Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (122. Datang tepat waktu)


__ADS_3

Pagi hari Rangga terbangun dari tidurnya, terdengar suara ribut di luar membuatnya terpaksa beranjak dari tempat tidur sambil memegangi kepalanya yang terasa berat, "Ada apa sih ini?" gumamnya sambil sempoyongan keluar dari kamar, pintu rumahnya masih terkunci tapi di luar sungguh ramai.


Hingga ia memutar kunci rumah dan ia mendapati beberapa tetangga yang berkumpul di depan rumahnya, "Ini ada apa ya?" tanya Rangga yang merasa bingung.


Melihat Rangga keluar, seketika kericuhan yang di lakukan ibu-ibu itu akhirnya terhenti.


"Ohh jadi beneran mas Rangga, kami kira pacarnya Bu Ratna." celetup salah satu ibu itu dengan sapu di tangannya.


Sekarang Rangga mulai faham, ia ingat pemilik kontrakan yang telah ia tempati ini adalah milik ibu-ibu bernama Bu Ratna, janda kaya yang di tinggal mati suaminya.


"Apa saya bilang, makanya jangan asal nuduh!" Bu Ratna yang merasa bisa membuktikan ucapannya pun akhirnya menyerang balik apa yang di tuduhkan oleh mereka.


"Ya maaf Bu, kami kan cuma curiga! Ya sudah ayo ibu-ibu kita tinggalkan tempat ini!" sepertinya ibu-ibu yang tengah bicara adalah pelopor para ibu-ibu itu. Hingga saat ibu itu bicara, ibu-ibu yang lain pun ikut pergi.


Kini tinggal Rangga dan pemilik kontrakan, "maaf ya mas Rangga, ibu-ibu memang suka resek!"


"Iya Bu, kalau begitu biarkan saya masuk lagi. Saya akan segera pergi dari sini setelah membersihkan diri."


"Iya mas!"


Rangga pun dengan cepat masuk dan menutup kembali pintunya dari dalam membiarkan orang-orang pemilik kontrakan di luar.


Ternyata kedatangan Rangga di tengah malam membuat beberapa tetangga curiga apalagi Rangga mengendarai motor yang jelas itu bukan motornya yang dulu. Sedangkan tetangga sebelah yang melihat kedatangannya sudah pergi dari pagi buta karena ia seorang pedagang sayur di pasar.


Rangga pun segera membersihkan diri dan bersiap untuk pergi dari tempat itu. Ia tidak mau berlama-lama di sana karena bisa menimbulkan kecurigaan orang-orang. Ia tidak mau orang-orang tahu kalau di sudah ingat semuanya.


...***...


Di tempat lain, karena hari libur Zea berencana untuk jalan-jalan. Ia merasa hari akan terasa panjang tanpa bertemu dengan Rangga.


Ia pun memilih taman yang biasa mereka kunjungi dulu di dekat tempat tinggalnya yang dulu. Ia tengah merindukan siomay yang ada di tempat itu.


"Tunggu di sini aja ya, nggak pa pa. Aku juga nggak akan lama." ucap Zea pada sopir yang merangkap jadi bodyguard nya.


"Tapi maaf nona, saya harus mengikuti nona kemanapun nona pergi."


"Baiklah, tapi agak jauh nggak pa pa ya."


"Baik nona."


Akhirnya Zea pun berjalan menyusuri taman, jalan-jalan pagi cukup baik untuk kesehatan ibu hamil.


Sambil menunggu penjual siomay nya buka, Zea memilih menyusuri taman. Hampir lima belas menit ia berjalan tapi belum juga buka penjual siomay nya, "Duduk di sana dulu aja deh." gumam zea. Tapi baru saja berjalan beberapa langkah, seketika langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang cukup ia kenal tengah berjalan ke arahnya.


Kenapa lagi mas Rizal ke sini ...., Zea sebenarnya benar-benar malas berhadapan dengan pria itu.


"Hai Zee!?" sapa Rizal begitu berada di dekat Zea. Rizal mengira Zea sendiri makanya ia berani mendekati Zea, ia tidak tahu bodyguard Zea tengah mengawasi mereka dari jauh karena melihat Zea di dekati seseorang hampir saja mendekat tapi Zea segera memberi kode padanya agar tidak mendekat dulu selama tidak membahayakan.

__ADS_1


"Mas Rizal kenapa bisa di sini juga?" tanya Zea yang merasa curiga karena setiap kali ia pergi ke suatu tempat, Rizal juga ada.


"Mungkin karena memang kita jodoh, Zee!"


Zea hanya bisa tersenyum hambar, ia tidak akan termakan dengan rayuan pria di depannya itu.


"Saya capek mas, saya duduk dulu ya!" Zea pun segera kembali berjalan. Kakinya memang sudah sangat lelah karena terlalu lama berdiri, ternyata Rizal juga ikut duduk di sampingnya.


Zea sedikit menggeser duduknya, sengaja memberi jarak di antara mereka tapi ternyata Rizal menggeser duduknya agar mendekat lagi.


"Mas, bisa jauhan dikit nggak, nggak enak kalau di lihat orang!"


"Memangnya kenapa sih? Nggak ada orang juga." ucap Rizal dengan senyum buayanya. Ia bahkan sekarang mulai berani meletakkan lengannya di belakang bahu Zea hingga memegang bahu Zea.


"Mas Rizal!?" teriak Zea hampir saja berdiri, tapi ternyata tangan Rizal berhasil menahan tubuh Zea.


"Ayolah Zea sayang, aku begitu merindukanmu!" bisik Rizal sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Zea hingga Zea bisa merasakan hembusan nafas Rizal.


"Mas Rizal jangan macam-macam ya!"


Bodyguard Zea segera berjalan mendekati Zea, tapi baru setengah jalan tiba-tiba langkahnya terhenti karena seseorang lebih dulu menarik tubuh Rizal menjauh dari Zea dan ....


Bug


Bug


Bug


"Rangga!?" Zea benar-benar terkejut sampai berdiri dari duduknya, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Aku akan menghajarmu sampai mati kalau sampai kamu berani melakukan itu lagi padanya! Singkirkan tangan kotormu itu sebelum aku memotongnya!"


Rizal mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan juga memegangi perutnya, ia menatap rangga dengan penuh kebencian, "Siapa kamu, apa hak mu melakukan itu? Zea bukan siapa-siapa kamu!" Rizal sengaja mengatakan itu untuk memancing Rangga. Ia ingin tahu apakah Rangga sudah mengingat semuanya .


Zea benar-benar senang karena akhirnya Rangga begitu membelanya. Ia benar-benar merasa di cintai oleh Rangga.


"Siapapun wanita yang akan di lecehkan oleh pria sepertimu, pasti aku akan melakukan hal yang sama! Tidak perlu aku melakukan ini karena aku punya hubungan dengan seseorang! Ini masalah kemanusiaan!"


Tapi kata-kata itu justru membuat Zea kembali kecewa, ia seketika kehilangan senyumnya. Sedangkan Rizal tidak punya kata-kata lagi untuk menyerang balik Rangga.


Ia pun segera berdiri dan mengacungkan telunjuknya, "Awas kamu Ga, aku pasti akan membalas yang lebih dari yang kamu lakukan padaku hari ini!" ucapnya sambil beranjak pergi meninggalkan Zea dan Rangga.


Bodyguard Zea pun kembali ke tempat persembunyiannya tidak lupa ia juga melaporkan kejadian ini pada tuan Seno.


Rangga pun kembali menatap Zea setelah Rizal tidak terlihat lagi, "Zee!?"


"Aku tidak pa pa!" Zea kembali duduk dengan wajah kecewanya hal itu tentu membuat Rangga merasa bersalah,

__ADS_1


Ini pasti gara-gara ucapan aku ...


Rangga pun akhirnya ikut duduk di bangku yang sama dengan yang di duduki Zea. Ia bingung harus bicara apa pada istrinya itu, ia tidak mungkin mengatakan semuanya sekarang karena jika ia katakan bisa jadi itu akan membahayakan Zea, "Zee, maafkan aku ya."


"Memang kamu salah apa? Kamu kan tidak salah." ucap Zea masih dengan nada ketusnya.


"Kalau aku nggak salah kok bicaranya ketus begitu."


"Lagi pengen aja."


Hehhhh ....


Rangga kembali diam, mereka sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing. Tapi ia segera teringat dengan siomay kesukaan Zea yang ada di taman ini,


"Zee."


"Hmmm?"


"Aku traktir siomay ya, aku tahu siomay yang enak di sini. Mau nggak? Tawarannya nggak akan berlaku dua kali loh. Kalau nggak mau aku ak_!"


"Aku mau!" ucap Zea segera menyambar ucapan Rangga agar tidak di lanjutkan.


"Nah, gitu dong. Ayok!" Rangga pun segara berdiri dan mengulurkan tangannya agar Zea mau menautkan tangannya di tangannya.


Mereka pun berjalan bergandengan menuju ke penjual siomay langganan Zea.


"Zee!?"


"Hmmm?"


"Aku sudah memutuskan hubungan pertunangan ku dengan Miska."


"Hahh? Yang benar?" Zea sampai menghadang langkah Rangga memastikan.


"Hmmm!" Rangga tersenyum melihat wajah bahagia dari Zea, "Kenapa kamu yang seneng banget?"


"Ahhh!" Zea baru menyadari kalau dirinya telah tersenyum begitu lebar, "Enggak, siapa yang seneng!" Zea kembali ke posisinya dan berjalan. Walaupun ingin melepaskan tautan tangan Rangga tapi Rangga tidak berniat untuk melepaskannya, ia malah semakin mempererat genggaman tangannya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2