Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Ketegasan Tisya


__ADS_3

Tisya hanya tersenyum hambar penuh luka,


"Mudah sekali mengatakan hal itu setelah apa yang kamu lakukan pada ku, itu Jahat ...!"


Akhirnya pintu lift pun kembali terbuka, Tisya pun segera keluar dari dalam lift. Ia tidak mau melihat lagi pria itu, lukanya terlanjur besar dengan pria itu.


Pintu lift kembali tertutup tapi pria itu memilih untuk tetap di dalam, mengurungkan niatnya untuk sama-sama keluar.


Tisya tidak langsung pergi ke ruang tuan Bactiar, ia memilih untuk bersandar di pojok dinding lorong, tangisnya kembali pecah. Lukanya tidak semudah itu sembuh.


Hiks hiks hiks


"Kenapa rasanya masih tetap sakit ..., inikah yang di rasakan wanita itu karena aku ...., aku pasti telah mendapat kan karmanya ....!" rancau Tisya di sela tangisnya, ia menjatuhkan tubuhnya, hingga berada di posisi berjongkok.


Maira yang melihat Tisya keluar dari lift itu segera bersembunyi, ia menyaksikan bagaimana Tisya menangis di sudut lorong itu. Ada rasa tidak tega melihat Tisya yang seperti itu, tapi rasanya ia masih sakit hati dengan Tisya, ia pun memilih tetap diam di tempatnya sampai Tisya selesai menangis.


Punggung dan bahunya bergetar berirama, senada dengan Isak tangis nya. Dadanya terasa begitu sesak sampai ia merasa begitu sulit untuk bernafas, rasanya begitu sakit.


"Aku tidak tahu jika akan sesakit ini ....!" gumamnya lagi sambil tangannya sibuk menyeka air matanya.


Cukup lama Tisya berdiam diri di tempat itu, ia menunggu hingga emosinya kembali stabil.


Setelah merasa cukup menangis nya, Tisya kembali menuju ke kamar mandi, membersihkan wajahnya dari sisa-sisa air mata, kembali mengoleskan bedak dan lipstik agar wajahnya kembali segar.


Hehhhh ....


"Sudah siap!"


Tisya pun kembali keluar dan menuju ke ruangan yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya.


"Apa papa ada?" tanya Tisya pada sekertaris yang ada di depan ruangan tuan Bactiar.


"Maaf nona Tisya, apa anda sudah membuat janji?" tanya sekertaris tuan Bactiar itu.


Sekarang mau bertemu saja harus pakai janji ...., batin Tisya. Padahal dulu ia tinggal masuk saja dan tidak akan ada yang melarangnya.


"Saya belum janji!" ucap Tisya jutek.


"Baiklah, biar saya tanyakan dulu sama tuan Bactiar, Silahkan nona duduk dulu!"


Tisya pun menuruti apa yang di katakan sekertaris itu, ia duduk di kursi tunggu tidak jauh dari tempat sekretaris itu.


Sekertaris itu pun segera melakukan panggilan, setelah berbicara beberapa kata akhirnya ia menutup kembali telponnya.


"Nona ...., anda di ijinkan masuk!" ucap sekertaris itu.


"Sudah ku duga!" ucapnya sambil berdiri dari duduknya.


"Maafkan saya nona!" ucap sekretaris itu menunduk hormat.


...***...


Di tempat lain Wilson beberapa kali.mengubah ekspresi wajahnya, dari tertawa saat Tisya sedang di kamar mandi, saat ia mendengar bagaiman nervous nya Tisya yang sampai harus menirukan suara bapaknya membuat Wilson terpingkal-pingkal sendiri.

__ADS_1


Kemudian beralih saat Tisya bertemu dengan Rizal, wajah Wilson tiba-tiba berubah menjadi tegang, ia hanya sedang memikirkan sesuatu yang mungkin saja bisa terjadi di tempat sepi itu tanpa siapapun, hanya ada dua pria dan wanita yang dulunya sudah punya hubungan gelap,


"Rasanya aneh yah dengarkan percakapan dua orang yang pernah menjalin hubungan! Kenapa jadi nggak rela gini?" gumam Wilson sambil terus membayangkan bagaimana adegan demi adegannya.


Wajahnya berubah sedih saat mendengarkan bagaimana tangisan Tisya, ia tahu jika gadis itu memang sedang sangat terluka.


Wilson pun kembali fokus, ia menyalakan mode rekam di ponselnya agar jika nanti alat penyadap nya hilang ia masih punya rekamannya di ponselnya.


...***...


Tisya pun segera masuk ke ruangan tuan Bactiar. Maira yang sedari tadi mengikutinya pun memerintahkan sekretaris itu untuk tetap diam, ia membuka sedikit pintu itu dan menyiapkan telinganya.


"Selamat siang pa!" sapa Tisya membuat pria paruh baya itu segera berdiri dan menyambut Tisya.


"Akhirnya yang papa tunggu datang juga, bagaimana? Setuju kan? Kita bisa mulai kerja samanya mulai besok dan aku akan mengembalikan semua fasilitas mu, mama mu juga akan papa bawa kembali ke rumah papa, kita bisa hidup bahagia lagi!"


"Tisya nggak bisa pa!"


Tisya pun segera merogoh tasnya, mengeluarkan map yang sudah ia bawa ke rumah itu tapi ia tidak menyadari ada benda kecil yang ikut jatuh dari tasnya, benda itu menggelinding di bawah kursi.


Untung saja benda itu tetap dalam keadaan on sehingga Wilson terap bisa mendengarkan pembicaraan mereka dan Tisya pun meletakkan map itu di atas meja.


"Tisya tidak mau demi keutuhan satu keluarga, memecahkan keutuhan keluarga yang lainnya!"


Brakkkkk


Tuan Bactiar begitu marah mendengar ucapan Tisya, ia sampai memukul meja dengan sangat kerasnya.


"Kurang ajar sekali kamu, kamu lupa siapa yang sudah membesarkan mu, bukan dokter itu apalagi bapak kandung kamu, yang sudah membesarkan mu, menyekolahkan mu sampai sebesar ini aku ....!"


"Kamu tahu kan apa konsekwensinya?"


"Tisya tahu pa! Tisya akan bekerja lebih giat lagi untuk mengganti semua biaya yang papa berikan pada Tisya!"


"Satu milyar!"


"Tapi pa! Tisya uang sebanyak itu dari mana?"


"Aku tidak mau tahu ...., dalam waktu satu bulan uang itu sudah harus kamu berikan pada papa!"


Srekkkkk


Maira yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan antara Tisya dan papa nya pun begitu marah.


"Pa__!" teriak Maira.


"Maira!?" Tuan Bactiar begitu terkejut.


"Apa yang papa lakukan?"


"Maira ...., kita bicara nanti, kamu keluar dulu biar papa bicara pada Tisya!"


Maira bukannya keluar, ia malah mengambil map yang ada di meja papa nya, ia membaca isi surat perjanjian itu.

__ADS_1


"Pa ...., ini apa apaan sih, papa keterlaluan!"


Srrkkkkk


Maira merobek surat perjanjian itu, "Siapa yang mau papa hancurkan?"


"Maira ...., jangan ikut campur! Keluar!"


"Nggak__!"


Maira tidak kalah ngototnya di banding sang papa.


"Keluar__!"


Kali ini tuan Bactiar benar-benar marah, Maira tidak berani melawan lagi. Maira pun akhirnya keluar dari ruangan itu dengan penuh kemarahan, ia menutup pintu itu dengan begitu keras.


Tuan Bactiar kembali menatap Tisya, ia menatapnya dengan penuh kemarahan.


"Jangan karena Maira membelamu, aku akan merubah keputusan tentang perjanjian itu!"


"Tisya mengerti pa!"


"Baiklah kembali dalam waktu satu bulan dengan uang satu milyar! Atau aku akan menuntut mama kamu dengan tuduhan penipuan, dan hidupmu tidak akan bisa tenang selamanya!"


"Tisya mengerti!"


"Pergi __!"


Tisya pun meninggalkan ruangan itu dengan kaki beratnya.


Bagaimana caranya agar aku dapat uang satu milyar untuk membayar hutang ke papa .....


Maira yang mengetahui bagaimana papanya segera menghubungi Wilson, ia tahu ternyata ucapan Wilson benar.


"Hallo Wil!"


"Iya Mai!"


"Ternyata yang kamu katakan benar! Papa tidak sebaik yang maira pikir Wil!"


"Aku sudah tahu!"


Wilson menutup sambungan telpon dari Maira, ia mencoba menghubungi Tisya, tapi tidak bisa.


Bersambung


...Keburukan di tutup serapat apapun pasti akan tetap tercium, jika bukan sekarang mungkin lain waktu ...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2