
Rangga mengamati kontrakan yang terbilang kecil itu, tapi menurutnya cukup nyaman karena di dalamnya ada fasilitas yang cukup lengkap. Ada sofa dengan ukuran sedang di depan meja tv yang langsung terhubung dengan dapur, setiap kegiatan di rumah itu langsung bisa di lihat kecuali kamar dan kamar mandi. Walaupun kecil tapi tampak luas karena tidak ada tembok penyekat antar ruangan.
"Nyaman juga ya tempat kamu!" Rangga mendudukkan bokongnya di sofa dengan ukuran sedang itu dan langsung menyalakan tv seperti di rumahnya sendiri.
Zea langsung menuju ke dapur dan membereskan barang belanjaannya,
"Kamu mau minum apa?" ucap Zea yang masih terlihat sibuk memasukkan beberapa sayuran ke dalam lemari pendingin.
"Apa aja juga aku minum! Asal iklas!"
Zea hanya menatap kesal pada tamunya itu, ingin sekali ia menghindari pria itu tapi semakin di hindari pria itu semakin dekat saja padanya.
Tidak berapa lama, Zea datang dengan membawa segelas air putih membuat Rangga terkejut di buatnya.
"Kamu yakin hanya ngasih air putih?"
"Tadi katanya apa aja mau!?"
"Ya nggak air putih juga kan, memang kamu nggak punya gula?"
"Sayang kalau buat orang seperti kamu!"
"Memang aku kenapa?"
"Ya nggak kenapa-kenapa, cuma kedatangan kamu saja yang salah dan lagi, posisimu juga salah!" Zea berlalu begitu saja.setelah mengatakan hal itu.
Rangga terdiam, ia merasa ada yang aneh dengan wanita itu apalagi tadi siang saat bertemu dengan dokter Frans dan Felic.
Ia pun berdiri dan menyusul Zea yang mulai sibuk memasak, Rangga tidak mengeluarkan suaranya, ia memilih untuk berdiri tepat di belakang Zea. Memperhatikan wanita itu dari belakang.
Lumayan juga dia ...., pikiran nakal sebagai seorang laki-laki tiba-tiba muncul di benak Rangga.
Zea yang tiba-tiba berbalik begitu terkejut mendapati Rangga di belakangnya,
"Astaga, Rangga! Apa-apaan sih!?" Zea terlihat salah tingkah dan segera menghindar.
"Lagi liatin cewek cantik masak, kenapa ada masalah?"
"Nggak deket-deket juga!"
Rangga tiba-tiba menarik pinggang Zea hingga mereka begitu dekat, Zea bisa merasakan detak jantung Rangga.
"Ga, jangan macam-macam!" ucap Zea pelan tapi rangga terlihat enggan melepaskan tangannya.
Rangga memilih menyusupkan wajahnya di tengkuk Zea hingga membuat wanita itu seperti kehabisan nafas, baru kali ini Zea merasakan kedekatan yang intim dengan seorang pria. Bahkan dengan cinta pertamanya pun dia tidak pernah melakukan hal ini.
__ADS_1
Tolak Zea, tolak!!! ini tidak benar ..., otaknya berusaha untuk tetap sadar dan ingin menolak apa yang di lakukan Rangga tapi ternyata tubuhnya sedang berkhianat. Tubuhnya begitu mendambakan sentuhan itu.
Rangga bahkan mengecup dan mengabsen setiap inci leher jenjang Zea, hingga menimbulkan ******* dari bibir mungil Zea.
Astaga Zea sadar, ini tidak benar ...
Zea yang menyadari apa yang keluar dari bibirnya segera menggigit bibir bawahnya. Berkali-kali akal sehatnya berusaha untuk mengingatkannya tapi tubuhnya seperti kehilangan kendali, ia membiarkan pria asing itu mulai menjamah tubuhnya, tangan Rangga sudah mulai bermain-main dan menyingkap kaos Zea.
Melihat Zea menikmati permainannya, Rangga pun semakin bersemangat, ia menempelkan bibirnya pada bibir Zea. ********** hingga mereka terlarut dalam permainan mereka sendiri.
Dua insan yang sama-sama kesepian itu seakan sedang melupakan jati dirinya melupakan segala emosi yang telah tertahan cukup lama hingga suara ketukan pintu menghentikan kegiatan mereka.
Zea segera mendorong tubuh Rangga,
"Ada tamu!"
"Kamu ngundang orang lain selain aku?" tiba-tiba sifat posesif Rangga muncul begitu saja atau mungkin rasa penasaran dengan apa yang mereka lakukan yang belum benar-benar tersalur itu membuatnya emosi.
"Enggak! Emang aku juga ngundang kamu!?" Zea berkata dengan ketus lalu merapikan kembali baju dan rambutnya yang sedikit berantakan kemudian berlalu untuk menuju ke depan.
Setelah mengumpat berkali-kali, Rangga yang penasaran dengan siapa yang datang, ia pun mengikuti Zea ke depan tetapi ia memilih bersembunyi di balik tirai pantas antara ruang tamu dengan ruang tv.
"Selamat sore Zea!"
"Mas Rizal, kok bisa di sini?"
"Ya, tadi kebetulan lewat depan toko ternyata kamu kalau akhir pekan libur jadi aku lanjut ke sini!"
"Ada apa ya mas?"
"Nggak di tawari buat masuk sebentar?"
Zea terlihat bingung, ia tidak mau terjadi keributan di tempat barunya itu.
"Ada siapa sayang?" Rangga sengaja keluar agar Rizal tidak memaksa masuk.
"Kamu?" Rizal tentu begitu terkejut, ia tidak menyangka jika Rangga juga berada di tempat itu.
"Ya, bang Rizal nggak usah deh ganggu Zea lagi, Zea itu pacar Rangga!"
"Begitulah? kalau aku nggak percaya gimana? Sebelum Zea yang mengatakan sendiri padaku, aku tidak akan percaya!"
"Terserah Abang!" Rangga sengaja memanas-manasi Rizal dengan memeluk Zea dari belakang.
"Sebenarnya aku cuma mau mengundang kamu ke acara pembukaan restoran aku, kamu datang ya!" Rizal menyerahkan undangan itu pada Zea,
__ADS_1
"Aku pergi dulu!"
Zea hanya bisa diam, ia tidak mengerti dengan dua pria yang baru ia kenal itu, mereka terlihat sangat bersaing.
"Nggak usah datang!"
"Ya terserah aku dong!" Zea segera masuk tanpa mengindahkan ucapan Rangga.
Rangga yang kesal pun segera mengunci pintu dan menyusul Zea. Ia menarik tubuh Zea dan membopongnya, membawanya ke kamar.
"Rangga apa-apaan, jangan macam-macam ya!" Zea terus meronta tapi Rangga tidak berniat untuk melepaskannya. Ia sudah merasa cukup kehilangan cintanya sekali dan tidak untuk yang kedua kalinya.
Hingga Rangga pun menghempaskan tubuh Zea ke tempat tidur spon yang ada di atas lantai tanpa dipan itu,
"Ga, jangan macam-macam!" Zea terus memundurkan tubuhnya agar Rangga tidak mencapai dirinya.
"Aku tidak ingin kamu menjadi milik orang lain!" tampak mata Rangga begitu berapi-api, pria yang biasanya tenang dan kalem itu tiba-tiba bisa seperti itu.
"Ga, apa hak kamu?"
"Setelah ini aku akan punya hak atas kamu!" dengan cepat Rangga menindih tubuh Zea hingga ia tidak bisa melepaskan diri lagi.
"Ga, kita tidak punya hubungan apa-apa!" Zea terus meronta agar Rangga mau melepaskannya.
"Tapi aku ingin menciptakan hubungan itu, denganmu!"
"Tapi tidak begini caranya, Ga! Kita bisa bicara baik-baik!"
Tapi semuanya sudah terlambat, bahkan tangan Rangga begitu cekatan melepaskan satu per satu baju yang di kenakan oleh Zea, begitupun dengan dirinya.
Mereka seolah-olah sudah melupakan semuanya, bahkan Zea yang awalnya menolak kini terlena dalan buaian Rangga.
Apa yang seharusnya tidak terjadi akhirnya malam itu terjadi, Rangga bahkan mengabaikan telpon dari mamanya yang sudah entah ke berapa kali.
Mereka sekarang saling berpelukan di bawah selimut tipis milik Zea dengan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1