
Seharusnya ia punya waktu untuk cuti satu hari lagi karena ia ijin selama empat hari, tapi Zea merasa tidak punya alasan untuk tetap di rumah. Jika terlalu lama di rumah dan diam saja akan membuat hatinya semakin sakit.
Seperti biasa Zea memilih untuk berangkat ke minimarket, ia sudah menghubungi koh Chang agar hari ini putranya tidak perlu datang.
Seperti biasa Zea membuka rolling door nya sendiri, tapi sepasang tangan tiba-tiba muncul dan membantunya.
"Mas Rizal!?" Zea cukup terkejut saat melihat siapa pemilik sepasang tangan itu.
"Aku kira kamu masih ijin! gimana kakimu, sudah sembuh?" Rizal tidak mempedulikan tatapan Zea, ia tetap sibuk membuka rolling dor yang di pegang oleh Zea.
Setelah terbuka, Zea pun segera menatap Rizal,
"Mas, bisa nggak mulai sekarang tidak usah dekat-dekat sama Zea lagi!?"
Rizal menatap Zea dengan tatapan yang sulit di artikan, "Pasti karena Rangga kan?"
"Salah satunya, tapi bukan itu saja! Aku tidak mau membuat orang lain salah faham!"
"Jika ini karena Rangga aku tidak peduli, kamu seharusnya melakukan hal yang sama jika tidak emiliki hubungan istimewa dengan Rangga!"
"Mas Rizal!"
"Ze_!"
Akhirnya Zea menyerah, ia memilih memulai pekerjaannya walaupun jalannya masih pincang. Ia memulai merapikan barang-barang yang ada di rak dan mencatat beberapa barang yang sudah habis. Ternyata Rizal memperhatikan hal itu.
"Ze, kakimu harus di bawa ke dokter, takutnya parah!" Zea yang menyadari ternyata Rizal masih mengikutinya pun segera menghentikan pekerjaannya.
"Tidak pa pa mas, ini hanya terkilir biasa! Nanti juga sembuh sendiri!"
"Tapi hal kecil juga tidak bisa di abaikan begitu saja!"
Hehhhh ....
Ia menghela nafas dan menutup buku catatannya, menatap ke arah pria tengah berdiri di sampingnya itu, "Mas ini sudah siang, sebaiknya mas Rizal berangkat kerja, akan menjadi contoh yang tidak baik untuk karyawan mas Rizal kalau mas Rizal datangnya terlambat!"
"Baiklah aku berangkat dulu, tapi hubungi aku jika terjadi sesuatu, atau kamu butuh ke dokter!"
"Iya!"
Akhirnya Rizal pergi juga, sebenarnya hal itu Zea sengaja gunakan sebagai alasan saja agar pria itu segera pergi. Ia tidak mau bertambah lagi masalahnya, selama ini ia bersembunyi untuk mengindari masalah, tapi sekarang malah terjebak dengan masalah yang baru.
Sudah cukup Rangga salah faham, ia tidak mau kesalahan itu berlangsung lama. atau setidaknya ia ingin segera mendapat kejelasan tentang hubungan mereka.
Tapi mengingat wanita yang bersama Rangga semalam, membuatnya merasa jauh di bawahnya. Sangat jauh.
Hehhhh
Helaan nafas mengakhiri lamunannya.
"Aku adalah Zea, Zea ini tidak boleh menyerah dengan keadaan!"
***
Di tempat lain tampak sekali saat ini Rangga sedang tidak fokus,
__ADS_1
"Paman Rangga, paman sedang sedih ya?" pertanyaan dari gadis kecil itu menyadarkannya.
Rangga segera menoleh dan tersenyum, "Nggak pa pa, hanya sedang ada masalah sedikit saja!"
"Kalau paman pengen curhat, curhat saja sama Divia, pasti akan Divia kasih solusi!
Rangga tersenyum dan mengusap kepala gadis kecil itu,
"Anak kecil nggak usah kepo sama urusan orang dewasa! Kamu cepat sekali tumbuhnya, pasti mama Ersya sudah mengajarimu yang tidak-tidak ya? Jangan sampai kamu cerewet seperti dia, paman bisa tambah pusing nanti!"
"Yeeeee, paman nih yang nggak peka! Kata Moms, paman sedang jatuh cinta makanya paman banyak bengong sekarang!"
"Hahhh?" Rangga cukup terkejut dengan apa yang di bicarakan Divia, ia belum pernah menceritakan hubungannya dengan Zea pada siapapun.
"Moms kamu tahu dari mana?"
"Jadi benar kan?" Divia malah menggoda Rangga.
"Bukuan seperti itu!"
"Tenang saja paman, anggap ini rahasia kita berdua!"
"Sudah sampai, cepat turun, nanti aku akan menjemputmu lagi!" kini mobil mereka sudah sampai di depan sekolah Divia, seperti sudah menjadi rutinitas jika Rangga yang mengantar Divia ke sekolah. Div hanya sesekali saja mengantar karena pria gila kerja itu sering di sibukkan dengan jadwal meetingnya yang begitu padat, bahkan memiliki anak dua dan calon anak ke tiganya membuatnya semakin giat bekerja.
Ya saat ini Ersya tengah hamil ke dua, menjadi anak ke tiga untuk Div.
Setelah mengantar Divia, Rangga kembali melajukan mobilnya. Ia juga harus datang ke kantor, membantu pekerjaan sekretaris Evan.
Seharian di sibukkan dengan pekerjaan kantor membuatnya sedikit bisa melupakan masalahnya dengan Zea.
"Terimakasih paman!" Divia selalu tidak sabar untuk pulang kembali ke rumah karena adik kecilnya.
"Sama-sama!"
Setelah memastikan Divia masuk ke dalam rumah, Rangga pun bersiap untuk masuk kembali ke dalam mobil,
"Ga!" tapi sebuah panggilan menghentikan langkahnya, ia kembali menatap ke arah pintu dan ia bisa melihat Ersya di sana sedang berjalan menghampirinya.
"Sya!"
"Bisa kita bicara sebentar!?"
"Bisa!"
Mereka pun memilih gazebo yang ada di samping rumah besar itu, di depan terlalu banyak penjaga membuatnya tidak begitu nyaman untuk bicara.
"Selamat ya atas kehamilan mu, aku baru tahu dari Divia tadi!"
"Sama-sama!"
"Tadi mau bicara apa?"
"Kamu sedang jatuh cinta ya Ga? Gadis mana yang telah berhasil mengambil hati kamu?"
"Apa sih Sya!?"
__ADS_1
"Kamu sahabatku dari dulu, kamu Felic, aku ingin kamu mau membagi kebahagiaan itu sama aku! Kata mas Div, kamu sering menghampiri seorang gadis minimarket, siapa?"
"Pak Div tahu?" Rangga sampai terkejut mengetahuinya, selama ini Div tidak pernah membicarakan ini padanya.
"Kenapa terkejut seperti itu, kamu bukan baru mengenalnya setahun dua tahun kan? Sejak Divia masih bayi bahkan kamu sudah bekerja bersama mas Div!"
"Hehhhh ...., aku hampir lupa tentang hal itu!"
"Jadi bagaimana? Siap cerita kan sekarang?" Ersya benar-benar menunggu pria itu untuk memulai bercerita.
"Ya, itu benar! Bahkan aku telah memutuskan menikahinya, tapi....!" Rangga pun akhirnya menceritakan semuanya pada Ersya. Bahkan tentang pertengkaran mereka saat ini.
"Lo salah Ga!"
"Kok jadi aku yang salah!"
"Ya iya, lo malah datang sama cewek lain, untung tuh cewek nggak di gampar sama istri lo gara-gara marah, kalau gue udah gue gampar tuh cewek sekalian Lo nya gue cincang!"
"Untung bukan Lo!"
"Lagian Ga, kalau masalah gaun! Bisa aja kan mas Rizal juga ngasih gaun dan Lo juga nggak kasih ciri spesifik tentang gaun yang Lo kasih!"
"Ciie masih panggil mas aja Ama Abang gue!?" Rangga kerap merasa geli saat Ersya memanggil mas pada Rizal.
"Jangan mulai ya Ga, gue jitak Lo, sekalian biar semua wanita gebukin Lo, emang siapa sih nama istri Lo yang Lo sembunyiin itu, misterius sekali!?"
"Ntar juga tahu sendiri! terus gimana solusinya sekarang?" Rangga sengaja menyembunyikan nama Zea karena Ersya mengenal dan mempunyai kesan buruk pada istrinya.
"Ya Lo minta maaf dan tanya kebenarannya, jangan tiba-tiba main kasar!"
"Iya kalau dia mau maafin gue, kalau enggak?"
"Mati aja loh!" Ersya benar-benar kesal dengan sahabatnya itu.
"Sya, gue serius!"
"Gue juga serius! Lagian jadi laki-laki lembek banget, udah cukup ya Felic di ambil orang jangan Sampek yang ini juga di ambil orang juga!"
"Doa Lo jelek banget sih!?" gerutu Rangga.
"Abis Lo gampang banget nyerahnya, berjuang dong!"
"Udah ah, gue balik ke kantor! Bye!"
Rangga pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan Ersya. Ia harus segera kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya ya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1