
Cup
Felic tiba-tiba mencium bibir dokter Frans, tapi dokter Frans tetap saja diam tanpa memberi reaksi apapun.
“Frans …, aku merindukanmu!” ucap Felic lagi saat suaminya itu tetap tidak menunjukkan reaksi apapun.
“Aku sedang tidak ingin, tidurlah …, sudah malam!” ucap dokter Frans lagi, ia memilih merebahkan tubuhnya di samping Felic.
Felic kembali mendekatkan tubuhnya, memiringkan tubuhnya menghadap suaminya itu.
"Frans ...., segitu marahnya ya sama aku, sampai kamu tidak mau menyentuhku?" tanya Felic lagi.
Aku juga ingin, tapi aku belum siap Fe ...., seandainya saja semua ini tidak terjadi ...., Dokter Frans benar-benar bingung harus bersikap bagaimana.
"Lupakan saja!" ucap Felic lalu berbalik membelakangi suaminya. Ia menyeka air matanya yang mengalir begitu saja.
Srekkkkkkk
Tapi tiba-tiba ia merasakan tubuhnya di tarik, suaminya itu tiba-tiba saja menindih tubuhnya dan mencium bibirnya dengan begitu ganas.
Bibirnya mulai mengabsen setiap jengkal wajah dan dada Felic, bahkan tangannya sudah mulai menyingkap baju yang di kenakan oleh Felic.
Tangan Felic hanya bisa mencengkeram kaos tipis suaminya itu sambil menggigit bibir bawahnya, menikmati setiap sentuhan suaminya yang sangat di rindukan.
Malam itu menjadi malam yang begitu panjang untuk dua orang yang sedang perang dingin itu.
...***...
Felic menggerakkan tubuhnya saat ia
mendengarkan ponselnya berdering. Tubuhnya terasa begitu lelah pagi ini. Ternyata sudah pagi, ia meraba tempat tidur di sampingnya.
"Ahhhh ...., sudah kosong, dimana Frans, apa dia sudah berangkat sepagi ini?!" gumamnya sambil mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya yang masuk.
Terlihat dari celah-celah gorden itu, di luar sudah terang.
"Jam berapa sekarang?" ia mulai memegangi kepalanya, agak sedikit pusing, mungkin karena kemarin ia terlalu banyak menonton televisi.
Ponselnya kembali berdering.
"Ahhhh siapa sih pagi-pagi sudah menggangu!" gerutunya. Ia segera meraba nakasnya dan menemukan benda pipih itu di atasnya.
Tanpa melihat dulu siapa yang menelpon, ia menggeser begitu saja tombol terimanya.
“hallo …!” ucapnya begitu malas.
“Hallo …, selamat pagi mbak Felicia!” sapa dari seberang sana, Felic yang tidak terlalu mengenali suara itu segera menjauhkan ponselnya dari daun telinganya dan melihat siapa yang melakukan panggilan.
Editor ....., gumam Felic. Felic begitu terkejut dan segera bangun dari tidurnya, menutup dadanya dengan selimut dan melihat kembali nama yang tertera di ponselnya ‘Mia Editor’.Ia pun kembali mendekatkan ponselnya ke daun telinganya.
“Selamat pagi …!” ucap Felic.
“Ini saya Mia, mbak Felicia …!”
"Iya mbak Mia! Ada apa ya?”
“Gimana mbak, ini sudah terlalu lama lo mbak Felicia tidak melanjutkan mengeditnya, bisa nggak jika segera di lanjut mbak, maaf ya kalau sedikit memaksa, soalnya kalau saya edit sendiri takutnya jadi berbeda makna nanti!”
Felic begitu merasa bersalah sebenarnya sama mbak Mia ini, dia sudah lama mengabaikan karyanya yang akan di bukukan.
"Ah iya mbak, maaf banget ya mbak kemarin-kemarin masih sangat sibuk!”
"Tapi sekarang sudah nggak kan mbak?" tanya dari seberang sana.
"Sudah nggak mbak!"
“Alhamdulillah, bagaimana kalau ini mbak Felicia ke kantor, bisa kan mbak?"
Kalau aku punya kesibukan lagi, mungkin aku nggak akan terlalu sakit kalau di tinggal pergi-pergi sama Frans ...., eh tapi Frans ijinin nggak ya ....? batin Felic masih sangat ragu untuk menyanggupinya.
"Gimana mbak, bisa kan?" tanya mbak Mia lagi.
Tapi kalau aku di rumah terus, aku bisa tambah stres, nggak pa pa lah paling kalau aku ke sana ....., batin Felic akhirnya memutuskan untuk menerimanya.
“Bisa mbak, saya akan ke kantor!” ucap Felic dengan sangat yakin.
“kalau gitu saya tunggu ya mbak!”
“Iya mbak!”
“Sampai ketemu di kantor!”
Setelah sambungan telponnya terputus, Felic menghembuskan nafasnya begitu dalam. Ia
meletakkan ponselnya begitu saja.
Ia cuma bisa berharap jika suaminya akan mengijinkannya untuk ke kantor penerbit.
__ADS_1
Ceklek
Felic begitu terkejut, seseorang tiba-tiba keluar dari balik pintu kamar mandi.
"Frans .....!" Felic begitu terkejut karena mengira jika suaminya sudah berangkat. Ia melihat jam yang ada di nakas.
“hah …, sudah jam tujuh, tapi kok belum berangkat!” gumam Felic.
Felic pun buru-buru bangun, ia melilit tubuhnya dengan selimut. Dengan tubuhnya hanya berbalut selimut itu ia segera berlari ke kamar mandi. Melewati suaminya begitu saja.
Ia mandi dan membersihkan diri. Kemudian berdiri di depan cermin besar di dalam kamar mandi. memperhatikan dada dan lehernya yang penuh dengan tanda merah itu.
Felic tersenyum saat mengingat apa yang di lakukan tadi malam.
"Dia ternyata juga merindukanku!" gumamnya sambil memegangi tanda merah yang bertebaran di tubuhnya itu. Ia segera memakai kembali baju mandinya dan keluar dari dalam kamar mandi.
Ia melihat suaminya sudah siap dengan kemeja santai dan jaket warna putihnya.
"Udah mau berangkat ya?" tanya Felic, dan suaminya itu hanya mengangguk sambil sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam tas kerjanya.
“Frans …, aku akan ke kantor penerbit, nggak pa pa ya!” ucap felic. Hal itu berhasil membuat suaminya itu menghentikan pekerjaannya menatap Felic.
"Iya Frans, karena sudah lama nggak aku kerjakan jadi rencana penerbitan buku aku harus tertunda. Kalau boleh aku akan ke sana ya!?"
Mendengarkan penjelasan Felic, dokter Frans pun akhirnya memberi jawaban.
“hemmm!” jawabnya singkat.
Hehhh dia masih aja marah …, Felic hanya bisa menghela nafas kesal.
"Jadi boleh kan?" tanya Felic lagi memastikan.
"Ya ....! Aku berangkat dulu!" ucap dokter Frans. Ia segera menyambar tasnya dan meninggalkan Felic sendiri di dalam kamar.
Felic hanya bisa menatap pintu yang kembali tertutup. Felic pun segera bersiap-siap, ia memakai baju semi resmi untuk di pakai ke kantor.
Setelah mengoleskan bedak tipis dan lipstik natural itu, Felic segera keluar dari kamar dan menuruni tangga.
Ia tidak berniat untuk singgah dulu di meja makan, ia tidak nafsu makan apalagi jika tidak ada suaminya.
“Nyonya tidak sarapan dulu?” teriak bi Molly.
"Tidak bi, aku buru-buru!” ucap Felic tanpa menghentikan langkahnya.
Bi Molly hanya bisa menatap punggung Felic yang semakin menghilang di balik pintu utama itu.
“Hehhh …, nyonya jadi sering mengabaikan makannya …, tubuh nyonya semakin kurus saja!” gumam bi Molly.
"Wilson?" Felic cukup terkejut melihat Wilson sudah siap di depan rumah.
"Silahkan nyonya!" ucap Wilson.
"Tapi Wil ...., aku mau pesen taksi!" ucap Felic sambil mengerutkan keningnya.
"Maaf nyonya, tapi ini perintah tuan! Saya harus mengantar nyonya kemanapun nyonya pergi!"
"Frans?"
"Iya nyonya!"
Felic tersenyum, ternyata dia masih memperhatikan aku ...., dasar kepala batu ...., Felic pun segera masuk ke dalam mobil.
Wilson pun kembali menutup pintu mobil itu dan segera berlari menuju ke pintu mobil dekat dengan kemudi. Ia segera masuk dan mulai menyalakan mesin mobilnya.
Felic bersama Wilson ke kantor penerbit, setelah melakukan perjalanan selama setengah jam akhirnya mereka sampai juga.
Felic pun segera menemui mbak Mia di sana,
"Maaf mbak ...., saya terlambat!"
"Nggak pa pa mbak, ayo akan saya kenalkan dengan penulis lain yang sudah banyak membantu penulis lain untuk melakukan pengeditan!"
"Siapa mbak?" tanya Felic penasaran.
"Nah itu orangnya ....!" ucap mbak Mia saat ia melihat seorang pria yang datang menghampiri mereka.
"Hai mbak Mia ....!" sapa pria itu, pria dengan kemeja kotak-kotak yang tidak di kancingkan dengan kaos warna biru tua di dalamnya. Tas punggung yang hanya di sandarkan pada sebelah bahunya. Tubuhnya tidak kurus, tinggi dengan rambut yang di biarkan panjang dan di ikat sebagian.
"Hai mas Langit!" sapa mbak Mia balik, kemudian pria yang di sapa dengan nama Langit itu memperhatikan Felic yang menurut nya masih asing di sana.
"Wahhhh ...., siapa mbak nih yang cakep?" tanya pria itu.
"Nah ini yang mau saya kenalkan sama mas Langit, kenalkan ini mbak Felic!" ucap mbak Mia memperkenalkan Felic pada pria yang bernama Langit itu.
"Mbak Felic kenalkan ini mas Langit!" ucap mbak Mia gantian memperkenalkan Langit pada Felic.
"Hai Felic ....!" sapa Langit.
__ADS_1
"Hai mas Langit!" Felic pun juga balik menyapanya.
"Felic ini pemilik akun, sun_shine!" ucap mbak Mia.
"Wahhhh yang bener, aku udah baca loh beberapa karya kamu, bagus ...., banyak inspirasi nya!" ucap Langit begitu antusias.
"Aku jadi tersanjung mas ...!" ucap Felic dengan nada santainya.
"Ya udah kita lanjut diskusinya ya!" ucap mbak Mia. Mbak Mia pun mengajak duduk mengitari meja berbentuk lingkaran itu.
"Iya mbak!"
Mereka bertiga pun akhirnya membicarakan tentang edit novelnya dan jadwal terbit. Langit banyak sekali membantu Felic dalam hal menambah beberapa diksi dalam ceritanya.
Perbendaharaan kata Langit begitu banyak, bahkan saat ia mulai memberi ide, ide lainnya akan segera muncul sebagai bagian dari garis besar diksi yang di tulis.
"Sudah waktunya makan siang, kita istirahat dulu ya!" ucap mbak Mia.
"Iya mbak!"
Akhirnya mbak Mia meninggalkan mereka berdua.
"Mau ke kantin sama aku?" tanya Langit. Felic pun mengangguk, ia masih sekali ke tempat itu. Ia belum tahu seluk beluk tempat itu, perutnya juga lapar. Jadi tidak ada salahnya menerima tawaran Langit.
Mereka pun akhirnya ke kantin dan memesan dua mangkuk mie ayam dan dua gelas teh hangat.
“mas …, bukankah mas itu, pemilik akun biru langit ya?” tanya Felic sambil menyantap mi ayamnya.
“Iya …! Kamu benar sekali ...!” ucap Langit sambil tersenyum menatap Felic.
“Sudah ki duga, aku ngefans banget sama cerita-cerita mas biru langit loh , yang itu cinta di perjodohan, terus menua bersamamu dan masih banyak lagi, aku mengikuti semua loh mas biru langit!”
"jangan memanggilku seperti itu!”
“lalu?"
“Panggil aja Langit! Tadi mbak Mia juga sudah mengenalkan nama saya kan!”
"Mas Langit ini ada-ada aja, ia deh ....!"
“Sekarang mau cetak yang mana lagi mas? Aku benar-benar pecinta buku mas Langit loh ....!”
“Masih belum ada, aku ikuti alur saja, oh iya ...., setelah ini apa lagi rencananya?”
"Masih proses yang baru sih mas, tapi belum bisa update dulu! Nunggu biar banyak dulu bab nya!”
“Ternyata kamu tipe orang yang suka merancang sesuatu agar nggak di kejar deadline ya! Bagus itu!"
"Nggak juga, kadang juga suka amburadul jadwalnya!"
"Kamu benar-benar sesuai dengan nama pena kamu ya!"
"Apa?"
"Sun_shine! Dan ternyata memang orangnya secerah sinar matahari, ngomong-ngomong kita serasi ya!”
“Maksudnya, serasi apanya?" tanya Felic.
“Sinar matahari nggak akan lengkap tanpa langit yang menyelimuti! Senang bisa kenal sama kamu, sunny!”
“Sunny?”
“Ya …, kamu secerah sinar matahari!”
"heh …!”
Felic hanya bisa menghela nafas, Aku di gombalin nih …., bukan Felic jika mudah mempan di gombali, selama ini cuma suaminya yang gombalannya bisa bikin dia klepek-klepek walaupun gombalannya garing.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, mereka pun kembali ke ruangan yang tadi di tinggalkan, mbak Mia sudah menunggu mereka.
Mereka pun kembali melanjutkan pekerjaannya hingga sore hari. Meeka hanya istirahat dengan minum kopi atau menyantap beberapa camilan untuk mengusir kejenuhan.
Sesekali mereka saling melontarkan candaan untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang.
Kini Felic dan Langit sudah berdiri di depan gedung. Mereka bersiap-siap untuk pulang. Felic sudah bisa melihat kedatangan Wilson di sana.
“Aku duluan ya mas, udah di jemput …!” ucap Felic sambil berlari menghampiri Wilson.
“sampai ketemu lagi, sunny!” teriak Langit sambil melambaikan tangannya.
Felic pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan gedung itu. Meninggalkan Langit yang masih terus menatapnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰