Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Biarkan aku sendiri


__ADS_3

Dokter Frans akhirnya mengalah, ia tidak mau memaksa felic karena semakin felic


tertekan akan semakin membahayakan kandungannya.


“Aku pergi ya …, selamat istirahat!” ucap dokter Frans sambil meninggalkan kecupan


di puncak kepala Felic.


Dokter Frans mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur, menyelimuti


tubuh Felic dan meninggalkannya.


Ia berhenti tepat di depan pintu berharap Felic berubah pikiran dan memintanya untuk tetap menemaninya. Tapi wanita itu


terlalu keras kepala.


Keras kepala banget sih ...., aku bisa mati kalau jauh-jauh dari kalian ...., masih mau nyiksa aku aja ...., batin dokter Frans.


Dokter menutup pintu itu dan memilih tidur di luar ruang rawat Felic, ia tidak mau kembali ke ruangannya karena takut jika sewaktu-waktu


Felic membutuhkan dirinya.


Felic kembali membalik tubuhnya menatap ke pintu setelah terdengar pintu itu di


tutup. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini tumpah juga, tubuhnya sampai


ikut terguncang bersamaan dengan air mata yang tumpah itu.


“Hiks hiks hiks hiks ….!”


Felic memegangi perutnya yang masih rata, meringkuk dalam tangisnya. Mencoba kembali


mengingat apa saja yang baru saja terjadi pada dirinya.


“Nak…, kenapa kamu harus datang di waktu yang kurang tepat, bunda pasti sangat


menyiksamu karena terlalu banyak menangis ya …! Maaf ….! Bunda janji setelah


ini tidak lagi menangis, tapi biarkan bunda menangis ya sekarang!”


Dan benar saja, Felic menangis sepanjang malam, ia bahkan tidak tidur semalaman dan


menghabiskan waktunya untuk menangis.


***


“Tuan …!” Wilson menggoyang-goyang tubuh Frans yang tertidur lelap di bangku yang berada


di depan kamar inap Felic. Menyadari jika dia sudah ketiduran, dokter Frans terhenyak


dari tidurnya dan langsung beranjak dalam posisi duduk saja walaupun matanya


masih terlihat sekali kalau dia sedang mengantuk.


“Gue ketiduran!” ucap dokter Frans. “Apa sudah pagi?”


“Sudah jam tujuh pagi, tuan!”


“Felic …!”


Dokter Frans bertambah panik saja, ia sampai melompat dari duduknya dan membuka pintu


yang masih tertutup itu.


Ia segera menghentikan langkahnya dan mengelus dadanya merasa tenang saat melihat


Felic sedang sarapan dengan di bantu perawat.

__ADS_1


Felic menyadari kedatangan dokter Frans, ia sempat melihatnya tapi kembali fokus


dengan makanannya. Sisa-sisa air matanya semalam sudah hilang, wajahnya juga


kembali cerah.


Dokter Frans melanjutkan langkahnya dan meminta perawat untuk meninggalkan mereka.


“Aku bantu ya?!” ucap dokter Frans dan mengambil sendok dan menyuapkannya pada


Felic.


“Nggak usah!” ucap Felic dingin dan mengambil alih sendok nya. Felic menyantap


makanannya sendiri dengan tangan yang tersalur dengan slang infus.


“Bagaimana keadaanmu? Apa dia nakal?” tanya dokter Frans yang sudah duduk di depannya.


Felic menghentikan kunyahan nya dan menatap dingin dokter Frans, “Wil …!”


Bukannya menjawab pertanyaan dokter Frans, Felic lebih memilih memanggil Wilson yang ia


tahu pria itu sedang berdiri di luar ruangan.


Pria berwajah blasteran itu segera masuk dan menghampiri dokter Frans dan Felic,


“Iya, nyonya!”


Felic meletakkan sendok nya kembali dan menggeser tempat makannya menjauhd ari dirinya, “Aku sudah kenyang, tolong kamu singkirkan ya …!”


“Baik nyonya …!” ucap Wilson dan langsung mendekat. Ia mengambil tempat makan Felic


yang sebelumnya ia menatap tuannya, setelah mendapat anggukan dari dokter Frans, Wilson pun melakukan apa yang di perintah Felic.


“Wil …, aku pengen minum susu hangat!” ucap Felic lagi sebelum Wilson pergi meninggalkan mereka.


yang di minta Felic segera berdiri.


“Wil …, carikan untukku!”


Wah …, di bunuh kayaknya lebih baik


deh aku dari pada diantara dua orang yang berantem gini …., batin Wilson.


Wilson hanya bisa menatap bergantian dua orang yang sedang diem-dieman itu, mau


melangkah salah tapi nggak melangkah pun juga salah.


Lagi-lagi dokter Frans harus mengalah, ia tidak mau memaksa yang malah akan membuat Felic kesal dan emosinya kembali memuncak karena saat ini kandungannya dalam keadaan


yang sangat lemah selama pendarahannya belum benar-benar selesai, keadaan Felic


masih sangat perlu di jaga.


Wilson kembali ke luar untuk mencarikan susu hangat untuk nyonya-nya yang sedang ngidam,


dokter Frans kembali duduk di tempatnya tapi tetap saja Felic tidak mau bicara


padanya.


“Fe …!” ucap dokter Frans.


Felic masih saja diam, ia malah sibuk dengan ponselnya.


Sepanjang hari Felic terus mendiamkan dokter Frans, bahkan ia memilih Wilson untuk menyiapkan semua keperluannya.


***

__ADS_1


Setelah mengetahui jika hamil, seperti sudah menjadi tradisi atau apa. Tiba-tiba saja


sang ibu bisa berubah menjadi sangat manja atau mudah marah atau sesuatu yang


kurang masuk akal.


“Wil …!”


Entah sudah berapa kali nyonya-nya itu memanggilnya. Kehadiran dokter Frans


benar-benar tidak di butuhkan oleh Felic bahkan terkesan menganggap tidak ada.


Tapi yang jadi kena getahnya si Wilson, mau manut dia yang kena marah sama tuannya


tapi mau bangkang dan nggak nurut pun nyonya-nya bisa bunuh dia hidup-hidup.


Inilah derita bawahan, moga akhir bulan bakal dapat gaji dobel nih si Wilson. (doa Author dan para netizen ini)


“Kepalaku pengen banget di elus! Tolong elusin kepala gue dong!” ucap Felic dengan spontan


membuat dokter Frans yang walaupun tidak di anggap masih saja tidak meninggalkan ruangan itu kalau tidak ada hal-hal mendesak itu segera melotot sempurna.


Ah dibunuh beneran nih gue …, pulang tinggal


nama ….


“Fe…, sama aku ya …!” ucap dokter Frans dan langsung mendekat ke Felic, saat tangannya terulur ke kepala Felic, Felic dengan cepat menepisnya.


“Wil …, cepetan! Aku mau tidur!”


Ahhh ….., mati , ya mati aja deh ….


Wilson dengan ragu mendekati Felic dan duduk di samping kepala Felic, ia mengelus


kepala nyonya nya itu walaupun matanya terus menatap tuannya yang sudah menatapnya dengan penuh kemarahan.


Felic semakin mendekatkan kepalanya hingga tubuh Wilson sampai condong ke arah Felic. Dokter Frans mengepalkan tangannya sempurna, jelas kalau sekarang dia ingin makan orang hidup-hidup, dan orang itu Wilson.


“Sudah …! Cukup!” teriak dokter Frans setelah merasa ia tidak kuat melihatnya, melihat


Felic begitu nyaman dengan tangan Wilson.


Felic yang sudah memejamkan matanya segera membuka kembali matanya, ia memicingkan


matanya menatap suaminya itu. Memang itu yangs edang ia inginkan, setahan apa


suaminya itu saat ia diperhatikan oleh orang lain.


Seharian ini Felic memang sengaja menghapus kesabaran dokter Frans, dengan terus


menjadikan Wilson sebagai sasarannya.


“Tinggalkan kami Wil!” ucap Felic,


“baik nyonya!”


Wilson bisa bernafas lega sekarang, seakan keluar dari kandang macan. Lebih baik di


tugaskan untuk melawan musuh daripada berada di antara perang dingin. Lebih menakutkan, hidup nggak hidup, mati juga enggan.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2