
Zea kembali masuk, ia mencari keberadaan sang suami. Ternyata suaminya sedang membersihkan piring kotor di tempat cuci piring.
"Astaga, Ga! Apa yang kamu lakukan?"
Rangga segera mengangkat sebuah piring yang penuh dengan busa dan si tangan kanannya ada spon cuci piring,
"Kamu tidak lihat aku sedang apa?!"
"Ya lihat, maksudnya jangan kerjakan itu, itu pekerjaanku!"
"Memang ada aturan seperti itu?"
"Ya_, enggak!"
"Baiklah, kalau begitu biarkan aku bekerja sekarang dan kamu_!"
"Aku?" Zea menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu, siap-siaplah untuk melakukan tugasmu!"
"Apa tugasku?"
"Jangan pura-pura lupa ya!" Rangga kembali meletakkan piring dan spon ke bak cuci piring. Lalu mencuci tangannya dan berbalik kembali. Memegang kedua bahu Zea dengan sedikit tekanan.
"Apa kau lupa dengan upah yang aku minta?"
Hehhh, aku kira dia sudah melupakannya ..., aku benar-benar salah ...
"Atau jangan-jangan kamu sengaja pura-pura lupa?"
"Enggak, bukan seperti itu. Hanya saja sekarang kan sudah terlalu malam, sudah jam sebelas. Ibu hamil seharusnya sudah tidur jam segini!" Zea mengelus perutnya yang masih rata.
"Begitukah?"
"Iya, seperti itu yang aku dapat dari dokter, sungguh!" Zea mengacungkan kedua jarinya.
"Baiklah, kamu cukup tidur dan pakai serangan dinasmu!"
Memang dia akan melepaskanmu jika aku pakai baju begituan ..., pintar sekali dia ....
"Bagaimana? Bukan hal yang sulit kan, tidurlah dan pakai baju dinasmu sekarang atau aku akan memintanya besok sepanjang hari!"
Hahhh, yang benar saja ....
"Iya, iya aku pakek!" Zea pun menghempaskan kedua tangan Rangga dan berjalan dengan penuh kekesalan ke dalam kamar.
"Memang dia hanya bisanya mengancam apa? Kenapa juga aku selalu nurut kalau di ancam sama dia, dasar bapak Rangga yang terhormat, lain kali aku pasti akan membalasnya!"
Zea terus saja menggerutu sambil memilih lingerie yang tidak begitu terbuka tapi hasilnya nol, semua baju itu begitu mini dan transparan bahkan ia bisa melihat warna kulit dari balik baju itu.
"Yang begini di bilang baju, bahkan baju renang aja lebih tertutup!"
Walaupun terus menggerutu, Zea tetap memakainya.
"Bagaimana aku keluar dengan baju seperti ini!" Zea bergidik sendiri melihat pantulan tubuhnya di dalam cermin. Zea pun segera naik ke atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Baru beberapa menit Zea berada di balik selimutnya, ia melihat pintu kamar sudah terbuka.
Gawat ....
Zea dengan cepat menutup matanya dan pura-pura sudah tidur.
__ADS_1
Rangga pergi ke kamar mandi untung mengosok gigi dan menganti bajunya dengan celana kolor saja.
Apa maksudnya hanya pakek kolor? Zea mengintip dengan sedikit membuka matanya dan dengan cepat mengatupkan matanya kembali saat Rangga mendekat.
Getaran di sebelahnya menandakan jika suaminya sudah mulai naik ke tempat tidur.
"Sayang, kamu sudah tidur?" pertanyaan dari Rangga membuat Zea semakin mengeratkan matanya agar tidak sampai terpancing.
"Baiklah, jika kamu sudah tidur. Aku akan memelukmu saja!"
Rangga menyingkap selimutnya dan ikut masuk di balik selimut.
Apa? Dia bilang akan tidur, tapi kenapa tangan dan bibirnya tidak bisa di kondisikan seperti itu ...
Rangga menyentuh bagian-bagian tubuh Zea yang sensitif, ia bahkan menempelkan bibirnya di cekuk leher Zea hingga membuat Zea menggeliat.
Rangga tersenyum tipis dan semakin melancarkan aksinya membuat Zea tidak tahan lagi dan mengeluarkan lenguhan itu.
Ahhh apa yang kamu lakukan Zea, kenapa kamu bisa terpancing ...., Zea hanya bisa mendengus dalam hati saat isi otak dan tubuhnya sedang tidak singkron. Saat otaknya menolak tapi tubuhnya malah meminta untuk di beri yang lebih hingga akhirnya pertahanan Zea jebol juga dan malam itu berlangsung dengan begitu panas.
...***...
Siang itu Miska sengaja mendatangi kontrakan Zea seorang diri. Tapi ternyata yang ia dapat hanya kecewa karena nyatanya sekarang penghuni kontrakan itu sudah berganti orang.
"Penghuni yang lama kemana ya?"
"Saya kurang tahu, saya baru meninggali tempat ini sehari kemarin!"
"Baiklah, terimakasih!"
Miska kembali masuk ke dalam mobil setelah tidak mendapatkan yang ia mau. Miska pun melanjutkan ke minimarket, ia berharap bisa menemukan Zea di sana.
Tapi nyatanya tidak. Zea sudah di gantikan orang lain.
"Sekarang tidak ada pilihan lain selain ke rumah Rangga. Awas saja kalau aku menemukan wanita itu di sana, aku pasti akan bikin perhitungan dengan mereka!"
Miska mengendarai mobilnya dengan cepat ke rumah Rangga.
Kedatangannya ke rumah Rangga langsung di sambut ramah oleh mama Rangga, berbeda dengan papa Rangga yang lebih cuek. Pak Beni bahkan tidak berniat mengajaknya bicara dan lebih memilih meninggalkannya.
"Tante, aku tadi baru dari rumah wanita itu. Tapi dia sudah tidak ada, di minimarket juga sudah nggak kerja!"
"Benarkah?" tampak mama Rangga begitu terkejut.
"Jadi Tante juga tidak tahu?"
"Enggak, aku baru tahu dari kamu!"
"Tante kira-kira tahu nggak, Rangga bawa wanita itu ke mana? Kita harus melanjutkan rencana kita Tan, aku nggak mau sampai gagal lagi!"
Mama Rangga tampak mengingat-ingat sesuatu. Ia pernah mendengarkan percakapan antara Rangga dan papanya. Ia tahu jika Rangga memiliki sebuah apartemen. Dan kerap menghabiskan waktunya di sana sebelum mengenal Zea.
"Tante tidak yakin kalau di sana!"
"Di mana Tan?"
"Apartemen Rangga!"
"Tante tahu kan alamatnya?"
"Tahu, baiklah kita coba ke sana. Pumpung jam segini Rangga masih kerja!"
__ADS_1
Mereka pun akhirnya menuju ke apartemen milik Rangga. Walaupun belum pernah ke sana tapi setidaknya ia tahu alamatnya.
"Besar juga apartemen nya!" mama Rangga tampak mengagumi gedung bertingkat itu. Begitu tinggi dengan puluhan lantai hingga ia tidak bisa melihat ujung dari gedung itu.
Miska hanya menatap remeh pada wanita paruh baya itu. Kalau bukan karena dia ingin mendapatkan Rangga, ia merasa malas bersama dengan wanita yang menurutnya begitu norak dan cerewet itu.
Untuk saat ini aku harus bisa manis sama wanita tua ini ....
"Ayo Tan!"
Mereka pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung tapi baru saja sampai di pintu masuk, kedua wanita itu langsung dihandang oleh pihak keamanan.
Miska segera melepas kaca mata hitamnya dan menatap dengan penuh arogansi.
"Ada masalah apa? Kami ingin masuk!"
"Maaf nona, tapi kalian berdua di larang masuk ke gedung ini!"
"Lancang sekali sih, siapa kamu!?"
"Maaf, saya hanya melaksanakan tugas saja!"
"Tugas apaan kayak gini, dengar ya aku bahkan bisa membeli semua gedung di sini, jadi jangan macam-macam sama saya!"
"Maaf nona, tetap saja kalian tidak bisa masuk!"
"Panggilkan pengelola gedung ini, saya mau bicara!"
"Maaf nona, Anda jangan membuat keributan di sini!"
"Kau akan teriak biar semua penghuni gedung Ingi keluar, aku tidak peduli!"
Tepat saat Miska akan berteriak tiba-tiba pria dengan jas rapi menghampiri mereka.
"Ini ada apa ribut-ribut?"
"Kamu pengurus gedung ini?"
"Benar!"
"Baguslah kalau begitu! Anak buahmu ini sudah melarang kami masuk!"
Pria dengan jas rapi itu menatap scurity meminta penjelasan.
"Dua orang ini ada dalam daftar orang-orang yang di larang masuk ke gedung ini pak!"
Pria dengan jas rapi itu kembali menatap Miska,
"Anda sudah dengar sendiri kan, jadi saya harap anda tidak melakukan keributan lagi dan silahkan tinggalkan tempat ini!"
"Yang benar saja, peraturan dari mana ini?"
"Silahkan tinggalkan tempat ini sebelum kami mengusir kalian secara kasar!"
Dengan kesal akhirnya Miska menyerah. Mereka pun meninggalkan tempat itu dengan penuh kekecewaan.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰 ...