
Di tempat lain, dokter Frans terus saja
di buat uring-uringan dengan ngidamnya sendiri,
“Frans
…, makanlah sesuatu, kau benar-benar membuatku khawatir saja!”
“memang
aku harus bagaimana, dia tidak membiarkanku memakan apapun!” ucap dokter Frans
yang etrus berada di balik selimutnya.
“Lihatlah
sayang …, bahkan ayahmu mengumpat sebelum kau di lahirkan!” ucap Felic sambil
mengusap perut ratanya.
Dokter Frans segera membukan selimutnya.
“Tidak
…, siapa yang mengumpat! Ucap dokter Frans sambil membuka selimutnya. Ia segera
menarik tangan istrinya.
“Sayang
sengarkan ayah, jangan dengankan bunda, dia berkata tidak benar! Sungguh …,
ayah tidak pernah mengumpat, tidak papa jika ayah tidak makan asal kamu sama
bunda bisa makan dengan enak, iya kan sayang …!” ucap dokter Frans sambil
mengusap perut Felic membuat felic tersenyum geli melihat kelakuan suaminya
itu.
“jangan
suka menyusahkan bunda mu …,nggak pa pa ayah saja deh …!” ucapnya lagi.
“berarti
sekangan mau makan kan?”
“aku
mau makan buah saja biar nggak muntah!”
“baiklah
…, ayo turun!”
Felic
dan dokter Frans segera turun dan menuju ke meja makan, bi molly menjadi
terbias atidak meletakkan makanan apapun di atas meja sebelum dokter Frans
sendiri yang memintanya, ia hanya menyiapkan susu ibu hamil untuk Felic dan
beberapa potong buah.
Tapi
kali ini potongan buah itu lebih banyak karena sepertinya dokter Frans jadi
suka vegetarian, terutama buah segar.
“Kamu
juga tidak makan?” tanya dokter Frans yang tidak melihat makanan untuk felic.
“Ada
deh …, hari ini aku mau jalan-jalan sama kamu pokoknya, plisss …, mau ya …!”
“Baiklah
….! Tapi minum dulu susumu dan vitaminnya!”
“Iya
…!”
Mereka
pun kembali ke kamar, dokter Frans mengambil dompet dan kunci mobilnya.
“Jangan
lupa pakek jaket yang tebal, kita tidak tahu nanti pulangnya sampek malam atau
tidak!” ucap dokter Frans.
“Memang
kita jalan-jalannya mau ke mana?”
“Kemana
aja …!”
“suka
banget buat rahasia kalau di tanya …!”
Felic
pun melakukan hal yang di katakana oleh suaminya. Memang sekarang masih belum
gelap tapi sebentar lagi juga gelap.
Dokter
Frans dan felic segera keluar dan mengendarai mobilnya, semenjak Felic hamil
lagi dokter Frans tidak pernah menggunakan motornya saat bersama Felic.
Dokter
Frans mengajak Felic berkeliling kota Jakarta,
__ADS_1
“Frans
…, aku mau makan itu!” ucap felic sambil menunjuk kedai cilot kecil di pinggir
jalan,
“Baiklah
….!”
“kamu
tetap di sini, biar aku yang beli!”
Dokter
Frans pun turun dari mobil, ia memakai maskernya agar tidak mencium arma yang
bisa memicu muntahnya. Ia membeli dua bungkus cilok.
Felic
benar-benar gila makan di kehamilan ini, ia menjadi penyukan segala makanan. Felic
segera melahap habis cilok itu hingga tidak tersisa. Dokter Frans kembali
menjalankan mobilnya, tidak berapa lama Felic melihat penjual somay.
“Aku
mau itu!”
Dan
dokter Frans pun melakukan hal yang sama, hingga beberapa kali, saat melihat
penjual-penjual yang lainnya.
Ada
bakso, sate, mie ayam, kerak telur dan masih banyak lagi.
“Sekarang
sudah kenyang?” tanya dokter Frans.
“Iya
…, kenyang banget rasanya!”
‘Sekarang
kita pulang?”
“Satu
lagi!”
“Apa?”
“Aku
mau roti bakar!”
“Masih
istrinya saat ini.
“Masih
Frans …, aku kan makan buat dua orang, lagian uangmu juga nggak akan habis
untuk memberi ku makan!”
“Iya
…., gitu aja sensi …!”
Akhinrya
dokter Frans memilih menuruti permintaan istrinya walaupun sudah sangat malam,
sudah jam sepuluh malam tapiistrinya masihjuga ingin memakan sesuatu.
Benar-benar
nafsu makan orang hamil bikin merinding …., batin dokter Frans.
Setelah
berputar-putar hanya untuk mencari penjual roti bakar, akhirnya mereka
menemukannya yang masih buka.
“Mau
berapa?” tanya dokter Frans.
“Aku
mau dua yang special dengan selai kacal yang banyak dan juga selai coklatnya!”
“Baiklah
tunggu di sini!”
“Tapi
aku juga mau turun, aku mau minum dan duduk di sana!”
“Tapi
beneran duduk saja!”
“Iya
….!”
Mereka
pun akhirnya turun dari mobil, dokter Frans meminta Felic untuk duduk di bangku
yang ada di tepi trotoar.
“Mau
__ADS_1
minumnya apa?”
“Aku
mau yang dingin-dingin!”
“Tapi
ini malam, jangan yang dingin ya, yang hangat aja!”
“Nggak
mau, maunya yang dingin, aku haus bukan lagi butuh kehangatan!”
“Iiitttsss
…., kalau butuh kehangatan aku juga bisa hangatin kamu nggak perlu minuman
hangat, ya udah tunggu sebentar aku belikan dulu!”
Sambil
menunggu dokter Frans memesan roti bakarnya, ia juga mencari minuman dingin
untuk istrinya. Ia juga mencari untuknya sendiri.
“Ini
minumlah …!” ucap dokter Frans sambilmenyodorkan sebuah minuman kemasan yang
sudah di buka segelnya oleh dokter Frans.
Felic
pun segera meminumnya, ia benar-benar haus di buatnya. Saat ia menguk untuk
yang terakhir, matanya menangkap dua orang yang cukup ia kenal sedang berjalan
menuju kea rah mereka.
“Frans
…!”
“Iya?”
“Bukankah
itu nyonya Tania dan Tisya?” tanya Felic. Dokter Frans pun menoleh kea rah di
mana Felic melihat dan ternyata benar itu adalah nyonya Tania dan putrinya.
“Biarkan
saja!”
“Tapi
kenapa mereka malam-malam berkeliaran dengan jalan kaki seprti itu?”
“Bukan
urusan kita! Rotinya sudah jadi!” dokter Frans pun segera berdiri dann
melakukan pembayaran.
Saat
ia menghampiri Felic lagi ternyata nyonya Tania dan Tisya sudah berda di depan Felic.
Dokter Frans segera menarik Felic dan menyembunyikannya di belakang tubuh
kekarnya.
“Frans
…!” ucap nyonya Tania.
“Ayo
Fe …, kita pergi …!” ucap dokter Frans lalu menarik tangan Felic meninggalkan
nyonya Tania dan Tisya begitu saja.
“Frans
…, tunggu!” panggil nyonya Tania tapi dokter Frans tetap tidak menghiraukannya.
“Frans
…, nyonya Tania memanggilmu!” ucap felic.
“Biarkan
saja, masuklah …!” ucap dokter Frans sambil membukakan pintu mobil untuk
istrinya itu.
Felic
pun hanya bisa pasrah, ia tidak mungkin memaksa suaminya untuk mendengarkan ibu
kandungnya. Bahkan ia saja masih begitu marah dengan wanita itu apalagi
suaminya yang sudah begitu banyak di sakiti oleh wanita itu.
bersambung
Jangan lupa buat kasih dukungan ke author dnegan memberikan like, komentar dan vote nya yang banyak ya
follow ig aku juga
tri.ani.5249
__ADS_1
happy reading