Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (26. Ada apa dengan Zea?)


__ADS_3

Malam hari seperti biasa Rangga menjemput Zea di toko, tapi saat sampai di depan toko ia melihat orang lain yang sedang berjaga. Itu anaknya koh Chang.


"Selamat malam, apa Zea_?" belum sampai Rangga menyelesaikan pertanyaan pria muda itu langsung tahu maksud pertanyaan Rangga.


"Zea ijin sedari siang, katanya kurang enak badan tadi!"


"Begitu ya, terimakasih!" Rangga pun dengan langkah ragu meninggalkan toko. Ia tidak yakin jika istrinya itu kurang enak badan, tadi pagi masih baik-baik saja. Dan lagi, ia sudah dari rumah. Jika memang benar kurang enak badan, seharusnya sudah di rumah sekarang.


Rangga pun segera merogoh saku celananya, mencari benda pipih miliknya. Ia menghubungi sang istri, terhubung tapi tidak di angkat.


"Astaga ....., kamu di mana sih Zea?" Rangga mulai kalap, ia mengusap kasar rambut depannya hingga membuat dahinya sedikit tertarik ke belakang.


Ia mulai menyusuri jalan, ia tidak tahu tempat-tempat mana yang sering di kunjungi Zea selain rumah mereka.


Rangga berjalan tanpa arah, mencari tempat-tempat yang kemungkinan di kunjungi oleh Zea. Taman terdekat sampai kafe,


Aku bahkan tidak terlalu mengenalmu ....


Setelah ke sana kemari, akhirnya Rangga memutuskan kembali ke rumah, jarum jam di tangannya sudah menunjuk angka sepuluh, sudah terlalu larut. Ia berharap Zea sudah kembali ke rumah.


Dan benar saja, saat ia berjalan menyusuri jalan pulang. Ia melihat Zea sedang berjalan jauh di depannya.


"Zea!" gumamnya pelan.


"Zea!" kali ini Rangga memanggil Zea dengan keras tapi tidak membuat wanita itu berbalik menatapnya.


Dengan cepat rangga berlari menyusul dan memeluknya dari belakang,


"Aku begitu mengkhawatirkan mu, dari mana saja? Kenapa telpon ku tidak kamu angkat?"


"Ga, lepasin! Aku capek!" jawab Zea dingin, Rangga pun segera melepaskan pelukannya.


"Baiklah, kalau begitu aku gendong ya?"


"Nggak perlu!"


Zea pun memilih berjalan meninggalkan Rangga. Rangga hanya bisa pasrah dan mengikuti Zea di belakangnya. Ia tahu Zea sedang tidak baik-baik saja saat ini, ia tidak mau terlalu banyak bertanya, yang akan membuat Zea tidak nyaman.


Ia terus mengikuti Zea, mendahuluinya saat sampai di depan pintu dan segera membukakan pintu untuk Zea.


"Aku tadi sudah pesan makanan, biar aku panasi dulu ya, kita makan!"

__ADS_1


"Aku nggak lapar, aku mau tidur!" Zea segera menuju ke kamar dan menutup kembali kamar tidurnya. Rangga masih berdiri di tempatnya. Rasa laparnya tadi hilang sudah melihat Zea seperti itu.


"Sebenarnya kamu kenapa sih?" gumam Rangga, ia pun kemudian menuju ke dapur, kembali memasukkan makanan ke lemari pendingin. Ia tidak berniat untuk makan sendiri.


Ia juga tidak berniat untuk membuat Zea bicara untuk saat ini.


Rangga memilih menggelar kasur lantainya di depan tv dan tidur di sana.


...***...


Rangga sudah siap dengan pakaian rapinya, ia juga sudah membuat sarapan untuk mereka berdua. Tapi kamar itu masih tetap tertutup.


Rangga ragu untuk mengetuk pintu, tapi karena tidak kunjung keluar akhirnya Rangga pun benar-benar memutuskan untuk mengetuk pintu itu.


Tok


tok


Tok


"Ze, sudah pagi, kamu nggak kerja?"


Tidak ada jawaban dari dalam, hal itu membuat Rangga semakin cemas. Ia pun menarik handle pintu dan ternyata tidak terkunci.


"Ze, kamu nggak kerja? Sebenarnya aku malah senang kalau kamu di rumah saja, biarkan aku yang kerja!"


Tapi tetap saja celotehan Rangga tidak mendapat respon dari Zea. Ia pun mendekati Zea dan duduk di samping Zea.


"Ze, nggak ingin bangun?" Rangga pun mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Zea.


Ia begitu terkejut, saking terkejutnya ia sampai menarik kembali tangannya,


"Badan kamu panas! Kamu demam!"


Rangga terlihat panik, ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.


"Aku harus apa?"


Rangga pun langsung menghubungi perusahaan jika ia ijin hari ini, dia juga memberi pesan jika ada pekerjaan yang mendesak bisa mengirim ke email nya. Ia tidak mungkin meninggalkan Zea dalam keadaan seperti ini.


Setelah menghubungi perusahaan, ia juga menghubungi dokter kenalannya dan memintanya datang.

__ADS_1


"Sabar ya sayang, dokter akan segera datang!"


Ia terus mengusap tangan Zea , sesekali mengecup keningnya. Ia tidak punya pengalaman apapun untuk merawat orang sakit, ia tidak tahu harus melakukan apa kecuali menunggu dokter datang.


Beruntung dokter segera datang dan memeriksa keadaan Zea.


"Bagaimana dok, apa yang terjadi dengan istri saya?"


"Sepertinya istri pak Rangga hanya kecapekan! Jangan khawatir, saya sudah memberikan suntikan, itu akan berefek tidur untuk beberapa jam ke depan dan saya akan memberikan obat pereda demam dan pak Rangga bisa melakukan pengompresan agar panasnya turun! Usahakan saat dia bangun langsung kasih makan sedikit-sedikit, ia punya riwayat lambung sebelumnya!"


"Baik dok, terimakasih!"


"Sama-sama pak Rangga, kalau begitu saya permisi!"


Setelah dokter pergi, Rangga pun segera melakukan apa yang di perintahkan dokter. Ia mengompres Zea dengan air dingin.


Ia menemani Zea sepanjang hari, mengganti kompresnya saat sudah tidak dingin.


Sesekali ia juga melakukan pekerjaannya yang di kirim lewat email. Ia bahkan membawa laptopnya di samping Zea agar ia bisa melihat perkembangan Zea.


Rangga juga sudah membuatkan bubur untuk zea agar saat Zea bangun, ia bisa langsung memberikannya.


Akhirnya tepat siang hari, Zea terbangun. Rangga pun dengan cepat memberi Zea bubur dan meminumkan obatnya.


"Sedikit lagi ya sayang?" Rangga terus membujuk agar istrinya mau membuka mulutnya. Tapi beberapa kali Zea menggelengkan kepalanya. Wajahnya begitu pucat dengan bibir yang kering.


"Nggak mau, sudah!" Zea merasa mulutnya begitu pahit. Ia hanya bisa berucap dengan suara lemahnya.


"Baiklah, minum lagi obatnya ya! Lalu istirahat lagi!" akhirnya Rangga menyerah, ia tidak bisa memaksa Zea lagi saat Zea sudah hampir memuntahkan kembali makanannya.


Zea hanya mengangguk, tubuhnya terasa begitu lemas. Ia bahkan tidak bisa membuka matanya terlalu lama. Setelah makan dan meminum obatnya, ia kembali tertidur.


Hari pun berlalu begitu lambat, langit biru berganti gelap. Tapi pria itu masih tampak terjaga, ia bahkan tidak sempat mengganti bajunya. Kemeja yang ia kenakan sedari pagi hanya ia singsingkan di kedua lengannya. Dua kancing di bagian atas terbuka.


Beberapa kali ia mengecek suhu tubuh sang istri, setelah merasa suhu tubuhnya turun barulah pria itu memutuskan untuk mengistirahatkan matanya sejenak dengan tangan yang menggengam erat tangan sang istri, ini sudah menjelang pagi tapi dia baru saja memejamkan matanya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2