
Bi Molly pun kemudian mengusap punggung Tisya saat mengetahui jika gadis di depannya juga sangat terluka.
"Bibi tahu itu jahat ...., tapi saya yakin nyonya Felic tidak sejahat itu untuk tidak memaafkan keluarganya sendiri!"
Mendengar ucapan bi Molly, Tisya pun kembali tersenyum, "Apa yang bibi katakan itu sungguh benar?"
Bi Molly pun mengangguk, "Iya nona!"
Sesaat kemudian seorang satpam datang menghampiri bi Molly dan juga Tisya.
"Nyonya ada tamu!" ucapnya membuat bi Molly dan Tisya menoleh bersamaan.
"Siapa?" tanya bi Molly saat sudah menoleh padanya.
"Katanya orang tua nyonya Felic!" ucapnya tidak yakin karena ayah Dul masih memakai baju satpamnya. Mungkin satpam itu berpikir jika tidak mungkin orang sekelas dokter Frans yang kaya raya tetap membiarkan ayah mertuanya bekerja.
"Ya sudah persilahkan masuk, gimana sih!" protes bi Molly. Melihat wajah kesal bi Molly membuat pak satpam itu sedikit takut.
"Maaf nyonya, kalau begitu saya permisi!"
Satpam itu pun meninggalkan bi Molly dan juga Tisya.
"Nona ...., kalau begitu saya permisi ya nona, saya akan menyambut mereka dulu!"
"Iya bi, aku juga mau ke kamar kak Fe!"
Mereka pun sama-sama meninggalkan meja makan dengan arah yang berbeda.
Bi Molly bergegas ke arah pintu utama untuk menyambut orang tuan Felic.
"Selamat datang tuan dan nyonya!" sapa bi Molly saat sudah membuka pintu.
"Selamat siang ....!"
"Selamat siang ...!"
Ucap ayah Dul dan ibunya Felic bersamaan.
"Mari silahkan masuk!"
Mereka pun masuk bersama bi Molly, "Saya akan mengantar tuan dan nyonya ke kamar nyonya Felic!" ucap bi Molly.
"Terimakasih!"
Kedatangan mereka langsung di sambut oleh Felic dan nyonya Tania begitu juga dengan Tisya.
"Bagaimana keadaanmu nak? Kandungan mu tidak pa pa kan?" tanya ibunya Felic.
"Tidak pa pa bu, Frans aja yang berlebihan ...., aku cuma Flu biasa, minum obat juga sembuh!"
"Jangan suka meremehkan hal-hal kecil!" ucap nyonya Tania.
__ADS_1
Ibunya Felic yang tidak begitu menyadari keberadaan nyonya Tania dan Tisya segera menoleh padanya dengan penuh tanda tanya.
Felic menyadari arti dari tatapan ibunya itu, "Oh iya ayah ibu ...., kenalkan ini mama sama adiknya Frans bu, yah ....!" ucap Felic.
"Bukankah_?!" ucapan ayah Dul menggantung, seingatnya menantunya pernah mengatakan jika ia hanya hidup sebatang kara, hanya bersama dua sahabatnya saja, tapi tiba-tiba ada yang mengaku sebagai mama dan adik.
"Iya ayah ...., memang mereka baru saja bertemu akhir-akhir ini!" ucap Felic menjelaskan.
Ibu Felic terus menatap wanita yang di sebut sebagai mama nya dokter Frans, ia pecinta gosip di televisi. Wajah mereka tidak asing bahkan sering wira wiri di tv.
"Kalian artis ya?" tanya ibunya Fe, "Iya kalian pasti arti!?"
"Bukan nyonya, saya bukan artis!" ucap nyonya Tania.
"Ahhhh masak, nggak percaya saya ....! Wajah kalian sering muncul di tv!"
"Ibu ihhhh ....., cuma mirip aja kali bu, mereka kan sangat cantik bu! Liat aja kalau suami Fe juga nongol di tv, pasti sudah di kira artis!" ucap Felic mencoba meyakinkan ibunya agar nyonya Tania tidak merasa tidak enak karena ia di tv bukan karena dia artis tapi karena masalah keluarga.
"Ahhhh beruntung sekali aku ini ...., suamiku terlalu tampan!" gumam Felic lagi membayangkan betapa tampannya suaminya itu.
Ha ha ha ha ....
Seketika ucapannya yang tanpa sadar keluar dari bibirnya itu menjadi bahan tertawaan semua orang di dalam kamar itu.
Setelah suasana menjadi cair, mereka pun saling berbagi cerita. Sesekali mereka tertawa saat ada beberapa kejadian yang lucu. Felic jadi melupakan kepalanya yang pusing itu gara-gara kedatangan mereka.
...***...
Waktunya makan siang pun datang, mereka segera makan siang bersama. Yang biasanya Wilson tidak pernah ikut makan siang gara-gara di paksa Tisya jadi ikut makan siang bersama.
Nyonya Tania, Tisya dan Wilson pun juga ikut berpamitan. Wilson masih harus mengerjakan pekerjaannya.
"Kalau kalian mau kerja dulu nggak pa pa, mama bisa ikut sama tuan Dul, iya kan tuan?" tanya nyonya Tania.
"Iya nyonya, nyonya bisa ikut dengan kami, lagian rumah nyonya sama tempat kerja saya juga tidak terlalu jauh!" ucao ayah Dul.
"Mama beneran nggak pa pa?" tanya Tisya.
"Iya ...., mama nggak pa pa!"
Mereka pun akhirnya berpisah, nyonya Tania ikut bersama ayah Dul dan istrinya sedangkan Tisya bersama Wilson.
Mereka pun sudah naik ke mobil yang berbeda, dokter Frans mengantar mereka sampai ke pintu depan. Sebenarnya ingin mengantar mamanya tapi ia juga belum tega meninggalkan Felic sendiri.
Setelah mobil menghilang di balik gerbang yang tinggi itu, dokter Frans kembali menghampiri Felic yang masih di tinggal di meja makan karena dokter Frans melarangnya untuk kemanapun.
"Sayang ....., kamu nggak nganterin mama?" tanya Felic saat melihat suaminya kembali, ia segera berdiri tapi dokter Frans segera menahannya agar tidak turun dari tempat duduk.
"Diam saja ...., aku yang ke sini!" keluh dokter Frans lalu duduk di kursi yang ada di depan Felic.
"Mama gimana?" tanya Felic lagi.
__ADS_1
"Nggak ...., mama bareng sama mobilnya ayah!" ucap dokter Frans sambil mengusap rambut Felic.
Felic terlihat begitu terkejut karena seingatnya rumah mereka tidak searah, tapi memang tempat kerja ayah Dul searah. "Kok bisa ...., Wilson sama Tisya?"
"Aku kasih pekerjaan buat Wilson, jadi dia harus mampir dulu ke rumah sakit buat mengambil beberapa berkas!"
"Lalu ke sini lagi?"
"Nggak ...., aku suruh ngerjain di rumah saja! kasihan kalai Tisya sendiri!"
...****...
Di dalam mobil itu Wilson tampak menjadi pendiam, ia terus memikirkan rencana dari dokter Frans.
"Kamu kenapa sih Wil?" tanya Tisya.
"Kenapa denganku?"
Wilson malah terlihat bingung dengan protes yang di berikan oleh Tisya.
"Kenapa jadi diam, biasanya cerewet!"
"Cerewet salah ...., sekarang diam juga salah ...., apa sih mau kamu!?" ucap Wilson sewot.
"Kamu kok malah sewot sih Wil ...., nyesel aku nanya!"
"Ya udah nggak usah nanya ...., diam aja!"
Dia lagi PMS ya ...., tiba-tiba marah-marah nggak jelas gitu ...., batin Tisya kesal. Ia pun memilih menatap.ke arah lain.
Akhirnya mobil mereka sampai juga di depan rumah sakit, ia tidak berencana lama karena ia hanya mengambil beberapa berkas untuk ia periksa dan di kirimkan perusahaan produksi peralatan kesehatan.
"Diam di sini ...., nggak usah keluar!" ucap Wilson.
"Nggak lama kan?" tanya Tisya ragu takut jika pria itu akan lama.
"Nggak lama, jadi diam di sini, lima belas menit lagi kembali!"
Wilson pun segera turun dan meninggalkan Tisya terap di dalam mobil.
Spesial visual Wilson
Bersambung
...Ketika kita tahu kenapa kita menyukai seseorang, itu adalah sebuah kekaguman. Ketika kamu tidak mempunyai alasan ataupun penjelasan karena menyukai seseorang, ini dinamakan cinta...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰