
Kali ini tangan sebelah Felic beralih mencengkeram lengan kemeja dokter Frans, ia
hendak mengucapkan sesuatu tapi bibirnya terlalu kaku karena begitu menahan
rasa sakit.
“Kita ke rumah sakit!” ucap dokter Frans tanpa menunggu jawaban dari Felic ia segera
mengenakan kembali sabuk pengamannya, dengan cepat ia menginjak pedal gas yang
terpenting sekarang agar cepat sampai di rumah sakit.
“Lo tahan ya!” ucap dokter Frans lagi sambil menguatkan felic, ia menggenggam erat tangan
Felic sepanjang jalan dan sesekali mengusap peluh Felic yang terus bermunculan. Wajahnya begitu khawatir.
Hingga akhirnya mereka sampai di depan gedung rumah sakit FrAd Medika, rumah sakit
milik dokter Frans. Dokter Frans segera turun dari mobil.
“Suster…!” teriak dokter Frans, melihat atasannya datang dnegan wajah paniknya, dokter dan suster segera menghampirinya dengan membawa bed monitoring. Dengan cepat dokter Frans membopong tubuh felic dan menidurkannya di sana.
Felic di bawa ke ruang IGD, dokter frans ikut bersama dokter yang lainnya, kini Felic
sudah tidak sadarkan diri karena terlalu menahan sakit. Asistennya sudah siap
dengan jas putih yang ia pasangkan pada dokter Frans, dokter frans dengan
cekatan menangani Felic sedangkan dokter yang lainnya hanya membantunya saja.
Setelah setengah jam dalam penanganan akhirnya Felic di pindahkan ke ruang perawatan, ia di pindahkan ke ruang VVIP. Dokter Frans langsung memberi tahu keluarga Felic, ia juga mengirimkan surat dokter ke tempat kerja Felic dan mengatakan kalau felic tidak bisa kembali ke tempat kerja karena sedang sakit.
Dokter Frans tidak meninggalkan felic sedetik pun, ia terus memantau keadaan Felic.
Beberapa kali melakukan pemeriksaan pada detak nadi Felic, memastikan jika wanita itu tetap stabil.
“sudah tahu punya maag dan asam lambung, masih juga nekat makan pedas!” gerutu dokter
Frans sambil mengamati wajah pucat itu.
Dokter Frans menarik kursi yang ada di samping tempat tidur Felic. Ia duduk dan
mengamati wajah itu, wajah yang beberapa minggu ini selalu ia tatap setiap
bangun tidur.
“Apa gue salah udah maksain buat pertahanin lo? Gue punya hak kan atas lo? Jadi
jangan terlalu sedih, gue nggak suka lihat lo lemah kayak gini, jika gue harus
nglepasin lo, nanti pas lo udah jadi wanita yang kuat yang mampu menatap diri
lo sendiri dengan bangga!” ucap dokter Frans dengan penuh kelukaan. Baru kali
ini ia bisa begitu peduli pada seorang wanita dengan begitu banyaknya.
Ibu Felic yang mendengar kabar tentang felic yang masuk rumah sakit, ia segera
menemui suaminya yang sedang ada tugas jaga. Ayah Felic pun tidak kalah
__ADS_1
hebohnya, ia segera meminta ijin untuk pulang lebih cepat, untung saja satu
sift tidak hanya satu orang yang jaga, jadi tidak terlalu masalah jika ada
yang minta ijin.
Mereka pun segera menuju ke rumah sakit yang di katakan oleh dokter Frans, sesampai di
rumah sakit mereka pun langsung di sambut oleh asisten dokter Frans.
“Dengan orang tua nona Felic?” tanya dokter Sifa.
“Iya…., kok tahu ya bu dokter ini?’ tanya ibu Felic heran.
“Dokter Frans sudah menunggu, mari saya antar!” ucap dokter Sifa dengan mempersilahkan
orang tua Felic untuk mengikutinya.
Ibu Felic pun menarik bahu ayah Felic dan berbisik padanya.
“Yah…, sebenarnya menantu kita ini siapa ya, kok kita di perlakukan istimewa sekali!”
“Ayah juga nggak tahu bu, nanti kita tanya saja sama orangnya!”
Mereka pun mengikuti langkah dokter Sifa, tapi langkahnya terhenti saat mereka
memasuki kawasan ruang rawat VVIP.
“Bu dokter!” panggil ayah Felic.
“Iya?” tanya dokter Sifa sambil menoleh ke arah mereka.
mendengarkan pertanyaan orang tua Felic, dokter Sifa pun tersenyum dengan
lembutnya.
“Nona Felic di dalam, mari saya antar masuk!” ucap dokter Sifa, ia tidak mungkin
mengatakan apapun yang dokter Frans tidak minta, ia hanya di beri tugas untuk
menyambut orang tua Felic dan memastikan mereka sampai di ruangan felic setelah
itu tugasnya selesai.
Dokter Sifa pun membukakan pintu ruang VVIP itu dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
Dengan rasa ragu mereka pun masuk, tapi keraguan mereka segera hilang saat
melihat menantunya sedang duduk menunggui putrinya di sana. Mereka mempercepat
langkahnya sedangkan dokter Sifa yang sudah selesai tugasnya segera meninggalkan mereka.
“Frans!”
ucap ayah Felic, dokter Frans yang merasa namanya di panggil segera menoleh dan
melihat orang tua Felic sudah berdiri di belakangnya.
“Ayah mertua …, ibu mertua…!” dokter Frans segera berdiri dan mundur beberapa langkah supaya orang tua Felic mudah melihat putrinya.
__ADS_1
“Felic kenapa, apa yang terjadi dengannya?” tanya ibu Felic.
“Lambungnya terluka! Asam lambungnya naik!”
“Kok bisa?”
“Tadi kami beli bakso mercon, maafkan saya, saya tidak tahu kalau Felic punya riwayat
sakit maag dan asam lambung!” ucap dokter Frans menyesal, ia merasa bersalah
karena dialah yang mengajak Felic makan bakso mercon.
“Tidak pa pa …., kamu kan belum tahu, yang terpenting Felic kan sudah mendapatkan penanganan!” ucap ayah Felic sambil menepuk punggung dokter Frans.
“Memang Felic suka sekali seperti itu, dia suka diam-diam makan makanan pedas! Tapi biasanya ia tidak sampai masuk rumah sakit!”
Dokter Frans tidak mungkin mengatakan jika Felic sengaja makan sambel karena ia
sedang patah hati,
“Bagaimana keadaannya?’ tanya ayah felic kemudian.
“Luka di lambungnya butuh penanganan, jadi untuk beberapa hari ini Felic harus
menginap di rumah sakit sampai keadaannya benar-benar membaik!’
Ayah Felic menganggukkan kepalanya tanda mengerti, tapi wajahnya berubah pias saat
memperhatikan ruangan yang luas itu.
Ruangan itu tidak seperti kamar inap rumah
sakit tapi lebih mirip dengan kamar hotel, begitu luas, ada Tv, lemari es, kamar mandi air hangat, AC, tempat tidur yang luas, sofa yang besar. Hal itu malah membuat ayah Felic takut.
“Tapi Frans, tidak bisakah Felic di rawat di ruang rawat kelas dua saja, ini terlalu
mewah. Ayah tidak bisa membayangkan berapa harga satu malamnya menginap di
sini!” ucap ayah cemas, ia sambil mencari brosur rumah sakit, setelah mengedarkan pandangannya, akhirnya tatapannya tertuju pada sebuah rak buku yang
di sana juga terdapat brosur rumah sakit. Ayah Felic pun segera menghampirinya
dan membacanya. Matanya segera membelalak saat menemukan apa yang di cari, ia membaca tarif ruang VVIP, menghitung berapa nol yang tertera di kertas itu dan memastikan berulang kali.
“Frans …, ini satu malamnya 5 juta, yakin tetap mau di sini? Ayah tidak punya uang
sebanyak itu!”
Ibu Felic yang sedang fokus pada Felic pun jadi terpancing untuk ikut melihatnya,
ibu Felic ikut tercengang di buatnya. Mereka memikirkan bagaimana cara membayarnya belum lagi biaya perawatan dan obat-obatannya. Asuransi kesehatannya tidak akan bisa mengkaver semuanya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘❤️