Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (41. Rumah siapa?)


__ADS_3

Zea tidak bisa menjawab apa-apa apalagi saat ini tatapan mama Rangga sedang mengintimidasi, seolah-olah memintanya untuk segera pergi.


"Maaf, saya buru-buru!" Zea dengan cepat menghindar dan keluar dari toko itu. Ia sedang ingin menumpahkan air matanya saat ini.


Zea segera berlari mencari toilet, ia memilih menumpahkan air matanya di sana. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang selain menangis.


Hingga ia dadanya begitu sesak,


"Ini sudah keputusanku, seharusnya aku tidak perlu mengkhawatirkan semua ini. Pasti ada jalan!"


Zea berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri. Ini baru awal dan masih banyak lagi yang akan ia hadapi di kemudian hari.


"Zea yang ini adalah Zea yang kuat, jadi jangan khawatir Zea. Sekarang ada Rangga di sisimu!"


Zea mengakhiri tangisnya dan membersihkan sisa air matanya dan mencuci nya, menarik sudut bibirnya agar tersenyum.


Ia segera keluar, memilih tempat yang nyaman untuknya duduk. Ia membeli satu cup es krim dan mulai memakannya untuk menenangkan diri.


Sesekali ia melihat ke arah lantai bawah dan ia bisa melihat kerumunan suaminya yang tengah memasarkan produk bersama yang lainnya. Bibirnya bisa kembali tersenyum lega sekarang. Setidaknya sekarang ia punya tujuan hidup yang lebih baik.


Tepat tengah hari, Rangga segera mencari keberadaan Zea. Hanya dengan mengandalkan pesan yang di kirimkan oleh istrinya. Ia bisa menemukannya dengan cepat.


"Maaf ya telah membuatmu lama menunggu!"


"Tidak, aku baik-baik saja!"


Rangga ikut duduk dan melihat sudah ada dua cup kosong berada di depan Zea.


"Kamu memakan semua es krim ini?"


"Hmmm!" Zea menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu baik-baik saja? Ada yang menggangu perasaanmu?"


Zea sebenarnya ingin sekali menceritakan hal yang baru ia alami pada Rangga tapi ia juga tidak mau membuat hubungan antara ibu dan anak itu semakin rumit.


"Tidak ada, sungguh!"


"Hari ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, kamu mau ya?"


"Kemana?"


"Ada deh! Sebaiknya kita makan dulu, belum makan siang kan?"


"Belum!"


"Bagus!"


Mereka pun memilih salah satu food court di pusat perbelanjaan yang sama, Rangga juga meminta seseorang untuk mengantarkan mobilnya ke sana dan mengambil motornya.


"Ini mobil siapa Ga?" tanya Zea karena ini bukan mobil yang biasa di pakai oleh Rangga.


"Punya perusahaan!"


"Yahhh kok punya perusahaan sih Ga, aku kan nggak enak!"


"Becanda, ini mobil sekretaris Revan!"


"Baik sekali sekretaris Revan!"

__ADS_1


"Jangan memuji orang lain di depanku!"


"Aku kan cuma memuji temanmu!"


Rangga hanya mencubit hidung Zea melihat betapa menggemaskan wajah Zea dengan ekspresi yang seperti itu. Usianya memang sudah tiga puluh tahun tapi wajahnya masih seperti dua puluh satu tahunan.


Sebenarnya ini memang mobil Rangga yang selalu ia tinggal di perusahaan, sengaja ia memiliki dua mobil untuk memudahkannya ke mana-mana atas rekomendasi dari Div.


Rangga mengajaknya berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan besar dengan halaman yang luas. Rumah berlantai dua dengan cat yang di dominasi warna putih.


"Ini rumah siapa Ga?" wajah Zea mulai khawatir.


Rangga mendekatkan tubuhnya, membuat Zea terdiam. Ia bisa merasakan hembusan nafas Rangga yang menyapu bulu-bulu halus di wajahnya.


Tangan rangga ternyata tengah sibuk melepaskan sabuk pengaman Zea kemudian membisikkan sesuatu ke telinganya,


"Ini rumah mama sama papa!"


Zea begitu terkejut hingga ia menghempaskan tubuhnya ke belakang begitu keras, beruntung telapak tangan Rangga sudah siap sedia menghadang kepala Zea agar tidak membentur Sandara kursi.


"Ga, kamu serius?"


"Iya, aku mau hubungan kita segera terdaftar di catatan sipil!"


"Tapi Ga_!"


Rangga segera menggengam tangan Zea yang mulai dingin,


"Ada aku! Percayalah aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu sama kamu, termasuk jika mama yang melakukannya!"


Zea terdiam, ia belum siap untuk menemui orang tua suaminya, terutama mama Rangga. Apalagi dengan apa yang terjadi di mall tadi, mama Rangga pasti akan sangat marah padanya.


Walaupun ragu tapi ia juga tidak ingin membuat kecewa suaminya. Sudah terlalu lama ia berlari dari masalah, kini sudah waktunya untuk menghadapinya apapun masalah yang akan ia terima.


"Aku mau!"


Rangga tersenyum dan mengecup punggung tangan Zea,


"Terimakasih!"


Mereka pun segera turun dari mobil, rumah terlihat sepi tapi bibi segera menyambutnya di depan.


"Ya Allah mas Rangga, bibi kangen!"


"Rangga juga bi!"


Bibi melihat ke arah Zea, mengamatinya. Ia merasa tidak asing dengan wanita yang sedang bersama putra majikannya itu,


"Ini mbak yang jaga minimarket kan? kok bisa sama mas Rangga? Atau jangan-jangan gosip yang bibi dengan itu benar ya mas?"


Terlihat wajah sumringah dari bibi itu, ia orang yang paling bersyukur saat Rangga sudah menemukan tambatan hatinya. Bibi adalah saksi di mana Rangga tumbuh dan mengalami patah hati, ia sudah cukup lama bekerja di rumah Rangga. Bahkan sejak Rangga masih kecil hingga saat ini.


"Iya bi, dia Zea. Sekarang Zea adalah istri Rangga!"


"Alhamdulillah, bibi ikut seneng!"


"Papa sama Mama ada kan bi?"


"Ada mas, tapi ibu kayaknya sedang ada masalah. Sejak pulang tadi ibu marah-marah terus apalagi setelah mendapat telpon dari....!" tampak bibi ragu untuk melanjutkannya.

__ADS_1


"Ya sudah Rangga sama Zea masuk dulu ya bi!"


"Iya, silahkan mas, mbak!"


Rangga tidak pernah melepaskan tangan Zea sampai mereka berada di dalam rumah. Ia bisa melihat papanya sedang memeriksa buku nota toko.


"Pa!"


Pak Beni segera menghentikan pekerjaannya. Bibirnya langsung membentuk senyum setelah melihat putranya datang dengan seseorang yang sangat ia tunggu.


"Akhirnya kalian datang juga, kemarilah!"


Rangga pun segera mengajak Zea mendekati papanya, Zea mengulurkan tangannya pada papa mertuanya dan mencium punggung tangannya.


"Duduklah!"


Belum sampai mereka benar-benar duduk, tiba-tiba mamanya muncul dari ruangan belakang.


"Rangga!"


Rangga dan Zea pun kembali berdiri, wajah sumringah mamanya berubah kembali dengan penuh amarah.


"Ma!"


"Berani-beraninya kamu bawa perempuan murahan ini ke sini!"


"Ma, Zea istri Rangga!"


"Kamu sudah benar-benar gila, bisa-bisanya memungut perempuan jalanan ini dan kamu akui sebagai istri!"


"Ma cukup! jaga bicara mama!" pak Beni tiba-tiba ikut berdiri dan menghentikan ucapan mama Rangga agar tidak lebih menyakiti menantunya.


"Papa kok malah bentak mama sih, di depan wanita ini lagi!"


"Karena mama sangat keterlaluan!"


"Mama keterlaluan apanya, mama ini nggak mau sampai putra kita pungut wanita sembarangan!"


"Ma!"


"Ma!"


Bentak pak Beni dan rangga bersamaan.


"kalian ya, bapak dan anak sama saja. Dan kamu Rangga, sudah bersalah bikin kaki Miska retak dan sekarang kamu malah enak-enakan sama wanita tidak tahu diri ini!"


Zea yang tidak mengerti maksud mama Rangga pun segera mendongakkan kepalanya menatap suaminya. Tapi sepertinya suaminya tidak menyadari hal itu.


"Ma, itu tidak sengaja. Memang ada yang mau sengaja kecelakaan!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2