Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (59. Besok kita ke Capil!)


__ADS_3

Sebuah bangku taman menjadi pilihan mereka untuk menghilangkan rasa lelah.


"Mau minum sesuatu?" tanya Rangga sambil meletakkan jaketnya di samping Zea.


Zea memang merasakan tenggorokannya begitu kering, ia menatap penjual minuman dingin terlihat cukup menggoda.


"Boleh nggak minuman dingin?"


Rangga akhirnya menatap ke arah yang sama,


"Boleh, tapi dikit aja ya!"


"Hmmm!" Zea mengangukkan kepalanya.


Rangga teringat jika istrinya bahkan tidak membawa camilannya sedangkan ini sudah hampir senja. Bahkan mereka sudah melewatkan jam makan siangnya.


"Camilannya?"


"Boleh apa aja?" tanya Zea begitu bersemangat.


"Tapi kali ini aja ya, lain kali enggak!"


"Baiklah, bagaimana kalau aku makan bakso bakar itu, sepertinya enak!"


"Tapi tanpa saus! Setuju?"


"Apa enak?"


"Enak sayang!"


"Sedikit aja ya, boleh ya?!" Zea menampakkan wajah penuh pengharapan yang selalu berhasil membuat suaminya luluh.


"Baiklah, tapi kali ini saja!"


Semejak hamil Rangga lebih protektif masalah makanan untuk istrinya, ia bahkan setiap hari selalu memberi daftar apa saja makanan yang harus di makan Zea pada bibi dan memantaunya setiap jadwal makan.


"Tunggu sebentar ya!"


Rangga pun langsung menghampiri kedai bakso bakar dan juga penjual minuman dingin.


Zea masih menunggu di tempatnya sambil mengamati anak-anak yang sedang berlarian ke sana kemari mencoba berbagai zona permainan.


Ia mengelus perutnya, "Nanti saat kamu keluar dari perut mama, kita akan jalan-jalan ke sini lagi, sama mama, sama papa juga. Kita akan jadi keluarga yang bahagia nanti!"


Tiba-tiba ia merasakan kepalanya di usap seseorang, saat ia mendongakkan kepalanya ternyata Rangga sudah kembali.


"Papa akan selalu jaga kalian!"


Zea tersenyum, "Kami tahu!"


Rangga pun duduk setelah Zea menggeser duduknya,


"Makanlah!" Rangga menyerahkan bakso bakar yang sudah di tusuk dengan saus dan mayonaise yang membalurinya.


"Emmmm, ini enak sekali!"


"Pelan aja makannya! Minumlah dulu!" Rangga sudah membukakan segelnya dan memberikannya pada Zea.


"Besok aku sudah ijin!"

__ADS_1


Ucapan Rangga berhasil membuat Zea berhenti mengunyah.


"Ijin ke mana?"


"Kita akan ke kantor catatan sipil dan meresmikan status kita!"


"Kenapa tidak sekarang saja?"


"Hari ini hari libur, memang kantor pemerintahan mana yang bukan!?"


"Ahhh iya, kenapa aku jadi lupa!"


"Tidak pa pa!" Rangga selalu suka mengusap kepala istrinya itu.


"Jadi kita besok sudah punya surat nikah dong!?"


"Iya sayang!"


"Jadi nggak sabar, papa kamu pasti juga seneng!"


"Papa kamu juga. Dia kan sekarang jadi lebih sayang sama kamu!"


Zea tersenyum melihat suaminya iri dengannya.


Papa Rangga jadi sering menelpon Zea di banding putranya sendiri. Bahkan hampir setiap hari menanyakan keadaan cucu dan menantunya.


"Dia bahkan tidak menanyakan keadaanku!" gumamnya lagi.


"Sini, biar aku peluk!" Zea meregangkan tangannya dan tanpa aba-aba Rangga memeluk tubuh istrinya dengan begitu erat.


"Jangan kencang-kencang, aku sampai nggak bisa nafas!"


Rangga segera melepas pelukannya. "Sudah habiskan makanannya setelah ini kita akan berburu kuliner!"


"Siap!"


Mereka pun hampir menghabiskan setengah hari di taman bermain, mereka akan berburu kuliner tidak jauh dari taman hiburan itu juga. Hanya butuh menyeberang jalan mereka sudah bisa melihat begitu banyak pedangan makanan dengan berbagai tenda yang berjejer.


"Rasanya benar-benar pengen buru-buru ke sana!" celoteh Zea yang begitu bersemangat.


Jalanan cukup lebar dengan pohon-pohon besar yang berada di pinggir jalan membuat jalan begitu teduh. Bahkan jika ingin duduk di tepi jalan saja juga sudah tersedia kursi-kursi taman yang berjejer.


Jalanan juga sepi karena memang biasa hanya di lewati beberapa mobil pribadi dan pejalan kaki.


"Mana ya ponselku?" Rangga tampak memeriksa setiap kantong baju dan celananya.


"Kayaknya tadi masih kamu bawa deh Ga!" Zea juga memeriksa tasnya tapi tidak ada.


"Oh iya, ketinggalan di bangku tadi, aku ambil bentar ya. Mudah-mudahan masih ada."


"Aku nyebrang dulu ya, aku tunggu di kedai soto ya!"


"Iya, hati-hati ya, nggak usah lari!"


"Iya! Sudah sana cepetan keburu hilang nanti ponselnya!"


"Iya!"


Rangga pun berjalan cepat menuju ke tempat duduk tadi.

__ADS_1


"Syukurlah masih ada!" Rangga berjalan sambil memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan masuk, tapi saat ia hendak menyakukan kembali ponsel itu ke saku celananya. Ia melihat sebuah mobil melaju kencang dari kejauhan. Kemudian tatapannya beralih ke arah Zea yang baru saja turun dari trotoar hendak menyeberang.


"Zea!?" teriaknya membuat Zea menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Minggir!" teriak Rangga lagi membuat Zea menatap ke sebelah dan ternyata sebuah mobil sudah melaju kencang mendekatinya.


Rangga melempar begitu saja ponselnya dan berlari.


Brakkkkkk


Zea ..., aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri ....


Tubuh Zea terpental ke pinggir jalan dan membentur pembatas jalan, sedangkan tubuh Rangga jatuh menggelinding ke aspal jalanan setelah terpental. Mobil kembali melaju kencang meninggalkan mereka.


Rangga .....


Ingin sekali memanggil nama itu, tapi bibirnya terlalu kaku dengan darah segar yang mengalir di jalannya.


Zea masih tercengang di tempatnya melihat Rangga yang sudah berlumuran darah. Air matanya hanya terus menetes tanpa bisa berkata-kata. Semua berjalan begitu cepat dan dalam sekejap orang-orang berkerumun mengerubuti tubuh Rangga.


"Rangga!" teriak Zea begitu ia bisa mengeluarkan suaranya. Seseorang membantunya berdiri dan menghampiri Rangga.


Zea dengan cepat memeluk tubuh Rangga yang berlumuran darah.


"Rangga, jangan tinggalin aku. Bangun, ayo cepet bangun. Kamu sudah janji kan!"


Rangga masih bisa membuka matanya walaupun terhalang oleh darah yang membasahi seluruh wajahnya, sama-sama ia melihat Zea yang menangis. Tapi ia tersenyum melihat Zea tidak pa pa.


"Zea ...!" ucap Rangga pelan tapi masih bisa di dengar oleh Zea. Rangga menggengam tangan Zea dengan begitu erat, kini kepalanya tengah mengucur darah segar.


"Aku mencintaimu!" ucapnya lagi hingga akhirnya pria itu memejamkan matanya.


"Rangga, bangun!" teriak Zea lagi sambil menggoyangkan tubuh rangga, air matanya bahkan terus mengalir membuat pandangannya semakin buram.


Seseorang sudah menghubungi polisi dan juga ambulan.


Zea terus histeris sambil memeluk tubuh Rangga yang hampir tidak sadarkan diri hingga ia pun ikut pingsan.


Tepat saat mobil ambulan datang. Zea dan Rangga pun di masukkan ke dalam mobil ambulans dengan tangan yang masih saling berpegangan tangan.


Sedangkan polisi yang datang langsung mengintrogasi saksi mata yang melihatnya.


"Jadi ini korban tabrak lari?"


"Iya pak! Mobilnya berwarna hitam dengan plat nomor xxxx!"


"Bagaimana kejadiannya?"


"..."


Beberapa orang memberikan kesaksiannya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2