Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
ngidamnya dr. Frans


__ADS_3

    Di tempat lain, dokter Frans terus saja


di buat uring-uringan dengan ngidamnya sendiri,


“Frans


…, makanlah sesuatu, kau benar-benar membuatku khawatir saja!”


“memang


aku harus bagaimana, dia tidak membiarkanku memakan apapun!” ucap dokter Frans


yang etrus berada di balik selimutnya.


“Lihatlah


sayang …, bahkan ayahmu mengumpat sebelum kau di lahirkan!” ucap Felic sambil


mengusap perut ratanya.


 Dokter Frans segera membukan selimutnya.


“Tidak


…, siapa yang mengumpat! Ucap dokter Frans sambil membuka selimutnya. Ia segera


menarik tangan istrinya.


“Sayang


sengarkan ayah, jangan dengankan bunda, dia berkata tidak benar! Sungguh …,


ayah tidak pernah mengumpat, tidak papa jika ayah tidak makan asal kamu sama


bunda bisa makan dengan enak, iya kan sayang …!” ucap dokter Frans sambil


mengusap perut Felic membuat felic tersenyum geli melihat kelakuan suaminya


itu.


“jangan


suka menyusahkan bunda mu …,nggak pa pa ayah saja deh …!” ucapnya lagi.


“berarti


sekangan mau makan kan?”


“aku


mau makan buah saja biar nggak muntah!”


“baiklah


…, ayo turun!”


Felic


dan dokter Frans segera turun dan menuju ke meja makan, bi molly menjadi


terbias atidak meletakkan makanan apapun di atas meja sebelum dokter Frans


sendiri yang memintanya, ia hanya menyiapkan susu ibu hamil untuk Felic dan


beberapa potong buah.


Tapi


kali ini potongan buah itu lebih banyak karena sepertinya dokter Frans jadi


suka vegetarian, terutama buah segar.


“Kamu


juga tidak makan?” tanya dokter Frans yang tidak melihat makanan untuk felic.


“Ada


deh …, hari ini aku mau jalan-jalan sama kamu pokoknya, plisss …, mau ya …!”


“Baiklah


….! Tapi minum dulu susumu dan vitaminnya!”


“Iya


…!”


Mereka


pun kembali ke kamar, dokter Frans mengambil dompet dan kunci mobilnya.


“Jangan


lupa pakek jaket yang tebal, kita tidak tahu nanti pulangnya sampek malam atau


tidak!” ucap dokter Frans.


“Memang


kita jalan-jalannya mau ke mana?”


“Kemana


aja …!”


“suka


banget buat rahasia kalau di tanya …!”


Felic


pun melakukan hal yang di katakana oleh suaminya. Memang sekarang masih belum


gelap tapi sebentar lagi juga gelap.


Dokter


Frans dan felic segera keluar dan mengendarai mobilnya, semenjak Felic hamil


lagi dokter Frans tidak pernah menggunakan motornya saat bersama Felic.


Dokter


Frans mengajak Felic berkeliling kota Jakarta,

__ADS_1


“Frans


…, aku mau makan itu!” ucap felic sambil menunjuk kedai cilot kecil di pinggir


jalan,


“Baiklah


….!”


“kamu


tetap di sini, biar aku yang beli!”


Dokter


Frans pun turun dari mobil, ia memakai maskernya agar tidak mencium arma yang


bisa memicu muntahnya. Ia membeli dua bungkus cilok.


Felic


benar-benar gila makan di kehamilan ini, ia menjadi penyukan segala makanan. Felic


segera melahap habis cilok itu hingga tidak tersisa. Dokter Frans kembali


menjalankan mobilnya, tidak berapa lama Felic melihat penjual somay.


“Aku


mau itu!”


Dan


dokter Frans pun melakukan hal yang sama, hingga beberapa kali, saat melihat


penjual-penjual yang lainnya.


Ada


bakso, sate, mie ayam, kerak telur dan masih banyak lagi.


“Sekarang


sudah kenyang?” tanya dokter Frans.


“Iya


…, kenyang banget rasanya!”


‘Sekarang


kita pulang?”


“Satu


lagi!”


“Apa?”


“Aku


mau roti bakar!”


“Masih


istrinya saat ini.


“Masih


Frans …, aku kan makan buat dua orang, lagian uangmu juga nggak akan habis


untuk memberi ku makan!”


“Iya


…., gitu aja sensi …!”


Akhinrya


dokter Frans memilih menuruti permintaan istrinya walaupun sudah sangat malam,


sudah jam sepuluh malam tapiistrinya masihjuga ingin memakan sesuatu.


Benar-benar


nafsu makan orang hamil bikin merinding …., batin dokter Frans.


Setelah


berputar-putar hanya untuk mencari penjual roti bakar, akhirnya mereka


menemukannya yang masih buka.


“Mau


berapa?” tanya dokter Frans.


“Aku


mau dua yang special dengan selai kacal yang banyak dan juga selai coklatnya!”


“Baiklah


tunggu di sini!”


“Tapi


aku juga mau turun, aku mau minum dan duduk di sana!”


“Tapi


beneran duduk saja!”


“Iya


….!”


Mereka


pun akhirnya turun dari mobil, dokter Frans meminta Felic untuk duduk di bangku


yang ada di tepi trotoar.


“Mau

__ADS_1


minumnya apa?”


“Aku


mau yang dingin-dingin!”


“Tapi


ini malam, jangan yang dingin ya, yang hangat aja!”


“Nggak


mau, maunya yang dingin, aku haus bukan lagi butuh kehangatan!”


“Iiitttsss


…., kalau butuh kehangatan aku juga bisa hangatin kamu nggak perlu minuman


hangat, ya udah tunggu sebentar aku belikan dulu!”


Sambil


menunggu dokter Frans memesan roti bakarnya, ia juga mencari minuman dingin


untuk istrinya. Ia juga mencari untuknya sendiri.


“Ini


minumlah …!” ucap dokter Frans sambilmenyodorkan sebuah minuman kemasan yang


sudah di buka segelnya oleh dokter Frans.


Felic


pun segera meminumnya, ia benar-benar haus di buatnya. Saat ia menguk untuk


yang terakhir, matanya menangkap dua orang yang cukup ia kenal sedang berjalan


menuju kea rah mereka.


“Frans


…!”


“Iya?”


“Bukankah


itu nyonya Tania dan Tisya?” tanya Felic. Dokter Frans pun menoleh kea rah di


mana Felic melihat dan ternyata benar itu adalah nyonya Tania dan putrinya.


“Biarkan


saja!”


“Tapi


kenapa mereka malam-malam berkeliaran dengan jalan kaki seprti itu?”


“Bukan


urusan kita! Rotinya sudah jadi!” dokter Frans pun segera berdiri dann


melakukan pembayaran.


Saat


ia menghampiri Felic lagi ternyata nyonya Tania dan Tisya sudah berda di depan Felic.


Dokter Frans segera menarik Felic dan menyembunyikannya di belakang tubuh


kekarnya.


“Frans


…!” ucap nyonya Tania.


“Ayo


Fe …, kita pergi …!” ucap dokter Frans lalu menarik tangan Felic meninggalkan


nyonya Tania dan Tisya begitu saja.


“Frans


…, tunggu!” panggil nyonya Tania tapi dokter Frans tetap tidak menghiraukannya.


“Frans


…, nyonya Tania memanggilmu!” ucap felic.


“Biarkan


saja, masuklah …!” ucap dokter Frans sambil membukakan pintu mobil untuk


istrinya itu.


Felic


pun hanya bisa pasrah, ia tidak mungkin memaksa suaminya untuk mendengarkan ibu


kandungnya. Bahkan ia saja masih begitu marah dengan wanita itu apalagi


suaminya yang sudah begitu banyak di sakiti oleh wanita itu.


 


 


 


 


bersambung


 


Jangan lupa buat kasih dukungan ke author dnegan memberikan like, komentar dan vote nya yang banyak ya


 


follow ig aku juga


tri.ani.5249

__ADS_1


 


happy reading


__ADS_2