
Dokter Frans akhirnya mengalah, ia tidak mau memaksa felic karena semakin felic
tertekan akan semakin membahayakan kandungannya.
“Aku pergi ya …, selamat istirahat!” ucap dokter Frans sambil meninggalkan kecupan
di puncak kepala Felic.
Dokter Frans mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur, menyelimuti
tubuh Felic dan meninggalkannya.
Ia berhenti tepat di depan pintu berharap Felic berubah pikiran dan memintanya untuk tetap menemaninya. Tapi wanita itu
terlalu keras kepala.
Keras kepala banget sih ...., aku bisa mati kalau jauh-jauh dari kalian ...., masih mau nyiksa aku aja ...., batin dokter Frans.
Dokter menutup pintu itu dan memilih tidur di luar ruang rawat Felic, ia tidak mau kembali ke ruangannya karena takut jika sewaktu-waktu
Felic membutuhkan dirinya.
Felic kembali membalik tubuhnya menatap ke pintu setelah terdengar pintu itu di
tutup. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini tumpah juga, tubuhnya sampai
ikut terguncang bersamaan dengan air mata yang tumpah itu.
“Hiks hiks hiks hiks ….!”
Felic memegangi perutnya yang masih rata, meringkuk dalam tangisnya. Mencoba kembali
mengingat apa saja yang baru saja terjadi pada dirinya.
“Nak…, kenapa kamu harus datang di waktu yang kurang tepat, bunda pasti sangat
menyiksamu karena terlalu banyak menangis ya …! Maaf ….! Bunda janji setelah
ini tidak lagi menangis, tapi biarkan bunda menangis ya sekarang!”
Dan benar saja, Felic menangis sepanjang malam, ia bahkan tidak tidur semalaman dan
menghabiskan waktunya untuk menangis.
***
“Tuan …!” Wilson menggoyang-goyang tubuh Frans yang tertidur lelap di bangku yang berada
di depan kamar inap Felic. Menyadari jika dia sudah ketiduran, dokter Frans terhenyak
dari tidurnya dan langsung beranjak dalam posisi duduk saja walaupun matanya
masih terlihat sekali kalau dia sedang mengantuk.
“Gue ketiduran!” ucap dokter Frans. “Apa sudah pagi?”
“Sudah jam tujuh pagi, tuan!”
“Felic …!”
Dokter Frans bertambah panik saja, ia sampai melompat dari duduknya dan membuka pintu
yang masih tertutup itu.
Ia segera menghentikan langkahnya dan mengelus dadanya merasa tenang saat melihat
Felic sedang sarapan dengan di bantu perawat.
__ADS_1
Felic menyadari kedatangan dokter Frans, ia sempat melihatnya tapi kembali fokus
dengan makanannya. Sisa-sisa air matanya semalam sudah hilang, wajahnya juga
kembali cerah.
Dokter Frans melanjutkan langkahnya dan meminta perawat untuk meninggalkan mereka.
“Aku bantu ya?!” ucap dokter Frans dan mengambil sendok dan menyuapkannya pada
Felic.
“Nggak usah!” ucap Felic dingin dan mengambil alih sendok nya. Felic menyantap
makanannya sendiri dengan tangan yang tersalur dengan slang infus.
“Bagaimana keadaanmu? Apa dia nakal?” tanya dokter Frans yang sudah duduk di depannya.
Felic menghentikan kunyahan nya dan menatap dingin dokter Frans, “Wil …!”
Bukannya menjawab pertanyaan dokter Frans, Felic lebih memilih memanggil Wilson yang ia
tahu pria itu sedang berdiri di luar ruangan.
Pria berwajah blasteran itu segera masuk dan menghampiri dokter Frans dan Felic,
“Iya, nyonya!”
Felic meletakkan sendok nya kembali dan menggeser tempat makannya menjauhd ari dirinya, “Aku sudah kenyang, tolong kamu singkirkan ya …!”
“Baik nyonya …!” ucap Wilson dan langsung mendekat. Ia mengambil tempat makan Felic
yang sebelumnya ia menatap tuannya, setelah mendapat anggukan dari dokter Frans, Wilson pun melakukan apa yang di perintah Felic.
“Wil …, aku pengen minum susu hangat!” ucap Felic lagi sebelum Wilson pergi meninggalkan mereka.
yang di minta Felic segera berdiri.
“Wil …, carikan untukku!”
Wah …, di bunuh kayaknya lebih baik
deh aku dari pada diantara dua orang yang berantem gini …., batin Wilson.
Wilson hanya bisa menatap bergantian dua orang yang sedang diem-dieman itu, mau
melangkah salah tapi nggak melangkah pun juga salah.
Lagi-lagi dokter Frans harus mengalah, ia tidak mau memaksa yang malah akan membuat Felic kesal dan emosinya kembali memuncak karena saat ini kandungannya dalam keadaan
yang sangat lemah selama pendarahannya belum benar-benar selesai, keadaan Felic
masih sangat perlu di jaga.
Wilson kembali ke luar untuk mencarikan susu hangat untuk nyonya-nya yang sedang ngidam,
dokter Frans kembali duduk di tempatnya tapi tetap saja Felic tidak mau bicara
padanya.
“Fe …!” ucap dokter Frans.
Felic masih saja diam, ia malah sibuk dengan ponselnya.
Sepanjang hari Felic terus mendiamkan dokter Frans, bahkan ia memilih Wilson untuk menyiapkan semua keperluannya.
***
__ADS_1
Setelah mengetahui jika hamil, seperti sudah menjadi tradisi atau apa. Tiba-tiba saja
sang ibu bisa berubah menjadi sangat manja atau mudah marah atau sesuatu yang
kurang masuk akal.
“Wil …!”
Entah sudah berapa kali nyonya-nya itu memanggilnya. Kehadiran dokter Frans
benar-benar tidak di butuhkan oleh Felic bahkan terkesan menganggap tidak ada.
Tapi yang jadi kena getahnya si Wilson, mau manut dia yang kena marah sama tuannya
tapi mau bangkang dan nggak nurut pun nyonya-nya bisa bunuh dia hidup-hidup.
Inilah derita bawahan, moga akhir bulan bakal dapat gaji dobel nih si Wilson. (doa Author dan para netizen ini)
“Kepalaku pengen banget di elus! Tolong elusin kepala gue dong!” ucap Felic dengan spontan
membuat dokter Frans yang walaupun tidak di anggap masih saja tidak meninggalkan ruangan itu kalau tidak ada hal-hal mendesak itu segera melotot sempurna.
Ah dibunuh beneran nih gue …, pulang tinggal
nama ….
“Fe…, sama aku ya …!” ucap dokter Frans dan langsung mendekat ke Felic, saat tangannya terulur ke kepala Felic, Felic dengan cepat menepisnya.
“Wil …, cepetan! Aku mau tidur!”
Ahhh ….., mati , ya mati aja deh ….
Wilson dengan ragu mendekati Felic dan duduk di samping kepala Felic, ia mengelus
kepala nyonya nya itu walaupun matanya terus menatap tuannya yang sudah menatapnya dengan penuh kemarahan.
Felic semakin mendekatkan kepalanya hingga tubuh Wilson sampai condong ke arah Felic. Dokter Frans mengepalkan tangannya sempurna, jelas kalau sekarang dia ingin makan orang hidup-hidup, dan orang itu Wilson.
“Sudah …! Cukup!” teriak dokter Frans setelah merasa ia tidak kuat melihatnya, melihat
Felic begitu nyaman dengan tangan Wilson.
Felic yang sudah memejamkan matanya segera membuka kembali matanya, ia memicingkan
matanya menatap suaminya itu. Memang itu yangs edang ia inginkan, setahan apa
suaminya itu saat ia diperhatikan oleh orang lain.
Seharian ini Felic memang sengaja menghapus kesabaran dokter Frans, dengan terus
menjadikan Wilson sebagai sasarannya.
“Tinggalkan kami Wil!” ucap Felic,
“baik nyonya!”
Wilson bisa bernafas lega sekarang, seakan keluar dari kandang macan. Lebih baik di
tugaskan untuk melawan musuh daripada berada di antara perang dingin. Lebih menakutkan, hidup nggak hidup, mati juga enggan.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰