
Mata melayang, menatap sejauh ia mampu memandang. Berharap menemukan ujung dari setiap rasa yang mereka lalui.
"Kenapa semuanya tidak ada ujungnya ya Wil? lihat mata hari tenggelam itu, dulu aku kira setelah tenggelam matahari tidak akan berputar lagi, tapi setelah aku mempelajari ilmu sains aku menemukan hal baru jika ternyata mata hari itu bukan habis atau hilang, ia hanya berputar!"
Tisya menyandarkan kepalanya di bahu Wilson sambil menatap matahari yang semakin menghilang di balik air laut yang luas itu.
Hehhhhh ....., Tisya menghela nafasnya dan mulai melanjutkan bicaranya.
"Saat aku sudah menemukan uang satu milyar, aku kira semuanya selesai! Tapi ternyata aku menemukan hal lain lagi yang membuatku berputar di sana! Berputar di tempat yang sama!"
"Jangan takut, semua pasti akan baik-baik saja, dan kamu bisa melaluinya dengan baik! Ada aku!"
Seketika Tisya mengangkat kepalanya dan menatap Wilson. Mereka hanya akan bersama selama satu tahun, tapi beberapa bulan ini bersama Wilson sudah cukup membuatnya tergantung dengan pria itu.
"Apa kau akan menemaniku nanti? Nanti? Dan nanti?"
"Iya!"
"Ya ..., satu tahun bukan waktu yang singkat kan, kita bisa melaluinya dengan banyak hal berdua!"
Tisya pun memilih untuk berdiri dan mendekati bibir pantai, tangannya mulai menyentuh air yang mulai terasa dingin, mengambilnya dan kembali menjatuhkannya bersama teman-temannya yang banyak.
Wilson segera berjalan menyusul Tisya dan berdiri di belakangnya, melingkarkan lengannya di bawah leher wanita itu.
"Jangan galau terus, apa mau aku cium biar nggak galau lagi?" bisik Wilson.
Tisya tersenyum, "Memang berani?"
"Jangan membangunkan singa yang sedang tertidur ya!"
Wilson melepaskan kembali tangannya dan Tisya memanfaatkannya untuk menyiramnya dengan air laut hingga mengenai kemeja Wilson.
Ha ha ha ....
Tisya segera berlari dan Wilson mengejarnya, menyiramnya juga dengan air laut. Mereka bermain kejar-kejaran di bibir pantai sambil bermain air.
Hingga Wilson berhasil menangkap tubuh Tisya dan mengangkatnya lalu memutarnya.
Mereka persis seperti dua sejoli yang sedang kasmaran, main kejar-kejaran dan sesekali bergantian melempar pasir.
Tanpa sadar pantai semakin gelap saja, warna jingga tadi berubah menjadi sinar bulan yang memantul di permukaan air laut.
Bahkan pengunjung sudah mulai meninggalkan pantai, kini sepanjang pesisir pantai itu hanya ada mereka berdua.
"Hah hah hah ....!" Tisya memegangi dadanya yang naik turun itu saat menghentikan larinya, "Capek!"
Ia segera duduk di bibir pantai sedikit menjauh dari air. Wilson yang tertinggal di belakang segera menyusulnya duduk. Ia juga tampak tidak jauh beda, nafasnya ngos-ngosan.
"Gila, sebenarnya kakimu terbuat dari apa sih, kuat banget?" gerutu Wilson.
"itu kamu nya aja yang kurang gerak!"
Mereka kembali terdiam, menikmati cahaya rembulan. Wilson menatap Tisya yang sedang menengadahkan wajahnya menatap sinar rembulan.
Kenapa dia semakin cantik saja di bawah sinar rembulan seperti itu ...., tikus kecilku ....
__ADS_1
"Indah ya!" Tisya memuji keindahan sinar rembulan itu.
"Iya!" Tapi Wilson sibuk mengagumi keindahan paras cantik di depannya itu.
"Sinarnya semakin berkilau saja bersama pantulan hamparan laut yang luas!"
"Iya!"
"Kamu kok iya iya aja sih?" tanya Tisya yang dengan cepat menoleh pada Wilson hingga membuat wajah mereka saling bertemu.
Kenapa menatapku seperti itu?
"Wil?"
Cup
Bibir itu mendarat begitu saja di bibir Tisya. Tisya hanya bisa diam, ia tidak berusaha menolaknya. Bibir hangat itu membuatnya tertarik untuk tetap di atas bibirnya.
Wilson yang merasa tidak ada penolakan dari Tisya, tangannya pun segera meraih tengkuk wanita itu, bibirnya mulai berani bermain.
Awalnya Tisya hanya terdiam saat Wilson mulai menyesap bibirnya, tapi instingnya memintanya untuk meminta lebih.
Tisya mulai membalasnya, sejenak Wilson menghentikan dan menjauhkan bibirnya. Ia memastikan jika Tisya benar-benar menginginkannya juga.
Dari tatapan mata Tisya yang mendamba itu, ia semakin yakin jika Tisya juga menginginkannya.
Wilson kembali mendekatkan bibirnya, ia mulai mel*mat dan menggigit bibir Tisya hingga Tisya membuka bibirnya,
Wilson mengabsen seluruh isi mulut Tisya, tanpa terasa kini tubuh Wilson sudah berada di atas tubuh Tisya. Dia atas hamparan pasir yang bercahayakan sinar bulan.
Tangan Wilson pun kini mulai menemukan mainan baru, squisy itu sudah berada di tangannya, ia mulai mer*mas nya.
Setelah puas di squisy Tisya, tangan Wilson beralih kebawah. awalnya hanya bermain-main di paha mulus Tisya yang tersingkap. Tapi karena tidak mendapat penolakan, tangan itu semakin ke atas dan ke atas hingga sampai di pangkal paha.
Saat tangan itu mulai menyusup di balik kain tipis yang menutupinya itu tangan Tisya segera menahannya membuat Wilson kembali menatap Tisya.
"Jangan_!" Tisya memberi jeda dalam ucapannya dengan nafas yang sudah tidak beraturan itu.
"Jangan di sini!"
Mendengar ucapan Tisya, Wilson pun tersenyum, ia segera bangun dari tubuh Tisya dan menarik tangannya.
"Kita menginap di resort ya?" tanya Wilson dan Tisya hanya mengangguk, entah kenapa setelah hal tadi ia jadi begitu malu.
"Sebentar ya!"
Wilson pun segera kembali ke mobil, ia mengambil jas, dompet, tas milik Tisya dan juga ponselnya. Mengunci mobilnya kembali dan menghampiri Tisya lagi.
Dengan berlari ia menghampiri Tisya lalu memakaikan jasnya ke tubuh Tisya agar tidak begitu terekspos.
"Ayo!"
Wilson menggandeng tangan Tisya dan mengajaknya ke resort, mereka memesan satu kamar untuk semalam.
Ceklek
__ADS_1
Pintu kamar itu terbuka, cukup nyaman walaupun tidak begitu luas.
"Sebentar ya!"
Wilson segera berlari ke kamar mandi meninggalkan Tisya sendiri.
Tisya pun mengamati kamar itu, ia meletakkan tasnya dan melepaskan jas Wilson yang melekat di tubuhnya.
Tidak berapa lama Wilson kembali menghampirinya.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu!"
"Tidak perlu seperti itu Wil!"
"Sudah, jangan banyak bicara, ayo sana!" Wilson mendorong tubuh Tisya ke kamar mandi dan menutupnya kembali.
Wilson tersenyum, ia terus mondar-mandir di dalam kamar itu, beberapa kali terlihat ia meloncat-loncat dan menyeimbangkan detak jantungnya.
"Wil!"
Seketika suara itu menghentikan gerakan Wilson, kepala Tisya melongok dari balik pintu kamar mandi.
"Ada apa?"
"Aku lupa handuknya! Baju mandinya juga boleh!"
"Baiklah, Sebentar!"
Wilson segera menuju ke lemari yang ada di dalam kamar itu, ada satu tumpuk handuk di sana, rapi dan bersih. Wilson mengambil sebuah handuk dan baju mandi.
"Ini!"
"Terimakasih!"
Tisya pun kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Wilson semakin panik saja, ia bingung harus melakukan apa setelah ini.
"Ponsel, ia ponsel!"
Wilson segera bergegas mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan mencari di laman pencarian dan mengetikkan sesuatu di sana.
"Tips malam pertama!"
Seakan tidak sabar menunggu hingga artikel itu keluar dari sana.
Beberapa kali terlihat Wilson menganggukkan kepalanya saat menemukan beberapa artikel.
Bersambung
...Sinar rembulan memang cantik, tapi kenapa tiba-tiba aku merasa sinar dari wajahmu bahkan mampu mengalahkannya, mengalahkan kekagumanku pada sinar rembulan malam ini...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰