Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Makan siang


__ADS_3

Tisya pun segera mencari ruang ganti sedangkan Wilson memilih untuk berdiri di antara toko dengan harga bersahabat dan toko dengan brand ternama.


Wilson merogoh ponsel yang masih tersimpan di dalam saku jasnya, menyalakan layarnya dan sibuk mengirimkan laporan tentang kehidupannya sehari, bukan lebih tepatnya kehidupan adik dan ibu kandung atasannya.


Walaupun ia tidak pernah mengecek langsung ke adaan nyonya Tania tapi tetap saja Wilson menyuruh seseorang untuk tetap mengawasi nyonya Tania.


Sambil mengusir kejenuhannya, ia mengambil aerophonenya dan melekatkannya di lubang telinga, mulai memutar musik dari ponselnya sambil melakukan tugasnya.


Tanpa Wilson sadari ada sepasang mata yang sedang mengawasinya, sepasang mata itu terlihat berbinar karena melihat Wilson di sana.


Pemilik sepasang mata pun segera meninggalkan toko yang bertuliskan brand baju ternama itu dan segera menghampiri Wilson.


"Wil ......!" ucapnya dengan senyum yang merekah, Wilson yang terkejut segera melepas aerophone yang melekat di telinganya.


"Maira!"


Maira pun berjalan dengan sedikit berlari menghampiri Wilson.


"Kamu di sini? Ngapain?" tanya Maira yang terlihat kepo.


"Aku ...!" Wilson bingung harus menjawab apa, tapi Maira melihat beberapa paper bag yang ada di tangan Wilson, itu tandanya ia tentu habis belanja.


"Kamu belanja ya?" tanya Maira lagi.


"Iya!" jawab Wilson sambil mengangguk dan menunjukkan paper bag yang di tangannya, untung saja Tisya meninggalkan beberapa paperbag nya pada Wilson jadi ia punya jawaban untuk pertanyaan Maira.


"Kenapa belanja di situ? Di sana lebih bagus kualitasnya! Kemejanya bagus-bagus, gimana kalau kita ke sana? Aku beliin deh kemejanya buat kamu!" ucap Maira sambil menarik tangan Wilson tapi Wilson segera menolaknya.


"Maaf tapi ini bukan belanjaan saya!" ucap Wilson.


"Kamu nggak sendiri? Sama siapa?" tanya Maira lagi.


Tapi belum sempat Wilson menjawabnya, Tisya lebih dulu menghampiri Wilson, tapi ia tidak menyadari seseorang yang berada di samping Wilson saat ini.


"Ahhhhh ....., lega kalau gini, mana tasnya, biar kau bawa sendiri!" ucap Tisya dengan membawa paperbag dari dalam dan meraih paper bag yang ada di tangan Wilson.


Tapi kemudian ia melihat tangan lain yang menggandeng tangan Wilson.


"Kak Maira?!" ucap Tisya yang terkejut.


Sejak kapan Wilson mengenal kak Maira ...., batin Tisya.


Apa Tisya pacarnya Wilson ...? batin Maira.


Mereka saling kenal? ahhh iya lupa mereka pernah jadi satu keluarga kan ..., batin Wilson.

__ADS_1


"Tisya kamu ...., ngapain di sini?" tanya Maira, "Dan kalian ada hubungan apa?" tanya Maira lagi.


"Sebenarnya_!" ucapan Wilson menggantung saat tiba-tiba Tisya menyambar ucapannya.


"Sebenarnya aku kerja jadi asisten rumah tangga di rumah Wilson!" ucap Tisya dengan cepat, ia tidak mau Maira sampai salah paham, ia tahu kakak perempuannya itu orang baik dulu. Sekarang pun mungkin masih sama, takut saja jika mungkin kakaknya memiliki hubungan khusus dengan Wilson.


"Benarkah? Wil ...., memang benar Tisya jadi asisten rumah tangga di rumah kamu?" tanya Maira memastikan.


"I-iya ....!" jawab Wilson ragu sambil menatap Tisya.


"Ohhhh ...., aku kira ...! Ya udah lah, kalau gitu gimana kalau kita makan siang, aku yang traktir!" Maira menawarkan diri.


"Tapi aku sama Tisya juga!" ucap Wilson.


"Nggak pa pa, aku bisa nunggu di mobil, kalian makan siang berdua aja!" ucap Tisya.


"Nahhh itu Tisya nya aja nggak keberatan, ayo ...m, aku lapar banget!" ajak Maira sambil menarik tangan Wilson meninggalkan Tisya yang masih terdiam di tempatnya.


Entah ia hanya merasakan hal yang sakit saat melihat Maira menggandeng tangan Wilson.


"Hehhhhh ....., kamu itu mikir apa sih Tisya!" gumam Tisya sambil menggelengkan kepalanya. Ia pun segera menuju ke tempat mobilnya di parkir.


"Ahhhh kenapa bisa lupa, kunci mobil kan yang bawa si kucing garong! Dapat ikan asin mulus dikit aja, aku di tinggalin! Emang ya semua pria sama saja!" gerutu nya sambil hanya bisa bersender di kaca mobil. Ia juga tidak bisa masuk.


krukkkkk kuuukkkkkk


"Ahhhhh ....., lapar lagi ....! Jangan bunyi terus kasihan kalau ada yang lewat di kira minta sumbangan aku nanti!" gumam Tisya sambil memegangi perutnya yang semakin minta di isi, ia belum sarapan dan tidak tahu kapan ia akan makan siang, mungkin akan di dobel dengan makan malam.


"Kasihan kamu perut ....!"


Tisya pun merogoh tas kecilnya dan mengambil dompet yang ada di tasnya. Ia mulai membukanya.


"Aisssttttt ...., kenapa cuma ada warna ungu sama hijau sih, biru sama merahnya kemana semua ini ...,?!" gumamnya karena melihat isi dompetnya hanya selembar uang dua puluh ribuan dan juga satu sepuluh ribuan.


"Ini kalau aku beliin makanan di sini cuma dapat satu porsi, itu pun nggak akan kenyang!"


Tisya pun terpaksa mengembalikan dompetnya ke dalam tas.


"Ayo pulang!"


Ucap seseorang membuat Tisya segera mendongakkan kepalanya.


"Wilson ....!"


"Mau tetap duduk di situ atau mau pulang?" tanya Wilson lagi.

__ADS_1


Tisya pun dengan cepat berdiri dan membersihkan celananya yang kotor karena duduk di lantai.


"Kamu kok sudah ada di sini? Cepat sekali makannya, ini baru lima belas menit? Memang cukup lima belas menit buat makan?"


Wilson bukannya menjawab pertanyaan Tisya, ia malam memilih masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.


"Sudah jangan banyak bertanya, cepetan naik!"


Tisya pun dengan cepat membuka pintu mobil dan duduk di samping Wilson, meletakkan semua paper bag nya di kursi belakang.


Wilson mulai menjalankan mobilnya meninggalkan basement pusat perbelanjaan.


"Kak Maira di mana?" tanya Tisya saat mobil mulai melaju.


"Ya nggak tahu lah, masak aku kantongin!" ucap Wilson jutek.


"Kok Jutek sih ...., aku kan cuma nanya!?" keluh Tisya dan ia pun memilih untuk kembali diam dari pada bertanya tapi malah akan membuatnya kesal.


Hingga akhirnya setelah berjalan sepuluh menit, Wilson meminggirkan mobilnya di sebuah taman kota.Taman itu terlihat cukup ramai karena mungkin hari libur.


Tisya yang terkejut pun akhirnya memutuskan untuk kembali bertanya saat melihat Wilson mulai melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Tisya.


"Ya makan lah ....!"


"Makan? Bukankah baru saja kamu makan siang sama kak Maira!"


"Jangan banyak bertanya, aku sudah lapar!"


Wilson pun segera keluar dari mobil dan meninggalkan Tisya. Tisya pun dengan cepat melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil, memastikan mobil terkunci dan menyusul Wilson yang sudah berjalan lebih dulu menyusuri food stalls yang berjejer di area taman kota.


Di sana ada kedai cilok, bakso, mie ayam, soto ayam, tahu gejrot, dan masih banyak lagi.


Bersambung


...Beri aku satu waktu untuk mengenalmu, maka aku akan memberikan seluruh hidupku hanya untuk terus mencintaimu...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2