
"Udah tadi di rumah mama, ya udah kalian lanjutkan aja ya, aku ke kamar dulu, gerah banget mau mandi!"
Tanpa menunggu jawaban dari Wilson ataupun Maira, Tisya pun segera masuk ke dalam kamarnya dan segera menutup pintu kamarnya itu dengan pelang.
Tisya segera melempar tasnya ke atas tempat tidur,
"Kesel banget sama kucing tuh, tau gitu nggak perlu repot-repot aku masak!"
"Kesel banget!"
Beberapa kali tampak Tisya menghela nafasnya, mencoba mengurangi rasa sesak di dalam dadanya.
Ia pun memilih untuk duduk, "Lagian ngapain juga aku marah, kalau lapar, lapar aja nggak usah uring-uringan!"
Gadis itu berusaha untuk menasehati dirinya sendiri.
"Biarlah kalau mereka makan bersama, itu hak mereka kan!"
"Tapi tetap saja kak, aku sudah susah-susah masak!"
Tisya seperti sedang berdebat dengan hatinya sendiri. Antara pro dan kontra.
Hehhhhhh
"Mandi aja deh biar lebih segar, habis ini pasti nggak kesal lagi!"
Ia pun memilih untuk masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar pikirannya yang sedang panas menjadi dingin (Sebenarnya bukan pikirannya yang panas, tapi hatinya)
Maira sudah merapikan kembali semua peralatan makannya sedangkan Wilson hanya terus mengekor di belakangnya.
"Kalian suka berantem ya?"
Pertanyaan Maira yang tiba-tiba itu membuat Wilson menatap pada Maira.
Ia mengerutkan keningnya mencoba menerka apa maksud dari pertanyaan Maira.
"Bukan apa-apa, tapi waktu jawab telpon dari Tisya, kamu ngasih nama 'Tikus kecil' aku sempat bertanya, kira-kira siapa yang mendapat panggilan itu dan ternyata Tisya!"
"Ohhh itu!" Wilson harus mencari alasan yang paling pantas untuk ucapan Maira. "Dia memang sedikit menyebalkan, suka cari gara-gara!"
"Tidak pa pa, tapi aku iri sama hubungan kalian!"
"Kenapa?"
"Karena kalian bisa ketemu setiap hari, kalian ini ART dan majikan tapi kayak suami istri!"
Kami memang akan jadi suami istri, tapi hanya di atas kertas ....
Melihat Wilson yang malah bengong mendengar ucapannya membuat Maira tersenyum.
"Kalian tidak mungkin jadi suami istri, kalau ketemu bawaannya berantem mulu ...!"
Kali ini Wilson hanya tersenyum, senyumnya hambar. Ia juga bingung dengan hubungannya nanti, ia akan menikah tapi dengan orang yang menurutnya sama sekali bukan kriterianya sebagai seorang istri, tapi dia juga tidak ingin menolak pernikahan itu walaupun sebenarnya ia bisa melakukan hal itu. Ia bisa mencari cara lain untuk mendapatkan uang satu milyar untuk Tisya tanpa harus menikah.
Tapi alam bawah sadarnya, memintanya untuk menyetujui rencana konyol dari bosnya.
"Aku pulang ya, udah sore! Salam buat Tisya!"
"Iya nanti aku sampaikan, terimakasih ya atas makanannya!"
"Sama-sama, bye ...!"
Setelah Maira meninggalkannya, Wilson pun segera masuk kembali. Ia juga harus segera mandi.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuknya mandi, Wilson pun segera mencari celana kolornya, dengan handuk yang masih menggantung di kepalanya dan celana kolornya Wilson pun kembali keluar kamar. Ia melupakan ponselnya di meja makan.
__ADS_1
"Ada dua panggilan!" gumamnya, ia pun memilih untuk duduk sejenak melihat siapa yang melakukan panggilan padanya.
"Nyonya Tania, kenapa menelpon?" Wilson tampak berpikir, jika ingin menanyakan sesuatu. Bukankah lebih mudah bertanya langsung pada putrinya, atau mungkin ada hal lain, Wilson terus sibuk untuk menerka-nerka.
"Atau mungkin mau tanya Tisya sudah pulang atau belum? Bisa jadi!"
Tikus itu pasti nakal sekali hingga membuat mamanya repot ....
Wilson pun kembali melakukan panggilan ke nomor yang tertera di panggilan tak terjawabnya.
"Hallo Wil, maaf ya mama mengganggu!"
"Selamat sore nyonya, tidak menggangu nyonya, maaf saya baru saja mandi!"
"Ohhhh, tapi kamu tidak sedang sibuk kan?"
"Tidak nyonya, ada apa ya?"
"Tidak pa pa, hanya pengen ngobrol saja sama kamu!"
Kali ini Wilson memilih untuk diam, ia mencoba mendengarkan orang yang ada di seberang sana.
"Oh iya Wil, bagaimana rasa masakannya?"
"Masakan?"
"Iya, itu tadi yang masak Tisya! ia sampai tidak mau makan di rumah mama cuma pengen nunjukin ke kamu!"
"Jadi Tisya belum makan?"
"Iya Wil, dia tadi buru-buru sekali pengen pulang supaya kamu bisa ikut makan masakannya!"
"Ohhh, maaf nyonya saya harus melakukan sesuatu, kita sambung besok ya nyonya, sampai jumpa!"
Wilson pun segera mematikan sambungan telponnya. Ia menatap ke arah kamar Tisya yang tepat berada di dekat meja makan.
"Kenapa dia bilang tadi sudah makan, padahal dia belum makan? Masakan itu, dia bilang mama nya yang buat!"
"Dia memang sulit di mengerti!"
Wilson pun segera meletakkan handuknya, ia menuju ke lemari pendingin, memeriksa apa saja yang di masak oleh Tisya. Ia juga memindahkannya ke pemanas.
Setelah di rasa cukup panas, Wilson pun segera meletakkannya di atas meja makan beserta dua buah piring dan sendok.
Ia pun kembali menghampiri pintu kamar Tisya,
Tok tok tok
"Tikus, boleh aku masuk?"
Tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar itu.
Tok tok tok
Untuk kedua kalinya Wilson mengetuk pintu itu, tapi tetap saja tidak ada jawaban.
Wilson pun mencoba membuka pintu itu dan ternyata tidak di kunci, perlahan ia mendongakkan kepalanya, melihat ke dalam kamar.
"Dia tidur?" gumamnya. "Suka sekali menahan lapar!"
Dengan langkah pelan ia mulai berjalan mendekati tempat tidur gadis itu, ia melihat gadis itu tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
"Masih juga jam segini, dia malah tidur!"
Wilson duduk di sampingnya dan menatap wajah Tisya. Tangannya mulai terulur untuk menepuk pipi lembut gadis itu.
__ADS_1
"Tisya, Tisya ..., bangun!"
Tapi dia tetap terlelap dalam tidurnya.
"Tikus ...., bangun!" kali ini Wilson berteriak di samping telinga Tisya membuat Tisya begitu terkejut hingga ia terlonjak dan beralih ke posisi duduk.
Wilson yang sudah berhasil hanya tersenyum puas.
"Willlllllll ....!"
Kali ini tisya benar-benar kesal karena ulah Wilson.
"Habis di bangunin susah banget!"
"Apaan sih? Aku ngantuk!"
Tisya hampir saja merebahkan tubuhnya kembali tapi Wilson segera menarik tangannya.
"Aku lapar, pengen makan!"
Kali ini ucapan Wilson berhasil membuat matanya benar-benar terbuka lebar, baru juga sekitar satu jam dia makan, tapi pria itu sudah bilang lapar lagi.
"Yakin?" tanyanya tak percaya.
"Iya ...., temenin aku makan, aku tadi lihat ada oseng kangkung, aku suka banget! Temenin aku makan ya!"
Dia kan habis makan masakan kak Maira, kalau setelahnya makan masakan ku kan jadi terlihat ntar hancurnya, apalagi tadi aku bilangnya itu masakan mama lagi ...., hancur lah reputasi mama .....
"Jangan jangan!" ucap Tisya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Jangan kenapa?"
"Yang itu tadi jangan di makan, lebih baik delivery order aja deh!"
"Kenapa? Udah ada makanan, nggak usah buang-buang duit buat cari makanan lagi kan!"
"Ya udah deh gini aja, aku yang traktir deh!"
"Kenapa sih nggak boleh banget makanannya di makan?"
"Bukan apa-apa, cuma_!"
"Udah ah jangan kebanyakan mikir, ayo !"
Wilson terus menarik tangan Tisya hingga sampai di meja makan.
"Duduklah kita makan bersama!"
Wilson sudah menyiapkan piring untuk Tisya, ia juga menyendok kan nasi lengkap dengan sayurnya.
Habislah aku ...., dia pasti bakal mengatai masakan ku ....
Spesial visual Wilson dan Tisya
Bersambung
...Dulu aku kira pelangi hanya bias dari warna putih, tapi sekarang aku tahu, tidak ada pelangi tanpa hujan dan matahari. Seperti aku tanpa hadirmu...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰