinya sangat ingin memakan ayam bakar.


"Nggak ...., biar aku minta paman Richard buat cariin ayam!" ucap dokter Frans sambil mengambil ponselnya, kebetulan paman Richard sudah kembali ke kamarnya karena tidak ada pekerjaan lagi begitupun dengan bi Molly.


Bukan hanya memanggil paman Richard tapi dokter Frans juga memanggil bi Molly.


Felic hanya bisa tercengang, melihat betapa antusiasnya suaminya saat ia sedang ngidam.


"Carikan ayam bakar di sekitar sini, kalau nggak ada, buat aja!" ucap dokter Frans.


"Baik tuan!"


Paman Richard dan bi Molly berbagi tugas, paman Richard yang mencari dan memotong ayamnya sedangkan bi Molly menyiapkan bumbu dan tempat untuk membakar ayamnya.


Untung saja ada salah satu warna yang memang membudi daya ayam potong, dan untungnya lagi mereka juga menyediakan jasa potong ayam, paman Richard kembali dengan ayam yang sudah bersih terpotong.

__ADS_1


"Sayang ...., ayo dong kamu aja ya masak!" ucap Felic pada suaminya.


"Kamu serius?" tanya dokter Frans dan Felic pun mengangguk.


Dokter Frans terpaksa mengikuti kemauan istrinya, ia turun tangan memasak bersama bi Molly.


Melihat ayam mentah itu, dokter Frans kembali merasakan mual seperti awal-awal istrinya hamil.


Kenapa dengan perutku ini ...., rasanya pengen muntah ...., batin dokter Frans sambil mulai mengoleskan bumbu ke ayam mentah itu.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Felic saat melihat wajah suaminya yang sudah mulai memerah.


"Tidak pa pa ...., tapi rasanya aku pengen muntah ...!" ucap dokter Frans sambil berlari menuju ke kamar mandi dan ....


Hoeks hoeks hoeks


Dokter Frans memuntahkan isi perutnya, Felic pun mengikuti suaminya itu dan memijat tengkuknya.


Setelah selesai, Felic memapah tubuh suaminya yang terlihat lemas itu ke sofa tempat mereka duduk tadi. Dokter Frans menyandarkan kepalanya di sandaran sofa karena terasa sangat berat, tangannya beberapa kali memijat kepalanya.


"Biar aku oleskan minyak anginnya!" ucap Felic sambil menyingkap kaos suaminya sebatas dada dan mengoleskan minyak anginnya itu ke seluruh permukaan kulit perut dokter Frans.


"Gimana sudah lebih baik kan?" tanya Felic sambil menutup kembali perut suaminya itu dan dokter Frans mengangguk.


"Tapi maaf ya Fe, aku nggak bisa lanjutin bakar ayamnya, liat ayam mentah tiba-tiba pengen muntah aja!"


"Iya ...., lagian aku juga nggak maksa kan tadi!"


Akhirnya bi Molly dan paman Richard yang melanjutkan pekerjaan dokter Frans. Setelah satu jam akhirnya ayam pun selesai di masak.


"Silahkan nyonya!" ucap bi Molly menyodorkan pada Felic dan dokter Frans. Dokter Frans yang mencium aroma ayam bakar, kembali perutnya terasa di kocok.


Dengan cepat dokter Frans pun berlari menuju ke kamar mandi, dan untuk kedua kalinya ia memuntahkan semua isi perutnya.


"Ada apa sih?!" gumam Felic bingung.


"Kayaknya tuan dokter sedang mengalami kehamilan simpatik!" ucap bi Molly menjelaskan.


Felic pun menoleh pada bi Molly memberi isyarat agar bi Molly melanjutkan ucapannya


"Iya nyonya, yang kena mual kayaknya tuan dokter bukan nyonya!"


"Ada ya kayak gitu!" gumam Felic sambil kembali melanjutkan makannya, ia memilih mengabaikan suaminya itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2